MOVIE REVIEW: STING (2024)

STING
Sutradara: Kiah Roache-Turner
Australia / USA (2024)

Review oleh Tremor

Sting adalah sebuah film sci-fi / creature feature horror komedi yang ditulis dan disutradarai oleh Kiah Roache-Turner dari Australia. Nama Roache-Turner sendiri mulai dikenal sejak ia merilis karya debutnya, sebuah film zombie apocalypse komedi yang berjudul Wyrmwood: Road of the Dead (2014), disusul dengan sekuelnya Wyrmwood: Apocalypse (2021). Dilihat dari posternya saja kita sudah bisa tahu kalau Sting akan berfokus pada teror serangan laba-laba raksasa. Beberapa bulan sebelum Sting dirilis, sebenarnya sudah ada sebuah film horor asal Perancis yang juga menggunakan laba-laba sebagai sumber terornya, yaitu Vermines / Infested (2023). Untuk menghindari perbandingan di kepala saya saat itu, maka saya berusaha untuk tidak menaruh ekspektasi apapun sebelum menonton Sting. Namun setelah menontonnya, saya cukup puas karena ternyata Sting adalah film yang sangat menghibur.

Suatu malam di tengah kota New York yang sedang dilanda hujan salju lebat, sebuah meteor kecil jatuh menembus kaca jendela salah satu kamar di sebuah apartemen. Meteor kecil tersebut rupanya membawa satu telur laba-laba dari luar angkasa. Seorang gadis berusia 12 tahun bernama Charlotte adalah yang pertama menemukan laba-laba kecil yang baru menetas tersebut. Diam-diam Charlotte memutuskan untuk memeliharanya di dalam sebuah toples dan memberinya nama Sting. Laba-laba itu tampak memiliki kecerdasan tak masuk akal dan sanggup merespons Charlotte dengan suara seperti siulan. Charlotte yang menganggap suara siulan tersebut sebagai panggilan permintaan makan segera memberi Sting makanan berupa serangga-serangga kecil. Secara mengejutkan, ukuran Sting bertambah besar dengan cepat setiap kali ia diberi makan. Tanpa Charlotte ketahui, laba-laba alien yang cerdas ini juga mampu membuka tutup toples dan pergi berburu mangsa yang lebih besar setiap kali Charlotte tidur. Tak butuh waktu lama hingga ukuran Sting menjadi laba-laba raksasa yang mulai memangsa seluruh penghuni gedung apartemen satu persatu.

Kisah dalam film Sting jelas bukan cerita yang paling original. Tapi itu bukan hal yang penting karena Sting adalah film monster yang memang dirancang sebagai hiburan murni yang ringan, dan saya pikir Kiah Roache-Turner sangat berhasil dalam hal tersebut. Plotnya sangat sederhana, tidak membosankan, mudah diikuti dari awal hingga akhir, dan sama sekali tidak memaksakan diri untuk menjadi terlalu rumit. Secara konsisten, plotnya tetap solid dan terus berfokus pada teror laba-laba raksasa yang mengendap-endap melalui sistem ventilasi udara dan memangsa para penghuni di saat mereka terlelap. Sebagai sebuah film monster, Sting memainkan semua stereotipnya dengan cukup baik, memberikan pengalaman menonton yang benar-benar diharapkan dari sebuah film tentang laba-laba raksasa. Saya pikir, lewat karyanya ini Kiah Roache-Turner juga ingin memberi penghormatan pada film-film horror creature feature klasik seperti Arachnophobia (1990). Namun apa yang terlihat paling jelas adalah inspirasi yang diambil dari Alien (1979), Aliens (1986), hingga Alien 3 (1992), dari mulai desain telurnya, atmosfer klaustrofobiknya, bebunyian yang datang dari saluran ventilasi, hingga beberapa adegan ketika Charlotte mulai mengejar Sting. Karakter Charlotte yang diperankan dengan sangat baik oleh aktor cilik Alyla Browne juga bagaikan karakter Ellen Ripley dari franchise Alien dalam versi anak kecil, lengkap dengan senapan besarnya, yang dalam film ini adalah senapan air.

Berbicara soal film monster, tentu kita juga harus membahas monsternya. Meskipun Sting adalah makhluk dari luar angkasa, namun desain dasar Sting di hampir sepanjang film ini terlihat seperti laba-laba biasa dari planet kita, kecuali dalam adegan konfrontasi final-nya ketika wajahnya sudah semakin mengerikan. Desain dasar Sting sepertinya diambil dari sejenis Black Widow, yang bisa saja mengecewakan mereka yang mengharapkan laba-laba raksasa dalam film monster seharusnya terlihat lebih unik dan mengerikan. Namun, bagi saya pribadi desain Sting tetaplah efektif. Kita cukup membayangkan bagaimana jadinya kalau laba-laba berukuran sebesar meja memangsa manusia. Tanpa perlu desain monster seram pun, ide tersebut sudah cukup mengerikan, terutama kalau kita tahu bagaimana cara laba-laba mencari mangsa pada umumnya. Saya tidak tahu pasti bagaimana tim kreatif film ini menciptakan Sting, tapi sepertinya mereka tetap menggunakan practical special effect tradisional yang dipoles dengan CGI dalam beberapa adegan. Yang pasti, penampilan Sting terlihat cukup nyata. Saya juga sangat mengapresiasi film ini karena tetap menggunakan practical special effect dalam setiap adegan berdarahnya.

Meskipun tidak ada yang baru dalam plotnya, film ini cukup memuaskan sebagai sebuah hiburan murni. Saya pribadi sangat menikmati 90 menit yang saya luangkan untuk menonton Sting dan rasanya tidak banyak keluhan yang bisa saya sampaikan tentang film ini. Kalaupun ada, kekurangannya sangat bisa dimaafkan karena pada akhirnya Sting adalah film horor monster yang menyenangkan, menegangkan, dibumbui dengan beberapa komedi gelap, serta teror serangan laba-laba raksasa yang dipenuhi darah.