MOVIE REVIEW: A BAY OF BLOOD (1971)

A BAY OF BLOOD / ECOLOGIA DEL DELITTO
Sutradara: Mario Bava
Italia (1971)

Review oleh Tremor

Sejak tahun 60-an, nama sutradara legendaris Mario Bava mulai dikenal identik dengan film horor berkelas. Reputasinya dimulai sejak debutnya yang luar biasa berjudul Black Sunday (1960), yang disusul dengan Black Sabbath (1963), The Whip and the Body (1963), Planet of the Vampires (1965), Kill, Baby, Kill (1966), hingga Lisa and the Devil (1973). Bava juga merupakan seorang pelopor yang tanpa sengaja turut menciptakan “aturan” umum dari genre giallo lewat dua karya klasiknya, The Girl Who Knew Too Much (1963) dan Blood and Black Lace (1964), menjadikannya sebagai sutradara giallo terbaik dan mungkin hanya Dario Argento yang sanggup menyaingi gelar tersebut. Jauh sebelum genre slasher lahir di Amerika, Blood and Black Lace-nya Bava secara umum telah dianggap sebagai proto-slasher. Namun baru lewat film giallo A Bay of Blood-lah Mario Bava secara tidak sengaja melahirkan blueprint yang kemudian digunakan sebagai formula dasar film-film slasher Amerika yang semakin menjamur di awal 80an. (Mengenai apa itu giallo dan slasher, silakan baca di bagian akhir review ini.) Salah satu formula klasik yang tercetak dalam A Bay of Blood dan kemudian diikuti oleh hampir setiap film slasher klasik sebenarnya cukup sederhana: kumpulkan sekelompok orang di satu lokasi terpencil, lalu bantai mereka satu persatu secara terpisah, masing-masing dengan cara yang unik dan kejam.

Dalam review ini saya tidak akan membahas plot A Bay of Blood, karena seperti kebanyakan film slasher dan giallo, plotnya tidak terlalu penting. Inti cerita ini berpusat pada teluk sebuah danau serta beberapa individu serakah yang saling mengklaim berebut warisan tanah lewat berbagai intrik dan pengkhianatan dalam gaya cerita misteri giallo. Plot A Bay of Blood memang agak membingungkan dan tidak rasional, namun kali ini Mario Bava sepertinya memang benar-benar tidak terlalu peduli dengan cerita. Mungkin ia hanya ingin berfokus pada penciptaan adegan-adegan pembunuhan sebrutal mungkin dengan cara-cara yang kreatif, sesuatu yang kemudian ditiru oleh film-film slasher. Franchise klasik Friday the 13th adalah salah satunya yang mengikuti gaya A Bay of Blood, dari mulai lokasi terpencil di sekitar perairan, hingga sekelompok remaja berisik yang menjadi sasaran empuk serangan parang dan tombak. Friday The 13th bahkan secara terang-terangan menjiplak beberapa adegan pembunuhan dalam A Bay of Blood, dengan yang paling mencolok bisa dilihat dalam Friday The 13th Part 2 (1981).

Sebelum A Bay of Blood dirilis, film-film giallo memang sudah identik dengan adegan pembunuhan yang diperlihatkan secara eksplisit, sesuatu yang sudah cukup sadis untuk standar dekade 60-an. Namun baru lewat A Bay of Blood-lah adegan-adegan kekerasan dibuat dengan tingkat kekejaman yang lebih brutal dan cukup menggemparkan penonton horor di awal 70-an. Sementara film-film buatan Bava sebelumnya lebih banyak berfokus pada sinematografi, pencahayaan, dan atmosfer, A Bay of Blood terasa sangat berbeda karena memang lebih berfokus pada adegan pembunuhan, menjadikannya sebagai film Mario Bava yang paling brutal dalam filmografinya. Faktor itu pula yang membuat A Bay of Blood sempat dilarang di banyak negara, termasuk di Inggris lewat kategori video nasty-nya. Dengan tingkat kekejaman yang berlipat ganda, A Bay of Blood mengubah genre giallo selamanya, karena sejak titik inilah seakan tertulis aturan baru bahwa sebuah film giallo wajib memiliki adegan pembunuhan yang kejam. A Bay of Blood bahkan memiliki body count yang cukup tinggi untuk standar film giallo dan slasher, yaitu sebanyak 13 kematian dalam durasi film sepanjang 85 menit. Meskipun hari ini kekerasan ekstrim dalam sinema sudah dianggap cukup lumrah, namun untuk jamannya, mungkin belum pernah ada penonton yang melihat film dengan adegan pembunuhan sekejam A Bay of Blood. Wajar saja kalau film ini cukup mengagetkan ketika pertama kali dirilis, karena beberapa adegan pembunuhannya memang dieksekusi dengan cukup baik dan terlihat realistis untuk jamannya. Padahal, anggaran produksi A Bay of Blood terbilang cukup kecil, namun Mario Bava mampu memaksimalkannya. Cara Mario Bava mengambil gambar dan menyusun komposisi visual, ditambah dengan pekerjaan special effect dan makeup yang terbilang fantastis di tahun 1971, adalah kunci dari kesuksesan Bava membuat penonton terkejut. Semua adegan gore dalam A Bay of Blood merupakan karya dari Carlo Rambaldi, seorang seniman special effect yang sangat bertalenta. Karena kreativitas dan kemampuannya, Rambaldi kemudian hijrah ke Amerika dan ikut menyukseskan berbagai film legendaris lainnya dari mulai Close Encounters of the Third Kind (1977), Possession (1981), hingga The NeverEnding Story (1984). Rambaldi bahkan sempat meraih penghargaan Oscar lewat karyanya dalam film Alien (1979) dan E.T (1982).

Sayangnya, A Bay of Blood cukup lemah dalam penulisannya. Permasalahan utamanya mungkin ada pada plot yang cenderung tidak fokus, dibuat terlalu rumit, dan semua terasa membingungkan, meskipun sebenarnya mudah dipahami. Keadaan semakin tidak jelas dengan kemunculan empat remaja random yang datang dari kota untuk bersenang-senang, tanpa ada kaitan apapun dengan plot utamanya. Seluruh bagian yang melibatkan keempat remaja tersebut seakan adalah film yang berbeda, sama sekali tidak penting, dan keberadaan mereka sepertinya hanya sebagai alasan bagi Mario Bava untuk membantai lebih banyak orang dan menambah durasi. A Bay of Blood juga ditutup dengan ending yang membuat penonton menggaruk kepala kebingungan lewat twist yang entah datang dari mana. Belum lagi dengan jumlah karakter yang terlalu banyak dan tidak ada satupun karakter yang dikembangkan dengan baik, diperburuk dengan kemampuan akting yang tidak bisa dibilang meyakinkan. Kalau dipikir-pikir, sepertinya tidak ada satupun karakter baik dalam film ini, karena para protagonisnya sendiripun sama serakah dan berdarah dingin seperti karakter lainnya. Tapi mungkin itulah inti yang ingin disampaikan dari kisah yang Bava tulis bersama Giuseppe Zaccariello dan Filippo Ottoni ini, yaitu soal keserakahan manusia dan pentingnya menjaga alam dari keserakahan tersebut. Jadi, dengan kisah dan penulisan yang buruk ini, saya cukup yakin kalau fokus utama Bava dalam A Bay of Blood memang hanya pada adegan-adegan pembunuhannya saja.

Sangat menarik untuk melihat bagaimana sebuah film misteri pembunuhan giallo bisa berkontribusi dalam evolusi genre yang melahirkan slasher modern. Pengaruh A Bay of Blood pada film-film slasher Amerika 80-an benar-benar tak bisa disangkal. Namun, tidak mengherankan mengapa film ini tidak sepopuler film-film slasher yang muncul kemudian, karena mungkin A Bay of Blood dengan adegan kekerasan-kekerasannya muncul terlalu dini. Saya pribadi merasa kalau A Bay of Blood memiliki banyak potensi dan sangat layak untuk dibuat remake-nya di zaman modern. Secara keseluruhan, saya sangat merekomendasikan A Bay of Blood untuk ditonton oleh para penggemar film slasher setidaknya untuk alasan historis, karena dari film inilah banyak formula yang terus direproduksi oleh para pembuat film slasher di kemudian hari. Tapi, saya sama sekali tidak menyarankan film ini bagi mereka yang mencari cerita mendalam dan karakter yang menarik dari sebuah film, karena hal-hal seperti itu memang tidak ada dalam A Bay of Blood.

** Giallo adalah sebuah subgenre horror dalam dunia literatur dan perfilman Italia tahun 1960/70-an yang sepintas mirip dengan fiksi kriminal. Fiksi kriminal sendiri adalah fiksi yang berfokus pada kasus pembunuhan, melibatkan investigasi pembunuhan yang penuh teka teki dan misteri rumit, membuat pembaca / penonton ikut menerka-nerka, lalu ditutup dengan pengungkapan, dengan contoh paling populernya adalah novel-novel buatan Agatha Christie. Sementara Giallo, bisa dibilang sebagai fiksi kriminal dengan tingkat misteri yang lebih dangkal dan picisan, namun lebih banyak berfokus pada adegan pembunuhannya. Giallo adalah fiksi kriminal / investigasi yang digabungkan dengan shocking horror dan kekerasan. Dalam giallo, kalian akan disuguhi adegan bagaimana seseorang dibunuh secara mendetail, terkadang dengan cara membunuh yang tidak lazim, dengan durasi yang lama. Tak hanya itu, kemisteriusan sosok pembunuh juga sangat penting dalam film giallo. Karenanya, film-film Giallo biasanya menampilkan sosok pembunuh bertopeng. Beberapa film Giallo Italia yang sangat populer di antaranya adalah The Girl Who Knew Too Much (1963) dan Blood and Black Lace (1964) karya Mario Bava; Don’t Torture a Duckling (1972) karya Lucio Fulci; All the Colours of the Dark (1972) dan Torso (1973) karya Sergio Martino; The Bird with the Crystal Plumage (1970), Profondo Rosso (1975) dan Terror At The Opera (1987) karya Dario Argento. Genre Giallo Italia sendiri kemudian menginspirasi terciptanya genre slasher horror yang mulai mewabah dalam industri horror daratan Amerika pada awal tahun 1980-an. Banyak orang berpendapat kalau cetak biru film slasher pertama adalah film Black Christmas (1974) karya Bob Clark. Lalu pada tahun 1978, John Carpenter menyempurnakan cetak biru tersebut lewat film Halloween (1978), dan genre ini dibuat lebih menggila lagi oleh Sean S. Cunningham lewat film Friday the 13th pada tahun 1980. Tapi gaya dan unsur utama yang dipakai oleh film-film slasher pionir seperti pembunuh bertopeng yang mengendap-ngendap, adegan membuntuti korban dengan gaya POV, pembunuhan kreatif dengan senjata apapun selain pistol, serta jumlah korban yang tinggi, semuanya sudah bisa ditemukan dalam banyak film giallo Italia jauh sebelum slasher dilahirkan.