MOVIE REVIEW: WE BURY THE DEAD (2024)

WE BURY THE DEAD
Sutradara: Zak Hilditch
Australia / USA (2024)

Review oleh Tremor

Selama kurang lebih 50 tahun terakhir, banyak pembuat film yang mencoba untuk mengeksplorasi film zombie lewat berbagai macam pendekatan yang berbeda agar genre zombie bisa terus berkembang dan tidak terasa monoton. Hari ini tentu adalah masa yang jauh lebih menantang bagi siapapun yang ingin membuat film zombie, kalau memang ingin berbeda dari yang lain. We Bury The Dead adalah salah satu film drama bertema zombie yang mencoba berbeda. Film ini ditulis dan disutradarai oleh pembuat film asal Australia, Zak Hilditch, yang sebelumnya cukup sukses mengadaptasi salah satu novella Stephen King berjudul 1922. Lewat We Bury The Dead, Zak mencoba untuk membuat film zombie dengan sentuhannya sendiri yang melankolis, dan mungkin tidak akan memuaskan para penggemar film horor zombie penuh darah dan action. Film zombie sendiri memang sudah cukup umum digunakan sebagai metafora permasalahan sosial maupun kultural, dari mulai seputar konsumerisme, kecemasan soal perang dan wabah penyakit, hingga keruntuhan sosial. Dalam We Bury The Dead, Zak Hilditch memilih untuk menggunakan film zombienya sebagai metafora seputar hal yang lebih personal dan berkaitan dengan emosi manusia. Naskah We Bury The Dead mulai ia tulis sejak tahun 2019 setelah kematian ibunya. Jadi mungkin film ini memang proyek yang cukup emosional baginya di mana ia mengeksplorasi seputar proses duka, trauma, serta hal-hal lain yang berkaitan dengan kehilangan menggunakan latar belakang survival / zombie. Karena itu, jangan berharap kalau We Bury The Dead akan seperti film zombie pada umumnya.

We Bury The Dead dibuka dengan sebuah insiden kecelakaan ledakan senjata eksperimental militer Amerika Serikat di perairan dekat kepulauan Tasmania, Australia, yang menewaskan lebih dari 500.000 penduduk pulau tersebut. Seorang perempuan Amerika bernama Ava Newman mendaftar sebagai relawan dalam program pencarian dan pengumpulan jenazah korban. Ledakan tersebut bukanlah jenis ledakan yang merusak tubuh para korbannya, melainkan hanya merusak otak korbannya saja dan menyebabkan kematian mendadak. Namun terdapat anomali yang belum bisa dijelaskan oleh pihak militer dan para ilmuwannya, yaitu bangkitnya sebagian mayat yang mampu bergerak dengan lambat, dan hanya bisa dibunuh dengan cara menghancurkan otaknya. Meskipun kata zombie tidak pernah digunakan dalam film ini, tapi penonton tentu tahu bahwa ini adalah ciri umum zombie. Diam-diam, Ava mendaftar sebagai relawan karena ia mempunyai misinya sendiri, yaitu mencari suaminya yang sedang dalam perjalanan bisnis di Tasmania ketika insiden tersebut terjadi. Namun, lokasi terakhir suaminya rupanya berada di zona karantina yang terlarang untuk dimasuki oleh siapapun. Ditemani dengan salah satu teman barunya, Clay, akhirnya Ava kabur dari unit relawannya yang dijaga ketat oleh militer dan segera bergerak menuju lokasi terakhir tempat suaminya berada. Tentu ini bukan perjalanan yang mudah karena semakin jauh Ava dari penjagaan militer, semakin besar kemungkinan ia akan bertemu dengan mayat-mayat hidup.

Pada dasarnya, We Bury The Dead merupakan film drama yang menggunakan zombie bukan sebagai elemen horor yang penuh kekerasan gore ataupun sebagai inti cerita, melainkan hanya sebagai perangkat metafora dan latar belakang saja. Masalahnya, We Bury The Dead dipasarkan sebagai film zombie dan tentu itu berpotensi membuat banyak penonton merasa kecewa setelah menonton film ini. Tagline We Bury The Dead yang berbunyi “After a catastrophic military disaster, the dead don’t just rise — they hunt” saja seakan sudah menjanjikan para calon penontonnya sebuah pengalaman survival horror yang penuh action dan ketegangan karena adanya zombie yang memburu manusia. Apalagi trailer film ini banyak berfokus pada beberapa momen menegangkan, seakan-akan We Bury The Dead benar-benar film horor zombie action, memungkinkan film ini ditonton oleh pangsa pasar yang tidak tepat. Tapi pada kenyataannya, serangan zombie sangat jarang terjadi di sepanjang durasi filmnya. Film ini memang memperlihatkan banyak zombie, namun tidak terlalu banyak aksi. Sebagian besar dari zombie-zombie ini ini bahkan terlihat pasif, tidak melakukan apapun meskipun terasa mengancam. Yang pasti, mereka tidak terlihat memburu manusia seperti yang dijanjikan tagline-nya. Saya mengerti, menjual film zombie yang tidak memiliki banyak adegan serangan zombie seperti We Bury The Dead tentu adalah pekerjaan yang sulit. Tapi membuat materi pemasaran yang salah sasaran justru menjadi kelemahan film ini. Seandainya saja sejak awal kita bisa melihat We Bury The Dead sebagai film drama yang kebetulan berlatar zombie, tentu ekspektasi calon penonton akan berbeda dan kita bisa lebih mengapresiasi film ini.

Membahas film zombie tentu kurang lengkap kalau tidak membahas zombienya. Pada dasarnya, perilaku zombie dalam We Bury The Dead tidak terlalu menakutkan. Beberapa zombie yang muncul hanya berdiri diam sambil menggertakkan gigi, dan hanya sebagian yang berusaha menyerang. Tapi makeup dan special effect prostetik dengan sedikit sekali sentuhan CGI-nya terlihat lumayan meyakinkan. Apa yang bisa diapresiasi dari We Bury the Dead mungkin adalah usaha film ini mencoba menggunakan lore zombie yang terasa berbeda, meskipun bukan sesuatu yang baru. Trend konsep zombie di era klasik menggambarkan zombie sebagai mayat yang hidup kembali karena ilmu hitam voodoo. Lalu George A. Romero menciptakan konsep sederhana yang revolusioner dan mengubah sinema zombie selamanya, di mana konsep zombienya adalah mayat yang bangkit dari kematian tanpa adanya unsur sihir. Pada dekade 2000-an kita mulai diperkenalkan dengan konsep zombie yang merupakan dampak dari infeksi virus menular. We Bury the Dead menggunakan konsep zombienya sebagai efek samping dari kecelakaan uji coba senjata rahasia militer yang merusak jaringan otak dan belum bisa dijelaskan secara ilmiah karena militer masih sibuk mengevakuasi mayat-mayat korban tragedi tersebut. Tentu ini bukan ide yang benar-benar baru. Seseorang berubah menjadi zombie karena terpapar kecelakaan senjata eksperimental militer sudah pernah digunakan oleh film-film seperti Nightmare City (1981), The Return of the Living Dead (1985) hingga Planet Terror (2007). Tapi setidaknya, membawa ide itu kembali di tahun 2024 bisa terasa cukup menyegarkan. Namun di sisi lain, “peraturan” zombie dalam We Bury The Dead terasa tidak konsisten. Beberapa zombie tampak agresif, tapi beberapa lainnya bisa terlihat sangat manusiawi, dengan yang paling konyol adalah adanya zombie yang menggali liang kubur untuk jasad keluarganya sendiri (maaf spoiler, tapi ini bukan hal yang penting dalam plotnya). Namun setidaknya We Bury The Dead berhasil membuat film zombie yang tidak generik dan lebih berfokus pada drama, bukan pada pembantaian zombie. Jadi, kalau tujuan Zak Hilditch adalah untuk menciptakan film zombie yang berbeda pada masanya, ia cukup berhasil, meskipun belum tentu sukses apalagi bisa menyenangkan para penggemar film zombie.

Seperti sudah saya tulis sebelumnya, We Bury The Dead adalah sebuah film drama yang mengeksplorasi tema seputar harapan, kesedihan, rasa bersalah, penyesalan, serta proses berduka. Hal yang paling ditekankan dalam We Bury The Dead mungkin ada pada penggambarannya soal penerimaan dan melanjutkan hidup setelah kehilangan dan berduka. Kalau penontonnya bisa menerima ide itu untuk sebuah film dengan sedikit unsur zombie, tentu mereka bisa menikmati We Bury The Dead. Film ini mungkin bisa direkomendasikan bagi mereka yang menyukai drama ringan dengan sedikit sentuhan ketegangan zombie, tapi sama sekali tidak cocok bagi para penggemar horor zombie penuh darah. Di luar soal itu, We Bury The Dead juga bukanlah film yang sempurna. Dalam beberapa bagian, tempo film ini terasa terburu-buru, sementara di beberapa bagian lain terasa bertele-tele. Mungkin We Bury The Dead akan lebih cocok seandainya dieksekusi sebagai miniseri, yang memungkinkan adanya tambahan durasi untuk mengeksplorasi ide-ide yang terasa terlalu dijejalkan di dalam satu film fitur berdurasi 94 menit, dan juga pengembangan karakter yang lebih dalam. Yang paling buruk bagi saya pribadi adalah, film ini ditutup dengan babak ketiga yang terasa antiklimaks serta ending yang cukup mengecewakan. Dua menit terakhir dalam film ini terasa seperti ditambahkan begitu saja dengan adegan yang justru membuat konsep zombienya semakin tidak konsisten, hanya untuk memberi kejutan yang tidak perlu. Bagi saya pribadi, We Bury The Dead bukanlah film drama yang buruk-buruk amat, meskipun unsur melankolisnya tidak digali terlalu dalam. Tapi sebagai film zombie, jujur saya memiliki ekspektasi yang berbeda.