VOIEL ‘Goddess of the North’ ALBUM REVIEW
Harsh Productions. April 18th, 2026
Post-metal/shoegaze

Meskipun dalam beberapa tahun terakhir ekosistem aliran atmospheric black, post-black, hingga depressive black metal di scene dalam negeri sudah sangat stabil geliatnya, perkembangan varian blackgaze ala ALCEST, LANTLÔS, AN AUTUMN, SYLVAINE dan ASTRONOID, yang lebih menekankan atmosfir shoegaze yang lebih ethereal bin mengawang, ketimbang menitikberatkan intensitas black metal-nya, yang kerap membawa sensibilitas indie-pop/dream-pop kuat, masih belum benar-benar menemukan representasi signifikan. Paling, nama-nama lokal yang benar-benar bermain di wilayah ini dan masih aktif sampai saat ini masih bisa dihitung jari, seperti LAMENT, FILIAL, dan AS BRIGHT AS THE STAR misalnya. Didirikan tahun 2024 lalu di Ibu Kota Negara Indonesia, Jakarta, VOIEL muncul ke domain sub-genre tersebut sebagai entitas baru yang merumuskan kerangka blackgaze dengan penekanan kuat pada atmosfer ketimbang agresi, lewat pendekatan komposisi yang sarat melankolia dan muatan emosional.

Dalam debut album bertajuk ‘Goddess of the North’, VOIEL mempersembahkan delapan buah lagu saling berkelanjutan layaknya sebuah concept album, yang telah dirajut bagaikan sebuah perjalanan emosional, berkisah tentang seseorang yang menjadikan hidupnya sebagai bentuk pengabdian total terhadap sebuah sosok entitas transenden, yang menjelajahi sekaligus mengaburkan batas-batas rapuh antara loyalitas absolut dan penghancuran diri. Terlepas dari fondasi konseptual dan tematik yang kuat, album ini masih menunjukkan inkonsistensi dalam eksekusi aransemen. Namun jangan salah!, ketika semua aspek komposisional saling sinkron dengan akurat, hasilnya dijamin maknyus tak ketara. Lagu pembuka “When The Goddess Rises” langsung membangun atmosfer album dengan sangat meyakinkan, di mana wall of sound ala post-rock/shoegaze tebal yang mampu menyelimuti pendengar dalam lapisan kabut sonik yang masif. “Blossom” melanjutkan momentum dengan melodi vokal yang kuat, dan build-up yang terukur, sebelum akhirnya meledak dengan dosis intensitas yang presisi.
“Maniac Vows” awalnya terdengar menjanjikan dengan tatanan aransemen yang sangat catchy, meskipun hook vokal dan pendekatannya terlalu condong ke arah post-hardcore, yang kurang klop dengan selera pribadi ogut. Masalah utama lagu ini muncul ketika unsur blackened-nya mulai nongol di bagian akhir, di mana gebukan drum-nya tidak benar-benar mampu untuk mengunci dengan riff gitar maupun harsh vocal, sehingga momen klimaks yang seharusnya terdengar memuaskan justru melempem. Sedangkan “Helix” dari segi racikan komposisi, menurut gua agak terlalu out there dan rada kurang nyambung antar elemen.
VOIEL juga punya kecenderungan agak overindulgent dari segi penulisan lagi di empat lagu terakhir. “03.09 (The Verdict)” dibuka dengan segmen intro yang menurut gua terasa cukup kepanjangan, dengan bagian spoken word yang artikulasinya kurang jelas, alhasil transisi ke lagu berikutnya jadi agak kurang dapet. Track berikutnya, “Judas” justru jadi salah satu highlight personal di album ini, berkat konstruksi lagu yang sedikit condong ke ranah alternative metal kekinian tanpa harus melepaskan dari identitas VOIEL. Sementara “Forlorn”, selain (lagi-lagi) rada kepanjangan, sebenernya sudah gak terlalu esensial lagi dari sisi pacing, untuk jadi sebuah lagu setting the tone menuju track terakhir, “Withered”, yang jadi titik puncak, di mana semua elemen musikal dan muatan emosional yang dibangun VOIEL sejak awal, akhirnya benar-benar meluap lalu saling berpadu untuk mencapai klimaks yang eksplosif. Walaupun masih punya inkonsistensi dalam hal songwriting serta produksi yang belum sepenuhnya matang, VOIEL tetap memperlihatkan kalau mereka punya potensi yang menjanjikan di balik debut ‘Goddess of the North’. Namun, segala potensi mereka bakalan baru akan terealisasikan kalau adanya penajaman yang lebih terarah dari sisi orientasi artistik, eksekusi hingga produksi. Karena, tanpa penguatan pada tiga aspek tersebut dalam karya-karya mereka selanjutnya, VOIEL bakal berisiko tetap terjebak dalam sirkel yang disitu-situ saja.(Peanhead)
6.0 out of 10