KËKHT ARÄKH ‘Morning Star’ ALBUM REVIEW
Sacred Bones Records. March 27th, 2026
Melancholic black metal

Lima tahun lalu, tepatnya ketika “Si Kopit” masih menjadi momok menakutkan di seluruh penjuru dunia, dari pedalaman Mykolaiv Oblast, Ukraina, nongol lah KËKHT ARÄKH dengan album keduanya, ‘Pale Swordsman’, yang mendadak viral instan berkat mayoritas para manusia lagi gabut dan tak bisa keluar rumah efek WFH + lockdown. Popularitas dadakan one-man band ini, terlepas dari fakta bahwa komposisi black metal yang ditawarkan memang cukup catchy dan memorable, tidak lain dan tidak bukan berkat penampilan dan pose sang Crying Orc yang kelewat memeable di gambar sampul albumnya, dimana ia duduk di sofa mengenakan corpse paint ala vampir, lengkap dengan kostum plus jubah serba hitam, sambil mendekap pedang di tangan kanan dan memegang erat bunga mawar di tangan kiri, semuanya dijepret dengan gaya visual lo-fi yang bikin overall vibe-nya sangat a e s t h e t i c.

Alhasil gara-gara identitas visual yang norak dan mengundang olok-olok tapi ikonik tersebut, ditambah catchphrase “Wandering in the night, pale swordsman” yang nongol hampir di semua lagu, komunitas musik andergron langsung menggoreng KËKHT ARÄKH dengan ratusan meme pengocok perut tiap harinya, kasusnya sama lah seperti debut LP SACRED SON tahun 2017 dulu. Namun, proyek yang digawangi oleh sosok yang bernama asli Dmytro Eugenovich Marchenko ini memang terbukti bukan sekedar jualan melancholic raw black metal nge-gimik alakadarnya, karena di luar segala hype dan segala citra terlanjur melenceng ke arah yang salah (bagi sebagian orang), dari segi pembangunan mitos, kosmologi, lore, persona karakter si ‘Pale Swordsman’, dan pondasi musikal (yang banyak terinspirasi band-band macam early ULVER, BURZUM, JUDAS ISCARIOT dan tentunya band lejen Ukraina, DRUDKH), KËKHT ARÄKH sangat gua acungi jempol, karena memang sebuat paket lengkap yang solid, meski umur proyek-nya waktu itu baru 3 tahunan.
Setengah dekade pasca ‘Pale Swordsman’ mengacak-acak panggung persilatan skena blek metal, KËKHT ARÄKH akhirnya nongol lagi dengan album penuh ketiga nya, empat tahun sejak ia berlabuh ke Sacred Bones Records. Dalam album bertajuk ‘Morning Star’ ini, Crying Orc makin totalitas dengan persona “Sang Pendekar Pedang Pucat”, yang kini keluyuran-nya udah sampai mampir ke Stockholm, Berlin, London, hingga Akihabara. Dari segi visual pun, KËKHT ARÄKH kalau gua bilang makin cringe (yang agak terlalu dibuat-buat alias kurang tulus), tengok aja tuh, pose doi di gambar sampul, yang dengan sengaja kelihatan seperti pengen bersaing dengan pose ikonik Varg Vikernes atau Kanwulf di front cover album ‘‘Black Metal ist Krieg’, atau video klip “Three Winters Away” dan Visualizer “Eternal Martyr”, yang susah dijelaskan dengan kata-kata saking uncanny-nya. Selain perkara visual tadi, gua juga merasa kalau KËKHT ARÄKH seperti mulai menyusupkan elemen hip hop atau lebih tepatnya cloud rap, karena tak hanya gerak-gerik body language atau mengajak pangeran emo-rap, Bladee untuk kolaborasi saja, kalau ditelaah lebih dalam lagi, lagu-lagu seperti “Lament”, “Castle”, dan “Three winters away” punya delivery, cara tarik-ulur vokal, sampe phrasing yang nyerempet ke wilayah trap/modern rap, sampai-sampai di kolom komentar YouTube, Crying Orc dapet julukan baru, Lil Aräkh, Yung Këkht, dan DJ Sorrow segala.
‘Morning Star’ sendiri merupakan direct sequel dari ‘Pale Swordsman’, dimana lagu penutup dari album tersebut langsung nyambung ke trek pembuka full-length ketiga dari KËKHT ARÄKH ini, “Wänderer”. Meskipun mulai terkontaminasi kultur hip-hop kekinian yang berserakan di beberapa tempat, secara keseluruhan album ini, masih mengakar pada black metal dan dark folk, jadi menurut ogut, pendengar yang doyan rilisan macam ‘Det som engang var’ / ‘Hvis lyset tar oss’ dan tiga LP pertama ULVER, serta masih punya daya tahan terhadap kenyelenehan album terakhir FORGOTTEN WOODS, semestinya bakalan bisa mencerna ‘Morning Star’ dengan mudah, yang penting sang pendengar harus kebal dengan vokal clean yang kelewat melodramatis nan mendayu-dayu ala sadboy di beberapa lagu, dan tentunya wajib punya toleransi tinggi terhadap segala kegaringan over-the-top yang disengaja maupun tidak disengaja proyekan ini. Sebab, kalau kuping dari awal sudah bisa berdamai dengan hal-hal tersebut, nomor-nomor mellow pun, layaknya “Genom sorgen”, “Drömsäng”, “Trollsång” dan title track gue jamin bakalan bisa bikin luluh dan menghangatkan jiwa.
Sayangnya ‘Morning Star’ agak terlalu excessive dari segi konten, bayangin aja lurd… 17 track dengan total durasi 50 menit lebih, padahal album sebelumnya sudah pas banget (10 lagu, 31 menit). Alhasil KËKHT ARÄKH seperti kehilangan momentum setelah run impresif tak terputus dari trek pertama hingga kedelapan, yang mampu mengalir secara natural dengan meyakinkan. Sedangkan, saat memasuki 23 menit terakhir, materinya jadi rada kurang kohesif dari segi alur dan struktur, alias sangat jomplang kalo dibandingkan dengan first half album ini. Memang masih ada racikan kuat bin menohok, kayak “Eternal martyr”, “Land av evig natt I & II”, dan lagu pamungkas sebelum outro, “Morning Star”, hanya saja, trek seperti “Raven King”, “Gates”, dan khususnya “Vigil”, walau punya komposisi yang oke, rasanya bakal lebih ideal kalau seandainya disisihkan jadi stand-alone singles, b-sides, atau disimpen buat nanti-nanti, Agar ‘Morning Star’ terdengar jauh lebih padat, lebih tajam, lebih impactful, dan tidak terlalu melelahkan untuk diulang dari awal lagi.
Padahal kalau mau main aman doang, KËKHT ARÄKH sebenarnya tinggal mengulang formula ‘Pale Swordsman’ saja, sembari terus memerah hype dan memetic popularity yang sudah terlanjur nempel sampe kering. Namun, Crying Orc sepertinya ogah sekadar duduk manis di atas pencapaian ‘Pale Swordsman’ lima tahun lalu. Lewat ‘Morning Star’, ia jelas berusaha melebarkan lagi sayap kreativitas one-man project ini, entah dari segi narasi, persona, visual, sampai pendekatan musikalnya yang kini semakin melebar ke ranah tak terduga. Memang, tidak semua eksperimennya berhasil mendarat dengan mulus, kontennya (dan durasi) terasa agak kebanyakan muatan. Walaupun branding KËKHT ARÄKH sendiri, makin lama makin garing parah, sampai sempat bikin gua sendiri awalnya jiper duluan buat nyetel album ini, apalagi beli rilisan rilisan fisiknya. Namun, di balik segala estetika cringe bin borderline norak yang semakin menjadi-jadi tersebut, ‘Morning Star’ tetap layak disebut sebagai salah satu rilisan extreme metal tahun 2026 paling eksentrik sejauh ini. This is huh… wow! (Peanhead)
8.0 out of 10