MOVIE REVIEW: LEE CRONIN’S THE MUMMY (2026)

LEE CRONIN’S THE MUMMY
Sutradara: Lee Cronin
USA (2026)

Review oleh Tremor

Dalam beberapa tahun terakhir, perfilman horor diramaikan dengan kembalinya beberapa ikon horor klasik ke layar lebar dari mulai The Invisible Man (2020), The Last Voyage of the Demeter (2023), Nosferatu (2024), Dracula: A Love Tale (2025), Wolf Man (2025), hingga The Bride! (2026). Sosok The Mummy adalah satu dari sekian banyak ikon horor klasik yang pertama kali muncul dalam layar lebar lewat film The Mummy (1932) yang dibintangi oleh aktor horor legendaris Boris Karloff. Namun image mumi yang digambarkan sebagai sosok mayat hidup berbalut kain linen yang berjalan tertatih-tatih mendekati korbannya, image yang kemudian sangat dikenal dalam budaya populer hingga hari ini, baru dikembangkan oleh Hammer Studio pada tahun 1959 dalam judul yang sama. Pada era modern, sineas Stephen Sommers mencoba mentransformasi tradisi film mumi menjadi sesuatu yang lebih menyegarkan dengan cara memadukannya dengan kisah aksi penuh petualangan ala Indiana Jones yang dibuka lewat The Mummy (1999). Lee Cronin’s The Mummy adalah salah satu usaha terbaru dalam menafsirkan ulang sosok monster klasik The Mummy  yang ditulis dan disutradarai oleh sineas asal Irlandia, Lee Cronin. Lewat film terbarunya ini, Lee Cronin mencoba memulai lembaran baru The Mummy lewat pendekatan yang sama sekali berbeda dari film-film mumi yang pernah ada sebelumnya. Nama Lee Cronin sendiri mulai dikenal dalam genre horor setelah film pendeknya Ghost Train (2013) memenangkan sejumlah penghargaan. Beberapa tahun kemudian ia merilis debut film panjangnya yang berjudul The Hole in the Ground (2019). Namun baru film keduanyalah yang membuat nama Cronin mencuri perhatian dunia melalui kontribusinya untuk franchise Evil Dead lewat Evil Dead Rise (2023) yang cukup brutal. Dalam The Mummy, Cronin kembali menerapkan berbagai teknik yang pernah ia gunakan di Evil Dead Rise untuk menciptakan rasa tidak nyaman bagi penonton, lalu meningkatkan intensitas kekerasan, body horror dan kebrutalan hingga ke batas maksimal. 

Kisah dalam The Mummy versi Lee Cronin berpusat pada Katie, seorang anak perempuan berusia tujuh tahun yang diculik dan menghilang tanpa jejak di Mesir. Katie merupakan anak sulung dari seorang jurnalis Amerika bernama Charlie Cannon yang saat itu sedang bekerja di Mesir. Hilangnya seorang anak tanpa jejak dan tanpa penjelasan tentu merupakan mimpi terburuk bagi orangtua manapun. Setelah delapan tahun berusaha berdamai dengan duka dan misteri, keluarga Cannon yang kini menetap di New Mexico, Amerika, tiba-tiba mendapat kabar mengejutkan dari kepolisian Mesir bahwa Katie ditemukan dalam keadaan hidup. Ia ditemukan dalam kondisi terbalut kain linen yang dipenuhi rajah, di dalam sebuah sarkofagus batu berusia 3000 tahun setelah pesawat kecil yang mengangkutnya mengalami kecelakaan. Kondisi Katie tentu sangat mengenaskan sekaligus menyeramkan. Ia terlihat pucat karena tidak pernah terkena sinar matahari selama bertahun-tahun, kurus, berkulit rusak, tidak bisa banyak bergerak dan tidak bisa berbicara. Polisi yakin Katie sangat terpukul dengan apapun yang dialaminya selama beberapa tahun terakhir, dan merekomendasikan bahwa recovery terbaik untuk Katie adalah dengan cara dirawat oleh keluarganya sendiri. Keluarga Cannon sangat bahagia karena bisa kembali berkumpul dengan putrinya. Namun mereka masih terus mencari jawaban tentang apa yang sebenarnya terjadi pada putri mereka selama delapan tahun terakhir. Lewat investigasi Charlie bersama salah satu detektif di Mesir, rahasia gelap mengenai Katie sedikit demi sedikit mulai terungkap. Seiring berjalannya waktu, Charlie mulai menyadari bahwa gadis yang kembali ini bukanlah sosok yang sama dengan putri sulungnya, dan reuni keluarga Cannon berubah menjadi mimpi buruk yang mengerikan sekaligus mengancam umat manusia. 

Penafsiran The Mummy versi Lee Cronin cukup menarik karena ia memadukannya dengan unsur supranatural ala film horor Amerika modern serta body horror yang menjijikkan. Namun film ini bisa jadi mengecewakan para penonton yang mengharapkan aksi teror monster mumi konvensional. Pada dasarnya The Mummy versi Lee Cronin bukanlah film mumi, melainkan sebuah film kerasukan. Antagonis utama film ini juga bukanlah mumi, melainkan entitas iblis purba Mesir bernama Nasmaranian yang merasuki tubuh korbannya. Maksud saya, unsur-unsur mumi memang ada dalam film ini: latar belakang Nasmaranian yang kebetulan berkaitan dengan ritual mumifikasi, sarkofagus berusia ribuan tahun, serta Katie yang ditemukan di Mesir dalam keadaan termumifikasi. Namun, sebagian besar teror film ini lebih didominasi unsur kerasukan iblis dibandingkan unsur muminya. Ini mungkin tidak akan menjadi masalah seandainya Lee Cronin menggunakan judul lain. Tapi karena judulnya adalah “The Mummy”, mau tidak mau film ini terasa seperti terlalu memaksakan unsur-unsur khas mumi tetap hadir, walaupun pada akhirnya terasa hanya menjadi gimmick belaka. Saya yakin seandainya unsur mumi dalam film ini diganti dengan hal lain, esensi dari ceritanya pun tak akan banyak berubah. 

Sebagai sebuah film kerasukan, karakter Katie juga adalah tipikal stereotip karakter anak yang dirasuki iblis dalam film horor: fisiknya berubah menyeramkan, berperilaku ganjil, menyakiti diri sendiri dan penuh kekerasan bahkan pada orang-orang terdekatnya. Maka wajar saja kalau siapapun yang melihat karakter Katie akan lebih teringat pada karakter Regan dari film The Exorcist (1973) serta belasan film kerasukan lainnya, dibanding pada film-film mumi. Tapi apa yang paling mendominasi adalah film ini juga terasa seperti sebuah film Evil Dead, yang pada dasarnya merupakan film kerasukan juga namun dengan pendekatan berbeda. Bahkan salah satu karakter yang sudah mati pun bangkit kembali, yang jelas akan mengingatkan kita pada deadites-nya Evil Dead. Tapi justru semua elemen yang terang-terangan merujuk pada Evil Dead ini adalah hal yang paling saya suka dan nikmati dari Lee Cronin’s The Mummy. Setidaknya bagi saya dan para penggemar Evil Dead lainnya, kekuatan terbesar dari Lee Cronin’s The Mummy jelas terletak pada unsur-unsur tersebut, di mana Cronin bisa mengeksplorasi elemen body horror dan ide-ide gore kreatifnya. Cronin menciptakan body horror dan gore dengan efek visual serta tata rias prostetik yang memperkuat nuansa kengerian berdarahnya, seakan ia masih ketagihan membuat film semacam Evil Dead, dan saya sangat mengapresiasi hal tersebut. Ada banyak sekali adegan memorable yang saya suka dalam film ini, dari mulai adegan memotong kuku kaki Katie, hingga adegan ketika Katie berkomunikasi dengan adik perempuannya dari balik pintu kamarnya. Menjelang klimaks filmnya, tingkat kekerasan dan kebrutalan The Mummy memuncak semakin intens. Siapapun yang ingat dengan bagaimana menjijikkannya film-film horor Sam Raimi, terutama Evil Dead II (1987) dan Drag Me to Hell (2009), serta bagaimana menyakitkannya gore dalam Evil Dead (2013) dan Evil Dead Rise, tentu akan mengapresiasi visi horor Lee Cronin dalam The Mummy. 

The Mummy berhasil mengeksplorasi tema tentang kehilangan dan trauma dengan cukup baik lewat kacamata body horror yang cukup brutal. Namun kelemahan terbesar dari film ini ada pada penulisannya yang seakan kebingungan dengan bagaimana cara menghubungkan investigasi penculikan Katie, tradisi mumifikasi Mesir, dengan semua teror supranatural di kediaman keluarga Cannon di New Mexico. Akibatnya, muncul beberapa ketidaklogisan dan plot hole yang agak mengganggu. Mungkin tidak jadi masalah kalau seandainya The Mummy hanyalah sebuah film splatter kelas B di mana kita akan dengan senang hati mengacuhkan semua ketidaklogisan. Masalahnya, sejak awal The Mummy sudah mencoba untuk menjual misteri dan sisi investigasinya dengan cukup serius. Bahkan Lee Cronin sendiri pernah menggambarkan bahwa The Mummy versi ini adalah perpaduan antara Poltergeist (1982) pada bagian keluarga memperjuangkan anak yang dikuasai kekuatan jahat, serta Seven (1995) pada bagian investigasi misterinya. Menggunakan Seven sebagai rujukan artinya film ini cukup serius dalam sisi investigasinya. Untuk film dengan elemen investigasi semacam itu, saya pribadi berharap setidaknya logika-logika dasar tetap digunakan meskipun premisnya tidak masuk akal. Dari beberapa ketidaklogisan, yang paling mengganggu saya ada pada ending film ini, yang tidak bisa saya tulis secara mendetail karena saya tidak ingin membagikan spoiler. Pertanyaan terbesar saya ketika melihat endingnya adalah, bagaimana bisa keluarga Cannon dengan mudahnya bepergian dari New Mexico ke Mesir dengan kondisi seperti itu tanpa menarik perhatian siapapun dalam perjalanannya? Lagipula, rasanya adegan final tersebut sangat tidak diperlukan. Cronin seakan kebingungan bagaimana caranya menyudahi film ini agar tidak berakhir terlalu gelap. Melihat konklusi “aman” dalam adegan finalnya yang terasa generik ala film horor box office Amerika, saya menduga bisa jadi James Wan sebagai produser film ini ikut memberi masukan bahwa ending seperti itulah yang akan disukai oleh para penonton umum yang tidak terbiasa menonton film horor. Selain itu, masih ada beberapa keputusan tidak logis lainnya, yang sudah seharusnya saya abaikan saja agar bisa menikmati film ini sebagai hiburan. Tapi di luar soal itu, kisah The Mummy tetap cukup berhasil pada sisi dramanya tentang bagaimana sebuah keluarga memproses rasa kehilangan, dan bagaimana kerasnya usaha mereka untuk menerima serta memulihkan kondisi sang anak setelah ia kembali. Dalam situasi yang dihadapi oleh keluarga Cannon, ide bahwa keluarga tersebut berkali-kali mengabaikan banyak red flag yang muncul pada Katie rasanya masih cukup bisa diterima penonton. Saya tetap mengapresiasi ambisi tematis cerita dalam The Mummy, meskipun beberapa keputusan yang diambil oleh karakternya terkadang terasa menjengkelkan.