
ASYLUM
Sutradara: Roy Ward Baker
UK (1972)
Review oleh Tremor
Amicus Productions adalah sebuah perusahaan film asal Inggris yang cukup diperhitungkan dalam dunia film horror pada tahun 70-an. Perusahaan tersebut sangat dikenal lewat pembuatan film-film omnibus / antologi horor yang memiliki gaya tersendiri pada jamannya, yang sering disebut sebagai portmanteau films. Sebenarnya, antologi horor Amicus yang paling sukses secara komersial adalah adaptasi dari komik-komik pendek buatan EC Comics yang sangat populer di masanya, berjudul Tales from the Crypt (1972). Namun kali ini saya ingin membahas antologi klasik lain dari Amicus yang berjudul Asylum (terkadang dipasarkan dengan judul House of Crazies), yang merupakan film kelima dari tujuh film antologi yang pernah dirilis oleh Amicus Productions di sepanjang tahun 1965 hingga 1976. Asylum cukup berbeda dari antologi Amicus lainnya karena sepenuhnya ditulis oleh Robert Bloch, penulis horor kawakan yang pernah menulis Psyhco. Karyanya tersebut kemudian diadaptasi menjadi film oleh Alfred Hitchcock pada tahun 1960. Pada dasarnya, Bloch memang merupakan penulis cerita pendek dan naskah yang cukup produktif. Naskah Asylum yang disutradarai oleh Roy Ward Baker ini berisi lima kisah teror yang Bloch tulis ulang berdasarkan cerita-cerita pendek buatannya sendiri, dibintangi oleh sederet aktor ikonik tahun 60-an seperti Peter Cushing, Britt Ekland, hingga Herbert Lom. Cerita-cerita pendek karya Bloch dalam Asylum memadukan eksplorasi gangguan kejiwaan, teror psikologis yang disertai sentuhan misteri supranatural, dikemas lewat cara yang liar dan absurd ala komik-komik horor buatan EC Comics.

Asylum dibuka dengan cerita bingkai yang berfungsi sebagai landasan bagi setiap cerita pendek di dalam antologi Asylum. Cerita bingkai ini juga merupakan satu segmen tersendiri yang diadaptasi secara bebas dari cerpen karya Robert Bloch berjudul “A Home Away from Home”, yang pertama kali diterbitkan dalam majalah “Alfred Hitchcock’s Mystery” pada tahun 1961 dan juga sempat diadaptasi untuk acara televisi The Alfred Hitchcock Hour (1963). Dalam cerita bingkai ini, seorang dokter muda yang ambisius bernama Dr. Martin datang ke sebuah rumah sakit jiwa yang terpencil untuk memenuhi panggilan wawancara kerja di sana. Rumah sakit yang bernama Dunsmoor Asylum tersebut merupakan tempat di mana para kriminal dengan gangguan jiwa berat dirawat. Seharusnya ia bertemu dengan direktur utama yang bernama Dr. Starr. Namun ia disambut oleh Dr. Rutherford yang menyatakan bahwa Dr. Starr kini telah menjadi salah satu pasien karena kehilangan akal sehatnya juga. Untuk membuktikan kompetensinya sebagai seorang psikiater, Dr. Martin diberi tantangan mewawancarai para pasien dengan gangguan jiwa berat di ruang mereka masing-masing dan harus bisa menebak siapa di antara mereka yang sebenarnya adalah Dr. Starr. Ini jelas merupakan premis pembuka yang sangat menarik dan langsung memikat perhatian penonton. Ketika Dr. Martin mulai melangkah masuk ke setiap ruang isolasi, satu persatu pasien mulai menuturkan kisah mereka masing-masing tentang apa yang menyebabkan mereka berada di rumah sakit jiwa tersebut.

Segmen pertama yang berjudul “Frozen Fear” bercerita tentang seorang suami yang tidak setia memutuskan untuk membunuh istrinya agar perselingkuhannya dengan perempuan lain bisa terus berlanjut. Setelah membunuh dengan sebilah kapak dan memotong-motong jenazah istrinya, ia membungkus setiap potongan dengan kertas layaknya daging sapi dan menyimpannya di dalam freezer ruangan bawah tanah. Tak lama kemudian masing-masing bungkusan tersebut mulai bergerak untuk membalas dendam. Kisah ini merupakan adaptasi dari cerpen karya Bloch dengan judul yang sama, yang pertama kali diterbitkan dalam majalah “Weird Tales” pada tahun 1946. Meskipun secara visual semuanya bisa terlihat konyol bagi para penonton modern, tapi saya yakin kisah ini cukup menyeramkan bagi para penonton di tahun 70-an. Ide cerita ini memang cukup brutal, tapi sayangnya secara visual tidak ada satu tetes darahpun yang ditampilkan. Mungkin menampilkan darah dalam film di awal 70an cukup tabu bagi film-film yang mengejar pemutaran masif dan box office seperti Asylum. Meskipun tanpa darah, tapi semua adegan kunci segmen ini digarap dengan cukup baik. Cerita ini juga digarap dengan gaya ala komik pulp rilisan EC Comics, dan dalam konteks tersebut menurut saya Frozen Fear cukup berhasil.
“The Weird Tailor” adalah segmen kedua dalam Asylum yang bercerita tentang seorang penjahit miskin yang mendapat pekerjaan untuk membuat jas khusus. Pemesannya yang asing dan misterius (diperankan oleh aktor legenda horor Peter Cushing) membawa materialnya sendiri, berupa selembar kain yang memendarkan cahaya. Sang pemesan juga memberinya beberapa instruksi aneh yang diantaranya adalah proses pengerjaan jas tersebut hanya boleh dilakukan selepas tengah malam hingga sebelum matahari terbit. Namun ia berjanji akan membayarnya dengan harga yang cukup mahal. Setelah akhirnya jas tersebut selesai, sang penjahit pun mengantarkannya ke rumah sang pemesan. Di dalam rumah tersebutlah ia mendapati sebuah kenyataan yang mengejutkannya. Kisah aneh ini diadaptasi dari cerita pendek karya Bloch dengan judul yang sama, yang pertama kali diterbitkan dalam majalah “Weird Tales” edisi Juli 1950. Pada tahun 1961, kisah ini juga pernah diadaptasi dalam sebuah serial televisi berjudul Thriller yang dipandu oleh aktor horor legendaris Boris Karloff.

Segmen ketiga yang berjudul “Lucy Comes To Stay” berfokus pada seorang perempuan muda bernama Barbara yang baru keluar dari rumah sakit jiwa. Ia dibawa oleh kakak laki-lakinya ke rumah keluarga untuk beristirahat. Sesampainya di sana, Barbara disambut oleh seorang perawat yang dipekerjakaan kakaknya. Barbara merasa dijebak karena rupanya tujuan kakaknya membawanya ke sana adalah untuk menjauhkan Barbara dari Lucy, teman di masa lalunya yang kerap menimbulkan masalah. Suatu sore, diam-diam Lucy datang untuk mengajak Barbara kabur. Bagi saya pribadi, Lucy adalah segmen yang terasa paling lemah dari keseluruhan antologi Asylum. Untuk para penonton modern, mungkin twist dalam cerita ini sudah bisa ditebak sejak awal karena premis semacam ini sudah terlalu sering digunakan di dalam banyak film modern sehingga tidak lagi memberikan dampak kejut yang berarti. Tapi mungkin bagi penonton di awal 70-an, twist kisah ini bisa jadi cukup menyeramkan. Berbeda dengan dua segmen sebelumnya, kisah Lucy murni kisah psikologis tanpa ada unsur supranatural sama sekali. Apa yang cukup spesial dari segmen ini mungkin adalah cast-nya yang menghadirkan dua bintang besar era 60-an, Charlotte Rampling dan Britt Ekland, sekaligus dalam satu segmen, di mana pada saat itu nama keduanya sedang berada di puncak popularitas.
Segmen terakhir yang terjalin secara langsung dengan kisah bingkai di awal antologi Asylum, berjudul “Mannequins of Horror”. Kisah ini berfokus pada Dr. Byron, seorang dokter bedah yang menciptakan beberapa boneka mini sebagai bagian dari penelitian terbarunya. Menurut Dr. Byron, boneka-boneka ini berisikan miniatur organ tubuh manusia yang sepenuhnya berfungsi, dan bisa menjadi hidup kalau ia berhasil memproyeksikan cukup konsentrasi ke dalamnya. Segmen “Mannequins of Horror” terasa terlalu singkat dan tidak begitu kuat, seakan adanya segmen ini hanya sebagai jembatan untuk kembali ke segmen bingkainya saja. Boneka-boneka buatan Dr. Byron juga tidak terasa menyeramkan, setidaknya kalau dilihat dari kacamata modern. Setelah segmen ini, kita memasuki segmen penutup yang akan membongkar identitas Dr Starr yang sebenarnya.

Saya pikir tidak semua orang bisa menikmati Asylum di tahun 2026. Saya sendiri bahkan tidak yakin seberapa besar saya menikmatinya. Tapi secara subjektif, saya memang selalu tertarik dengan omnibus / antologi horor dalam apapun formatnya dari mulai film, kumpulan cerpen, hingga komik horror ala EC Comics, terlepas dari bagaimana kualitasnya. Dan seperti pada umumnya antologi, akan selalu ada kisah yang lebih menonjol dibanding lainnya. Bagi saya, mungkin segmen paling berkesan dari Asylum adalah segmen “Frozen Fear” karena pengaruh EC Comics-nya terasa sangat kuat. Hal lain yang saya suka dari Asylum adalah struktur naratif antologinya, di mana Robert Bloch tidak membuat segmen bingkainya sebagai sekedar pelengkap, tetapi justru menjadikannya sebagai plot utama yang berdiri sendiri. Dalam antologi-antologi modern, struktur seperti ini sudah beberapa kali digunakan, tapi untuk akhir 60-an dan awal 70-an struktur tersebut tentu terasa menyegarkan. Saya juga berusaha membayangkan bagaimana menariknya film ini bagi para penonton bioskop tahun 1972, di mana batas antara kewarasan dan kegilaan menjadi kabur dalam setiap segmennya, meskipun tema seperti itu sudah cukup umum untuk sebuah film horor modern.
Ada banyak plot hole dan tidak ada satupun cerita pendek yang benar-benar menakutkan dalam Asylum. Tapi saya suka dengan keseluruhan atmosfer yang dibangun lewat visual dan sinematografi antologi yang telah berusia 54 tahun ini. Dalam beberapa bagian, sutradara Roy Ward Baker mengambil gambar dari sudut-sudut kreatif yang terasa sangat komikal sekaligus dramatis, dilengkapi dengan pencahayaan yang juga mencekam. Mereka yang tertarik dengan antologi dan genre horor Inggris dari era awal 70an tentu bisa menikmati Asylum, dan tentu saja wajib untuk menonton omnibus lain dari Amicus. Tapi bagi mereka yang mencari sesuatu yang jauh lebih mengerikan, mungkin Asylum bukanlah pilihan yang tepat.

