MOVIE REVIEW: GAIA (2021)

GAIA
Sutradara: Jaco Bouwer
Afrika Selatan (2021)

Review oleh Tremor

Gaia adalah sebuah film eco-horror / thriller, debut film fitur dari sutradara asal Afrika Selatan, Jaco Bouwer, berdasarkan skenario yang ditulis oleh Tertius Kapp. Eco-horror sendiri merupakan subgenre horor yang menggunakan rasa takut manusia terhadap alam sebagai sumber terornya. Umumnya, subgenre ini mengeksplorasi kecemasan seputar krisis lingkungan akibat ulah manusia seperti eksploitasi alam, polusi, perubahan iklim, hingga deforestasi, lalu memperlihatkan bagaimana alam bekerja untuk “membalas dendam” keserakahan manusia. Kisah dalam Gaia sendiri menggabungkan unsur tersebut dengan elemen body horror, sambil mengeksplorasi beberapa tema lainnya dari mulai fanatisme agama hingga perenungan filosofis seputar eksistensi manusia. Judul film ini diambil dari bahasa Yunani kuno yang berarti “bumi”, berdasarkan referensi mitologi Yunani, di mana Gaia adalah personifikasi dewi bumi dan ibu dari banyak dewa. Namun, di luar konteks mitologi Yunani, nama Gaia sendiri sudah sering dikaitkan dengan berbagai bentuk spiritualitas paganisme, termasuk juga konsep tentang bagaimana semua mahkluk hidup adalah “anak-anak” dari “mother earth”, Bumi sebagai tempat kita semua menjalani kehidupan. Rasanya pemilihan kata Gaia sebagai judul film ini memang cukup tepat, karena semua koneksi itulah yang kemudian dieksplorasi di dalamnya.

Seorang penjaga hutan bernama Gabi sedang bertugas memeriksa kamera-kamera pemantau satwa liar di pedalaman hutan rimba. Ketika hendak mengambil drone yang jatuh di dalam hutan, kaki Gabi terluka cukup parah setelah terkena sebuah perangkap hewan. Dengan langkah tertatih-tatih dan hari semakin gelap, Gabi mulai tersesat hingga ia menemukan sebuah gubuk kayu di tengah rimba. Di sana, tinggal sepasang ayah dan anak bernama Barend dan Stefan, yang selama bertahun-tahun telah menjalani hidup di dalam hutan sebagai survivalists. Sambil menunggu datangnya pertolongan, Gabi mau tak mau harus menghabiskan waktu bersama Barend dan Stefan yang juga ikut merawat luka Gabi. Selama masa pemulihan inilah Gabi mulai mengalami mimpi-mimpi halusinatif serta beberapa kejadian menyeramkan. Hutan mulai terasa hidup sekaligus mengancam, dan ia segera menyadari bahwa apa yang Barend katakan bisa jadi benar: ada kekuatan yang jauh lebih tua dari manusia di dalam hutan rimba itu.

Di tahun yang sama, dirilis film Amerika berjudul In the Earth yang memiliki tema dan premis sangat mirip dengan Gaia. Kalau saja keduanya tidak dirilis di waktu yang berdekatan dan tidak datang dari negara yang jauh berbeda, saya akan menduga kalau salah satu film tersebut menjiplak film lainnya. Tapi saya pikir kemiripan tersebut mungkin adalah kebetulan yang tak terhidarkan karena menggunakan referensi dan kegelisahan yang sama. Seperti umumnya film eco-horror, Gaia menawarkan perenungan tentang kerusakan lingkungan hidup karena ulah manusia serta kerapuhan manusia di tengah alam. Dari segi cerita, memang tidak ada yang baru, terutama untuk genre eco-horror di mana alam merebut kembali kekuasaannya. Tapi Gaia juga membubuhi tema lain dalam kisahnya, yaitu seputar fanatisme spiritual yang ekstrim, di mana Barend dan Stefan menyembah dewi di dalam hutan yang diklaim telah eksis jauh sebelum manusia ada. Keputusan mereka untuk menetap di alam liar juga didasari kepercayaan atas kekuatan purba tersebut, sekaligus kebencian mereka pada masyarakat modern yang semu. Banyak hal yang disampaikan oleh Barend bisa menjadi pemantik untuk perenungan dan diskusi lebih panjang tentang eksistensi manusia. Untungnya Gaia tidak mencoba untuk menggurui dan tetap memberi ruang bagi penonton untuk mengambil makna yang bisa saja berbeda-beda. Dalam kisah ini, kekuatan alam digambarkan sebagai sesuatu yang netral sekaligus kacau, yang bisa saja dianggap sebagai kekuatan jahat kalau dilihat dari katamata moralitas menusia. Namun alam tentu tidak bisa dinilai lewat moralitas dan norma manusia modern. Pada akhirnya, alam memang tidak membutuhkan bantuan manusia, apalagi penilaian manusia. Kita semua bisa saja lenyap dari planet ini, namun alam akan terus menemukan cara untuk mempertahankan dirinya sendiri.

Gaia juga menampilkan monsternya yang mungkin terlihat cukup kreatif bagi para penonton di tahun 2021 yang tidak pernah bermain video game. Sayangnya, desain monster dalam Gaia terlihat sama sekali tidak original bagi para horror nerd yang juga gamers. Salah satu monster dalam Gaia merupakan manusia yang terinfeksi oleh jamur parasit tertentu yang mampu mengendalikan pikiran sekaligus menjadikan tubuh manusia sebagai inangnya. Ini adalah desain yang terang-terangan menjiplak karakter zombie jamur yang disebut Clicker dalam seri video game horror “The Last of Us” yang pertama kali dirilis pada tahun 2013. Bukan hanya desain visualnya saja, tetapi karakteristiknya pun sangat mirip: buta, berburu menggunakan suara, dan mengeluarkan suara “klik” yang khas. Mungkin, para pembuat Gaia tidak pernah menduga kalau The Last Of Us kemudian dibuat adaptasi serial TV-nya pada tahun 2023 hingga karakter Clicker mulai dikenal oleh publik yang lebih luas, terutama para non-gamers. Tak hanya desain monster saja, tapi premis dasar Gaia pun sepintas sangat mirip dengan The Last Of Us. Dalam hal ini, saya pikir Gaia akan sangat cocok kalau dijadikan sebagai prekuel canon dari universe-nya The Last Of Us, karena ending film ini sangat memungkinkan untuk menjadi awal mula dari kisah post-apocalypse-nya The Last Of Us. Mungkin, para pembuat Gaia memang sekumpulan penggemar berat video The Last Of Us yang dengan sengaja melibatkan Clicker dalam kisahnya. Tapi apa yang membuat saya cukup penasaran adalah tentang bagaimana film ini bisa tetap eksis tanpa mendapat masalah hukum seputar hak cipta, karena Gaia jelas-jelas bukan bagian resmi dari franchise The Last Of Us. Apapun persoalan orisinalitas dan legalitasnya, Gaia dan The Last Of Us tentu sama-sama terinspirasi dari jamur parasit yang sama di dunia nyata, yaitu ophiocordyceps unilateralis yang sering disebut dengan nama zombie-ant fungus. Dalam dunia nyata, jamur ini bereproduksi dengan cara mengambil alih kendali tubuh semut yang terinfeksi, membajak sistem saraf pusatnya hingga menjadikan semut tersebut sebagai kendaraan sekaligus medianya untuk tumbuh. Setelah semut yang terinfeksi mengunci gigitannya pada tanaman, jamur tersebut akan tumbuh dari kepala semut dan melepas sporanya hingga menginfeksi lebih banyak lagi semut. Jamur ini jelas sangat mengerikan seandainya dibayangkan mampu menginfeksi manusia, dan itulah yang menjadi inspirasi utama horor The Last of Us dan juga Gaia.

Desain dan konsep Gaia memang sama sekali tidak original. Tapi saya sangat suka dengan karya special effect prostetik dalam Gaia, meskipun dalam beberapa bagian film ini terpaksa menggunakan CGI juga. Apalagi Gaia adalah film independen berbajet rendah, membuat semua desain body horror serta infeksi jamurnya yang terlihat meyakinkan sangat layak untuk diapresiasi. Selain itu, Gaia memanglah sebuah film yang sangat visual, dengan alur yang lambat serta dialog yang relatif sedikit namun cukup fungsional. Secara visual, film ini bukan saja menampilkan body-horror yang terlihat memukau sekaligus mengerikan, tetapi juga memperlihatkan sinematografi yang berhasil menangkap kekuatan liar belantara taman nasional Tsitsikamma, Afrika Selatan, tempat di mana film ini difilmkan. Dalam beberapa bagian, visual Gaia juga terasa sangat psikedelik. Keputusan estetik ini cukup masuk akal ketika kita melihat bagaimana beberapa jenis jamur juga dikonsumsi dalam plot film ini. Gaia mungkin bukan film paling original dan kreatif dalam genre horor, tapi setidaknya film ini dieksekusi dengan cukup baik, premis yang solid, dilengkapi dengan gaya-gaya personal dari sutradara Jaco Bouwer, meskipun anggaran yang ia punya sangat terbatas. Gaia adalah film horor Afrika Selatan pertama yang pernah saya tonton, dan saya cukup terhibur.