ALBUM REVIEW: DIMMU BORGIR – GRAND SERPENT RISING

DIMMU BORGIR ‘Grand Serpent Rising’ ALBUM REVIEW

Nuclear Blast Records. May 22th, 2026

Symphonic black metal

Walau punya andil besar dalam memperluas popularitas melodic black metal dan symphonic black metal pada pertengahan hingga akhir dekade 90-an, berkat tiga album awalnya yang influential, ‘For All Tid’, ‘Stormblåst’, dan ‘Enthrone Darkness Triumphant’, raksasa extreme metal asal Norwegia, DIMMU BORGIR, justru kerap dijadikan bahan olok-olok para pendengar black metal garis keras sejak melepaskan LP ketiga mereka, yang dulu dianggap terlalu kinclong dari sisi produksi dan songwriting-nya. Tuduhan “sellout” semakin menggema ketika DIMMU BORGIR menghasilkan deretan tiga album ramah pasar (dalam tanda kutip), ‘Puritanical Euphoric Misanthropia’, ‘Spiritual Black Dimensions’, dan ‘Death Cult Armageddon, yang dinilai semakin menstrim dan melenceng dari akar black metal. Gua sendiri terekspos dengan DIMMU BORGIR dulu tentunya berkat derasnya eksposur mereka di media yang begitu masif pada paruh pertama dekade 2000-an, dimana gua langsung terpikat nomor-nomor di ‘Death Cult Armageddon’ seperti “Progenies of the Great Apocalypse”, “Vredesbyrd”, “Lepers Among Us”, hingga “Unorthodox Manifesto”, yang secara langsung memberikan dorongan untuk menyelami back catalogue mereka.

Sayangnya sejak album keenam, band asal Norway ini entah kenapa rada melempem dari segi kualitas album, “Stormblåst MMV” dicecar habis-habisan karena merusak legacy album klasik mereka, ‘In Sorte Diaboli’ agak 50/50 dari segi materi, sedangkan baik ‘Abrahadabra’ dan ‘Eonian’ jadi terdengar seperti karya band yang sudah masuk mode autopilot, rilis album hanya agar dapat alasan untuk menjustifikasi tur baru demi roda bisnis tetap berputar, dan dapur tetep ngebul. Jadi ketika DIMMU BORGIR melepaskan dua buah single “Ascent” dan “As Seen in the Unseen”, yang mengedepankan agresi ala DIMMU BORGIR yang dulu ogut kenal, gua dengan seketika langsung tertarik dengan, Grand Serpent Rising’, tentunya masih dimuntahkan via Nuclear Blast Records, label yang selalu setia menemani perjalanan Shagrath dan Silenoz sejak 1996.

Namun, sepertinya gua terlalu menaruh banyak ekspektasi terhadap ‘Grand Serpent Rising’, karena setelah menguliknya secara mendalam selama beberapa minggu, full-length kesepuluh DIMMU BORGIR ini belum mampu mengembalikan mereka ke masa kejayaan, sesuatu yang berhasil dilakukan JUDAS PRIEST dengan album ‘Firepower’ ataupun kembalinya OPETH ke jalur death metal lewat ‘The Last Will and Testament’. Kelemahan terbesar album ini, di luar racikan komposisinya yang sering kali terdengar generik, adalah konstruksi lagunya yang kelewat bertele-tele dan kurang efisien, karena hampir setiap lagu pake acara dikasih intro section-nya masing-masing, yang menurut gua agak eksesif, dan membuat album jadinya gak punya koherensi dan tentunya punya pacing yang lacking the sense of urgency. Lebih parahnya lagi, tak banyak lagu dari album ini yang mampu stand out dan memorable, malah “Ulvgjeld & Blodsodel” justru mencuat gara-gara betapa mediokernya lagu tersebut. Meskipun begitu ‘Grand Serpent Rising’ masih punya beberapa trek yang lumayan nendang sih, layaknya “Repository of Divine Transmutation”, “Slik Minnes en Alkymist”, dan “The Exonerated”.

Kaum-kaum yang berharap kalau DIMMU BORGIR mampu menggapai kembali masa kejayaan mereka, atau setidaknya mendekati level kualitas era awal 2000’an, ketika Galder, ICS Vortex, Mustis, dan Nicholas Barker masih dalam formasi inti, sepertinya harus mulai berdamai dengan kenyataan bahwa zaman tersebut sudah lama berlalu. Bukan berarti ‘Grand Serpent Rising’ merupakan album yang buruk. Bahkan album ini bisa dibilang menjadi karya terbaik mereka sejak ‘Death Cult Armageddon’, yang dirilis lebih dari dua dekade silam. Hanya saja, selama hampir lima puluh persen runtime, DIMMU BORGIR terdengar kayak terseok-seok dan kesulitan menemukan gagasan gemilang, Shagrath dan Silenoz memang berhasil membangkitkan kembali atmosfer beserta nuansa yang mengingatkan pada album-album fan favorite mereka, tetapi masih gagal menangkap kembali esensi sesungguhnya yang membuat rentetan rilisan DIMMU BORGIR sepanjang 1997 hingga 2003 begitu diagungkan.

‘Grand Serpent Rising’ terkesan seperti upaya Shagrath dan Silenoz untuk meyakinkan diri bahwa mereka sendiri kalau mereka masih mampu menghasilkan materi sekaliber album-album klasiknya, alih-alih sekadar menyusun kumpulan beberapa single yang cukup layak dengar, dengan sejumlah filler demi menggelembungkan durasi, sampe layak disebut sebagai album penuh. Barangkali DIMMU BORGIR sebenarnya udah nyadar bahwa sentuhan magis mereka sudah lama meredup. Buktinya, dalam rangkaian tur mereka saat ini pun, hanya tiga lagu dari ‘Grand Serpent Rising’ yang dibawakan, yaitu: “Ascent”, “As Seen in the Unseen”, dan “Ulvgjeld & Blodsodel”. Alhasil, album ini memang masih lumayan listenable dan bukanlah album yang gagal total, sayangnya ‘Grand Serpent Rising’ tetap gagal punya jejak signifikan dan berarti dalam diskografi DIMMU BORGIR.(Peanhead)

6.0 out of 10