SAIDAN ‘Fangdriller: Scars Beneath Memory’s Wrist’ ALBUM REVIEW
Avantgarde Music, June 19th, 2026
Melodic black metal

Usai menggebrak jagad musik ekstrim bawah tanah via demo, ‘Onryō: Vengeful Spirits in the Eastern Night,’ kurleb enam tahun lalu. SAIDAN, duo yang awalnya one-man black metal band asal Nashville, Tennessee, Amerika Serikat, berhasil menancapkan taringnya sebagai salah satu grup blek metal paling menonjol di antara gelombang raw black metal generasi baru yang banyak bermunculan sejak awal dekade 2020’an. Demo impresif tersebut kemudian dilanjutkan dengan dua album beraroma meloblack yang punya pendekatan musikal cukup gila, dan kalau bisa dibilang cenderung diluar nalar band black metal seangkatannya, yaitu ‘Jigoku: Spiraling Chasms of the Blackest Hell’ (2021) dan ‘Onryō II: Her Spirit Eternal’ (2022).

Momen puncaknya tiba melalui dirilisnya ‘Visual Kill: The Blossoming of Psychotic Depravity’, sebuah LP yang mengangkat status SAIDAN hingga tak dipandang sebagai just another black metal band belaka lagi, Racikannya luar biasa melodis dan sarat juxtaposing yang sebenarnya agak ganjil untuk sebuah komposisi black metal, tanpa sedikitpun mengendurkan kadar ekstrimnya, belum lagi mereka masih tetep menyelipkan energi punk rock urakan di berbagai sudut album. Album ketiga tersebut jelas mampu mendongkrak ketenaran SAIDAN, sekaligus berhasil masuk berbagai daftar AOTY 2024, yang berujung pada perilisan ulang back catalogue mereka via label black metal kenamaan asal Tiongkok, Pest Productions.
If you thought ‘Visual Kill’ was already way too melodic, think again, karena dalam album terbarunya, ‘Fangdriller: Scars Beneath Memory’s Wrist’, yang dilepaskan oleh label blek metal lejen, Avantgarde Music, SAIDAN semakin bereksplorasi menjurus keluar area meloblack pada umumnya, malah menurut gua kesembilan lagu dalam LP keempat mereka lontarkan, jadi lebih menjurus ke corak power metal, atau lebih tepatnya extreme power metal jadi kayak versi hiperaktif dua album pertama CHILDREN OF BODOM. Bedanya, apabila Alexi Laiho (R.I.P) terinspirasi oleh STRATOVARIUS, Splatterpvnk dan Hundosai justru secara terang-terangan menonjolkan sisi jejepangan mereka, entah itu dari spektrum symphonic/power metal, visual kei, punk (karena dari dulu udah dipengaruhi oleh BALZAC), ataupun j-pop/j-rock. Tengok aja “Razorblade Temptation”, “Rapture (I’ll Wait for You)”, hingga “Womb of Hatred” yang punya permainan lead dan kibor yang kelewat manis sekaligus catchy untuk ukuran black metal, kemudian “Immersed by Eternity’s Blade” yang straight up terdengar seperti medley OP anime/tokusatsu era 90’an yang telah dihitamkan.
Namun, ‘Fangdriller: Scars Beneath Memory’s Wrist’ jelas bukan cuma jualan sensibilitas melodis-nya yang eksentrik saja. Splatterpvnk masih memberondongkan segudang riff black metal dan solo gitar nge-shreds dengan ganas, sementara Hundosai nyaris tidak pernah mengendurkan serangan blast beat dan gulungan double bass-nya, dimana sepanjang lebih dari 45 menit durasi album, ia seperti kerasukan energi liar Yoshiki dari era awal X JAPAN. Keduanya juga turut pula menebar sejumlah breakdown ala blackened thrash nan bengis, seperti dalam trek “Stained Glass Sin // Fang Driller”, “Ethereal Blood”, dan “Beat to Death”. Album ini dituntaskan dengan “Mortuary”, nomor akustik yang terdengar kelewat mirip lagu emo atau pop-punk goes acoustic, gua sebenarnya gak begitu masalah dengan lagunya, tetapi atmosfernya terasa melenceng terlalu jauh dari keseluruhan warna album, bahkan menurut ogut, “Mortuary” mungkin bakal terdengar lebih cocok sebagai lagu penutup album KËKHT ARÄKH ketimbang SAIDAN.
Singkat kata, ‘Fangdriller: Scars Beneath Memory’s Wrist’ menjadi satu lagi album karya jempolan dari salah satu band black metal zaman now dengan kualitas rilisan paling konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Jelas tak diragukan lagi kalau album terbaru mereka ini bakal membawa SAIDAN mendaki ke tingkat kepopuleran yang lebih tinggi, seraya menjaring lebih banyak penggemar baru, terbukti dari semua cetakan awal rilisan fisiknya langsung SOLD OUT secara instan. Meskipun menurut gua dari segi tracklist sebenernya bisa lebih dipangkas lagi dengan menyisihkan dua lagu (“Womb of Hatred” dan “Mortuary”), agar tak terlalu overkill lalu bikin pendengar terlalu keblinger gara-gara gempurannya yang nyaris tanpa ruang hydration break, ‘Fangdriller: Scars Beneath Memory’s Wrist’ mampu menjadi satu-satunya album tahun ini yang mampu menggeser album comeback NEUROSIS, ‘An Undying Love for a Burning World’, dari posisi teratas album of the year 2026 (so far…) versi gua pribadi.(Peanhead)
9.7 out of 10