
UNTIL DAWN
Sutradara: David F. Sandberg
USA (2025)
Review oleh Tremor
Until Dawn adalah sebuah film horor survival / supranatural yang meminjam premis utamanya dari video game dengan judul yang sama, disutradarai oleh David F. Sandberg yang sebelumnya cukup dikenal lewat debutnya Lights Out (2016), disusul dengan Annabelle: Creation (2017) hingga sebuah film superhero / dark comedy Shazam! (2019). Menariknya, penulis film ini yaitu Gary Dauberman dan Blair Butler tidak membuat Until Dawn sebagai sebuah adaptasi langsung, melainkan cerita baru yang original dan berdiri sendiri sambil memperkaya universe serta mitologi video game tersebut. Tapi karena plot adaptasi ini sama sekali berbeda dengan plot video gamenya, film Until Dawn mungkin akan mengecewakan para penggemar berat yang mengharapkan bentuk adaptasi langsung. Meskipun hampir tidak ada kaitan langsung dengan versi video game, Until Dawn versi film tetap memiliki premis yang bagus dengan banyak ide potensial, terutama dengan dihadirkannya konsep time-loop sebagai elemen utamanya. Saya pribadi belum pernah memainkan video game tersebut, tapi dari apa yang saya baca, tidak ada elemen time-loop dalam versi video gamenya. Ini jelas menjadi pembeda terbesar dan unik antara versi video game dengan filmnya.

Seorang perempuan bernama Clover sedang mencari Melanie, saudara perempuannya yang telah hilang sejak satu tahun sebelumnya. Dalam pencarian ini, Clover yang ditemani oleh beberapa sahabatnya akhirnya menemukan titik terang yang mengarahkan mereka ke sebuah daerah bekas kota pertambangan bernama Glore Valley. Saat mencari lokasi Glore Valley, mereka tiba di sebuah rumah besar terpencil yang sejak awal sudah tampak tidak biasa. Di sana mereka menemukan petunjuk bahwa Melanie memang pernah berkunjung ke sana. Namun ketika matahari mulai terbenam, tiba-tiba sesosok entitas bertopeng mulai memburu dan membantai mereka satu persatu secara brutal. Peristiwa ini menjadi awal dari mimpi buruk tak berkesudahan yang mengerikan karena kematian mereka rupanya memicu terulangnya waktu kembali ke momen mereka memasuki rumah tersebut. Mereka hidup kembali dengan ingatan penuh tentang apa yang terjadi sebelumnya, hanya untuk menghadapi bentuk ancaman baru yang lebih mengerikan dan mematikan dari kematian sebelumnya. Seiring banyaknya pengulangan malam penuh teror, tubuh mereka juga mulai mengalami perubahan yang mengerikan secara perlahan. Segala cara mereka lakukan untuk lari menyelamatkan diri namun usaha mereka sia-sia. Setiap malam mereka terus mati mengenaskan. Satu-satunya cara agar mereka bisa selamat dari pengulangan waktu tersebut adalah bertahan hidup hingga matahari terbit.

Para gamers, termasuk mereka yang belum pernah memainkan Until Dawn, tentu akan mengenali bahwa konsep time-loop ini sangat erat kaitannya dengan mekanisme game manapun yang mengharuskan pemainnya mengulang dari titik waktu tertentu setelah karakternya mati. Namun Until Dawn membawa pengulangan tersebut ke tingkat yang lebih membuat putus asa: setiap kali para karakter kembali ke titik awal, mereka menghadapi situasi dan tingkat kesulitan yang sama sekali berbeda, monster dan ancaman baru yang tidak mereka duga, dengan kondisi fisik dan mental para karakternya yang sudah semakin memburuk. Saya sangat suka dengan ide ini. Namun, karena konsepnya yang terlalu berfokus pada bagaimana caranya menghadirkan sebanyak mungkin teror yang berbeda-beda dalam durasi satu film panjang, membuat Until Dawn memiliki beberapa kelemahan yang tak terhindarkan. Yang pertama adalah, misteri yang ditawarkan tidak dieksplorasi secara mendalam, terutama yang berkaitan dengan Glore Valley dan faktor apa yang membuat Glore Valley menjadi tempat seperti itu. Pertanyaan lain yang tak terjawab pun ikut menyusul, seperti bagaimana “peraturan” time-loopnya bekerja dan bagaimana bisa karakter Dr. Hill melakukan eksperimennya tanpa terjebak dalam time-loop yang sama? Bisa jadi, para pembuat film ini sengaja menyimpan semua pertanyaan tersebut sebagai materi film selanjutnya dalam bentuk prekuel. Kelemahan lain dari film ini adalah tidak adanya karakter yang dikembangkan secara mendalam hingga membuat penonton tidak begitu peduli pada nasib mereka. Akibatnya, film ini kehilangan sebagian besar bobot emosionalnya. Tapi tentu itu bukan masalah besar bagi mereka yang mencari hiburan murni penuh darah dan kengerian, tanpa perlu peduli dengan para karakternya.

Dalam film ini, Clover dan teman-temannya mengalami pengulangan waktu sampai 13 kali. Jadi, penonton seperti menyaksikan rangkaian film pendek yang penuh momen mengerikan sekaligus menghibur. Sutradara David F. Sandberg sendiri sebelumnya sudah membuat banyak film horor pendek. Jadi wajar saja kalau ia cukup cekatan dalam merancang dan mengeksekusi sequence-sequence berdurasi pendek. Keterampilannya itulah yang membuat segmen-segmen kebangkitan kembali para karakter dalam Until Dawn menjadi keunggulan utama film ini. Sayangnya, durasi total film ini menjadi satu-satunya hambatan untuk bisa menampilkan 13 malam penuh teror secara penuh dan mendalam. Hasilnya, sebagian besar pengulangan siklus kematian terpaksa diringkas dengan singkat melalui rekaman video di ponsel milik salah satu karakternya yang kebetulan merekam semuanya. Hasilnya, tempo film ini terasa terlalu sesak dan terburu-buru demi melewati semua siklus kematian agar bisa langsung menuju ke siklus terakhir sebagai klimaks filmnya. Mungkin konsep 13 kematian ini bisa terasa lebih berhasil seandainya Until Dawn dijadikan mini-seri TV, misalnya dengan satu atau dua pengulangan waktu dalam setiap satu episode. Dengan keleluasaan durasi mini-seri, tentu 13 malam penuh teror akan bisa digambarkan dengan lebih mencekam, dan cukup banyak waktu untuk bisa mengembangkan setiap karakternya secara mendalam.

Salah satu bagian dari premis film ini adalah penambahan elemen horor baru di setiap malamnya. Bagi saya, ini adalah ide brilian untuk menghadirkan ancaman dan bahkan lokasi baru. Kita seakan dibawa masuk ke dalam beberapa wahana rumah hantu penuh jump scare dengan tema kengerian yang berbeda-beda dalam satu malam, tanpa diberi waktu untuk bernafas. Karena premisnya memungkinkan untuk setiap karakter tewas berulang kali, Until Dawn juga seakan menjadi ruang bermain tanpa batas bagi penulis, sutradara dan tim special effectnya, karena mereka harus menjawab tantangan bagaimana membuat setiap adegan kematian terasa menyegarkan, kreatif dan unik dibandingkan sebelumnya. Pada akhirnya adegan-adegan kematian yang kreatif dan penuh darah ikut menjadi daya tarik utama Until Dawn, dan saya pikir mereka berhasil mewujudkannya dengan cukup baik. Unsur kekerasan dalam film ini lumayan mengerikan, diperkuat dengan penggunaan practical special effect yang dikerjakan dengan cukup mengesankan. Konsep Until Dawn juga memungkinkan film ini menjadi paket komplit horor berisi banyak elemen subgenre horor yang berbeda-beda, yang dalam hal ini sedikit mengingatkan saya pada babak terakhir The Cabin in the Woods (2011). Until Dawn dibuka secara brilian sebagai film teen slasher supranatural lengkap dengan pembunuh bertopeng dan adegan kejar-kejaran di dalam rumah. Setelah itu, penonton akan disambut dengan lebih banyak elemen subgenre horor lainnya lengkap dengan semua stereotipnya dari mulai nenek sihir, demonic possession, undead, monster / creature feature, body horror, POV / found-footage, psychological horror, hingga mad scientist. Dari trivia yang saya baca, Sutradara David F. Sandberg bahkan sempat membuat sebuah sequence dengan werewolf di dalamnya, yang sayangnya tidak jadi digunakan dalam produk akhirnya. Meskipun temponya terasa terburu-buru dan ending-nya agak mengecewakan bagi saya, tapi secara keseluruhan Until Dawn adalah film horor yang cukup efektif sebagai hiburan.

