fbpx

MOVIE REVIEW: FROM BEYOND THE GRAVE (1974)

FROM BEYOND THE GRAVE
Sutradara:
Kevin Connor
UK (1974)

Review oleh Tremor

From Beyond The Grave adalah sebuah antologi horror yang diproduksi oleh perusahaan film asal Inggris bernama Amicus Productions. Pada masanya, film-film horror buatan Amicus sering disalahpahami sebagai rilisan dari Hammer Films yang memang sudah lebih dulu terkenal. Apalagi kedua studio tersebut sering mempekerjakan bintang horror yang sama seperti Peter Cushing dan Christoper Lee. Apa yang membedakan kedua perusahaan ini adalah, Hammer Films banyak berfokus pada kisah-kisah horror dengan latar periode gothic, sementara Amicus lebih sering membuat film dengan latar masa modern. Amicus sendiri bisa disebut sebagai salah satu studio yang turut mempopulerkan film berformat omnibus / antologi horror di era 60-an hingga 70-an, yang sebenarnya terinspirasi dari kesuksesan komik-komik horror rilisan EC Comics yang sempat booming di tahun 40-an. Amicus sendiri sudah memproduksi banyak antologi lain dari mulai Doctor Terror’s House of Horrors (1964), Torture Garden (1967), The House That Dripped Blood (1970), Asylum (1972), Tales from the Crypt (1972) serta The Vault of Horror (1973). Sayangnya From Beyond The Grave harus menjadi film antologi terakhir buatan Amicus sebelum akhirnya bubar pada tahun 1977. Dalam From Beyond The Grave, Amicus mempercayakan kursi sutradara pada Kevin Connor, yang sebelumnya berprofesi sebagai editor film. Sejak debut penyutradaraannya ini, Kevin Connor rupanya semakin nyaman menjadi sutradara dan banyak berfokus pada film-film sci-fi hingga horror, dari mulai The Land That Time Forgot (1974), Warlords of the Deep (1978), hingga karya horrornya yang paling dikenal, Motel Hell (1980).

Seperti umumnya film antologi, From Beyond The Grave dibuka dengan satu cerita bingkai yang akan merangkai empat kisah pendek di dalamnya. Cerita bingkainya berfokus pada sebuah toko barang antik bernama Temptations Ltd dengan pemiliknya yang misterius. Banyak pembeli di toko ini yang mencoba menipunya, hingga mereka menyadari bahwa barang yang baru saja mereka beli secara licik akan membawa kutukan tersendiri dalam hidup mereka. Meskipun jauh berbeda, tapi ide toko barang antik sebagai pusat cerita tentu mengingatkan kita semua pada serial tv Friday The 13th yang sangat terkenal di tahun 80-an. Benda-benda terkutuk dalam sebuah toko barang antik memanglah ide yang menarik karena bisa menjadi gerbang untuk banyak sekali kisah horror yang berbeda. Segmen pertama dalam From Beyond The Grave yang berjudul The Gate Crasher adalah segmen favorit saya. Seorang pemuda bernama Edward baru saja membeli cermin antik dengan harga murah lewat cara yang licik. Ia segera memasang cermin tersebut pada dinding apartemennya. Semuanya masih baik-baik saja hingga suatu malam Edward dan teman-temannya mendapat ide untuk bermain-main lewat ritual pemanggilan arwah. Rupanya ritual ini membangkitkan arwah yang telah lama terperangkap di dalam cermin tersebut, dan ia segera mengendalikan Edward untuk membunuh. Sang arwah membutuhkan banyak pengorbanan darah agar ia bisa melepaskan diri dari perangkap di dalam cermin. Sebagai segmen pembuka antologi, The Gate Crasher sangat efektif.

Kisah kedua berjudul An Act of Kindness, menceritakan tentang seorang pria bernama Christopher Lowe yang memiliki rumah tangga kurang harmonis. Istrinya dan putranya yang masih kecil tidak pernah mengapresiasinya, sering merendahkan, dan sama sekali tidak menghormatinya. Suatu hari Christoper yang kesepian mulai berteman dengan Jim, seorang veteran perang yang kini berprofesi sebagai pedagang kaki lima. Merasa haus akan apresiasi, Christoper mengaku sebagai seorang veteran perang juga. Tak tanggung-tanggung, ia membual pada teman barunya tentang medali yang pernah ia terima, namun itu karena sebelumnya Christoper sudah melihat bahwa toko barang antik Temptations menjual salah satu medali tersebut. Keesokan harinya, ia segera pergi ke Temptations Ltd untuk mendapatkan medali tersebut dengan cara mencuri. Setelah menunjukkan medali curiannya itu, Jim langsung menghormati Christoper dan mulai mengundangnya datang ke rumahnya. Di rumah Jim, Christoper diperkenalkan dengan Emily, putri Jim yang sangat misterius. Tidak ada yang menyangka bahwa pertemanan ini akan mendatangkan nasib sial bagi Christoper. Segmen ini juga merupakan salah satu segmen paling menonjol dari keseluruhan antologi, yang ditutup dengan bumbu twist ending yang tak terduga.

Kisah berikutnya, berjudul The Elemental. Seorang pria bernama Reggie baru saja membeli sebuah kotak kaleng kecil dari toko Temptations. Dalam perjalanan pulang menggunakan kereta api, seorang cenayang bernama Madame Orloff yang kebetulan duduk di depannya memberitahukan bahwa ada elemen jahat yang hinggap pada tubuh Reggie. Meskipun Reggie merasa terganggu dan berpikir bahwa mungkin wanita ini gila, ia tetap menerima kartu nama yang diberikan oleh Madame Orloff, jaga-jaga kalau sewaktu-waktu Reggie membutuhkan jasa paranormalnya. Benar saja. Sesampainya di rumah, Reggie dan istrinya mulai mengalami hal-hal supranatural yang cukup mengancam. Ia segera meminta bantuan Madame Orloff untuk datang membersihkan rumahnya dari gangguan elemen jahat ini. Seisi rumah Reggie hancur berantakan dalam proses pengusiran ini. Akhirnya Madame Orloff yang memasang tarif mahal mengklaim bahwa entitas jahat itu telah diusir dan hilang. Tapi apakah benar begitu? Kisah ini adalah segmen yang menurut saya terlalu komikal, dibumbui sedikit unsur komedi, dan sayangnya juga menjadi segmen paling lemah dari keseluruhan antologi karena terasa tidak berada pada tempatnya jika dibandingkan dengan atmosfer segmen-segmen lainnya.

Antologi ini berlanjut pada kisah ke-empat yang berjudul The Door, yang merupakan segmen favorit saya lainnya dari keseluruhan antologi. Seorang pemuda bernama William membeli sebuah pintu kayu antik dari Temptations Ltd yang segera ia pasang sebagai pintu lemari di ruang kerjanya. Pintu antik ini tampak menyeramkan dengan ukiran wajah di permukaannya. Saat sedang bekerja larut malam, William melihat pintu tersebut tiba-tiba terbuka sendiri. Apa yang ia temukan di baliknya adalah sebuah ruangan tua yang memendarkan cahaya biru, dengan gaya interior dari abad ke-16. William pun memasuki ruangan tersebut dan membaca sebuah jurnal yang terletak di atas meja. Rupanya pintu tersebut adalah ciptaan seorang okultis bernama Sir Michael Sinclair, yang ia gunakan agar bisa hidup selamanya sambil berjalan di antara masa waktu dan menangkap jiwa-jiwa orang yang membuka pintu itu. Segmen ini adalah segmen yang paling atmosferik dan menegangkan dari keseluruhan antologi, terutama setiap kali pintu terkutuk tersebut terbuka. Menempatkan The Door sebagai segmen terakhir jelas adalah keputusan paling bagus. From Beyond The Grave akhirnya ditutup dengan kembali ke cerita bingkainya, di mana seseorang berusaha merampok toko antik Temptations Ltd.

Pada jamannya, antologi From Beyond The Grave bisa dibilang memiliki cast all-star. Berderet nama bintang di era 60-70an ada di sini, dari mulai David Warner, Ian Bannen, hingga Diana Dors. Namun aktor yang penampilannya paling cemerlang, berkelas dan menjadi daya tarik dalam From Beyond The Grave adalah Peter Cushing yang berperan sebagai pemilik toko barang antik. Ia memang merupakan aktor langganan dari Amicus yang sudah sering tampil dalam antologi-antologi Amicus sebelumnya. Bagi yang tidak familiar dengan namanya, sebelum antologi ini Cushing juga pernah mendapat peran-peran besar dari mulai memerankan karakter Victor Frankenstein dalam The Curse of Frankenstein (1957), Van Helsing dalam Horror of Dracula (1958) dan The Brides of Dracula (1960), Sherlock Holmes dalam versi serial TV (1968), hingga perannya yang paling dikenang di kemudian hari yaitu sebagai Grand Moff Tarkin yang sangat ikonik dalam Star Wars / A New Hope (1977). Selain Cushing, kontribusi dari aktor Donald Pleasance serta putri kandungnya Angela Pleasance yang memerankan Jim dan Emily dalam segmen An Act of Kindness juga patut diapresiasi karena tanpa peran mereka berdua, segmen tersebut akan terasa biasa saja. Para penggemar horror tentu bisa langsung mengenali wajah Donald Pleasance, karena ia dengan sukses memerankan karakter Dr. Loomis dalam film Halloween (1978), empat tahun setelah From Beyond The Grave.

From Beyond The Grave buatan Kevin Connor memang bukanlah antologi Amicus yang paling terkenal kalau dibandingkan dengan Tales from the Crypt (1972), tapi secara keseluruhan antologi ini bisa saya anggap sebagai salah satu yang terkuat dan paling memuaskan dari antologi-antologi produksi Amicus lainnya. From Beyond The Grave memiliki segalanya yang memang seharusnya ada dalam sebuah antologi horror: menyenangkan, menghibur, ringan, dipenuhi dengan premis unik yang bervariasi. Antologi ini sangat saya rekomendasikan bagi para penggemar komik-komik antologi horror jadul produksi EC Comics, penggemar british horror, hingga para penggemar film antologi horror klasik. Plot-hole jelas ada, tapi tidak terlalu mengganggu untuk ukuran film seperti ini.