NOTHING ‘a short history of decay’ ALBUM REVIEW
Run For Cover. February 27th, 2026
Shoegaze

Sekitar enam tahun lalu, NOTHING merilis album kelima mereka, ‘The Great Dismal’, sebuah album yang waktu itu langsung menjadi salah satu album personal favorite sepanjang masa versi pribadi, lantaran tema albumnya yang mengangkat keterasingan, kehampaan, dan krisis eksistensial, seolah jadi soundtrack muram periode 2020-2022 yang you know lah. Gua sendiri sebenernya memang bukan fans berat grup yang digawangi Domenic Palermo ini, selain ‘The Great Dismal’, album yang benar-benar bisa nyangkut di telinga paling debut mereka yaitu ‘Guilt of Everything’, yang waktu itu masuk radar gara-gara dilepaskan di bawah bendera label spesialis musik cadas Relapse Records saja, dan tahun 2014 lalu momennya memang tepat banget untuk seorang metalhead dengan referensi musik agak sempit, untuk mulai menjajal aliran shoegaze, karena sejak 2010 band-band layaknya ALCEST, LES DISCRETS, AMESOEURS, LANTLOS, DEAFHEAVEN, HERETOIR, dan AN AUTUMN FOR CRIPPLED CHILDREN emang lagi meledak di pasaran.

Dalam full-length kelima mereka, ‘a short history of decay’ (rilisan perdana bersama Run For Cover Records), NOTHING justru menanggalkan sound hibrida post-shoegaze dan 90’s hard alternative yang sebelumnya sangat ketara dalam ‘The Great Dismal’, dan lebih memilih pendekatan shoegaze yang back-to-basics penuh eksplorasi. Hasilnya, album ini menampilkan NOTHING dalam wujud mereka yang paling terbuka, jujur, dan intimate. Awalnya gua sempat agak skeptis dengan pendekatan yang lebih rapuh dan apa adanya di album ini, tapi setelah beberapa minggu meluangkan waktu untuk mendengarkan albumnya secara seksama, perlahan gua mulai luluh, berkat keberanian Domenic Palermo mengevaluasi ulang segala pencapaian yang telah diraih bandnya, sekaligus terasa seperti dokumentasi degradasi personal dirinya, baik secara fisik maupun emosional.
Trek pertama, “never come never morning”, dibuka dengan bait “When I was young / Life was easy”, yang mungkin gak bakal relatable untuk sebagian orang, tetap efektif sebagai pembuka album karena langsung memperkenalkan tema sentralnya, dimana Domenic Palermo seperti mengenang masa ketika hidup terasa lebih sederhana, sebelum kepahitan hidup perlahan mengambil alih. Masuk ke tembang kedua, NOTHING langsung bereksperimentasi dengan ketukan drum breakbeat, ‘cannibal world’, yang dulu sempat dijadikan single pertama dan awalnya sempet bikin gua menyangsikan album kelima mereka ini, dan penempatan di susunan akhir tracklist juga agak riskan sebenernya, lebih pas kalau ditaruh di bagian pertengahan atau menjelang babak akhir.
Barulah dalam title track NOTHING terdengar seperti band shoegaze seutuhnya, lengkap dengan bending ala Kevin Shields, sayangnya baik ‘a short history of decay’ dan ‘cannibal world’, justru gue lebih ngena sama versi live at KEXP, karena terdengar lebih mentah dan mix-nya jauh lebih oke. Beranjak ke dua track berikutnya, “the rain don’t care” dan “purple strings”, Alih-alih mengubur pendengar dengan wall of sound, band ini malah bertumpu pada aransemen yang kontemplatif dan minimalis, tetapi tetap dipenuhi ornamen-ornamen musikal yang memperkaya komposisinya. Sedangkan mereka yang doyan ‘The Great Dismal’ kemarenan, boleh bersuka ria dengan “toothless coal”, yang bisa dibilang punya racikan lebih condong mengarah ke LP keempat NOTHING tersebut, lengkap dengan chorus yang secara perlahan tapi pasti menggerogoti relung ingatan.
Memasuki sisa tiga lagu terakhir Domenic Palermo dkk masih terus bereksplorasi tanpa henti, hasilnya ballad “ballet of the traitor” pantas disebut sebagai lagu terbaik dalam album ini, sedangkan “nerve scales” punya vibe yang rada ngingetin ke RADIOHEAD. ‘a short history of decay’ ditutup dengan “essential tremors”, sebuah lagu di mana Domenic Palermo berbicara secara gamblang tentang pergulatan batinnya, sembari mencoba berdamai dengan fisiknya yang perlahan rapuh akibat gangguan neurologis yang dideritanya. Lewat full-length nomor lima mereka, NOTHING sekali lagi membuktikan kalau sampai hari ini mereka masih belum tahu caranya merilis album yang benar-benar mengecewakan, dan di tengah gempuran musik modern yang makin artifisial, superfisial, over-kinclong, hingga kelewat maen aman, Domenic Palermo justru memilih menanggalkan seluruh tamengnya, lalu menulis lagu sejujur mungkin. Alhasil keberanian untuk mengekspos segala flaw sebagai manusia itulah yang membuat ‘a short history of decay’ terasa dan terdengar begitu tulus dan manusiawi, karena lahir dari kerapuhan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari menjadi manusia.(Peanhead)
9.6 out of 10