
SOFT & QUIET
Sutradara: Beth de Araújo
USA (2022)
Review oleh Tremor
Soft & Quiet adalah sebuah film psychological thriller, debut fantastis yang sangat berani dan provokatif dari seorang sutradara/penulis muda Beth de Araújo. Dilihat dari trailer dan sinopsis pendeknya yang ambigu, saya pikir Beth de Araújo memang sengaja ingin merahasiakan plot film ini sebagai sebuah kejutan bagi mereka yang memutuskan untuk menontonnya. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa menulis reviewnya tanpa mengungkapkan beberapa plot penting. Tapi karena ada hal-hal yang ingin saya bahas, maka mau tidak mau saya perlu membeberkan beberapa spoiler-nya. Bagi mereka yang ingin mendapatkan pengalaman menonton Soft & Quiet yang otentik sesuai rancangan Beth de Araújo, saya sangat menyarankan untuk sebaiknya berhenti membaca review ini sampai di sini, segera tonton filmnya secara buta, dan silakan kembali lagi ke sini setelahnya. Ketika pertama kali menonton Soft & Quiet beberapa tahun lalu, saya sama sekali tidak punya bayangan apapun tentang film ini. Setelah saya selesai menontonnya, saya merasa tidak siap untuk menulis reviewnya karena saat itu Soft & Quiet meninggalkan perasaan campur aduk dalam diri saya dan kewalahan secara emosional. Akhirnya, beberapa hari lalu saya memutuskan untuk menonton untuk kedua kalinya dengan harapan mungkin kali ini rasanya akan lebih netral. Tapi ternyata rasanya masih sama. Film ini tetap memantik berbagai emosi yang tidak membuat saya nyaman. Sebelum disalahpahami, saya perlu menegaskan bahwa Soft & Quiet bukanlah film yang memperlihatkan adegan sadis pada layar. Bahkan seingat saya tidak ada satu tetespun darah di dalamnya. Namun, saya pikir Soft & Quiet tetap layak untuk masuk dalam kategori film ekstrim, bukan karena visualnya, tapi karena tema, relevansi, serta cara kisahnya disampaikan.

Soft & Quiet memperkenalkan kita pada Emily, seorang guru sekolah dasar yang menyelenggarakan acara kumpul-kumpul bersama beberapa perempuan lain dari berbagai usia dan latar belakang berbeda. Apa yang mempersatukan mereka adalah sudut pandang yang sama. Setelah mereka memutuskan untuk berpindah lokasi, Emily secara tidak sengaja berjumpa dengan seorang perempuan dari masa lalunya yang kemudian memantik serangkaian peristiwa buruk, dan semakin jauh film ini berjalan, semuanya menjadi semakin menyesakkan.
Mulai dari sini, tulisan ini akan mengandung spoiler. Bertolak belakang dengan judulnya, Soft & Quiet adalah film yang cukup violent secara fisik dan emosional, penuh kebencian, dan dibuat jelas bukan untuk menghibur penontonnya. Sejak adegan pertemuan Emily dan teman-teman barunya dimulai, semuanya sudah terasa membuat tidak nyaman, dari mulai atmosfer hingga dialognya. Spoiler: Soft & Quiet mengangkat tema tentang rasisme, ekstrimisme ideologi kanan, white supremacy dan hate crime di era modern, dan bagaimana kebencian bisa sebegitu mendarah daging. Emily dan teman-teman barunya adalah sekelompok perempuan kulit putih neo-nazi yang merasa menjadi “korban” dari masyarakat Amerika modern. Mereka merasa ditindas karena tidak bisa lagi mengekspresikan ideologi dan tradisi yang mereka yakini di tanah Amerika yang semakin multikultural dan inklusif. Karena itu, ketika mereka berkumpul dan mendapat ruang untuk bisa saling berbagi tentang perasaannya tanpa rasa takut, semua isi dialognya dipenuhi dengan prasangka dan kebencian rasial yang mereka sampaikan dengan santai, ringan, sambil penuh canda tawa, dan saling menguatkan satu sama lain. Pertemuan Emily dan kelompok barunya ini adalah gambaran supremasi kulit putih di jaman modern yang bergerak secara terselubung dan terukur di Amerika, sesuai dengan judulnya: dengan cara yang lembut dan senyap. Emily sendiri sempat mengajukan ide untuk membuat majalah sebagai media indoktrinasi secara halus untuk keluarga-keluarga kulit putih agar mereka bisa “tersadarkan” secara perlahan dan bisa merebut kembali budaya dan bangsa yang mereka klaim telah dikuasai oleh ras non kulit putih. Dan ketika orang-orang seperti Emily berkumpul bersama dan saling menguatkan, apapun bisa terjadi terhadap kelompok minoritas yang sangat mereka benci: orang-orang dengan kulit berwarna.

Soft & Quiet bukanlah film yang mudah untuk ditonton karena cukup menguras emosi, setidaknya berdasarkan pengalaman saya. Saya pribadi merasakan marah, sedih, muak, takut, cemas, tidak nyaman, dan kesal selama menonton Soft & Quiet. Tidak ada satupun emosi baik yang muncul. Namun, apa yang saya rasakan mungkin tidak seberapa. Bayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang Amerika dengan kulit berwarna ketika menonton film ini. Mereka menghadapi hal-hal seperti yang terjadi dalam Soft & Quiet sepanjang waktu, setiap hari menjalani hidup penuh dengan kecemasan pada kemungkinan konfrontasi dan persekusi dari kelompok mayoritas. Tentu saja seluruh percakapan dan aksi persekusi dalam Soft & Quiet bisa sangat mentrigger, dan apa yang mereka rasakan setelah menontonnya mungkin sepuluh kali lebih buruk dibanding yang saya rasakan. Seharusnya, ada trigger warning yang ditulis dengan ukuran besar pada setiap materi promosi dan pembuka Soft & Quiet, terutama bagi penonton Amerika. Tapi mungkin de Araújo sengaja tidak memasangnya agar penonton mendapat pengalaman menonton seperti yang diharapkan: shock. Saya pikir ini juga berlaku bagi para penonton kulit putih, karena apa yang de Araújo lakukan di sini bukanlah sekedar memberi shock value tanpa makna. Ia menggunakan Soft & Quiet untuk membuka tabir kenyataan pahit di Amerika, yang mungkin selama ini enggan untuk dibahas oleh banyak orang.

Bagi mereka yang tidak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi bagian dari kelompok minoritas dan target kebencian di tengah masyarakat, yang harus menjalani sehari-hari di bawah bayang-bayang ketakutan dan kecemasan, bisa jadi tidak sepenuhnya memahami betapa mengerikannya percakapan Emily dan teman-temannya, dan bagaimana menyesakkannya gambaran aksi persekusi dalam babak keduanya. Film ini tidak membutuhkan bergalon-galon darah dan adegan sadis untuk menjadi mengerikan, karena ada yang lebih mengerikan: orang-orang dengan akar kebencian seperti mereka benar-benar ada di dunia nyata, menemukan satu sama lain di ruang-ruang tertutup maupun di dalam forum-forum online, saling memupuk dan memelihara kebencian, serta menguatkan satu sama lain agar tidak seorangpun dari mereka harus merasa sendirian. Lebih buruk lagi, mereka kini sudah semakin terbuka secara terang-terangan sejak kembalinya Trump menjadi presiden.
Kalau dilihat dengan kacamata dan konteks yang lebih luas, tema seputar kebencian kelompok tidak hanya soal white supremacy dan rasisme di Amerika saja, tapi juga meliputi semua bentuk kebencian ideologis, struktural dan terorganisir lainnya terhadap kelompok minoritas tertentu. Kelompok-kelompok dengan kebencian yang mengakar seperti ini bukanlah entitas supranatural ataupun monster. Seperti dalam Soft & Quiet, mereka berwujud guru sekolah dasar, pegawai minimarket, ibu rumah tangga, hingga warga kelas pekerja biasa, yang saling bersikap ramah pada satu sama lain, menjalani hari-harinya dengan normal dan terlihat seperti masyarakat pada umumnya. Mereka tampak tidak berbahaya karena sudah sangat membaur tanpa menggunakan simbol-simbol identitas ideologi apapun di muka umum. Kebencian yang senyap seperti ini bisa meledak ketika situasinya mendukung, seperti apa yang terjadi dalam Soft & Quiet. Mengingat ada banyaknya peristiwa dan aksi persekusi yang didasari kebencian mayoritas terhadap kelompok-kelompok minoritas selama beberapa tahun belakangan di banyak negara, saya rasa film ini justru menjadi terasa relevan bahkan di luar Amerika. Kenyataannya, sebagian orang benar-benar bisa melakukan hal-hal yang sangat jahat terhadap orang-orang yang tidak mereka kenal karena kebencian yang telah mendarah daging terhadap identitas tertentu, dan karena relevansinya inilah Soft & Quiet bisa terasa menakutkan.
Bisa jadi, konsep dan ide dasar Soft & Quiet juga datang dari pengalaman pribadi de Araújo karena ia adalah seorang perempuan muda Amerika yang bukan kulit putih. Ibu de Araújo adalah keturunan Tionghoa-Amerika, sementara ayahnya berasal dari Brasil. Dengan tema seperti itu, saya pikir Soft & Quiet adalah karya debut yang sangat berani dan provokatif dari Beth de Araújo. Seandainya de Araújo menjadi karakter di dalam Soft & Quiet, bisa dipastikan ia akan menjadi salah satu dari korban persekusi juga.

Di luar temanya yang berani, teknik yang digunakan de Araújo dalam debutnya ini juga sangat mengesankan. Soft & Quiet difilmkan secara real time karena menggunakan teknik one take. Bagi yang tidak familiar dengan istilah tersebut, one take / single-take / continuous-shot adalah sebuah teknik pembuatan film yang rumit di mana keseluruhan film seolah-olah direkam hanya dalam satu kali take menggunakan satu kamera tanpa ada potongan sama sekali hingga film berakhir. Artinya, film berdurasi 90 menit ini berisikan beberapa adegan long take (pengambilan gambar berdurasi panjang) yang diedit sedemikian rupa hingga terasa seakan-akan keseluruhan film direkam hanya dalam satu kali take, seperti yang pernah dilakukan oleh film-film seperti The Silent House (2010), Kidnapped (2010), 1917 (2019), serta MadS (2024). Saya bukan orang yang bekerja di bidang perfilman, tapi saya bisa membayangkan kalau teknik ini pastinya tidak mudah untuk dilakukan. Keberhasilan teknik rumit ini tidak hanya bergantung pada sinematografer dan juru kamera saja, tetapi juga pada latihan koreografi yang direncanakan dengan matang, serta kemahiran para aktornya dalam berperan. Bayangkan kalau kalian adalah seorang aktor yang harus berperan selama 30 menit tanpa cut, lalu salah menyebut kata dalam dialog atau salah mengambil benda pada menit ke-25, maka pengambilan gambar satu adegan panjang tersebut harus diulang lagi dari titik awal. Tidak ada ruang untuk kesalahan. Apalagi peristiwa dalam Soft & Quiet terjadi dari mulai sore hingga malam hari. Satu kesalahan kecil dalam adegan di sore hari bisa mengakibatkan pengambilan gambar harus diulang di hari berikutnya kalau matahari sudah terlanjur terbenam, misalnya. Ini jelas bukan pekerjaan yang mudah dan tentu sangat membutuhkan dedikasi tinggi dari semua yang terlibat.
Pendekatan teknik pengambilan gambar real time dan one take yang digunakan ini memperkuat rasa realisme Soft & Quiet, membuat penonton seakan ikut hadir di dalam setiap peristiwanya, di mana kita hanya bisa menyaksikan semua kekejaman yang terjadi namun tidak punya kuasa untuk berbuat apa-apa. Hasilnya adalah 90 menit penuh kecemasan yang terasa sangat intens, menyayat hati dan menyesakkan. Saya bahkan perlu menekan tombol pause beberapa kali di sepanjang film ini, hanya untuk mengambil napas dan menetralisir berbagai emosi yang saya rasakan. Lewat Soft & Quiet, De Araújo membuktikan bahwa sangat mungkin untuk membuat karya sinema ekstrim tanpa menggunakan darah serta visual yang vulgar, dengan hasil yang tetap terasa mengganggu. Soft & Quiet sama sekali bukan tontonan yang “menyenangkan” dalam artian hiburan. Kalau film ini memang dirancang untuk menimbulkan perasaan tidak nyaman pada penontonnya, de Araújo benar-benar berhasil.

