1914 ‘Viribus Unitis’ ALBUM REVIEW
Napalm Records. November 14th, 2025
Blackened death metal

Meskipun negaranya masih terjebak dalam konflik buntu tak berkesudahan sejak invasi brutal militer Rusia tahun 2022 silam, para musisi Ukraina terbukti punya semangat yang tak terpatahkan, karena tragedi berdarah tersebut tak sama sekali mengendurkan hasrat mereka untuk tetap terus berkarya, meski saat rekaman pun harus dibayang-bayangi serangan drone dan rudal dari Kremlin. Salah satu band Ukraina paling aktif bergerak seraya terus mengobarkan api perlawanan adalah 1914, yang kini beranggotakan Ditmar Kumarberg, Armin fon Heinessen, Liam Fessen, Vitalis Winkelhock dan Reich (bergabung tahun 2025). Walaupun sejak album ketiga mereka ‘Where Fear and Weapons Meet’ (2021), band yang selalu setia mengangkat kisah-kisah dari Perang Dunia I ini sempat jeda lama tak merilis album baru, mereka masih sangat rajin melakoni tur dan manggung di festival. Setelah berselang 1.484 hari pasca campaign ketiga, 1914 akhirnya merilis album terbaru mereka, yang masih dilepas via Napalm Records, ‘Viribus Unitis’, pada 14 November 2025.

Dalam ‘Viribus Unitis’ (semboyan hidup berbahasa latin Kaisar Austria-Hungaria, Franz Joseph), 1914 masih menolak untuk dijinakkan zaman, dan menurut gua ‘Viribus Unitis’ merupakan kumpulan lagu paling barbar dari band asal Ukraina ini, bahkan mampu menandingi debut ‘Eschatology of War’. Dari segi komposisi, walaupun elemen doom metal-nya masih kental di beberapa bagian, mayoritas materi yang dipersembahkan dalam ‘Viribus Unitis’ lebih condong ke wilayah blackened death metal, yang langsung dibuktikan dengan dua track bajingan “1914 (The Siege of Przemyśl)” dan “1915 (Easter Battle for the Zwinin Ridge)”, tingkat kebarbaran keduanya mampu bikin ogut langsung megap-megap efek gempuran bertubi-tubinya. Sempet gue kira unit ini bakal menurunkan intensitas serangan saat masuk lagu ke-4, “1916 (The Südtirol Offensive)”, ternyata mereka malah terus maju tanpa ngerem sampai ke nomor kelima, “1917 (The Isonzo Front)”. Alhasil baru masuk pertengahan album, bawaanya udah lunglai dan terkapar, karena gencatan senjata yang diberikan 1914 paling hanya berlangsung sesaat, sebelum mereka kembali melancarkan bombardir berikutnya.
Barulah masuk ke paruh kedua, kwartet ini mencoba menghadirkan materi yang lebih atmosferik dan gak duarr…duarr….duarr melulu, sekaligus melambatkan laju ofensif, meski sesekali masih menebar ledakan-ledakan pemecah derap lamban prajurit imperium Austria-Hungaria menuju jantung neraka, lewat nomor bertajuk “1918”, yang terbagi ke dalam tiga episode “WIA (Wounded in Action)”, “POW (Prisoner of War)”, dan “ADE (A duty to escape)”. Dalam ketiga trek tersebut, 1914 menampakan kembali naluri doom metal grup ini, bahkan mereka turut mengundang Aaron Stainthorpe (ex-MY DYING BRIDE) dalam babak terakhir, yang menutup opus berdurasi lebih dari 18 menit tersebut. Sebagai elegi untuk mengakhiri album, turut didatangkanlah Jerome Reuter (ROME) untuk mengisi “1919 (The Home Where I Died)”, yang merupakan nomor ballad muram tentang kepulangan semu seorang serdadu yang sempat pulang ke pelukan keluarga, namun harus kembali ditelan perang yang tak kunjung selesai.
Sebelum benar-benar menutup album, 1914 menyisipkan audio excerpt dari rekaman pertama lagu kebangsaan Ukraina, yang terdengar seperti foreshadowing suram perang Ukraina yang masih berkecamuk hingga hari ini. Kalau dibanding ‘Where Fear and Weapons Meet’, ‘Viribus Unitis’ jelas merupakan album yang lebih ganas dari segi formulasi racikan. Selain itu, embel-embel simfonik yang menggerogoti album tersebut juga sudah semuanya dihilangkan, agak disayangkan aja dari segi produksi agak terlalu bersih, walau jauh dari kata steril dan lumayan masih tetap menggedor, dan jujur gua sangat terganggu dengan potongan excerpt di menit 1:35 “The Siege of Przemyśl”. Dari segi overall quality materi, ‘Viribus Unitis’, memang masih belum mampu untuk menggeser ‘The Blind Leading the Blind’, Tetapi jangan salah, ‘Viribus Unitis’ gak bakalan salah lah kalo disebut sebagai salah satu rilisan blackened death metal terbaik dalam beberapa tahun terakhir.(Peanhead)
9.3 out of 10