YOTH IRIA ‘Gone With The Devil’ ALBUM REVIEW
Metal Blade Records. May 8th, 2026
Heavy/Black metal

Meskipun baru dibentuk tujuh tahun lalu, dan baru melepaskan debut album di tahun 2021, kuintet black metal asal Athens, YOTH IRIA telah menjelma jadi salah satu band paling disegani dalam ekosistem musik black metal Yunani. Aura keramat YOTH IRIA tentunya tak bisa dilepaskan dari sosok Jim Mutilator yang menahkodai grup ini, tokoh yang dulu ikut berperan dalam album-album klasik ROTTING CHRIST, layaknya: ‘Passage to Arcturo EP’, ‘Thy Mighty Contract’, ‘Non Serviam’, ‘Triarchy of the Lost Lovers’, dan juga album pertama legendaris VARATHRON, ‘His Majesty at the Swamp’. Selain itu dalam empat rilisan awal YOTH IRIA, Mutilator juga turut dibantu oleh George Zacharopoulos aka The Magus, sosok senior di hellenic black metal scene, karena pernah terlibat dengan THOU ART LORD, NECROMANTIA, dan tentunya ROTTING CHRIST juga. Karena faktor koneksi historis para founder-nya tersebutlah, berserta daya gebrak debut EP ‘Under His Sway’ dan ‘As the Flame Withers’, berhasil memantapkan reputasi YOTH IRIA sebagai salah satu entitas extreme metal paling menyita perhatian dalam beberapa tahun terakhir.

Walaupun gua sangat menggandrungi materi-materi awal YOTH IRIA, terutama ketika Mutilator masih bersekongkol dengan The Magus. ‘Blazing Inferno’, yang merupakan album kedua sekaligus debut vokalis berkebangsaan Rusia, Rustam ‘He’ Shakirzianov, kurang begitu menarik perhatian gua. Meskipun secara racikan komposisi tak kalah beracun kalau disandingkan dengan ‘As the Flame Withers’, namun produksinya menurut gue kelewat steril untuk sebuah rilisan black metal, selain itu lirik-nya kalau dipantengin secara seksama (berkat artikulasi He yang cukup jelas) lumayan bikin meringis saking cheesy-nya. November tahun lalu YOTH IRIA mengumumkan berlabuhnya mereka di jajaran roster elit Metal Blade Records, yang kemudian disokong dengan tiga single fantastis: “Blessed Be He Who Enters”, “Harut, Government, Fallen”, dan tentunya “The Blind Eye of Antichrist”, yang selalu bikin bulu kuduk ngaceng tiap dengerin, karena dalam trek tersebut YOTH IRIA memboyong choir untuk melantunkan, “Pobedna pesma”, meskipun liriknya mengangkat figur Antichrist sebagai sosok sosok penjaga tatanan kosmis, jauh dari penggambaran tradisional, yang justru memperkuat nuansa sakral sekaligus paradoksikal beberapa stanza dari lagu spiritual yang Jim Mutilator dkk pilih untuk ditransmutasikan ini.
Sayangnya diluar tiga single impresif, sebuah nomor dengan vibe arena rock kuat (“Woven Spells of a Demon”), lagu heavy metal super macho (“The End of the Known Civilization”), beserta nomor lumayan progresif (“I, Totem”), yang bagian clean vocal dan extended instrumental section-nya sedikit mengingatkan pada ENSLAVED dan IOTUNN. Empat trek tersisa dalam album ketiga YOTH IRIA yang berjudul ‘Gone With The Devil’ ini, “Dare To Rebel”, “3am”, “Give ‘Em My Beautiful Hell”, dan “Once in a Blue Moon”, punya kadar “keju” yang terlalu kelewatan, jadi tiap dengerin bawaanya langsung mengerutkan dahi, apalagi pas liat judul lagu-nya, yang malah kayak FIVE FINGER DEATH PUNCH versi satanis, padahal dari segi aransemen sih ketiganya lumayan oke, hanya track ketujuh saja yang hambar. Terlepas dari empat nomor medioker bikin cringe yang sudah gua sebutkan di atas, ‘Gone with the Devil’ sebenarnya secara keseluruhan masih cukup solid. Produksinya yang terlalu slick dan bersih memang butuh waktu untuk dicerna penikmat extreme metal non jalur menstrim. Untungnya album ini masih terselamatkan enam buah lagu punya taji yang sanggup mengangkat martabat ‘Gone With The Devil’ dari keterpurukan. Hanya saja, kalau harus dibandingkan dengan debut luar biasa mereka, ‘As the Flame Withers’, album penuh ketiga YOTH IRIA ini masih beberapa kasta di bawahnya.(Peanhead)
7.4 out of 10