
MANIAC COP
Sutradara: William Lustig
USA (1988)
Review oleh Tremor
Maniac Cop adalah sebuah film action thriller / misteri dengan unsur horror slasher yang cukup kuat, karya dari sutradara William Lustig yang sebelumnya sudah cukup dikenal berkat debut legendarisnya, Maniac (1980). Naskah dan ide Maniac Cop sendiri datang dari Larry Cohen, seorang pembuat film horor independen yang sebelumnya pernah membuat It’s Alive (1974) dan The Stuff (1985). Ketika dirilis, film beranggaran rendah ini hanya mendapat jatah pemutaran terbatas di bioskop-bioskop Amerika. Itupun hanya di bioskop grindhouse yang biasa memutar film-film eksploitasi murahan. Meskipun pemutarannya di bioskop gagal menutup biaya produksinya, tapi penjualan hak film ini untuk dirilis ke bentuk home video dengan format VHS cukup meroket, karena pada masa itu permintaan terhadap film-film horor dan action di pasar penyewaan kaset VHS memang sedang cukup tinggi. Hal inilah yang akhirnya membuat Maniac Cop mendapat tempat di hati para horror nerd yang terlalu pemalu untuk pergi ke bioskop. Apalagi ada beberapa bintang horor yang ikut bermain dalam Maniac Cop, salah satunya adalah Bruce Campbell yang karirnya sedang bersinar berkat perannya sebagai Ash dalam Evil Dead II (1987) satu tahun sebelumnya. Lalu ada aktor kawakan Tom Atkins yang sudah sangat dikenal oleh para penggemar horor karena perannya dalam film-film seperti The Fog (1980), Creepshow (1982), Halloween III: Season of the Witch (1982), hingga Night of the Creeps (1986). Keberhasilan kecil Maniac Cop dalam format home video kemudian memantik Cohen dan Lustig untuk membuat sekuel Maniac Cop 2 (1990) yang disusul oleh Maniac Cop 3: Badge of Silence (1992), yang sepenuhnya didorong oleh antusiasme pasar penyewaan kaset VHS. Meskipun bukan film terbaik dari Lustig maupun Cohen, tapi Maniac Cop kini menyandang status cult classic dengan pangsa penggemarnya sendiri hingga hari ini.

Dilihat dari judulnya saja, seharusnya tidak terlalu sulit untuk menebak tema film ini. Maniac Cop dimulai dengan cukup menjanjikan. Seorang perempuan muda sedang berjalan kaki pulang dari tempat kerjanya pada tengah malam. Tiba-tiba beberapa berandalan jalanan mencoba untuk merampoknya. Setelah berhasil melawan mereka, ia segera berlari meminta perlindungan ke arah sosok polisi berseragam yang sedang berdiri di sebuah taman yang gelap. Di luar dugaannya, sosok polisi tersebut segera mencekiknya hingga tewas, disaksikan oleh dua berandalan yang mencoba mengejarnya. Namun tak satupun polisi yang percaya dengan kesaksian dari para berandalan tersebut, kecuali detektif Frank McCrae yang menerima gagasan bahwa bisa saja anggota kepolisianlah pelakunya. Sejak itu, beberapa pembunuhan acak yang menargetkan orang-orang tidak bersalah kembali terjadi di jalanan kota NY yang gelap. Karena saksi mata semakin bertambah, maka berita tentang sosok pembunuh sadis berseragam polisi ini menyebar di surat kabar dan berita dengan cepat. Kepolisian yang seharusnya melindungi pun kini dianggap sebagai sarang pembunuh. Penduduk NY mulai kehilangan kepercayaan pada kepolisian karena kini mereka tidak tahu siapa yang bisa mereka percaya. Salah satu polisi bernama Jack Forrest akhirnya menjadi kambing hitam dan ditangkap setelah istrinya dibunuh oleh maniac cop sesaat setelah memergoki Jack berselingkuh. Meskipun Jack menjadi tersangka utama dari semua kasus pembunuhan acak tersebut, detektif McCrae masih yakin kalau polisi telah menangkap orang yang salah. Kini ia dan kekasih gelap Jack mencoba untuk mengungkap identitas sang maniac cop.

Ketika Maniac Cop dirilis, masa kejayaan genre slasher sudah sangat meredup dan menjadi sebuah genre yang terlalu dipenuhi klise membosankan. Mungkin karena alasan itulah Larry Cohen mencoba untuk membuat sesuatu yang baru, tanpa meninggalkan unsur slasher sama sekali. Maniac Cop memang dibuka seperti film slasher. Tak tanggung-tanggung, ada 5 pembunuhan terjadi dalam 20 menit pertamanya. Layaknya film slasher, Maniac Cop juga memperkenalkan karakter sang pembunuh berkostum, yang kali ini menggunakan kostum polisi. Dalam banyak hal, ia memang memiliki karakteristik khas villain slasher: misterius, bisa berpindah tempat dan menghilang dengan cepat, bahkan kebal terhadap peluru seakan memiliki elemen supranatural, dilengkapi dengan alat pembunuh andalan yang akan menjadi ciri khas utamanya. Karakter ini jelas tidak akan pernah bisa mendapat status legendaris seperti Michael Myers, Jason Voorhees dan Freddy Krueger, namun ia tetap memiliki ciri khas visual yang kuat dan akan sangat mudah untuk dikenali. Meskipun ada banyak elemen slasher di dalam Maniac Cop, tapi naskahnya lebih banyak berfokus pada elemen misteri ala drama kriminal dan investigasi polisi. Hampir sebagian besar durasi Maniac Cop mengajak kita mengikuti investigasi yang dilakukan oleh detektif McCrae, hingga film ini mengubah haluan ke arah action 80-an pada babak ketiganya, lengkap dengan adegan baku tembak dan kejar-kejaran mobil. Usaha penggabungan genre seperti ini bisa jadi terasa cukup menyegarkan bagi penonton di akhir 80-an yang jenuh dengan formula-formula standar film slasher. Penggabungan ini juga membantu mencegah Maniac Cop menjadi sekedar sebuah film slasher generik di masa di mana kejayaan slasher telah berakhir. Dalam hal ini, usaha Larry Cohen tetap perlu dihargai, walaupun pada beberapa bagian alur ceritanya, Maniac Cop terasa seperti dua buah naskah film yang sama sekali berbeda dipaksakan menjadi satu.
Tahun 80-an juga menandakan masa keemasan special effect prostetik tradisional di dunia perfilman horor. Dalam periode ini, ada banyak sekali seniman visual effect yang berlomba-lomba untuk menemukan cara-cara paling kreatif, efektif, dan termurah dalam menciptakan adegan pembunuhan paling spektakuler. Faktor tersebut menjadi salah satu pendorong kuat yang membuat film slasher begitu digemari pada masa itu, karena kebanyakan adegan pembunuhannya bukan dilakukan dengan cara-cara yang biasa-biasa saja dan cukup menantang bagi para seniman visual effect. Mungkin, kegagalan Maniac Cop salah satunya juga datang dari faktor ini. Para penonton yang pada masa itu masih berharap melihat pembunuhan kreatif sebagai salah satu ciri paling diminati dari film slasher, bisa jadi merasa kecewa dengan Maniac Cop karena film ini tidak memiliki adegan-adegan sesadis dan sekreatif yang diharapkan dari sebuah film slasher.

Sebelumnya, penulis Larry Cohen memang dikenal kerap memasukkan komentar sosial serta unsur satir dalam beberapa filmnya, dari mulai God Told Me To (1976) yang menyindir fanatisme agama, hingga The Stuff (1985) yang menyindir budaya konsumerisme. Dalam Maniac Cop, ia juga menyisipkan satir seputar kecemasan sosial dan paranoia urban, yang tentu saja mengarah pada instansi kepolisian yang memang dikenal sering melakukan kekerasan pada warga sipil dan minoritas di jalanan, hingga relasi kotor antara pejabat dan kepolisian.
Seperti pada umumnya film horor independen kelas B beranggaran rendah pada masa itu, Maniac Cop memang jauh dari sempurna, apalagi kalau ditonton dengan kacamata modern. Adegan-adegan pembunuhan yang tidak berkesan, strukturnya hambar, makeup dan special effect biasa-biasa saja, diperburuk dengan naskah yang berantakan. Meskipun konsep dasarnya menarik, tapi ada terlalu banyak inkonsistensi dan plot hole yang tidak logis di dalamnya. Mungkin film ini memang baru bisa dinikmati kalau penontonnya tidak menggunakan logika pada banyak bagiannya. Itulah yang terjadi pada kebanyakan film slasher. Tapi, karena alur Maniac Cop dibuat seperti sebuah drama kriminal investigasi, maka cukup sulit untuk tidak melibatkan logika ketika menontonnya. Setidaknya Maniac Cop membawa konsep yang cukup orisinil di tahun 80-an karena ia tidak mencoba meniru dan mengulang formula-formula standar film-film slasher populer seperti Halloween dan Friday the 13th. Di satu sisi, vibe film ini juga tetap menyenangkan, meskipun terkadang juga terasa murahan. Tapi bagi para penggemar film slasher 80-an, Maniac Cop setidaknya memperlihatkan bagaimana perkembangan film slasher pasca keruntuhannya, serta usaha-usaha untuk mempertahankan genre tersebut.

