MOVIE REVIEW: THE FOURTH KIND (2009)

THE FOURTH KIND
Sutradara: Olatunde Osunsanmi
USA / UK (2009)

Review oleh Tremor

The Fourth Kind adalah sebuah film sci-fi thriller bertema alien abduction yang dikemas dalam format mockumentary, ditulis dan disutradarai oleh seorang pembuat film asal Amerika, Olatunde Osunsanmi. Di tengah trend mockumentary dan found footage pada awal 2000-an, Osunsanmi mencoba bereksperimen membuat mockumentary yang bukan hanya berisikan wawancara serta cuplikan rekaman-rekaman “asli” saja, tetapi lebih didominasi dengan dramatisasi reka ulang. Jadi meskipun The Fourth Kind berformat mockumentary, penonton akan tetap merasa seperti menonton sebuah film konvensional, yang sesekali disisipi dengan “rekaman arsip asli” serta sesi wawancara Osunsanmi dengan satu-satunya narasumber sekaligus penyintas, yaitu Dr. Abigail Tyler. Pada dasarnya, Osunsanmi seperti membuat dua buah film dengan format berbeda: found footage dan dramatisasi reka ulang, yang kemudian digabungkan. Eksperimen penggabungan ini cukup berhasil membuat The Fourth Kind tidak terlalu terasa membosankan seperti kebanyakan film-film mockumentary dan found footage lainnya yang pada masa itu cukup menjamur.

Judul The Fourth Kind sendiri merujuk pada sistem klasifikasi skala pertemuan dekat (close encounter) antara manusia dengan entitas ekstraterestrial yang dirumuskan oleh seorang ahli astronomi sekaligus peneliti fenomena UFO asal Amerika, Josef Allen Hynek, pada tahun 1972. Klasifikasi Close Encounter yang pertama (kode CE1) adalah ketika seseorang melihat UFO dari jarak maksimal 150 meter (untuk mengurangi kemungkinan salah identifikasi.) CE2 adalah ketika UFO meninggalkan bukti fisik dari dampak keberadaannya, seperti gangguan elektromagnetik, crop circle, tanah yang terbakar, hingga jejak kimiawi. CE3 adalah ketika seseorang melihat entitas biologis ekstraterestrial yang berkaitan dengan UFO, bahkan hingga pada tingkatan berkomunikasi. Sementara CE4, atau pertemuan dekat jenis ke-empat yang kemudian dijadikan judul film ini adalah ketika seseorang diculik oleh entitas ekstraterestrial. Sebenarnya klasifikasi ini tidak berhenti hanya pada jenis ke-empat saja, tetapi mari kita berfokus hanya pada CE4 yang menjadi tema utama The Fourth Kind.

Film ini dibuka dengan klaim bahwa kisah ini diambil dari “kasus nyata” yang diceritakan oleh seorang psikolog bernama Dr. Abigail Tyler berdasarkan studi dan pengalaman pribadinya di Nome, Alaska pada tahun 2000. Lewat dramatisasi reka ulang, kita mengikuti Dr. Tyler yang baru saja mengalami tragedi dalam keluarga kecilnya. Ia yakin seseorang telah membunuh suaminya secara brutal, dan sejak itu putri bungsunya mengalami kebutaan permanen. Dr. Tyler menganggap polisi tidak bekerja dengan serius karena pembunuh suaminya tidak pernah ditemukan. Namun ada peristiwa yang tak kalah menyedihkan terjadi di Nome, yaitu banyaknya penduduk yang hilang tanpa jejak dan tak bisa dijelaskan selama puluhan tahun terakhir. Setelah kehilangan suaminya, Dr. Tyler masih menjalani kehidupannya senormal mungkin sebagai psikolog. Di dalam ruang prakteknya, Dr Tyler menemukan bahwa beberapa pasiennya mengalami gangguan tidur dengan ciri serupa: terbangun pada jam yang selalu sama sekitar pukul 3 dini hari, dan melihat burung hantu mengawasi mereka dari balik jendela. Sebagian pasiennya bahkan baru menyadari bahwa mereka telah melihat burung hantu tersebut sejak kecil. Namun ingatan mereka agak sedikit kabur, hingga akhirnya Dr.Tyler mencoba metode hipnotis untuk menggali lebih dalam ingatan tentang apa yang sebenarnya mereka alami setiap pukul 3 dini hari. Ketika berusaha mengungkap misteri yang terjadi di Nome inilah, Dr. Tyler perlahan menyadari bahwa mungkin ia berurusan dengan kekuatan asing yang berada di luar pemahamannya.

Sejak dirilis dan mungkin juga sampai hari ini, The Fourth Kind mendapat sambutan dan antusiasme cukup tinggi dari para pemerhati UFO serta pemercaya teori konspirasi seputar UFO. Film ini dirasa cukup menggambarkan apa yang selama ini diyakini oleh kebanyakan dari mereka, bahwa bangsa alien memang pernah mampir ke bumi dan diam-diam masih mengobservasi manusia sejak lama. Walaupun bukan karya yang sempurna, tapi sebagian penggemar film sci-fi dan horor juga cukup terhibur dengan film ini. Namun sebaliknya, sebagian besar penduduk Alaska tidak mengapresiasi The Fourth Kind. Pada tahun 2004, LA Times pernah merilis sebuah artikel yang melaporkan terdapat 3.323 kasus orang yang secara hukum dinyatakan hilang di Alaska. Dengan kondisi geografis Alaska yang dipenuhi pegunungan, sungai, gletser serta area-area liar lainnya, ditambah lagi dengan iklim yang tidak bersahabat serta tingkat konsumsi alkohol yang cukup tinggi di kota Nome yang terisolasi, maka tidak mengherankan kalau jumlah kasus orang hilang sangat tinggi di sana. Melalui Kawerak Inc., sebuah organisasi yang mewakili penduduk asli Alaska, banyak keluarga yang pernah kehilangan anggotanya di Nome merasa The Fourth Kind telah meremehkan tragedi serta rasa duka mereka. Olatunde Osunsanmi sendiri dianggap nirempati, tidak etis dan tidak peka karena telah mengambil keuntungan dari peristiwa tragis yang mereka alami dan membungkusnya dengan kisah “picisan” penculikan alien, di saat tidak ada kesaksian apapun tentang UFO yang berkaitan dengan hilangnya penduduk Nome di dunia nyata. Yang lebih buruk lagi, tidak ada satupun pengambilan gambar film ini dilakukan di Nome Alaska, melainkan di Bulgaria dan Kanada. Jadi, para penduduk Nome sama sekali tidak tahu bahwa ada pembuatan film yang menggunakan tragedi mereka sebagai latar belakangnya.

Kembali ke pembahasan soal film ini, meskipun memang tidak terlalu menakutkan dalam visual dan atmosfernya, tetapi The Fourth Kind bisa terasa menyeramkan dalam tataran imajinasi kalau dilihat dari premis dan idenya. Bayangkan bagaimana tidak berdayanya manusia di hadapan spesies ekstraterestrial yang memiliki tingkat intelejensi serta teknologi yang jauh di luar pemahaman kita semua. Bagaimana kalau salah satu penjelasan atas gangguan tidur dan mimpi buruk adalah benar-benar karena alien menculik dan mengobservasi kita? Apa yang paling saya suka dari film ini adalah konsep tentang kekacauan ingatan para korban penculikan, yang hanya mampu mengingat kehadiran alien lewat visual burung hantu. Secara visual, dipilihnya burung hantupun juga terasa cukup masuk akal untuk bisa lebih diingat oleh manusia karena bentuknya yang lebih familiar bagi otak kita. Perlu dicatat bahwa selain suara-suara yang sempat terekam, tidak ada satupun penampakan alien dalam film ini. Jadi kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana wujud mereka, dan menurut saya itu adalah keputusan yang tepat untuk film semacam The Fourth Kind.

Tapi, jujur saja, ada lebih banyak kekurangan dalam film ini, terutama dari segi penulisannya. Yang paling mengganggu dan membingungkan bagi saya (spoiler!) adalah mengapa informasi vital tentang kematian suami Dr. Tyler disembunyikan sebegitu lamanya oleh sherif setempat hingga baru diungkapkan pada akhir film ini? Padahal, Dr. Tyler sudah beberapa kali menyindir kepolisian karena gagal mengungkap kasus kematian suaminya. Sindirannya pun tak jarang membuat sangt sherif tersinggung. Lalu mengapa sherif yang selama ini mengetahui kebenarannya memilih diam dan membiarkan Dr. Tyler menderita mencari jawaban selama itu? Jawabannya tentu saja adalah karena Olatunde Osunsanmi ingin memberikan plot twist untuk para penontonnya. Masalahnya, plot twist seperti ini sama sekali tidak logis dan seakan muncul begitu saja, menjadikannya sebagai plot twist yang sangat buruk dan terasa merusak. Hal lain yang membingungkan bagi saya adalah mengapa korban penculikan alien berperilaku seperti kerasukan iblis ketika dihipnotis dan didorong untuk mengingat tentang apa yang terjadi? Saya masih bisa menerima ketika mereka tiba-tiba berbicara bahasa Sumeria kuno, karena mungkin di bawah pengaruh hipnotis, bahasa yang digunakan oleh bangsa alien tersebut tetap terpatri dalam ingatan mereka sebagai bagian dari memori bawah sadar. Tapi mengapa suara mereka tiba-tiba berubah menjadi mengerikan seakan mereka bukan sedang menuturkan ingatan, tapi sedang dijadikan alat oleh alien untuk berkomunikasi? Kalau mereka memang dijadikan alat komunikasi, lalu untuk apa para alien repot-repot bersembunyi dari manusia, bahkan menghapus ingatan para korban penculikannya? Tapi apa yang paling buruk bagi saya adalah ketika salah satu korban penculikan alien ini tiba-tiba melayang secara perlahan di atas kasurnya. Saya paham, tubuh mereka melayang ketika sedang diculik dan dipindahkan ke dalam UFO. Namun masalahnya, apa yang diperlihatkan pada penonton adalah mereka melayang dalam sesi hipnotis. Saya sudah menonton The Fourth Kind lebih dari tiga kali sejak film ini dirilis, dan hingga hari ini saya masih belum menemukan jawaban mengapa Osunsanmi membuat adegan melayang tersebut selain hanya untuk menambah bumbu “horor”, yang sayangnya lagi-lagi terasa dipaksakan, kecuali kalau ia sedang membuat sebuah film horor bertema kerasukan.

Lalu, ada hal teknis yang saya rasa tidak benar-benar diperlukan dalam film ini, yaitu setiap kali Osunsanmi menampilkan cuplikan arsip “asli” dan adegan reka ulangnya secara bersamaan lewat teknik layar terpisah. Saya tidak menangkap apa poinnya menampilkan keduanya dalam satu layar. Dari layar reka ulangnya, penonton tentu sudah bisa memahami apa yang sedang terjadi. Diperlihatkannya “cuplikan asli” bersebelahan dengan adegan reka ulangnya sama sekali tidak menambah ketegangan maupun pengetahuan apapun. Sebaliknya, teknik ini justru menjadi distraksi yang agak mengganggu. Mengapa ia tidak berfokus pada salah satunya saja? Anehnya, justru ketika terjadi gangguan elektromagnetik yang merusak rekaman “asli”-nya, Osunsanmi sama sekali tidak menampilkan reka ulangnya. Saya pikir adegan reka ulang berdasarkan kesaksian saksi mata justru sangat diperlukan ketika “rekaman asli” dari sebuah kejadian tidak tersedia atau rusak seperti itu. Saya paham keputusan Osunsanmi soal style-nya ini mungkin adalah untuk menambah unsur horor, karena satu-satunya visual seram dalam The Fourth Kind memang hanya terlihat dalam “cuplikan asli”-nya saja. Tapi jujur saja rasanya seperti terlalu dipaksakan dan tidak konsisten.

Bagaimanapun, eksperimen sutradara Olatunde Osunsanmi dalam memadukan format mockumentary, found footage dan reka ulang dengan gayanya sendiri lewat The Fourth Kind memang terasa sedikit menyegarkan, dan usaha tersebut tetap perlu diapresiasi. Sebagai sebuah karya film, The Fourth Kind juga memiliki konsep yang penuh potensi. Sayangnya, penulisan dan eksekusi film ini terasa sedikit berantakan. Mungkin film ini cukup bisa dinikmati sebagai film thriller dengan premis menarik, yang dibumbui oleh gimmick horor yang tidak terlalu bekerja.