MOVIE REVIEW: THE DARK AND THE WICKED (2020)

THE DARK AND THE WICKED
Sutradara: Bryan Bertino
USA (2020)

Review oleh Tremor

Sepertinya penulis / sutradara Bryan Bertino adalah seorang pembuat film yang senang bereksplorasi dalam genre horor. Karir Bertino sudah langsung meroket sejak debutnya yang sangat sukses meskipun pada masa itu pengalaman penyutradaraannya masih sangat minim, yaitu sebuah film horor dengan tema home invasion yang berjudul The Strangers (2008). Dibutuhkan enam tahun hingga Bertino kembali berpetualang dalam genre horor lewat sebuah percobaan film found footage berjudul Mockingbird (2014) yang sayangnya dianggap gagal total. Dua tahun kemudian ia kembali bangkit melanjutkan eksplorasinya lewat sebuah film creature feature berjudul The Monster (2016). Pada tahun 2020, eksplorasi penulisan serta penyutradaraan Bertino mulai memasuki teritori horor yang sama sekali baru baginya, yaitu sebuah karya horor supranatural indie berjudul The Dark and The Wicked. Sejauh ini, The Dark and The Wicked adalah karya Bertino yang paling gelap, atmosferik, dan nihilistik dibanding film-film lain yang pernah ia buat. Lewat film drama psikologis bertempo lambat ini, Bertino mencoba menggali berbagai tema yang lebih dalam seperti keterasingan dalam keluarga, kematian, duka, kesedihan, perasaan bersalah dan keputusasaan, dengan unsur supranatural yang cukup gelap.

Dua kakak beradik, Louise dan Micheal, kembali ke rumah peternakan keluarga yang terpencil tempat mereka dibesarkan untuk menemani sang ayah yang mulai sekarat. Selama bertahun-tahun mereka sangat jarang mengunjungi dan berkomunikasi dengan kedua orangtuanya. Karena itu, mereka merasa bersalah ketika sang ayah kini hanya bisa terbaring menunggu ajal di kasurnya, dirawat oleh ibu mereka yang tentu kewalahan dengan tugas berat tersebut. Meskipun kedatangan mereka juga adalah bentuk kepedulian dan dukungan emosional, namun sang ibu berulang kali menyampaikan dengan nada marah bahwa Louise dan Michael seharusnya tidak datang, dan ia meminta mereka untuk segera pergi. Tentu saja mereka menolak melakukannya dan terus berusaha membantu ibunya merawat sang ayah. Situasi mulai memburuk ketika pada suatu pagi mereka menemukan sang ibu tewas gantung diri di dalam lumbung. Kejadian tersebut membuat Louise dan Michael terpukul. Dipenuhi dengan perasaan bersalah, mereka menduga bahwa sang ibu telah kehilangan kewarasannya karena beban berat yang selama ini ia tanggung seorang diri. Keyakinan tersebut diperkuat dengan ditemukannya buku harian sang ibu yang dalam halaman terakhirnya sempat menuliskan tentang entitas jahat yang mencoba mengambil nyawa suaminya. Sebagai keluarga yang tidak percaya pada hal-hal gaib, Louise dan Michael semakin yakin kalau ibu mereka telah terganggu mentalnya. Namun, di tengah masa berkabung tersebut satu persatu peristiwa mengerikan justru mulai terjadi di sekitar mereka, hingga menantang rasionalitas serta memprovokasi kewarasan mereka sendiri.

The Dark and The Wicked adalah kisah sederhana yang mencoba menggambarkan emosi seputar ikatan sebuah keluarga yang saling terasing, khususnya perasaan bersalah yang dirasakan oleh seorang anak karena pernah “meninggalkan” orang tuanya, lewat narasi horor supranatural. Bagi kita yang hidup di Indonesia dan asia secara umum, ide untuk merawat orang tua lansia mungkin bukanlah ide yang asing karena itu telah menjadi bagian dari budaya. Namun mungkin di negara barat, hal tersebut bukanlah hal yang biasa. Bisa jadi, film ini mengajukan pertanyaan pada para penontonnya di barat, seberapa banyak orang meninggalkan orang tua mereka yang keadaan fisiknya semakin terpuruk. Seperti kita tahu, merawat orang tua lanjut usia yang telah jatuh sakit bukanlah hal yang mudah. Secara perlahan kita harus menyaksikan orang tua kita semakin rapuh, dan itu adalah hal yang memilukan. The Dark and The Wicked bukanlah film horor yang pertama membawa kisah semacam ini. Pada tahun yang sama, dirilis juga sebuah film horor berjudul Relic (2020) yang mengilustrasikan perjuangan merawat seorang ibu yang mulai mengalami demensia. Beberapa tahun sebelumnya, tema serupa juga pernah diangkat oleh film The Taking of Deborah Logan (2014) yang menggambarkan perjuangan merawat ibu yang mengidap penyakit alzheimer. Sesuai dengan judul filmnya, Bryan Bertino mengembangkan gagasan serupa dengan visinya sendiri yang gelap dan mengerikan, di mana sang ayah dalam The Dark and The Wicked hanya bisa terbaring tak berdaya di atas kasurnya karena penyakit yang tak pernah dijelaskan.

Bicara soal unsur supranaturalnya, para penonton, termasuk juga Louise dan Michael, sama-sama tidak pernah tahu mengapa dan bagaimana entitas jahat datang dan menghancurkan hidup keluarga mereka. Hingga filmnya selesai, tidak pernah ada penjelasan dan alasan apapun tentang hal tersebut. Apa yang kita tahu hanyalah tidak ada yang bisa dilakukan untuk menghentikannya, dan itu sudah cukup untuk menjadikannya sebuah film horor supranatural yang suram. Penonton dan para karakter dalam film ini sama-sama berada dalam ketidaktahuan yang mencemaskan. Dengan judul serta tema seperti itu, ditambah lagi dengan alur yang cukup lambat, saya pikir keputusan Bryan Bertino untuk lebih banyak berfokus pada atmosfer, dan bukan pada penjelasan, sangatlah tepat. Wujud sang entitas jahat yang memangsa keluarga tersebut tidak pernah diperlihatkan di dalam film, dan saya pikir wujud iblis memang tidak perlu diperlihatkan hanya untuk bisa memaparkan kengerian terornya. Seandainya The Dark and The Wicked memperlihatkan wujud iblisnya, saya pikir film ini justru akan jatuh pada lubang film horor mainstream yang klise seperti film-film ala Conjuring. Kita hanya perlu tahu bahwa entitas tak berwujud dalam The Dark And The Wicked benar-benar jahat dan sanggup memanipulasi setiap jiwa yang hendak ia cabut nyawanya. Karena manipulasinya inilah bahkan penonton pun tidak yakin karakter mana yang bisa dipercaya oleh Louise maupun Michael, menambah unsur paranoia dan isolasi di sepanjang film. Dan kalau mau digali lebih dalam, tema ini juga bisa memasuki wilayah pembahasan masalah mental serius yang cukup umum di dunia modern, yaitu depresi.

Menurut saya, Bryan Bertino memang cukup handal dalam menciptakan suasana seram yang dibutuhkan oleh film seperti ini. Sejak film dimulai, seperti ada perasaan cemas yang muncul tentang sesuatu yang buruk akan terjadi. Ketika kejadian-kejadian mengerikan mulai terjadi, Bertino memang sempat menyisipkan beberapa jump scare. Namun, elemen horor terbaik dari The Dark and The Wicked tetap ada pada perasaan dan suasana gelap yang secara perlahan semakin meningkat, dan bukan pada jump scare-nya. Jadi, film ini benar-benar menunaikan judulnya dengan sangat tepat karena atmosfernya. Meskipun berakhir tanpa konklusi, menurut saya cara film ini ditutup juga sangatlah tepat dan sejalan dengan vibe keseluruhan filmnya: gelap, nihilistik, dan ada perasaan tidak berdaya yang sangat kuat.

Saya juga perlu menyoroti penampilan kedua aktor utamanya, yaitu Marin Ireland dan Michael Abbott Jr yang memerankan Louise dan Michael dengan sangat meyakinkan. Alur The Dark and The Wicked sendiri terjadi dalam beberapa hari yang berurutan, dan karakter Louise serta Michael benar-benar terasa semakin lelah, ketakutan, tertekan, dan terpuruk setiap harinya karena memang tidak ada satupun hal baik terjadi di dalam film ini. Kemampuan akting yang meyakinkan ditambah dengan perasaan terisolasi yang sangat kuat, membuat film ini sama sekali tidak menghibur dalam artian tradisional film sebagai hiburan. The Dark and The Wicked jelas bukan sebuah film yang sempurna. Ketiadaan penjelasan, beberapa plot hole, alur yang lambat dan terlalu sederhana, ditambah lagi dengan karakter yang tidak terlalu digali, semua itu bisa menjadi kelemahan dari film ini terutama bagi para penonton yang mengharapkan adanya konklusi dan wujud iblis dari setiap film horor yang mereka tonton. Namun semua kelemahannya sangat bisa dimaafkan karena pembangunan atmosfer, sinematografi dan sound design-nya benar-benar berhasil membuat karya film horor indie ini terasa sangat suram, penuh kesengsaraan dan perasaan tidak berdaya.