ARCHSPIRE ‘Too Fast To Die’ Album Review
Selft Release. April 10th, 2026
“Extreme technical death metal”

Setelah tiga belas tahun berada dalam naungan records label asal kota Marseille, Prancis, Season of Mist, awal tahun 2025 kemarin, ARCHSPIRE akhirnya memutuskan untuk menempuh jalur jadi band independen dan memilih Kickstarter sebagai metode penggalangan dana untuk album terbaru mereka. Keputusan tersebut diambil karena Oliver Rae Aleron, Dean Lamb, Tobi Morelli, dan Jared Smith merasa standard pembagian royalti di industri musik zaman now semakin kurang adil dan mencekik. Jadi, alih-alih berlabuh ke label major lebih gede, kayak kebanyakan band extreme metal era sekarang, yang biasanya gak lama setelah meledak, langsung ditarik Century Media, Nuclear Blast, Napalm, Roadrunner atau Metal Blade, ARCHSPIRE memutuskan untuk mengambil semua kendali dari mulai pendanaan, publikasi, hingga manufaktur rilisan fisik. Kayaknya band extreme technical death metal ini terinspirasi grup-grup deathcore macam INFANT ANNIHILATOR, SHADOW OF INTENT, DARKO, dan ANGELMAKER, yang berhasil sukses tanpa bekingan label sekalipun, apalagi ARCHSPIRE secara branding memang sudah bisa berdiri sendiri, efek komposisi ultra njelimet bin ngebut dipadukan dengan gaya growl “death rap”, pentolan band suka ngelawak, kanal resmi band dan gitaris Dean Lamb yang rajin ngonten, hingga gimmik “Fastest Band on EARTH”, yang sempet mau didaftarin ke Guinness World Records, walaupun pendaftarannya akhirnya mental.

Meskipun dari segi durasi, ‘Too Fast To Die’ merupakan album paling panjang dari ARCHSPIRE, karena hampir menyentuh 40 menit dengan total delapan track, album kelima dari unit tech death asal Kanada ini malah menjadi album pertama dari ARCHSPIRE yang ketika gua dengar dari awal sampai akhir, gak ada satu lagu pun yang bikin kuping mabok blast beat atau timbul hasrat pencet tombol next. Hal tersebut jelas berkat delapan buah lagu yang dipersembahkan band kehed ini, memang punya kualitas songwriting yang sudah jauh lebih kuat dari keempat album mereka sebelumnya. Alhasil dari petikan intro lagu pertama “Liminal Cypher” hingga nomor penghabisan sekaligus title track, tidak ada satupun lagu yang membaur antara satu sama lain, alias masing-masing komposisi punya identitas pembeda yang kuat, jadinya lebih gampang terpatri dalam ingatan, walaupun baru disetel sekali/dua-kali saja. ARCHSPIRE selalu memberikan hook atau pegangan yang bisa dicengkeram erat-erat oleh pendengar, entah itu lewat melodi-melodi neoclassical inspired bajingan, riff teknikal tajam yang luar biasa presisi, break musikal strategis, hingga groove bengis yang mampu membuat pendengar lengah langsung tersentak, semua kegilaan sangat terkoordinasi, bukan sekedar asal gila-gilaan tanpa arah.
Kalo dari sisi produksi, sebenernya sentuhan tangan dingin David Otero tak perlu dipertanyakan lagi, karena hasil kerjanya beberapa tahun terakhir ini memang sudah kelewat teruji, dan album-album favorit gua dari KHEMMIS, ALLEGAEON, VISIGOTH, dan CATTLE DECAPITATION melewati meja produksi beliau. Tetapi ‘Too Fast To Die’ menurut gua kurang naik dan greget betotan Jared Smith pas di-mixing, ditambah lagi tabuhan snare dari drummer baru Spencer Moore (ex-INFERI) semestinya dibuat lebih mentah biar gak terlalu kelewat mekanikal (snare sound di video Meinl Cymbals Showcase padahal enak beudh). Apabila ‘Relentless Mutation’ kerap dianggap sebagai sebagai ‘Epitaph’-moment buat ARCHSPIRE, yang mampu mengerek derajat mereka jauh semakin didepan di “skena” technical death metal, ‘Too Fast To Die’ menurut ogut merupakan sebuah ‘Incurso’ era bagi grup ini. Di titik inilah seluruh formulasi musikal pemusnah massal yang telah mereka kembangkan sejak tahun 2009 akhirnya mencapai bentuk paling mematikan, lalu dirangkum ke dalam sebuah magnum opus metal ekstrem, sebuah album dengan tingkat kompleksitas keblinger yang dibawakan kecepatan kurang ajar, tetapi tetap berhasil mencengkeram atensi pendengar from start to finish tanpa gagal. Awalnya gue agak ragu ARCHSPIRE bakal bisa menghasilkan sebuah follow-up yang mampu menyetarai level ‘Relentless Mutation’ dan ‘Bleed The Future’, tapi ternyata ARCHSPIRE justru menemukan wujud paling edan mereka setelah memutuskan jadi band “indie” dan ganti drummer dari Spencer I ke Spencer II.(Peanhead)
9.7 out of 10