ALBUM REVIEW: SERINGAI – ANASTASIS

SERINGAI ‘IV: Anastasis’ ALBUM REVIEW
High Octane Production. April 15th, 2026
Heavy metal

Ikatan antara pendengar dan band/musisi itu, kalau dipikir-pikir, mirip banget sama relasi interpersonal antar manusia. Tapi seperti hubungan manusia pada umumnya, gak semua koneksi antara pendengar dan musisi mampu bertahan di frekuensi yang sama selamanya. Kadang selera pendengarnya yang jalan lebih dulu, sementara bandnya masih nyaman dan anteng di titik yang sama, padahal referensi dan preferensi si pendengar udah melebar ke mana-mana. Kadang juga terjadi sebaliknya, band-nya berevolusi ke arah yang justru ditolak mentah-mentah para fans-nya sendiri, efek si pendengar mungkin masih keras kepala dan terpaku pada formula lama, sementara bandnya sudah sibuk menyongsong horison yang belum pernah mereka jelajahi sebelumnya. Ada juga momen baik band/musisi dan pendengar sama-sama berubah seiring waktu, tapi keduanya melangkah ke arah berbeda, sampai akhirnya segala keterikatan yang dulu terasa kuat perlahan memudar begitu saja.

Perkenalan ogut dengan SERINGAI sebenarnya agak telat (jadi gak bisa dibilang fans garis keras), karena baru mulai masuk radar sekitar tahun 2008, setahun setelah mereka merilis debut legendaris ‘Serigala Militia’. Pertemuan gua dengan SERINGAI, yang berbarengan sama obsesi baru gua terhadap KOMUNAL dan GHAUST di kurun waktu yang hampir bersamaan, bisa dibilang cukup krusial, karena mereka mampu menggeser atensi gua terhadap musik underground lokal ke ranah di luar tech/brutal death. Momennya pun juga pas banget, karena waktu itu gua lagi keracunan katalog label macam Rise Above, Relapse, Hydra Head, Southern Lord, dan Translation Loss Records, jadi pas nemu tiga band lokal yang bermain di frekuensi serupa, bikin gua makin senang menyelami scene lokal.

Namun, perlahan keterikatan gua dengan musik SERINGAI mulai memudar sejak mereka merilis ‘Taring’ tahun 2012 silam. Bukan berarti albumnya jeblok secara kualitas, cuma entah kenapa, komposisi yang mereka tulis untuk rilisan tersebut, terasa terlalu hingar-bingar dan party-oriented banget, kalau dari tangkapan kuping gua pribadi saat itu. Pas gua nonton mereka manggung sih, energinya masih dapet banget, tapi ketika diputer pas lagi sendirian, mayoritas lagu-lagunya gak terlalu beresonansi secara personal, dan hanya “Gaza”, “Serenada Membekukan Api”, dan “Tragedi” saja yang mampu meresap. Mungkin juga karena di periode itu preferensi pribadi gua mulai terkunci, sekaligus makin tenggelam ke spektrum doom yang lebih gelap nan suram, death metal primitif, sampai black metal diluar second wave atau swedish-an, yang kebetulan selaras sama kondisi mental yang lagi acak-acakan waktu itu. Jadi, meskipun sempet lama denial seraya menghirup dalam-dalam copium, karena masih ikut ngantri pas SERINGAI ngerilis 7 inch ‘Tragedi / Sang Lelaki’ dan reissue ‘High Octane Rock’, ketika ‘Seperti Api’ keluar gua cuma denger sekilas tanpa ngerasa apa-apa, alias udah masuk fase full dikesampingkan begitu saja.

Sampai akhirnya SERINGAI kembali lewat album penuh keempat mereka, ‘IV: Anastasis’, yang dilepaskan pasca periode sangat berat bagi band ini, menyusul wafatnya Ricky Siahaan (Rest In Power) pada awal tahun 2025 lalu. Jujur aja, gua nyemplung ke album ini tanpa harapan muluk apa-apa, cuma sekadar penasaran aja sama album terbaru mereka. Bahkan single yang udah dilepas duluan pun, sengaja gua lewatin biar kesan sayatan pertamanya gak kena spoiler duluan. Dan ternyata, dengan bangsatnya, ‘Anastasis’ langsung bisa bikin rahang mangap bin menganga. Hampir tiap beberapa menit sekali selalu ada momen yang bikin gua refleks ngomong “god damn” atau “Hell Yea Brother” dalam hati. Lebih gilanya lagi, pas albumnya selesai bergema, bawaannya langsung pengen muter ulang lagi dari awal. Sensasinya kayak baru bangun tidur, belum sempet mandi, malah tiba-tiba langsung kena gampar PowerSlap hall of famer, Layne “Koa” Viernes. Tapi alih-alih tumbang dan terkapar, gua malah makin berapi-api dan adrenalin langsung tak terkendali.

Serigala yang di artwork sampul ‘Serigala Militia’ dan ‘Taring’ sudah jadi tulang belulang, kini bangkit kembali dari Helheim karena gerah dengan kondisi Indonesia yang semakin semrawut dan absurd beberapa tahun terakhir. SERINGAI sendiri langsung menyalak penuh murka kependem lewat “Melunaskan Dendam”, diamana secara fondasi masih setia di jalur heavy rock khas mereka, yang telah membawa grup ini menjadi raksasa di kancah musik keras nasional selama hampir dua dekade. Belum sempat ngambil napas setelah diajak berpacu dalam agresi di lagu pertama, pendengar langsung dihajar “Matinya Kepakaran” yang punya aroma-aroma HIGH ON FIRE kuat, namun dengan belokan tajam di bagian pertengahan. Ditambah lagi, di sisa 44 detik terakhir, SERINGAI malah bikin pangling karena turut memasukan groove super renyah ala CARCASS, lalu diakhiri eksplosi riff macam CAVE IN.

Kekuatan terbesar ‘Anastasis’, selain terletak pada tingkat variasinya yang gak ada duanya, juga ada pada kekuatan songwriting-nya yang efektif dan langsung nancep tanpa resistensi. Mulai dari sing-along anthem “Sejati”, dengan chorus yang punya daya nyantol sinting, berlanjut ke “Senarai Feses”, sebuah nomor penuh api dendam beroktan tinggi, yang bisa dijadikan alat justifikasi untuk mengumpat “Anjing… Bangsat… Jahanam” di tempat umum. Biasanya gua rada masa bodo dan cenderung males, kalau ada band yang masukin cover song ke dalam album (walaupun ada pengecualian seperti “Necropolis” dari MANILLA ROAD, yang dibawakan ulang oleh VISIGOTH dalam debut LP mereka), tapi harus diakui, “Perang Bintang” merupakan pilihan fantastis, sebuah tembang new wave dari PUNK MODERN BAND, yang digubah menjadi trek hard rock adiktif, yang rasanya cuma kurang cowbell aja. Belum cukup sampai di situ, SERINGAI menggelontorkan bonus personal lewat rekaman ulang nomor favorit gua dari periode 2010’an, yang sekarang terdengar lebih menggigit dan bertenaga dari versi 7 inch-nya dulu.

Masuk fase kedua (Side B) ‘Anastasis’, SERINGAI masih belum kehabisan pertamax turbo, walaupun begitu, biar pendengar tak kelewat kelojotan, mereka akhirnya menyisipkan sebuah nomor buat cooling down dikit. Tapi jangan salah men!, alih-alih menyodorkan tembang semi-power ballad atau ambient/instrumental interlude, SERINGAI justru melontarkan sebuah mid-tempo heavy metal banger, yang sangat mujarab dalam menjaga momentum tetap menyala, sekaligus jadi sebuah jari tengah kepada manusia-manusia narsistik yang merasa dirinya paling rebel, tapi ujung-ujungnya paling jadi pahlawan kemarin sore. Memasuki sisa enam belas menit menuju akhir, materi yang ditawarkan justru makin gelap, diawali dengan track bernuansa d-beat, “Membungkam 98”, yang menolak memori kelam tragedi Mei 98 disterilkan oleh narasi resmi penguasa, sebuah sejarah yang pengen ditutup-tutupi oleh pemangku kekuasaan, demi mengaburkan borok para dalang.

Lagu berikutnya tak kalah muram, “Habis Gelap Terbitlah Suram”, lagu tentang kerakusan manusia bikin bumi makin sekarat, yang singkat, lugas, dengan groove NWOAHM-ish lumayan sakit. Sedangkan “Pulang” membahas isu lebih personal, yang sangat relatable bagi mereka yang sedang bergelut dengan depresi dan suicidal thoughts, dimana blackened shrieks-nya layaknya menjelma jadi bisikan-bisikan setan yang sedang menggiring kepala ke jurang nestapa paling dalam, penulisan liriknya juga tajam dan presisi, bait seperti “kembali ke semesta, selesai aku berdarah” dan ‘badan hanyalah sebuah wadah, jiwa hampa aku ingin pulang”, punya muatan emosional yang gak main-main, belum lagi extended instrumental section yang melodis di bagian akhir, mampu jadi ruang katarsis untuk meluapkan segala luka yang terpendam di dalam jiwa.

“Akar” berhasil tampil sebagai lagu instrumental yang sangat bernyawa, bukan sekadar selingan atau intermisi sekedar numpang lewat, baik penjiwaan, progresi hingga strukturnya jelas terarah, seandainya ‘Anastasis’ diakhiri dengan “Akar” tokk!, album keempat SERINGAI ini sebenarnya sudah punya finalitas yang sangat paripurna. Seperti api perlawanan yang masih menolak padam, lewat kobaran distorsi meraung-raung di 68 detik penghabisan “Akar”, SERINGAI ternyata belum selesai menendang bokong kalian, karena “Tirani Lagi” sudah disiapkan sebagai agresi pamungkas. Sebuah manifesto pembangkangan dan penolakan terhadap fasisme, yang masih menggerogoti sendi-sendi kehidupan bernegara. Lagu yang punya aransemen beraura BOLT THROWER tersebut, juga menandai kontribusi perdana Angga Kusuma (BILLFOLD, COLLAPSE, SSSLOTHHH, ASIA MINOR, ex-TARING) sebagai peramu aransemen di tubuh SERINGAI.

Ditempa selama kurang lebih delapan tahun, ‘Anastasis’ menjelma sebagai warisan yang membanggakan dari sang riffmeister, Ricky Siahaan. Tiap detiknya digarap dengan intensi yang tegas dan terukur. Tracklist-nya padat tanpa filler, semua lagu ditempatkan secara taktis, dan keputusan menjaga durasi untuk stay di bawah 40 menit sangatlah tepat. Karena menurut gua, album metal non-avant-garde atau non-progresif, idealnya memang dipatok jangan sampe melebar diatas 40 menit.  ‘Anastasis’ bahkan jadi album SERINGAI pertama yang gak punya satupun lagu yang skippable, karena ‘Serigala Militia’ sekalipun kadang masih bisa bikin gua pencet tombol skip/next 1-2 nomor tergantung mood.

‘Anastasis’ bukan hanya album terbaik yang pernah SERINGAI rilis, tapi juga sangat pantas kalau dinobatkan sebagai salah satu album rock terbaik dalam sejarah musik Indonesia. Lebih jauh lagi, dari sisi tata suara, separasi instrumen, arsitektur sonik, kejernihan sound, performa, energi, eksekusi hingga tonase suaranya, berhasil membuat ‘’Anastasis’ jadi album heavy metal lokal dengan produksi terbaik yang pernah gua dengar. Dengan ‘IV: Anastasis’, SERINGAI mendirikan monumen raksasa yang rasanya bakal jadi tolok ukur baru bagi para pengusung heavy rock/metal lokal di kemudian hari. Dan kalau mengingat momen di Synchronize Fest 2025 lalu, Khemod sempat berkelakar: “Selagi SERINGAI gak ada, BURGERKILL, KOMUNAL, dan semua band metal, nikmatilah saat kalian”, dan lewat album sebrengsek ini, the riff-lords themselves sudah kembali turun gelanggang untuk merebut singgasana musik keras di belantika musik bawah tanah Indonesia.(Peanhead) 

10 out of 10