
THE HOWLING
Sutradara: Joe Dante
USA (1981)
Review oleh Tremor
Pada tahun 1981, dunia menyaksikan dirilisnya tiga buah film horor bertema werewolf dalam rentang waktu yang berdekatan: The Howling (April), Wolfen (Juli), dan An American Werewolf in London (Agustus). Berbeda dengan film-film werewolf dari era Universal Classic Monsters seperti karakter the Wolf Man yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 1941, ketiga film werewolf tahun 1981 ini sama-sama mengeksplorasi mitos manusia serigala dalam konteks yang lebih kontemporer. Menariknya, ketiganya terasa saling melengkapi karena memiliki hasil dan sudut pandang yang berbeda-beda. Walaupun An American Werewolf in London masih dianggap sebagai film werewolf terbaik, tapi rasanya The Howling adalah yang paling unik di antara ketiga film tersebut, bahkan menurut standar film werewolf hari ini. Naskah The Howling yang ditulis oleh John Sayles dan Terence H. Winkless sendiri merupakan adaptasi bebas dari novel tahun 1977 dengan judul yang sama, karya Gary Brandner. Ketika The Howling dirilis, sang sutradara yaitu Joe Dante sudah cukup dikenal lewat film Piranha (1978) yang kini telah mendapat status cult classic. Setelah sukses dengan The Howling, Joe Dante segera dipercaya untuk menyutradarai Gremlins (1984) yang semakin meroketkan namanya sebagai sutradara horor klasik, sebelum ia beralih menjadi sutradara film anak-anak yang pada dasarnya justru berawal dari Gremlins. Meskipun dibuat dengan bajet yang cukup terbatas, The Howling mendapat sambutan luar biasa pada masanya hingga menjadi franchise tersendiri yang menelurkan hingga delapan film (1981-2011), tiga novel, dan satu komik yang merupakan sekuel langsung dari film pertamanya.

The Howling berfokus pada seorang reporter berita bernama Karen White yang dengan sangat berani mencoba menjebak Eddie The Mangler, seorang pembunuh berantai brutal yang telah lama meneror kotanya. Bekoordinasi dengan kepolisian setempat, Karen akhirnya berhasil menemui sang pembunuh di sebuah distrik merah yang gelap. Beruntung polisi datang dan berhasil membunuh Eddie di waktu yang tepat sebelum ia benar-benar menyakiti Karen. Namun pertemuan singkat yang menyeramkan dengan Eddie tetap meninggalkan trauma mendalam pada diri Karen. Ia tidak bisa mengingat apapun seputar pertemuan tersebut. Yang ia ingat hanyalah rasa seramnya saja. Trauma ini semakin meningkat setiap harinya hingga mengganggu kerja dan kehidupan pribadinya. Atas saran dari psikiaternya, Dr. Waggner, Karen ditemani suaminya pergi ke The Colony, sebuah resort pedesaan terpencil di pinggir danau yang dikelola Dr. Waggner sebagai tempat rehabilitasi mental. Di sana, Karen menetap untuk sementara waktu dalam rangka membantunya memproses traumanya bersama dengan pasien-pasien Dr. Waggner lainnya. Di waktu yang sama, sahabat Karen bernama Terry Fisher masih terus menginvestigasi sosok Eddie The Mangler yang misterius. Tidak butuh waktu lama bagi penonton untuk menyadari bahwa ada hubungan yang kuat antara The Colony, Eddie The Mangler, dan legenda manusia serigala.

Apa yang membuat The Howling cukup menonjol sebagai film werewolf adalah karena pendekatannya yang sama sekali berbeda dari legenda werewolf tradisional yang biasa kita kenal. Umumnya, werewolf dipahami sebagai monster yang berubah bentuk hanya pada saat bulan purnama, dan perubahan tersebut terjadi tanpa dikehendaki. Konsep werewolf versi The Howling bagi saya jauh lebih menyeramkan karena mereka bisa berubah bentuk kapanpun atas kehendak mereka sendiri, tanpa membutuhkan syarat bulan purnama. Werewolf dalam The Howling adalah shapeshifter haus darah yang sesungguhnya. Penggambaran werewolf seperti ini tentu mengubah segalanya. Cerita tentang werewolf yang bisa berubah kapanpun mereka mau kini tidak perlu lagi berlarut-larut menunggu datangnya bulan purnama yang hanya terjadi satu bulan sekali. Dengan begitu, kisah horornya bisa terasa lebih efektif dan intens karena serangan manusia serigala bisa terjadi kapan saja, termasuk pada siang bolong sekalipun, dan sang protagonis tidak akan pernah berada di posisi yang aman. Perbedaan lain The Howling dari kebanyakan film werewolf lainnya juga ada pada cara karakternya ditulis dan dikembangkan. Kebanyakan film werewolf biasanya berfokus pada protagonis yang di tengah film terkena sesuatu dan menjadikannya sebagai manusia serigala, lalu menyoroti bagaimana karakter tersebut berjuang dengan identitas baru yang tidak diinginkannya. The Howling mengambil jalan lain dengan cara lebih berfokus pada Karen, seorang manusia biasa yang dikelilingi sekelompok werewolf. Menurut saya ini adalah premis yang cukup menyegarkan bahkan untuk standar hari ini, sekaligus juga menyeramkan karena kita akan mengikuti kisahnya dari sudut pandang seorang manusia yang tidak berdaya di tengah banyak ancaman werewolf. Satu lagi keunikan The Howling adalah, film ini mengukuhkan desain werewolf yang berjalan dan berdiri dengan dua kaki layaknya manusia. Tentu saja ini adalah sumbangsih besar dalam tradisi perfilman werewolf yang kemudian banyak menginspirasi film-film werewolf setelahnya.

Apa yang wajib dibahas dari sebuah film werewolf tentu adalah adegan transformasi manusia menjadi werewolf, serta special effect yang digunakan untuk menciptakan adegan tersebut. Pada masa sebelum The Howling, film-film werewolf masih menggunakan teknik yang cukup kuno untuk membuat adegan transformasi manusia menjadi werewolf. Kebanyakan bahkan masih memakai cara yang sama dengan film The Wolf Man (1941) yang hanya memperlihatkan rangkaian potongan-potongan singkat adegan transisi perubahan fitur fisik secara bertahap. The Howling dan An American Werewolf in London adalah film werewolf modern yang lahir di era di mana special effect tradisional film sudah semakin berkembang, diperkuat dengan ada banyaknya seniman special effect yang akan mengulik setiap tantangan. Karena itu, kedua film tersebut bisa dianggap sebagai dua tonggak special effect transformasi werewolf yang sama-sama revolusioner pada jamannya, yang masih terasa ikonik hingga hari ini. Special effect dan tata rias dalam The Howling awalnya dikerjakan oleh seorang seniman special effect bernama Rick Baker. Namun di tengah prosesnya, Baker terpaksa mengundurkan diri karena ia sudah terikat kontrak dengan sutradara John Landis untuk membuat An American Werewolf in London. Akhirnya ia menyerahkan pekerjaan special effect The Howling pada asistennya sendiri, yaitu Rob Bottin, yang melanjutkan visi Baker dalam menciptakan adegan proses transformasi manusia menjadi werewolf dengan detail perubahan yang mengerikan sekaligus terasa menyakitkan. Meskipun dalam hal ini An American Werewolf in London karya John Landis masih lebih unggul, tapi adegan transformasi dalam The Howling tetap mengesankan sekaligus juga mengerikan pada jamannya.
Para penggemar werewolf bisa saja terus memperdebatan tentang special effect manusia serigala mana yang lebih baik di antara The Howling dan An American Werewolf in London, tetapi saya pikir special effect kedua film tersebut sama-sama revolusioner dan memberi pengaruh besar dalam dunia perfilman. Mungkin satu-satunya kelemahan The Howling yang bisa saya pikirkan sekarang hanyalah dari aspek akting-nya saja yang terasa agak sedikit kaku. Namun, keunikan struktur cerita, desain, serta special effect manusia serigalanya mungkin adalah beberapa aspek yang membuat The Howling masih tetap dikenang sebagai salah satu film horor klasik yang berpengaruh hingga hari ini. Bagi saya, The Howling tetap layak untuk berada pada tingkat yang sama dengan An American Werewolf in London, dengan kualitas yang berbeda.

