MOVIE REVIEW: ZOMBI 2 / ZOMBIE / ZOMBIE FLESH EATERS (1979)

ZOMBI 2 / ZOMBIE / ZOMBIE FLESH EATERS
Sutradara:
Lucio Fulci
Italia (1979)

Review oleh Tremor

Banyak pembuat film horor berbajet rendah berpikir kalau mereka ingin membuat film zombie, mereka hanya membutuhkan kamera, kru, penggunaan make-up zombie, dan viola, jadilah film zombie. Pada kenyataannya, membuat film zombie yang akan dikenang sepanjang masa tidaklah mudah. Malahan, ada banyak sekali film zombie yang lebih busuk daripada para zombie itu sendiri. Film zombie buatan Lucio Fulci adalah salah satu film yang paling brilian di genre-nya, dan merupakan karyanya yang paling dikenal orang. Entah sudah berapa banyak film buatan Fulci yang pernah saya tulis reviewnya. Jadi mungkin sudah tidak perlu saya perkenalkan lagi siapa itu Lucio Fulci, sang raja horror gore asal Italia. Kalau masih ada dari kalian yang penasaran tentang siapa itu Fulci, silakan baca paragraf kedua dalam review The House By The Cemetery (1981) yang pernah saya tulis beberapa bulan lalu.

Film yang akan saya review kali ini pernah dirilis dengan judul yang berbeda-beda, tergantung di negara mana film ini dirilis dan didistribusikan. Dan saya pikir hal ini cukup penting untuk saya bahas di awal. Di Amerika film ini dirilis dengan judul “Zombie” dengan huruf E di belakang. Sementara di Inggris, dirilis dengan judul “Zombie Flesh Eaters”. Tapi pada mulanya, di negara asalnya, Italia, film ini dikenal sebagai sekuel tidak resmi dari film “Dawn of the Dead”, karya George Romero yang dirilis setahun sebelumnya. Perilisan Dawn of the Dead di Italia disupervisi oleh Dario Argento, dan diberi judul baru untuk distribusi italia, yaitu “Zombi”, tanpa huruf E di belakang. Itulah mengapa di Italia film buatan zombie Fulci ini kemudian diberi judul “Zombi 2”, seakan-akan film ini adalah sekuel betulan dari Dawn of the Dead. Padahal bukan. Dan untuk menghindari rasa bingung saat kalian membaca review ini, dalam tulisan kali ini saya akan menyebut film ini dengan judul versi Inggris-nya, Zombie Flesh Eaters, untuk membedakannya dengan kata “zombie” sebagai mayat hidup, yang tentu saja akan banyak sekali saya sebut di sini.

Film ini dibuka dengan sebuah pistol yang diarahkan pada kamera. Saat pelatuknya ditarik, pelurunya meledakkan kepala sesosok mayat terbungkus kain putih yang sedang bangkit secara perlahan. Dengan prolog seperti itu, tentu saja kita semua akan memiliki firasat kalau film ini akan sangat menyenangkan untuk ditonton. Dan firasat tersebut sama sekali tidak meleset. Setelah judul dan kredit selesai bergulir, kita diperlihatkan sebuah kapal layar yang terombang-ambing di sungai kota New York. Sepasang petugas patroli pelabuhan datang untuk memeriksa kapal tersebut, tapi yang mereka temukan hanyalah kapal kosong dengan isinya yang berantakan. Makanan dan stok persediaan logistik yang sudah membusuk berserakan di mana-mana, dan tidak terlihat adanya tanda-tanda kehidupan. Saat salah satu petugas menyelidiki lebih jauh ke dalam kapal, tiba-tiba sesuatu mendobrak keluar dari sebuah pintu. Zombie mengerikan dengan tubuh besar. Petugas malang tersebut pun akhirnya diserang. Setelah puas mengunyah leher si petugas, zombie tersebut naik ke dek, dimana petugas patroli satu lagi sudah menyiapkan pistol dan langsung menembakinya. Zombie itu jatuh ke dalam sungai dan tak pernah ditemukan kembali.

Kapal layar misterius tersebut adalah milik seorang ilmuwan bernama Dr. Bowles yang keberadaannya tidak diketahui ada di mana. Putri Dr Bowles yang bernama Anne pun dipanggil dan diinterogasi oleh polisi. Tapi Anne sudah lama tidak mendengar kabar dari ayahnya sejak Dr Bowles pergi berlayar ke kepulauan di Karibia bersama teman-temannya. Bukan hanya polisi, Anne pun ingin mencari keberadaan ayahnya. Suatu malam ia datang menyelinap ke dalam kapal ayahnya yang sudah disegel dan dijaga oleh polisi untuk mencari catatan harian, peta, atau apapun yang bisa menjadi petunjuk. Anne sangat terkejut saat ia malah dipergoki oleh seorang reporter yang bernama Peter, yang sudah terlebih dahulu menyelinap ke dalam kapal. Peter juga sudah lebih dulu menemukan apa yang Anne cari, secarik surat dari ayahnya yang menceritakan tentang sebuah wabah “penyakit aneh” di Pulau Matul, Karibia. Anne ingin sekali mencari tahu tentang nasib ayahnya, sementara Peter ditugaskan oleh surat kabar setempat untuk menggali lebih dalam cerita ini secara rahasia. Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk pergi ke Karibia dan mencari pulau Matul yang misterius.

Sementara itu di pulau Matul, kita diperkenalkan dengan karakter Dr. Menard dan istrinya. Menard adalah pria yang menembak kepala zombie dengan pistol dalam pembuka film ini. Nyonya Menard sangat tertekan dan ingin sekali pergi meninggalkan pulau Matul secepatnya. Tapi Dr. Menard bersikeras agar istrinya bisa sedikit lebih sabar, menunggu hingga pekerjaannya selesai. Rupanya Dr. Menard sedang melakukan penelitian dan eksperimen untuk memecahkan sebuah misteri ganjil yang terjadi di pulau tersebut. Fenomena mayat-mayat yang bangkit dari kematian. Penduduk setempat percaya bahwa itu adalah praktek voodoo yang dilakukan oleh penyihir jahat. Tapi sebagai seorang ilmuwan, tentu saja Dr. Menard tidak percaya dengan voodoo. Ia tertantang untuk menemukan penjelasan ilmiah dari wabah aneh di pulau Matul, sekaligus menemukan cara penyembuhannya.

Di Karibia, Peter dan Anne bertemu dengan sepasang orang Amerika, Brad dan Susan, yang memiliki sebuah kapal dan kebetulan hendak memulai liburan memancing di laut. Setelah Peter memberi tahu bahwa tujuan mereka adalah pulau Matul, Brad menjawab bahwa pulau itu bukanlah tempat yang cukup asyik untuk didatangi. Tidak ada turis yang pergi kesana, dan penduduk kepulauan sekitar mengklaim bahwa pulau Matul terkutuk. Walaupun agak enggan, Brad akhirnya setuju untuk mengantar Peter dan Anne ke pulau Matul. Menggunakan kapal milik Brad, mereka berempat pergi meninggalkan dermaga. Saat sedang beristirahat di tengah perjalanan, Susan ingin menyelam dengan scuba sambil mengambil beberapa foto bawah laut. Dengan ini, dimulailah sebuah adegan memorable pertama dalam film ini, yang tentu saja akan selalu diingat oleh para penggemarnya. Saat sedang asik mengambil foto di bawah sana, Susan dibuntuti seekor hiu. Ia pun ketakutan dan bersembunyi di balik terumbu karang hanya untuk diserang oleh zombie! Ya, kalian tidak salah membaca kalimat tersebut. Zombie di bawah laut, menyangkut di terumbu karang, hendak menggigit Susan. Semakin panik, Susan pun berenang secepat ia bisa meninggalkan zombie dan hiu yang kemudian berkelahi di belakangnya. Saya sudah menonton film ini beberapa kali, dan hingga hari ini saya masih tidak habis pikir bagaimana cara Fulci dan kru nya mengambil gambar seperti ini di akhir tahun 70an. Pertama, zombie dan hiu ini benar-benar bergulat, dan hiunya adalah hiu asli. Lalu zombie menggigit hiu, dan hiu menggigit tangan zombie. Akhirnya saya juga jadi memperhatikan bagaimana zombie ini benar-benar tidak mengeluarkan gelembung udara saat sedang bergulat, yang menandakan kalau pengambilan gambar adegan ini tidak dilakukan hanya satu atau dua kali percobaan saja, tapi mungkin menghabiskan banyak sekali pita seluloid. Saya juga tidak bisa membayangkan bagaimana pemeran zombie dan hiu bisa bergulat begitu dekat secara aman, berulang kali, hingga Fulci pikir ia sudah mendapat cukup footage. Walaupun ide zombie vs hiu di dasar laut terdengar cukup konyol dan sangat random, tapi adegan ini diambil dengan dedikasi besar yang penuh effort, pengorbanan, serta niat yang juga besar, dan karenanya saya sangat menghargai adegan ini. Di satu titik pada adegan bawah laut ini, kapal milik Brad sempat tertabrak oleh hiu, yang kemudian menyebabkan kapal tersebut mengalami kerusakan. Beruntung, (atau justru tidak beruntung?) lokasi mereka sudah sangat dekat dengan pulau Matul. Setelah beberapa kali menembakan torch darurat, akhirnya Dr Menard menyelamatkan mereka, dan tibalah keempat jagoan kita di pulau Matul yang terkutuk.

Di waktu yang sama, wabah mayat berjalan semakin merajalela di pulau Matul. Saat film ini dimulai, wabah zombie hanya baru terjadi di kampung sebelah. Tapi kini, ada lebih banyak mayat yang mulai bangkit dan mendatangi kampung tempat Dr Menard tinggal. Salah satu serangan zombie pertama di kampung ini terjadi pada istri Dr. Menard yang sedang sendirian di rumahnya. Ia berusaha mati-matian untuk menahan agar pintu tetap tertutup rapat ketika salah satu zombie berusaha mendobraknya. Dan dimulailah adegan memorable kedua dari film ini, yang merupakan salah satu adegan paling terkenal dalam sejarah film zombie. Para zombie berhasil mendobrak pintu kayu yang ditahan sekuat tenaga. Saat itulah salah satu mayat hidup menarik kepala nyonya Menard dan mendekatkannya dengan sangat perlahan ke arah patahan kayu pintu yang ujungnya tajam. Di sini kalian bisa menyaksikan bagaimana bola mata dan pupil wanita malang itu mulai tertusuk (masih dengan perlahan), mengempes dan meleleh saat potongan kayu menembus perlahan ke dalam rongga matanya, dengan durasi yang tidak sebentar hingga akhirnya kayu tersebut patah. Dan itu mengerikan. Saya pikir adegan ini sangat efektif dan mudah dikenang karena ia mengeksploitasi rasa takut yang dimiliki banyak orang tentang mata mereka: bagian tubuh manusia yang sensitif dan rasanya cukup mudah untuk ditembus dengan benda tajam. Adegan ini adalah salah satu adegan kematian terbaik dan paling mengerikan (sekaligus paling terkenal) dalam film Zombie Flesh Eaters.

Oke, sepertinya saya sudah menulis terlalu panjang. Saya perlu menahan diri agar tidak terlalu excited dan tidak tergoda untuk menulis lebih panjang lagi. Selebihnya, mulai dari kedatangan Peter dan kawan-kawan di pulai Matul inilah festival gore film Zombie Flesh Eaters benar-benar dimulai di tengah hutan kepulauan tropis yang lembab, sambil diiringi ketukan-ketukan drum voodoo, hingga film ini berakhir dengan ending yang cukup cerdas dan tentu saja, pahit.

Menggunakan kacamata umum modern, film Zombie Flesh Eaters mungkin bukan film yang “bagus” kalau kita mengikuti standar umum ala hollywood modern, atau kalau kita membandingkannya dengan film box office tertentu. Bagi penonton yang lebih peduli dengan pengembangan karakter, plot dan cerita, sebenarnya narasi film Zombie Flesh Eaters bisa dibilang kacau balau. Misalnya, apa yang menyebabkan wabah zombie? Istri Dr. Menard sempat menyebut eksperimen pada manusia yang dilakukan oleh suaminya. Jadi, mungkinkah kalau mayat-mayat berjalan ini adalah hasil dari eksperimen medis yang salah, dan dengan demikian menjadikan Dr. Menard sebagai seorang dokter gila? Tetapi kemudian dalam pengembangan karakternya, Menard menjadi sosok yang ternyata tidak jahat, dan apapun eksperimen yang sempat disebut oleh istrinya, sama sekali tidak diceritakan hingga film ini berakhir. Kemudian ketukan-ketukan drum Voodoo mulai bergemuruh. Apakah mayat hidup memang benar dibangkitkan dari kubur oleh dukun jahat? Tapi mana dukunnya? Tidak satu pun dari ide-ide ini yang dikembangkan. Walaupun ide tentang ilmu pengetahuan vs sihir yang menyebabkan mayat-mayat bangkit sering disebut di dalam film ini, tapi pada akhirnya Fulci tidak menawarkan konfirmasi pasti atas ide itu. Namun demikian juga dengan film zombie lain. Bahkan serial modern The Walking Dead tidak pernah sampai pada konklusi tentang penyebab wabah zombie terjadi. Jadi, mungkin mengharapkan sebuah ide cerita dan pengungkapan masalah bukanlah poin utama dari film Zombie Flesh Eaters. Sangat sedikit hal yang masuk akal dalam plot film ini. Tapi ingat, tidak satupun film buatan Fulci yang masuk di akal. Fulci hanya senang menakut-nakuti penonton pada jamannya, dan ia melakukannya dengan sangat baik. Tidak ada yang peduli tentang apa yang menyebabkan wabah zombie terjadi, karena penonton hanya ingin dibuat takut dan jijik. Tidak selamanya menonton film horor adalah soal kekuatan cerita. Dalam beberapa film horor, kita bahkan tidak peduli lagi mengenai jalan cerita, karena kita hanya ingin melihat lebih banyak adegan kematian yang brilian. Keberhasilan Jason Voorhees dalam seri Friday the 13th adalah contoh lainnya. Siapa yang peduli dengan logika? Kita hanya ingin melihat Jason beraksi!

Kenyataannya, film Zombie Flesh Eaters menghasilkan banyak sekali uang pada jamannya, dan kemudian mengubah wajah genre horor Italia dalam sekejap. Bagaimana film dengan dialog, narasi dan continuity yang buruk seperti Zombie Flesh Eaters bisa seberhasil itu? Jawabannya adalah: gore. Film Zombie Flesh Eaters kemudian menjadi acuan baru dalam hal gore dan hal-hal yang bersifat menjijikan pada tahun 1979. Hal itu juga yang membuat reputasi internasional Lucio Fulci semakin cemerlang. Penonton horor pada masa itu memang sedang tergila-gila dengan adegan gore, karena adegan-adegan tersebut memperlihatkan keajaiban dari special effect tradisional (bukan CGI) dan make-up menjijikan yang tampak realistis di jamannya. Dan tidak seperti adegan-adegan gore dalam film horror modern yang biasanya berdurasi sekejap, Fulci memperlihatkan setiap adegan gore-nya dengan sangat lambat, detail dan dekat.

Hal yang paling berkesan bagi saya dari film Zombie Flesh Eaters (selain adegan hiu vs zombie, dan adegan kayu menusuk bola mata) ada pada desain zombie-nya sendiri. Kita perlu sedikit membandingkannya dengan film zombie yang sejaman dan sama terkenalnya. Dawn of the Dead dan Day of the Dead, misalnya. Keduanya adalah film zombie buatan George Romero. Desain zombie buatan Romero digambarkan seperti mayat-mayat yang baru saja meninggal. Kita bisa melihat dengan jelas bahwa setiap zombie Romero memiliki identitas khas yang menggambarkan siapa mereka di masa hidupnya, terutama dalam Dawn of the Dead. Dari mulai redneck hingga pendeta buddhist ada di sana, karena ciri identitas mereka masih terlihat sangat jelas. Mungkin mereka mati beberapa jam, atau beberapa hari sebelumnya. Tetapi Zombie buatan Fulci tampak jauh lebih menjijikkan sekaligus juga mengagumkan. Mereka terlihat seperti mayat yang sudah terkubur di dalam tanah selama berbulan-bulan, dengan kulit berwarna abu-abu dan penuh dengan cacing tanah, mengenakan kain yang sudah tidak jelas lagi bagaimana bentuk aslinya. Zombie buatan Lucio Fulci adalah benar-benar mayat busuk yang bangkit dari kubur.

Suasana gelap remang dengan pemandangan mayat-mayat hidup yang berjalan dengan lambat rasanya bertambah mencekam saat diiringi scoring horror yang brilian karya Fabio Frizzi, seorang komposer Italia favorit saya yang sudah menjadi langganan Fulci dalam beberapa film lainnya. Film ini benar-benar mahakarya Lucio Fulci. Zombie busuk, sihir voodoo, banyak darah dan isi perut, kuburan dengan nisan yang berantakan, serta tangan-tangan busuk zombie mencakar keluar dari tanah kuburan. Klasik! Zombie Flesh Eaters adalah film zombie dengan gaya termurni Lucio Fulci yang sangat fun untuk ditonton, menjadikannya sebagai salah satu film wajib bagi para penggemar zombie dimanapun.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: [email protected]