
THE TUNNEL
Sutradara: Carlo Ledesma
Australia (2011)
Review oleh Tremor
The Tunnel adalah sebuah film horor independen asal Australia, debut penyutradaraan dari Carlo Ledesma yang ia tulis, produksi dan edit bersama Julian Harvey dan Enzo Tedeschi. Untuk menyajikan kisahnya yang mencekam, Ledesma memfilmkan The Tunnel dengan gaya mockumentary yang digabungkan dengan kumpulan footage, mengikuti jejak pendahulunya, Lake Mungo (2008). Apa yang menarik dari The Tunnel adalah bagaimana film ini bisa terwujud dan bagaimana ia didistribusikan kemudian. Pembuatan film ini sepenuhnya didanai melalui crowdfunding online lewat sebuah kampanye pemasaran berkonsep “$1 untuk 1 frame”, di mana para pendukung proyek ini bisa menyumbangkan minimal AUD$1 untuk membiayai setiap frame filmnya, dan mereka otomatis akan mendapatkan kredit sebagai produser. Sayangnya, kampanye ini hanya berhasil mengumpulkan sebesar AUD$36.000 saja dari target awal sebanyak AUD$135.000. Meskipun tidak mencapai target yang dibutuhkan, tetapi dana tersebut tetap cukup untuk menyelesaikan produksinya. Proyek The Tunnel membuktikan bahwa sangat mungkin untuk para pembuat film independen mendapat dukungan penuh dari komunitas online, termasuk dalam pengumpulan dananya. Selain itu, The Tunnel juga mengambil cara rilis yang tidak biasa dan mungkin belum pernah dilakukan sebelumnya di Australia, yaitu dengan cara mendistribusikannya melalui BitTorrent, sebuah platform berbagi file yang umumnya bersifat ilegal. Artinya, The Tunnel bisa didownload dan ditonton online secara legal dan gratis ketika pertama kali dirilis. Strategi rilis inilah yang akhirnya mengekspos The Tunnel pada puluhan juta orang di seluruh dunia.

Premis The Tunnel sendiri cukup sederhana. Untuk mengatasi masalah pasokan air bersih, pemerintah New South Wales berencana untuk memanfaatkan dan mendaur ulang jutaan liter air yang mengalir di dalam jaringan terowongan bawah tanah Sidney yang telah terbengkalai sejak Perang Dunia II. Namun ketika proyek dimulai, populasi tunawisma yang tinggal di dalam jaringan terowongan tersebut mulai menghilang. Yang lebih aneh lagi, sejak itu pemerintah tidak pernah membicarakan proyek ini lagi dan cenderung menghindar setiap kali media menanyakan kelanjutan proyek tersebut. Seorang jurnalis bernama Natasha sangat yakin bahwa pemerintah sedang menutup-nutupi sesuatu yang mungkin berkaitan dengan hilangnya populasi tunawisma di terowongan bawah tanah. Akhirnya Natasha dan kru kameranya pergi ke bawah tanah secara ilegal untuk melakukan investigasi atas apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa diduga, di bawah sana mereka menemukan alasan mengerikan mengapa pemerintah menutup proyek air tersebut.

Seperti film dokumenter dan mockumentary pada umumnya, The Tunnel diisi dengan wawancara para penyintas yang secara berurutan merinci dari mulai awal mula hingga pada puncak peristiwa mengerikan yang mereka alami. Wawancara-wawancara tersebut diselingi dengan banyak footage hasil rekaman kamera video profesional, kamera genggam dengan night vision, kamera pengawasan CCTV, hingga file audio panggilan darurat 911. Tentu saja teknik mockumentary serta found-footage adalah yang keputusan paling realistis dan termurah kalau melihat ketersediaan dana yang sangat terbatas. Untungnya, mereka mengeksekusinya dengan sangat efektif karena pada dasarnya The Tunnel menggunakan elemen mockumentary dan found-footagenya untuk tujuan yang berbeda: mockumentary sebagai pembingkai cerita investigasi secara mendalam, dan found-footage untuk membangun kengerian claustrophobia sambil menunjukkan betapa terperangkap dan putus asa para karakternya di terowongan bawah tanah.

Sebagai sebuah karya mockumentary, The Tunnel bekerja dengan cukup baik. Lalu bagaimana dengan elemen found-footagenya? Umumnya yang menjadi permasalahan dalam film found footage adalah alasan logis tentang mengapa kamera terus merekam meskipun para karakternya panik ketakutan saat mengalami hal-hal mengerikan. Ada banyak film found-footage yang gagal memberikan alasan yang masuk akal, tapi alasan dalam The Tunnel cukup bisa diterima. Awalnya, motivasi utama mengapa pengambilan rekaman video harus terus dilakukan di sepanjang penjelajahan Natasha dan crewnya merupakan inisiatif dari juru kamera bernama Steve. Ia tahu bahwa Natasha sangat keras kepala. Apapun akan Natasha lakukan demi melakukan investigasi jurnalistik ini. Ia bahkan mendorong para crew-nya masuk ke bawah tanah dengan cara ilegal. Steve yang sejak awal digambarkan tidak selalu sepakat dengan keputusan-keputusan Natasha, memutuskan akan merekam semuanya tanpa henti untuk berjaga-jaga dan menyelamatkan dirinya sendiri. Jadi kalau mereka terkena masalah hukum karena masuk ke area yang terlarang, Steve memiliki cukup bukti untuk memperlihatkan bahwa Natashalah yang bertanggung jawab dan para crew hanya menjalankan perintah. Namun motivasi untuk tetap merekam semakin bertambah ketika hal-hal mengerikan mulai terjadi. Bermodalkan cadangan baterai yang Steve bawa, kini kamera terus menyala agar mereka bisa bertahan hidup dan menyelamatkan diri. Sejak sesuatu meneror dari balik gelapnya labirin terowongan bawah tanah, mereka benar-benar membutuhkan penerangan yang hanya bersumber dari kamera-kamera yang mereka bawa, terutama night vision dari kamera genggam. Dalam hal ini The Tunnel mengikuti tradisi dari The Blair Witch Project (1999) yang dengan sengaja tidak pernah sepenuhnya memperlihatkan wujud entitas jahat yang meneror para mereka. Bagi saya keputusan ini tak kalah efektifnya karena apapun yang meneror dalam gelap tentu bisa menimbulkan rasa takut dengan lebih intens saat kita tidak benar-benar tahu wujudnya. Gagasan tentang sekelompok orang tersesat di dalam labirin terowongan bawah tanah yang gelap gulita saja sudah cukup menakutkan. Di sisi lain, jaringan terowongan bawah tanah dalam film ini juga seakan menjadi karakter tersendiri, lengkap dengan koridor yang dipenuhi air, hingga gema suara-suara dari kejauhan dalam kegelapan yang masif.
Apa yang membuat The Tunnel layak diapresiasi adalah karena film ini memprioritaskan story-telling sambil tetap mempertahankan atmosfer menyeramkannya dengan efektif hanya bermodalkan lokasi terowongan bawah tanah sungguhan, tempat di mana film ini dibuat. Terlepas dari premisnya yang terdengar generik, serta beberapa kekurangan minornya, tetap ada banyak hal yang bisa diapresiasi dari The Tunnel yang sederhana ini. The Tunnel memang tidak menawarkan sesuatu yang baru, tapi film ini berhasil menjadi contoh sempurna tentang bagaimana sebuah film berformat mockumentary / found-footage dibuat dengan benar.

