MOVIE REVIEW: HERETIC (2024)

HERETIC
Sutradara: Scott Beck dan Bryan Woods
USA (2024)

Review oleh Tremor

Heretic adalah sebuah film thriller/horor psikologis yang ditulis sekaligus disutradarai oleh Scott Beck dan Bryan Woods, yang sebelumnya pernah menulis A Quiet Place (2018). Perlu dicatat bahwa pada tahun yang sama, dirilis sebuah film horor found footage murahan karya sutradara Venezuela bernama Jose Prendes dengan judul yang mirip, yaitu Heretics. Saya hanya ingin menegaskan bahwa review yang saya tulis kali ini bukanlah tentang film Venezuela tersebut. Heretic karya Scott Beck dan Bryan Woods pertama kali ditayangkan perdana di Toronto International Film Festival 2024. Setelah mendapat banyak pujian dan sambutan positif, Heretic akhirnya dirilis secara internasional oleh studio A24 yang hasil kurasinya sudah tidak perlu diragukan lagi. Seperti biasa, saya menonton film ini secara buta tanpa tahu apapun sebelumnya, dan saya sangat menikmati setiap kejutan yang ditawarkannya. Meskipun plotnya terdengar sederhana, namun Heretic juga menyimpan kejutan yang penuh dengan elemen horor setelah memasuki setengah durasinya, yang tentu saja tidak akan saya bahas karena saya tidak ingin membagikan spoiler.

Sister Paxton dan Sister Barnes adalah dua orang misionaris muda dari kelompok gereja mormon yang ditugaskan berkeliling mempromosikan keimanan mereka pada rumah-rumah yang mereka kunjungi. Suatu hari, mereka berkunjung ke rumah tuan Reed yang berlokasi cukup terpencil. Tuan Reed memang pernah mengajukan permintaan kunjungan dari gereja Mormon untuk mendapat informasi tambahan seputar gereja Mormon, dan ia benar-benar menyambut kedatangan Paxton dan Barnes dengan hangat. Sejak dipersilakan duduk di ruang tamu tuan Reed, Paxton dan Barnes sudah bisa merasakan suasana yang mencurigakan. Namun mereka berusaha sebaik mungkin untuk mengabaikan perasaan tersebut sambil tetap melayani setiap pertanyaan dan pernyataan tuan Reed yang terasa semakin provokatif. Tanpa mereka sadari, Reed memiliki sebuah rencana yang jauh lebih besar dari sekedar berbincang-bincang. Ketika tuan Reed akhirnya pergi ke dapur untuk mengambil pie blueberry panggang yang telah ia janjikan, Barnes semakin yakin bahwa ada yang tidak beres dengan tuan Reed. Kecurigaannya segera terbukti ketika mereka berdua menemukan bahwa pintu rumah Reed telah terkunci rapat dan tidak ada cara apapun untuk bisa mendobraknya. Sudah sangat terlambat untuk menyadari bahwa undangan ini rupanya adalah jebakan. Kini Paxton dan Barnes harus berhadapan dengan tuan Reed yang manipulatif dan memaksa mereka untuk memilih antara keyakinan tuan Reed dan iman mereka sendiri. Apa yang awalnya tampak seperti cerita klise tentang seorang manipulator yang menjebak dua perempuan tidak bersalah, segera berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih menyeramkan.

Dilihat dari tema utamanya, Heretic bisa dikategorikan ke dalam sub-genre religious horror, yaitu film horor yang menggabungkan rasa takut dengan tema keimanan. Kebanyakan film religious horror tradisional seringkali mengarahkan kisahnya pada tema kerasukan, kebangkitan iblis, dan bahkan juga seputar vampir, di mana kepercayaan pada ketuhanan beserta simbol-simbolnya seringkali menjadi jalan keluar. Namun, Heretic mengambil jalan yang sangat berbeda dengan kebanyakan religious horror. Tidak ada iblis, tidak ada apapun yang supranatural dalam film ini, dan iman tidak menyelamatkan siapapun di sini. Heretic adalah sebuah film psikologis yang sumber terornya datang dari tuan Reed, sosok villain yang karismatik namun sangat manipulatif dan gelagatnya mampu membuat siapapun akan merasa tidak nyaman. Sejak awal film saja, kita sudah bisa merasakan sisi gelap yang mengancam terpancar kuat dari sosok tuan Reed meskipun ia tampak ramah. Reed sangat terobsesi untuk membuktikan pada dunia bahwa semua agama yang kita kenal adalah produk kultural ciptaan manusia, dan keimanan adalah konstruksi sosial yang digunakan untuk memanipulasi massa. Dengan keyakinannya tersebut, tuan Reed segera mempraktekkan sekaligus membuktikan bagaimana manipulasi bisa bekerja dengan sangat efektif, dengan Sister Paxton dan Sister Barnes yang malang sebagai bagian dari permainan manipulatifnya. Pada akhirnya, Reed mempertanyakan “lantas, agama apa yang paling benar?” dan ia yakin ia punya jawabannya. Namun di sisi lain, karakter tuan Reed juga adalah seorang yang cerdas. Argumen-argumennya cukup kuat karena kebanyakan memang berdasarkan data serta catatan sejarah yang bisa diperiksa oleh siapapun, dan bukan berdasarkan kebencian subjektif terhadap agama. Reed mempelajari semua agama manusia yang pernah eksis di dunia. Karena itu, ia memiliki wawasan yang sangat luas seputar teologi dan filsafat. Penulis Scott Beck dan Bryan Woods sendiri menghabiskan 10 tahun untuk mengembangkan Heretic. Salah satu alasannya adalah karena banyaknya penelitian teologis yang harus mereka lakukan untuk menciptakan karakter Reed. Saya juga yakin kalau buku kontroversial “The God Delusion” karya ilmuwan Richard Dawkins ikut menjadi salah satu sumber materi yang diolah oleh Beck dan Woods, karena kebetulan saya pernah membacanya dan saya ingat ada beberapa argumennya yang juga muncul dalam dialog antara tuan Reed dan kedua misionaris di film ini. Namun, berbeda dengan Dawkins yang menulis secara frontal dan agresif, Heretic membungkus argumen-argumen tersebut dengan menarik dan cukup menghibur untuk ditonton. Bukan hanya penulisan naskahnya saja yang fantastis, tapi duo sutradara Beck / Woods juga berhasil membangun ketegangan dengan sangat baik lewat sinematografi yang luar biasa. Film ini sangat menyegarkan karena idenya yang original. Terlepas dari beberapa kekurangannya, Heretic tetaplah film horror / thriller yang dieksekusi dengan sangat baik.

Selain penulisan naskahnya, karakter tuan Reed yang cukup kompleks juga adalah salah satu kekuatan terbesar dari kisah Heretic, dan rasanya penghargaan tertinggi seni peran memang layak untuk diberikan pada aktor veteran Hugh Grant yang memerankan Reed dengan sangat mengesankan. Dipilihnya Hugh Grant sebagai seorang villain dalam sebuah film horor tentu merupakan keputusan yang menarik. Bagaimana tidak, Grant adalah seorang aktor yang sangat dikenal lewat film-film komedi romantis di sepanjang tahun 90-an hingga awal 2000-an, dari mulai Four Weddings and a Funeral (1994), Notting Hill (1999), Bridget Jones’s Diary (2001) hingga Love Actually (2003). Di luar film-film komedi romantis, Grant juga pernah berperan dalam genre film yang berbeda-beda di sepanjang karirnya. Namun, horor adalah satu genre yang belum pernah ia geluti. Mungkin, sebelum adanya film Heretic, kebanyakan orang akan kesulitan membayangkan bagaimana jadinya kalau seorang Hugh Grant memerankan karakter jahat dan manipulatif seperti tuan Reed. Lewat Heretic, ia berhasil membuktikan diri bahwa ia benar-benar seorang aktor sejati yang sangat bertalenta.

Namun, apa yang membuat kisah Heretic begitu menarik juga adalah bagaimana film ini tidak hanya bergantung pada penampilan Grant saja. Penampilan aktris muda Sophie Thatcher dan Chloe East sebagai tawanan Reed juga cukup mengagumkan karena mereka berhasil membangun dinamika karakter yang menjadikan Heretic benar-benar pertunjukan seni peran berisikan tiga orang. Tentu bukan hal mudah bagi mereka untuk beradu akting dengan seorang aktor berpengalaman yang sudah mapan dan dihormati seperti Hugh Grant, dan mereka berhasil mengimbanginya. Jadi, meskipun karakter Reed memang ditulis untuk mendominasi, tapi karakter kedua misionaris juga terasa sama kuatnya. Wawasan mereka mungkin memang terasa jauh lebih lemah dan mereka juga terlihat sangat ketakutan karena bagaimanapun mereka terjebak di rumah Reed. Tapi kita bisa menyaksikan bagaimana keduanya mempertahankan keimanan mereka dari serangan-serangan manipulasi tuan Reed dengan cukup baik, terutama ketika mereka dipaksa untuk memilih antara dua pintu agar bisa keluar dari rumah tuan Reed. Sejak momen Paxton dan Barnes memilih salah satu pintu inilah, film thriller psikologis Heretic mulai memasuki teritori genre horor dan misteri lebih dalam, yang tidak akan saya bahas untuk menghindari spoiler.

Mungkin tema dasar provokatif yang diangkat dalam Heretic bisa menjadi kontroversi besar di sebagian negara yang tidak terbiasa dengan pengujian rasional atas suatu keyakinan. Namun di sinilah kecerdasan penulisan Scott Beck dan Bryan Woods terlihat. Dialog tuan Reed dengan kedua misionaris dipenuhi dengan pertanyaan menarik seputar keraguan terhadap agama, keimanan, fanatisme buta, dan bagaimana dogma agama membentuk masyarakat. Tapi setabu dan seprovokatif apapun tema dasar Heretic, film ini tetap tidak terasa sedang menghina agama manapun. Reed hanya membeberkan semua yang ia yakini sebagai fakta. Maksud saya, apapun isi dialognya, saya pikir tidak akan membuat pemeluk agama apapun merasa tersinggung karena naskahnya benar-benar intelek tanpa terasa memihak pada kepercayaan apapun. Bahkan respon gereja Mormon Amerika atas film ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan argumen-argumen tuan Reed. Respon mereka justru lebih berfokus pada evaluasi dan pentingnya mitigasi kelembagaan seputar prosedur keamanan dan keselamatan bagi para misionaris mereka saat menjalankan tugas, karena skenario di mana para misionaris bertemu seseorang yang jahat seperti dalam film Heretic bisa saja terjadi di dunia nyata. Jadi, seprovokatif apapun isi dialog film ini, sepertinya tidak akan menyinggung siapapun, kecuali bagi mereka yang memiliki keimanan sangat rapuh. Sebaliknya, dialog-dialog Reed dan kedua misionaris dalam Heretic mungkin justru bisa memancing para penontonnya untuk berpikir secara kritis, atau bahkan memantik penonton untuk berdiskusi setelah selesai menontonnya, tentu dengan pikiran yang terbuka sebagai syarat utamanya.