MOVIE REVIEW: THE FRIGHTENERS (1996)

THE FRIGHTENERS
Sutradara: Peter Jackson
New Zealand / USA (1996)

Review oleh Tremor

Jauh sebelum dikenal sebagai sutradara dari trilogi fantasi epik The Lord of the Rings, Peter Jackson memulai karirnya sebagai seorang pembuat film horror komedi independen yang penuh passion. Debut klasiknya yang berjudul Bad Taste (1987), serta film komedi zombie Braindead (1992) yang brilian adalah dua karya yang membuat nama Peter Jackson selalu dihormati oleh para penggemar horor. Pada tahun 1996, Peter Jackson merilis debut Hollywood-nya lewat sebuah film komedi horor supranatural yang kental dengan nuansa 90-an, berjudul The Frighteners yang ia tulis bersama Fran Walsh. Awalnya film ini direncanakan sebagai spin-off dari serial TV Tales of the Crypt yang diproduseri oleh Robert Zemeckis. Namun setelah membaca naskahnya, Zemeckis memutuskan kalau film ini harus berdiri sendiri. Tapi jangan berharap kalau The Frighteners akan sekonyol Bad Taste dan sebrutal Braindead, karena kali ini Jackson mencoba membuat film untuk pasar penonton umum yang lebih luas.

Pada dasarnya, The Frighteners memiliki premis yang menarik dan penuh potensi. Frank Bannister adalah seorang penipu yang mempromosikan dirinya sebagai paranormal penjinak hantu. Ia sering membagikan kartu namanya sebagai pengusir hantu kepada banyak orang di berbagai kesempatan, salah satunya dalam prosesi pemakaman. Meskipun Bannister adalah penipu, tapi ia memang benar-benar bisa melihat dan berkomunikasi dengan hantu. Ia juga bersahabat dengan beberapa hantu yang membantu Bannister menjalankan profesinya tersebut. Trik yang Bannister lakukan dalam mencari uang adalah dengan cara mengirimkan beberapa teman hantunya untuk menghantui rumah orang hingga penghuni rumah tersebut yakin bahwa mereka membutuhkan bantuan dari satu-satunya pengusir hantu komersil di kota tersebut: Bannister sendiri. Tentu saja Bannister mematok harga cukup tinggi untuk jasa pengusiran hantu yang ia tawarkan. Masalah besar muncul ketika suatu hari satu entitas misterius yang jahat mulai meneror dan mencabuti nyawa penduduk kota satu persatu. Bannister yang tidak pernah benar-benar memiliki kemampuan mengusir hantu, kini harus mencari cara untuk menyelamatkan orang-orang di sekitarnya termasuk dirinya sendiri dari ancaman supranatural yang jahat.

Sangat wajar bagi siapapun yang pernah menonton Bad Taste dan Braindead untuk merasa kaget dengan The Frighteners, karena karya Peter Jackson kali ini terasa jauh berbeda dari dua film horor sebelumnya. Sepertinya The Frighteners adalah upaya Peter Jackson untuk memasuki industri mainstream perfilman, yaitu dengan cara membuat film horor yang lebih ramah untuk bisa ditonton berbagai kalangan. Ia bahkan memang merencanakan The Frighteners sebagai sebuah film horor dengan rating PG-13 sejak awal. Hasilnya, The Frighteners menggambungkan komedi dan horor ringan yang mungkin senada dengan Ghostbusters (1984), Gremlins (1984), Beetlejuice (1988), hingga The Addams Family (1991), dengan sentuhan yang lebih gelap. Namun MPAA (Motion Picture Association of America / asosiasi dagang yang mewakili studio-studio film besar di Amerika Serikat) tetap menganggap film ini masih terlalu intens untuk rating PG-13 dan memberinya rating R (Restricted), kategori film yang dibatasi hanya untuk penonton berusia 17 tahun ke atas. Tidak peduli seberapa keras usaha Peter Jackson mengedit film ini untuk mengurangi intensitasnya, MPAA tetap tidak berubah pikiran. Karena itu, film ini menjadi tidak tepat sasaran: ditulis untuk penonton 13 tahun ke atas, namun hanya ditonton oleh mereka yang berusia 17 tahun ke atas. Ini membuat The Frighteners tidak terlalu berhasil secara box office ketika pertama kali dirilis di bioskop. Meskipun begitu, usaha Peter Jackson memasuki industri mainstream lewat The Frighteners tidak sia-sia. Lima tahun kemudian, Jackson merilis film yang semakin meroketkan namanya dalam industri film internasional, yaitu The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring (2001).

Selain sebagai debut Hollywood-nya, The Frighteners juga menandai upaya pertama Peter Jackson menggunakan special effect CGI yang memang sedang berkembang pesat di pertengahan 90an. Padahal, baru empat tahun sebelumnya ia memperlihatkan salah satu penggunaan special effect tradisional yang paling fantastis sepanjang masa dalam film horor lewat Braindead. Saya pribadi bukan penggemar penggunaan CGI dalam film horor, namun saya bisa memaklumi keputusan Jackson karena pada masa itu memang banyak sekali pembuat film horor yang penasaran untuk bereksplorasi dengan teknologi yang bisa dianggap baru tersebut. Penggunaan CGI paling mencolok dalam The Frighteners tentu ada pada visual hantu-hantunya, menggunakan efek yang sepintas mirip dengan film Casper yang baru dirilis setahun sebelumnya. Namun beberapa special effect digital lain dari mulai entitas supranatural yang merayap di balik dinding hingga penampakan malaikat maut, semuanya terlihat usang kalau ditonton lagi hari ini. Tidak ada yang menyangka kalau special effect digital pas-pasan dalam The Frighteners akan membuka jalan bagi Peter Jackson dalam menggarap Lord of the Ring di kemudian hari. Semua efek visual digital dalam The Frighteners dikerjakan oleh perusahaan efek visual milik Peter Jackson sendiri yang bernama Weta Digital, yang pada saat itu baru berdiri selama tiga tahun. Untuk mengerjakan proyek The Frighteners, Weta Digital harus meningkatkan kapasitas kerjanya dari yang tadinya hanya memiliki satu buah komputer, menjadi tiga puluh lima komputer untuk memenuhi kebutuhan efek visual film ini. Komputer-komputer yang sama kemudian mencetak sejarah setelah digunakan dalam proyek Jakson selanjutnya, trilogi Lord of the Rings yang dipenuhi dengan lebih banyak special effect digital.

Sebagai film horor, seperti sudah saya sebutkan sebelumnya, The Frighteners terasa sangat ringan dan ramah untuk semua usia. Mereka yang mencari adegan dan atmosfer menakutkan mungkin akan kecewa dengan film ini. Tetapi sebagai film komedi, The Frighteners cukup menghibur karena unsur komedinya jauh lebih dominan dibandingkan unsur horornya. Selain itu, keberhasilan film ini juga tak lepas dari dilibatkannya beberapa aktor yang sudah cukup dikenal oleh para penonton film di masa itu. Yang pertama adalah pemeran Frank Bannister yaitu Michael J. Fox, yang sebelumnya sangat dikenal lewat karakter Marty McFly dalam Back to the Future (1985). Lalu ada dua veteran bintang horror, yaitu Jeffrey Combs (Re-Animator, From Beyond, Bride of Re-Animator, Necronomicon), serta scream queen legendaris Dee Wallace (The Hills Have Eyes, The Howling, Cujo, Critters). Tapi yang paling menyenangkan adalah melihat kemunculan cameo aktor Lee Ermey yang sebelumnya dikenal lewat peran ikoniknya sebagai Sgt. Hartman yang galak dan penuh cacian dalam film Full Metal Jacket (1987). Dalam The Frighteners, ia kembali memerankan karakter legendarisnya tersebut sebagai parodi sekaligus homage, dalam versi hantu.

Meskipun The Frighteners gagal secara box office, tapi film ini tetap menerima banyak respon positif dari para penontonnya hingga memiliki penggemar setianya sendiri sampai hari ini.  The Frighteners mungkin adalah karya yang jauh dari sempurna, dan jelas bukan film horor terbaik Peter Jackson. Bagi saya, mahakarya komedi horor yang pernah ia buat adalah Braindead, dan ia tidak pernah mengulang keberhasilan seperti itu lagi. Tapi satu hal yang pasti, film komedi horor ringan yang telah berusia 30 tahun ini tetap menyenangkan sekaligus menghibur untuk ditonton.