fbpx

MOVIE REVIEW: THEM / ILS (2006)

THEM / ILS
Sutradara:
David Moreau & Xavier Palud
Prancis (2006)

Review oleh Tremor

Them yang dalam bahasa aslinya berjudul Ils merupakan film horror home-invasion asal Prancis, debut yang ditulis dan disutradarai oleh duo David Moreau dan Xavier Palud. Meskipun Them adalah film Prancis dan dirilis pada era di mana gelombang New French Extremity sedang sangat aktif, namun film ini bukanlah film yang bisa dikategorikan sebagai bagian dari gelombang tersebut. Untuk yang tidak familiar dengan NFE, silakan baca penjelasan singkatnya dalam review film Inside (2007) yang saya tulis beberapa minggu ke belakang. Setelah sukses dengan Them, Moreau dan Palud mulai dilirik oleh Hollywood dan pada tahun 2008 dipercaya untuk membuat remake film horor supranatural asal Hong Kong karya Pang Brothers yang berjudul The Eye. Sayang sekali mereka berdua mendapat film remake sebagai proyek besar internasional pertama mereka, karena sudah bisa ditebak hasilnya kalau film remake Hollywood atas horor asia berpotensi gagal total. Setelah membuat The Eye versi Amerika, entah mengapa Moreau dan Palud tidak pernah berkolaborasi lagi. Keduanya kembali membuat film sendiri-sendiri tanpa satupun film horor lagi hingga hari ini.

Plot film Them sendiri sangat sederhana. Lucas dan Clementine adalah sepasang kekasih asal Prancis yang baru pindah ke Romania. Clementine bekerja sebagai guru di sekolah setempat, sementara kekasihnya Lucas adalah seorang penulis. Keduanya hidup dengan damai dalam sebuah rumah pedesaan yang cukup besar di lokasi terpencil, terisolasi dari kota terdekat. Suatu malam menjelang subuh, Clementine terbangun karena mendengar suara-suara dari luar rumah. Lucas pun pergi ke luar untuk memeriksa apa yang sedang terjadi. Rupanya seseorang telah mencuri mobil mereka. Apa yang awalnya tampak seperti pencurian mobil biasa berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengancam dan serius ketika listrik di rumah mereka tiba-tiba padam. Clementine dan Lucas akhirnya menyadari kalau mereka tidak sendirian. Sekelompok orang tak dikenal mulai meneror mereka sepanjang malam, dan permainan kejar-kejaran di dalam rumah mereka sendiripun di mulai.

Kunci menegangkan dari film ini adalah misteri di balik penyerangan. Pengetahuan penonton tidak lebih baik dari pengetahuan kedua protagonisnya: kita tidak yakin tentang apa yang sedang terjadi, siapa yang melakukan penyerangan, dan apa yang mereka inginkan. Penonton baru bisa melihat dengan jelas siapa penyerangnya menjelang film ini akan berakhir. Saya tidak akan menyebutkan secara rinci siapa mereka, tapi yang pasti ini adalah kelompok yang sangat membutuhkan bantuan kesehatan mental profesional. Bagi saya, film-film horor semacam Them jauh lebih menyeramkan dibandingkan film horor supranatural, karena sumber ancamannya terasa lebih nyata dan mungkin saja terjadi pada siapapun yang sedang bernasib sial. Durasi film ini tidaklah terlalu lama, hanya 74 menit saja. Dalam durasi tersebut, ketegangan menumpuk dengan sangat intens. Apresiasi saya pada Moreau dan Palud adalah karena mereka meminimalisir penggunaan jump-scare untuk menakut-nakuti penontonnya. Alih-alih, teror lebih banyak datang dari suasana yang dibangun dalam interior rumah tua yang gelap ditambah dengan penggunaan skor musik minimalis yang seringkali diselingi suara-suara nyaring yang dibuat oleh para penyerang, serta gerak kamera yang efektif. Sound adalah salah satu faktor penentu dalam film ini, jadi selain mematikan lampu ruangan, jangan lupa untuk mengeraskan volume saat menontonnya. Penonton bisa dengan jelas merasakan ketegangan dan teror saat kedua protagonis film ini diburu melalui loteng, koridor, kamar-kamar kosong dalam rumah itu, hingga hutan dan selokan di sekitar rumah. Keduanya harus terus bersembunyi sambil berusaha melarikan diri dari rumah mereka sendiri. Kebalikannya, para penyerang dengan jelas ingin Clementine dan Lukas tahu betul tentang kehadiran mereka.

Perlu dicatat bahwa Them bisa jadi mengecewakan banyak penggemar horor yang haus akan adegan kekerasan, karena hampir tidak ada adegan gore dalam film ini. Namun itu sama sekali bukan masalah berkat padatnya ketegangan dan kecemasan yang berhasil dibangun dalam Them. Menurut saya tidak hadirnya adegan gore adalah keputusan yang tepat untuk film yang lebih berfokus pada suasana dan rasa seperti Them. Kengeriannya bukan ada pada penyiksaan dan ilustrasi rasa sakit, tetapi pada rasa panik dan teror psikologisnya. Secara teknis, saya menduga keputusan soal minimnya adegan gore bisa jadi juga karena anggaran produksi film ini cukup rendah. Namun Moreau dan Palud berhasil memaksimalkan semua keterbatasannya meskipun hanya menggunakan satu set lokasi dengan dua aktor utama saja. Moreau dan Palud juga terbukti cukup pandai dalam membangun ketegangan dengan sangat baik. Tetapi bukan berarti Them adalah film yang sempurna. Film ini tetap memiliki kelemahan dan plothole. Salah satunya adalah bagaimana gerombolan penyerang seakan selalu selangkah lebih maju dari Clementine dan Lucas sebagai pemilik rumah, padahal mereka manusia biasa yang bisa dipastikan tidak memiliki pengetahuan taktik ambush ala militer. Namun para penyerang asing ini sepertinya tahu betul seluk beluk denah keseluruhan bangunan rumah. Di dunia nyata, tentu dibutuhkan latihan dan persiapan khusus untuk bisa mengalahkan dua orang dewasa di dalam rumah mereka sendiri. Selain itu, karena durasinya yang pendek, maka agak sedikit sulit untuk penonton bisa merasakan simpati pada Clementine dan Lucas, karena kita hanya diberi sedikit waktu untuk mengenal mereka.

Them bukanlah film tentang penyanderaan dan penyiksaan terhadap pemilik rumah seperti yang pada umumnya kita temui dalam film bertema home-invasion, tetapi lebih ke eksplorasi teror psikologis, eksploitasi perasaan tidak berdaya, kepanikan alami, dan ketakutan mendasar manusia urban saat menonton dua orang diteror tanpa alasan di dalam rumah mereka sendiri. Dan menurut saya, semua ini bisa menjadi blueprint yang sangat tepat untuk sebuah film horor psikologis bertema home-invasion. Dalam promo serta pembuka film, Them diklaim sebagai film yang berdasarkan peristiwa nyata. Saya pribadi agak ragu dengan klaim tersebut yang konon terinspirasi dari tragedi pasangan Austria yang pernah dibunuh di Ceko. Setidaknya saya gagal menemukan kisah aslinya di internet. Lagi pula saya terlalu sering menemukan film-film horor yang menggunakan gimmick “based on actual event” sampai kadang membuat saya berasumsi bahwa sebagian dari klaim ini bisa saja bohong. Bagaimanapun, Them tetaplah merupakan film yang sangat layak untuk ditonton dengan durasi yang cukup dan dieksekusi dengan sangat baik juga. Tak ada special effect yang liar dan fantastis, tidak ada musik megah maupun dialog yang berlebihan. Semua terasa sangat minimalis, pas, dan rasanya sangat tepat untuk ditutup dengan ending yang suram.