MOVIE REVIEW: THE TEXAS CHAINSAW MASSACRE (1974)

THE TEXAS CHAINSAW MASSACRE
Sutradara: Tobe Hooper

UK (1974)

Review oleh Tremor

The Texas Chainsaw Massacre adalah sebuah masterpiece backwoods horor yang sangat berpengaruh hingga (tanpa diduga) berhasil mengubah wajah perfilman horror dunia selama-lamanya. Setelah membuat film ini, karir sang sutradara sekaligus penulisnya, Tobe Hooper, semakin melejit. Pada tahun 1979 Hooper membuat sebuah miniseri TV berdurasi dua episode, berjudul Salem’s Lot, yang diadaptasi dari karya novelis Stephen King dan terbukti menjadi salah satu adaptasi King terfavorit. Beberapa tahun kemudian ia dipercaya menyutradarai film horror populer berjudul Poltergeist (1982) yang ditulis dan diproduseri, salah satunya, oleh Steven Spielberg. Inspirasi Tobe Hooper dalam menulis kisah The Texas Chainsaw Massacre adalah kasus Ed Gein, yang merupakan seorang psikopat dalam dunia nyata. Selain The Texas Chainsaw Massacre, Ed Gein juga menginspirasi banyak film horror lainnya dari mulai Psycho (1960), Deranged (1974), Three on a Meathook (1972) hingga The Silence of the Lambs (1991). Pada tahun 1950-an, Ed Gein didakwa dengan tuduhan (setidaknya) dua pembunuhan, serta mutilasi banyak sekali mayat yang ia curi dari pemakaman setempat selama bertahun-tahun. Ketika ia ditangkap, ditemukan banyak sisa-sisa manusia di dalam rumahnya, termasuk banyak pakaian kulit dan furnitur rumah yang ia buat sendiri dari kulit, tengkorak, tulang benulang, hingga bagian tubuh manusia yang diawetkan. Gein juga menyimpan mayat ibunya, mengulitinya, dan mengenakan kulitnya sebagai pakaian serta topeng. Terdengar familiar? Tentu saja.

Lima anak muda, Sally Hardesty, saudaranya Franklin yang lumpuh, bersama dengan teman-teman mereka Jerry, Kirk, dan Pam melakukan perjalanan menggunakan mobil van menuju pelosok Texas untuk mengunjungi tempat kakek Sally dan Franklin dimakamkan. Sebelumnya sempat bermunculan desas-desus tentang gelombang pencurian mayat serta bagian-bagian tubuh jenazah di pemakaman tersebut. Setibanya di pemakaman, mereka segera disambut dengan keanehan dan ketidakramahan para penduduk setempat yang mabuk dan membuat takut Franklin. Setelah pergi meninggalkan pemakaman, tujuan mereka berikutnya adalah mengunjungi rumah tua milik keluarga kakek Sally. Di tengah jalan, mereka berhenti untuk memberi tumpangan pada seorang hitchhiker yang berperilaku janggal. Setelah melanjutkan perjalanan, penumpang yang tampak memiliki gangguan jiwa tersebut tiba-tiba merebut pisau lipat milik Franklin lalu mengiris telapak tangannya sendiri sambil tertawa-tawa. Jelas semua orang di dalam van panik. Tak sampai di situ, penumpang itu kemudian mengambil pisau cukur yang tersembunyi di balik kaus kakinya sendiri dan segera mengiris lengan Franklin. Jerry yang mengendarai van langsung menghentikan mobil dan mereka mengusir penumpang gila itu keluar dari mobil.

Karena mobil yang mereka kendarai akan segera kehabisan bensin, mereka pun menepi di satu-satunya pom bensin yang ada di area tersebut. Sayangnya stok bensin di sana baru akan datang lagi pada sore hari. Sambil menunggu sore, Sally dkk melanjutkan rencana mereka pergi ke rumah milik keluarga Hardesty yang sudah kosong selama bertahun-tahun. Sesampainya di sana Sally teringat kalau ada semacam kolam tua di balik hutan dekat rumah itu. Pam dan Kirk ingin menghabiskan waktu berenang di kolam tersebut, karena udara Texas sangat panas. Mereka berdua akhirnya berjalan kaki ke sana. Dalam perjalanan inilah Kirk mulai mendengar suara generator berdengung secara samar-samar. Ia pikir, mungkin mereka bisa meminjam bensin pada pemilik generator tersebut, pergi ke pom bensin lain yang agak lebih jauh, dan kembali ke sini untuk mengembalikan bensin yang mereka pinjam. Semua itu tampak seperti rencana bagus di benak Kirk. Akhirnya mereka menemukan sumber suara generator itu, yang terdapat di pekarangan sebuah rumah kayu bobrok. Kirk mengetuk pintu, berharap untuk meminjam bensin pada pemilik rumah. Tapi rumah tersebut tampak kosong. Kirk akhirnya nekad masuk ke dalam rumah, di mana secara tiba-tiba ia disambut oleh seorang pria bertubuh besar bertopeng kulit manusia yang muncul dari balik pintu dapur dan langsung menghantam kepala Kirk dengan palu hingga Kirk tak sadarkan diri. Tanpa mereka ketahui, rumah tersebut adalah milik sebuah keluarga psikopat sekaligus kanibal. Mulai dari sini satu persatu teman-teman Sally mulai menjadi korban dari kekejaman para penghuni rumah, dan semuanya mengarah pada klimaks film ini yang merupakan salah satu adegan yang paling mengganggu dalam sejarah film horror: adegan makan malam bersama keluarga tersebut.

Film The Texas Chainsaw Massacre memperkenalkan kita pada satu keluarga kanibal, di mana salah satu anggota keluarga tersebut kemudian menjadi karakter legendaris dalam dunia film horror. Ia adalah seorang tukang jagal mengerikan bertubuh besar dengan gangguan jiwa, mengenakan celemek penuh bercak darah serta topeng yang terbuat dari kulit wajah manusia sebagai ciri khas utamanya. Saudaranya memanggilnya dengan nama Leatherface. Dalam film ini, ada 3 topeng berbeda yang ia gunakan, dan kesemuanya tentu sama mengerikannya. Menurut saya, Leatherface adalah salah satu maniak paling original dan mengganggu dalam sejarah film horror. Apa yang membuat Leatherface berbeda (dan lebih mengerikan) dibandingkan Jason Voorhees, Freddy Krueger dan Michael Myers, adalah karena Leatherface tidak memiliki kekuatan supranatural dan ia jauh lebih realistis. Perilaku seperti Leatherface dan keluarga kanibalnya bisa saja benar-benar eksis dalam kehidupan nyata, dengan Ed Gein sebagai contohnya yang paling jelas. Karakter Leatherface sendiri digambarkan sebagai pria berkepribadian terbelakang, kekanak-kanakan, memiliki pikiran yang belum berkembang secara intelektual maupun emosional, dan jelas sangat terganggu secara psikologis. Faktanya (dan anehnya), karakter Leatherface juga adalah karakter yang paling mengundang simpati dalam film The Texas Chainsaw Massacre. Pada awalnya ia memang tampak sangat mengancam dan mengerikan. Tetapi ketika kita bertemu dengan para anggota keluarganya, kita bisa lihat dengan jelas bahwa Leatherface adalah anggota keluarga yang paling lemah dalam hirarki keluarga gila ini. Ia lebih tampak seperti seorang anak kecil korban bully yang berpikiran sederhana, dibanding seorang villain jahat. Fungsinya dalam keluarga ini hanya untuk melayani dan menuruti perintah anggota keluarga lain. Saat bersama dengan keluarganya, ia tampak sangat jinak dan berperilaku seperti anak kecil. Terlepas dari kecenderungan psikotiknya, kepribadian Leatherface jelas terlihat rapuh pada banyak momen. Latar belakang keluarga Leatherface (yang tidak pernah disebutkan namanya) juga sangat penting. Mereka adalah keluarga miskin, yang kesemuanya pernah bekerja di tempat penjagal hewan setempat. Itulah mengapa Leatherface menggunakan celemek tukang jagal dan mereka memiliki peralatan jagal yang cukup komplit di dapurnya. Ia adalah penjagal yang terlatih. Bagi keluarga ini, tidak ada bedanya antara menjagal hewan dan manusia. Mereka memperlakukan daging manusia seperti daging lainnya. Alasan pembantaian yang mereka lakukan adalah makanan. Kalau biasanya mereka mencuri dari pemakaman setempat, kini ada lima anak muda yang memasuki area rumah mereka tanpa izin. Siapa yang bisa menolak bahan makanan segar setelah sebelumnya selalu menyantap bangkai busuk? Pada akhirnya, para korban Leatherface bernasib sama seperti hewan-hewan jagal: kepalanya dihancurkan dengan palu, dibuka isi perutnya dengan gergaji mesin, lalu digantung pada kail-kail daging sebelum akhirnya berakhir di meja makan.

Kita semua pasti sepakat kalau gergaji mesin adalah senjata yang sangat brutal, dan penggambaran seorang maniak mengayun-ngayunkan gergaji mesin memang begitu menakutkan. Terlepas dari judul filmnya, sebenarnya gergaji mesin yang selalu dibawa oleh Leatherface bukanlah pilihan senjata utamanya. Ia hanya menggunakan gergaji mesin satu kali saja untuk membunuh dalam film ini. Selebihnya, Leatherface lebih suka menggunakan palu, sesuai dengan cara para penjagal daging (yang sempat diceritakan di awal film) menghabisi nyawa sapi yang akan dipotong. Berbeda dengan dugaan banyak orang yang belum pernah menontonnya, The Texas Chainsaw Massacre juga bukanlah sebuah film yang mengandalkan adegan gore untuk memproduksi rasa takut. Kemampuan Tobe Hoper dalam menciptakan adegan sadis tanpa harus eksplisit ini patut diacungi jempol. Apa yang membuat film ini mengerikan mungkin adalah berkat pikiran kita sendiri yang secara otomatis menyusun adegan-adegan sadisnya. Misalnya, saat salah satu karakter yang masih hidup digantungkan pada kail-kail daging oleh Leatherface, kita tidak perlu benar-benar melihat detail adegannya untuk memahami bahwa kejadian itu menyakitkan. Pikiran kita sendiri lah yang menyusun semua detail kekerasannya. Salah satu adegan yang menurut saya cukup efektif adalah pembunuhan pertama Leatherface yang terjadi begitu saja tanpa peringatan. Dari suara hantaman palunya saja sudah menyakitkan. Walaupun adegan itu hanya berdurasi sebentar, namun dampaknya luar biasa. Pada bagian lain, adegan kematian karakter Franklin juga merupakan momen kejutan yang cukup berkesan. Secara teknis, ini adalah satu-satunya adegan dimana seseorang benar-benar meninggal karena gergaji mesin di sepanjang film, dan adegan ini tidak benar-benar ditampilkan di layar. Sesungguhnya, hal yang mengerikan dari The Texas Chainsaw Massacre bukan hanya terletak pada adegan-adegan pembunuhan yang dilakukan oleh Leatherface saja, tetapi juga pada penggambaran perilaku seluruh anggota keluarganya, ditambah dengan banyak detail lainnya seperti misalnya dekorasi dan desain furnitur di dalam rumah mereka.

Di mata para penonton modern, adegan gore memang bisa dibilang tidak ada dalam The Texas Chainsaw Massacre. Mungkin kita sudah terlalu terbiasa menonton film gore yang memperlihatkan kesadisan dengan detail. Tapi sangat penting bagi kita untuk mempertimbangkan dan membayangkan tentang bagaimana penonton di pertengahan tahun 1970-an bereaksi terhadap film ini. Pada masa itu, film seperti The Texas Chainsaw Massacre bukanlah hal yang wajar untuk dipertontonkan pada masyarakat umum. Tanpa adanya adegan gore sekalipun, toh film ini akhirnya dilarang di banyak negara saat pertama kali dirilis, dari mulai Inggris, Jerman Barat, Finlandia, Swedia, Islandia, Norwegia, Brasil, hingga Singapura. Ending film the Texas Chainsaw Massacre juga termasuk tidak biasa dan membuat para penontonnya tidak merasa nyaman pada masanya. Sebagai perbandingan, mari kita lihat film-film horror populer sebelum dunia kenal dengan Leatherface. Dalam film Psycho (1960) misalnya, karakter Norman Bates berakhir dalam kurungan, dan The Exorcist (1973) berakhir dengan diusirnya iblis yang merasuki Reagan. Penonton bisa pulang dari bioskop dengan perasaan tenang. Sementara itu, The Texas Chainsaw Massacre berakhir dengan Leatherface yang menari-nari penuh kegilaan sambil mengayun-ayunkan gergaji mesinnya di udara, diiringi dengan terbitnya matahari di horison. Jelas ending ini kemudian menjadi salah satu adegan klasik dan ikonik dalam sinema horror.

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com