MOVIE REVIEW: THE SILENCE (2010)

THE SILENCE
Sutradara: Baran bo Odar
Jerman (2010)

Review oleh Tremor

The Silence, yang berjudul asli “Das letzte Schweigen” dalam bahasa Jerman, adalah sebuah film drama thriller besutan sutradara pendatang baru kelahiran Swiss bernama Baran bo Odar. Tujuh tahun kemudian Baran membuat sebuah serial yang disiarkan secara ekslusif oleh Netflix yang berjudul Dark. The Silence sendiri diangkat dari sebuah novel Jerman yang ditulis oleh penulis muda bernama Jan Costin Wagner.

Film ini dibuka dengan sebuah kejadian tragis yang terjadi pada musim panas 1986. Dua orang laki-laki bernama Peer dan Timo pergi mengendarai sebuah mobil merah. Di tengah jalan, Timo yang duduk di balik kemudi, melihat ada seorang gadis kecil bersepeda memasuki sebuah jalan kecil yang dikelilingi ladang gandum. Gadis itu bernama Pia, dan umurnya masih 11 tahun. Pia tak menyadari kalau dirinya sedang diikuti. Kemudian, Pia pun diperkosa dan kemudian secara tidak sengaja terbunuh oleh Peer, sementara Timo hanya bisa diam tak berdaya melihat semua aksi bejat temannya tersebut. Dengan panik, Peer memasukkan mayat Pia ke dalam bagasi mobil, dan pergi meninggalkan sepeda Pia di TKP. Rupanya kejadian tersebut menjadi akhir dari pertemanan antara Timo dan Peer. Tanpa berpamitan, Timo pergi meninggalkan tempat tinggalnya karena dihantui perasaan bersalah. Pia dinyatakan hilang hingga beberapa hari kemudian mayatnya ditemukan di sebuah danau tak jauh dari tempat ia dibunuh. Sampai di sini, penonton akan bertanya-tanya, mengapa Timo tidak segera melaporkan kawannya ke polisi? Tentu saja seiring berjalannya film, pertanyaan tersebut akan terjawab. Kurangnya bukti dan saksi mata, membuat kasus ini tak berhasil dipecahkan oleh polisi. Pedofil pembunuh sekaligus pemerkosa Pia tak pernah tertangkap.

Tepat 23 tahun kemudian, pada tanggal dan bulan yang sama dengan dibunuhnya Pia, seorang anak gadis bernama Sinikka pergi meninggalkan rumah dengan sepedanya setelah beradu argumen dengan kedua orang tuanya. Keesokan harinya, sepeda Sinikka ditemukan tepat di tempat Pia diperkosa dan dibunuh 23 tahun sebelumnya. Sinikka dinyatakan hilang, dan polisi membuka kembali investigasi kasus Pia dengan kecurigaan bahwa pedofil pembunuh sekaligus pemerkosa Pia kembali beraksi.

Detektif Krischan Mittich baru saja pensiun dari profesinya. Ia adalah detektif yang memimpin penyelidikan pembunuhan Pia 23 tahun yang lalu. Tentu saja kenyataan bahwa kasus Pia belum juga terungkap terus menghantui dirinya selama bertahun-tahun. Selain itu, ia juga merasa memiliki beban moral terhadap ibu Pia untuk mengungkap kasus tersebut. Namun apa daya, saat terdengar kabar bahwa ada kejadian serupa terjadi lagi sekarang, secara teknis ia sudah tidak bisa ikut campur dalam tim investigasi karena ia sudah pensiun. Kasus Sinikka kini dipegang oleh mantan partnernya yang bernama Matthias, yang memiliki hubungan tidak terlalu baik dengan Krischan dan samasekali tidak ingin melibatkan kembali Krischan. Matthias tidak sendiri dalam investigasi ini. Ia ditemani oleh seorang detektif muda bernama David, yang secara psikologis sedang sangat bermasalah dan tidak stabil karena istrinya baru saja meninggal karena kanker. Dibantu di belakang layar oleh Krischan, David pun mulai mengumpulkan dan membandingkan bukti-bukti dan kesaksian pembunuhan Pia dengan hilangnya Sinikka.

Timo yang kini sudah berkeluarga dan memiliki 2 anak, secara tidak sengaja melihat berita di TV mengenai hilangnya Sinikka. Berita tersebut juga menampilkan ladang gandum tempat dimana ia hanya diam saja 23 tahun yang lalu saat menyaksikan kawan pedofilianya memperkosa dan membunuh Pia. Hal ini seakan menampar batinnya dan menghantarkan kembali perasaan kacau dan bersalah. Selama 23 tahun ia mengubur dalam-dalam pengetahuan atas kejahatan yang dilakukan oleh Peer. Bukan hanya Timo yang dipaksa harus kembali ke dalam memori gelap masa lalu. Pukulan mental juga ikut menghajar ibu dari Pia, yang kemudian ikut membantu mantan detektif Krischan untuk mengejar si pedofil yang pernah merenggut anak semata wayang dari hidupnya.

Sebuah film horor seharusnya mampu tinggal sejenak di benak penonton setelah selesai menontonnya, membuat penonton merasa tidak berdaya dan merasa ngeri. Walaupun The Silence bukanlah film horor, namun ide apa lagi yang lebih mengerikan dari ide cerita tentang seorang anak kecil yang dibunuh dan diperkosa? Apalagi karena hampir semua orang memiliki anak, keponakan, adik, tetangga atau saudara yang masih kecil. Ide mengenai seorang anak kecil yang tiba-tiba hilang, diperkosa dan dibunuh adalah yang hal terburuk dari semua ide mengerikan yang pernah ada. Memikirkan bagaimana predator-predator seksual hidup di tengah-tengah masyarakat itu sangat mengerikan, mengingatkan kita semua tahu bahwa rahasia dan sisi gelap seseorang yang kita kenal sekalipun, bisa jadi sangat mengejutkan. The Silence juga bukanlah tipe film detektif misteri yang menyembunyikan sosok pembunuhnya dan membuat penonton menebak-nebak siapa pembunuhnya, dan bagaimana nasib Sinikka, karena saya pikir bukan itu poinnya. Tertangkap atau tidaknya si pedofil juga ternyata bukanlah tujuan akhir dari film ini.

Bagi kalian yang bertanya-tanya seberapa vulgar visualisasi film ini, tidak perlu khawatir karena kalian tidak akan melihat adegan kekerasan, pembunuhan dan pemerkosaan sama sekali. Namun, disinilah hebatnya seorang sutradara, dimana ia bisa tetap mengantarkan perasaan ngeri, serta atmosfer yang jauh dari perasaan nyaman tanpa harus menampilkan adegan-adegan kekerasan dan vulgar. Cerita investigasi mengenai pedofil, pembunuhan dan pemerkosa atas gadis kecil jelas tidak akan membuat nyaman siapapun. Walaupun dibalut dengan gaya drama / thriller, dengan pengambilan-pengambilan gambar yang cantik pada pemandangan pedesaan pinggiran Jerman, penonton tetap akan merasakan kelamnya cerita ini. Tampaknya sang sutradara memang ingin menonjolkan unsur-unsur keputusasaan, kesepian, keterasingan, ketidakpastian dan kegundahan dalam film ini. Kita juga harus menyaksikan betapa tertekan dan tersiksanya kedua orang tua Sinikka atas kepastian nasib anaknya selama tubuhnya belum ditemukan di hampir sepanjang film ini berjalan. Belum lagi karakter detektif David yang sangat rapuh dan memiliki ketidak warasannya sendiri. Campuran dari semua ini menjadikan film The Silence menjadi sebuah drama gelap yang penuh ketidaknyamanan hingga film ini berakhir.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: [email protected]