MOVIE REVIEW: TAKUT: FACES OF FEAR (2008)

TAKUT: FACES OF FEAR
Sutradara:
Rako Prijanto, Riri Riza, Ray Nayoan, Robby Ertanto, Raditya Sidharta, The Mo Brothers
Indonesia (2008)

Review oleh Tremor

Takut: Faces of Fear adalah sebuah antologi horror yang berisikan 6 film pendek karya 7 sutradara Indonesia dimana pada saat film ini dirilis, mayoritas dari mereka adalah pendatang baru. Sebaliknya, para aktor dan aktris yang terlibat justru adalah nama-nama yang tidak asing pada masanya seperti Marcella Zalianty, Lukman Sardi, Dinna Olivia, Shanty, Fauzi Baadila, hingga Shareefa Daanish. Tak hanya itu, dalam TAKUT kita juga bisa melihat penampilan seni peran perdana Eva Celia, serta pertama kalinya aktor Epy Kusnandar terlibat dalam sebuah proyek film non-komedi. Antologi ini diproduseri oleh Brian Yuzna, seorang produser/sutradara/penulis film Amerika kelahiran Filipina yang namanya sudah tidak asing lagi bagi para penggemar horror. Mungkin saya akan bahas soal Yuzna di lain kesempatan, karena review kali ini bukanlah soal dia.

TAKUT pertama kali diputar di Indonesia pada tahun 2008 dalam sebuah gelaran festival film (bukan festival kompetitif) yang hanya diadakan di kota Jakarta dan Bandung lewat jaringan bioskop Blitz Megaplex (sekarang CGV). Nama festivalnya adalah “Indonesia International Fantastic Film Festival” (atau disingkat iNAFFF) yang –kalau saya tidak salah ingat– diadakan setahun sekali sejak 2007. Apa yang spesial dari festival ini adalah fokusnya pada film-film horror, science fiction, hingga fantasi dan animasi. Saya masih ingat bagaimana excited-nya saya saat itu dengan iNAFFF. Bagaimana tidak. Saat biasanya bioskop-bioskop di Indonesia hanya memutarkan film-film horror “mainstream”, tiba-tiba ada sebuah festival yang memutar film-film horror / sci-fi alternatif dari berbagai negara yang berbeda, di layar lebar pula. Tentu saja hal tersebut sangat menyegarkan bagi kami para horror nerd yang jelas akan lebih memilih menonton film di layar lebar dengan audio-nya yang mumpuni daripada menonton DVD bajakan di komputer. Sayang sekali iNAFFF sudah tidak pernah terdengar lagi namanya sejak tahun 2011.

Ada satu hal soal iNAFFF yang saat itu membuat saya agak sedih, yaitu ada lebih banyak film yang diputar di Jakarta dibandingkan di Bandung, kota tempat saya tinggal. Saya ingat betul, setiap kali saya mengambil booklet iNAFFF di Blitz, saya harus merasa kecewa karena beberapa film yang ingin saya tonton hanya diputar di Jakarta. Kondisi keuangan saya yang belum terlalu stabil pada masa itu membuat saya harus benar-benar cermat memilih film mana yang ingin saya tonton. Antologi Takut adalah salah satu film yang saya pilih pada saat itu, dan saya sama sekali tidak menyesalinya.

Perlu dicatat, TAKUT dirilis pada masa dimana saya merasa pesimis dengan film horror lokal; masa dimana horor Indonesia sangat tidak menarik minat saya. Saya muak dengan film-film horror dengan tema hantu dan urban legend lokal, dan tidak merasa tertarik dengan film-film “fantastis” seperti pocong kesurupan, hantu gayung, hantu keramas, dan sebagainya. Jadi keputusan saya untuk menonton TAKUT dalam gelaran iNAFFF adalah sebuah keputusan besar yang diambil dengan pertimbangan masak-masak. Entah apa yang membuat saya percaya dengan kurasi iNAFFF pada saat itu hingga saya “nekat” memilih film Indonesia untuk ditonton. Tapi ternyata antologi TAKUT menjadi sebuah oase yang sangat menyegarkan, setidaknya bagi saya pribadi.

TAKUT dibuka dengan credit dan animasi yang kalau ditonton ulang sekarang akan tampak murah, mungkin setingkat dengan animasi intro video game satu dekade yang lalu. Setelah animasi dan credit berakhir, tanpa basa basi dimulailah film pertama, berjudul “Show Unit”, yang disutradarai dan ditulis oleh Rako Prijanto. Belakangan nama sutradara ini mulai terdengar lagi karena ia membuat film remake Warkop DKI Reborn. Mungkin Show Unit adalah film horror pertama dan terakhir yang pernah ia buat. Saya tidak tahu pasti. Tapi kalau benar begitu, saya jadi memaklumi mengapa film ini tidak terlalu bagus, tapi itu tidak masalah, karena ini adalah bentuk eksplorasi seorang sutradara. Show Unit bercerita tentang seorang pria bernama Bayu yang secara tidak sengaja membunuh anak pacarnya. Saat berusaha membuang mayatnya, keadaan menjadi semakin kacau balau bagi Bayu. Sebenarnya film ini tidak buruk-buruk amat. Hanya saja tidak meninggalkan kesan apapun bagi saya.

“Titisan Naya” adalah segmen selanjutnya, yang menurut saya lumayan oke, sangat lokal dan cukup berani. Segmen ini disutradarai dan ditulis oleh seorang sutradara yang sudah tidak asing lagi namanya dalam perfilman Indonesia, Riri Riza. Ia pernah membuat film-film besar dari mulai Kuldesak (1998), Gie (2005), Laskar Pelangi (2008), hingga Kulari ke Pantai (2018). Sama seperti Rako Prijanto, keterlibatan Riri dalam TAKUT adalah pertama dan terakhir kalinya ia membuat film horor, dan sebagai sebuah eksplorasi, saya bisa bilang segmen Titisan Naya cukup berhasil. Mengambil tema supranatural, Titisan Naya bercerita tentang seorang gadis kota modern keturunan Jawa bernama Naya yang dipaksa oleh ibunya untuk menghadiri upacara pembersihan keris pada malam satu suro di rumah keluarga besarnya. Bukannya ikut dalam upacara, Naya malah bersembunyi di kamar saudara sepupunya (Leo), merokok, dan dengan genitnya mulai menggoda Leo. Di depan Leo, Naya juga terang-terangan mencemooh perilaku keluarga besarnya yang masih percaya dengan tahayul. Sompral. Itulah mengapa saat upacara berlangsung, Naya kemudian seperti memasuki “dunia lain” yang gelap gulita dimana dengan bantuan senter telepon genggamnya ia melihat beberapa penampakan. Ternyata Naya kerasukan. Dalam kondisi tersebut ia mulai menari tarian Jawa di tengah-tengah ritual keluarganya. Mungkin penonton internasional akan sedikit kebingungan menyaksikan Naya yang tiba-tiba menari sambil ditonton oleh keluarga besarnya. Tapi unsur horror dalam Titisan Naya memang “lokal banget”, dan mungkin sisi ngerinya hanya bisa dimengerti oleh penonton yang familiar dengan ide-die mistis tradisi Jawa.

Segmen ketiga berjudul “Peeper” adalah salah satu segmen yang lumayan saya suka. Film ini bercerita tentang Bambang, seorang cleaning service yang gemar mengintip. Peeper artinya pengintip, jadi di segmen ini kita akan sedikit berfokus pada bola mata. Suatu hari Bambang mendapat tiket pertunjukan tari tradisional secara cuma-cuma. Pemilik gedung teater tempat pagelaran tari diadakan mengatakan kepada Bambang kalau penari utama dalam pertunjukan ini sangat suka “ditonton”. Setelah pertunjukan selesai, Bambang tak bisa menahan hasratnya. Iapun mengendap-endap dan mulai mengintip ruang rias sang penari, dimana ia menemukan identitas mengerikan sang penari yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Peeper disutradarai dan ditulis oleh Ray Nayoan, seseorang yang setelah saya cek dalam laman IMDB, rupanya tidak terlalu produktif sebagai sutradara. Segmen Peeper adalah film pertamanya, dan film berikutnya yang ia buat baru ada 10 tahun kemudian, sebuah drama cinta berjudul Jelita Sejuba (2018). Sebagai sebuah debut, segmen Peeper bisa dibilang lumayan oke.

Segmen selanjutnya yang berjudul The List, adalah sebuah film horror komedi yang ditulis langsung oleh sang produser TAKUT, Brian Yuzna, dan disutradarai oleh Robby Ertanto yang satu dekade kemudian membuat film kontroversial berjudul Ave Maryam (2018). Siapa sangka ia memulai karirnya dengan sebuah film horor? The List menjadi segmen favorit saya lainnya dari antologi TAKUT, bercerita tentang seorang perempuan pendendam yang menyewa dukun untuk mengganggu mantan kekasihnya, Andre, dengan cara santet. Mengacu pada sebuah daftar yang sudah disediakan, sang dukun “mengirim” beberapa gangguan pada Andre berupa serangan hewan-hewan “mengerikan” dari mulai tarantula, kecoa, lintah, kelabang, hingga kalajengking. Segmen ini adalah segmen yang paling fun untuk ditonton. Selain karena humornya bagus, segmen ini juga tidak bertele-tele dan kemudian ditutup dengan twist ending yang tak kalah fun. The List juga terasa memiliki unsur homage untuk genre horror itu sendiri. Terlihat dari mulai cuplikan film buatan Brian Yuzna, Bride of the Re-Animator  (1989) di layar televisi Andre, hingga referensi serangan kecoa komplit dengan sound effect-nya yang tentu saja merujuk pada salah satu segmen dalam antologi Creepshow (1982) buatan George Romero dan Stephen King. Tapi saya jadi penasaran, karena antologi TAKUT didistribusikan secara internasional, apakah The List cukup bisa dipahami oleh penonton luar Indonesia? Karena bisa jadi ceritanya agak membingungkan kalau penonton tidak familiar soal perdukunan Indonesia dan ilmu santet.

Segmen kelima berjudul The Rescue, sebuah film zombie / infeksi, genre yang sepertinya “wajib ada” dalam sebuah antologi horror. Namun bagi saya pribadi segmen ini adalah segmen terlemah dan ter-klise dari keseluruhan antologi TAKUT. Diceritakan, pasca mewabahnya infeksi virus misterius yang membuat penderitanya menjadi buas dan kanibalistik (ya, maksudnya adalah zombie), dua orang survivor baru saja diselamatkan oleh tim gegana (saya tidak begitu paham apakah gegana memang bisa melakukan misi penyelamatan?) Tapi sialnya, saat harus pergi ke tempat aman, mereka malah terjebak di dalam sebuah bangunan yang dipenuhi zombie. Selebihnya kita diperlihatkan adegan-adegan kejar-kejaran klise dengan zombie; zombie vs tentara yang juga klise; ditutup dengan ending yang tak kalah klise, yang berusaha keras untuk tampak dramatis sekaligus misterius. Jujur segmen ini tidak terlalu menarik bagi saya. Sisi drama dan konflik antar karakternya payah, dan satu-satunya acting yang bagus dari segmen ini hanya datang dari Eva Celia yang berperan sebagai gadis yang ketakutan. Harap dicatat, ini adalah pertama kalinya Eva Celia tampil di layar lebar, dan ia hanya menangis dan ketakutan sepanjang segmen. Mungkin hal yang menarik lainnya dari The Rescue adalah kesempatan bagi penonton untuk bisa melihat footage pojok kota Jakarta yang tampak kosong dari mulai jalan protokol, shelter busway, dll, pada malam hari. Jujur saja, tidak ada hal menyegarkan yang ditawarkan dari The Rescue selain fakta bahwa ini adalah film zombie Indonesia. Film ini mudah terlupakan. Bahkan saya baru ingat dengan segmen ini setelah menonton ulang TAKUT. Ohya, The Rescue dibuat oleh Raditya Sidharta, yang sepertinya tidak pernah membuat film lain lagi selain The Rescue dan film horror lainnya berjudul The Shaman pada 2008.

Akhirnya antologi TAKUT ditutup dengan segmen favorit saya (dan film horror Indonesia favorit saya), yang berjudul Dara. Segmen ini merupakan debut luar biasa dari Mo Brothers (Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel) sebagai duet sutradara. Dara adalah seorang gadis yang berprofesi sebagai koki sekaligus pemilik sebuah restoran steak yang cukup sukses. Banyak laki-laki pengunjung restoran itu jatuh cinta pada masakannya, sekaligus terpikat pada Dara yang anggun, pemalu, pendiam dan berparas cantik. Aji adalah seorang pengunjung laki-laki yang beruntung karena ia diundang Dara ke rumahnya untuk menikmati makan malam yang akan dimasak langsung oleh Dara. Pria mana yang sanggup menolak tawaran yang lebih terdengar seperti ajakan kencan dari Dara? Tapi dibalik tingkah lakunya yang menawan, Dara adalah seorang kanibal manipulatif yang mengumpulkan daging manusia sebagai bahan baku utama untuk restorannya tersebut. Spoiler, itulah resep rahasia Dara. Dengan dingin ia menjebak dan menjagal sendiri korban-korbannya. Segmen Dara dipenuhi banyak darah, sekaligus humor yang menyenangkan. Saya bahkan masih saja tertawa kecil saat menonton ulang film ini, terutama ketika rencana Dara tidak berjalan dengan mulus karena ia kedatangan lebih banyak tamu kencan dari yang ia ingat. Film ini sangat menyenangkan untuk ditonton, dan rasanya saya tidak akan pernah bosan untuk menontonnya kembali. Saya sangat yakin kalau Mo Brothers juga sangat bersenang-senang saat menulis Dara. Selain itu, segmen Dara juga mengambil banyak referensi dari film-film ikonik dari mulai The Texas Chainsaw Massacre, Hannibal, Hostel, hingga Kill Bill yang bukan tampak seperti meniru, tapi lebih terasa sebagai sebuah homage. Saat pertama kali menontonnya, Dara membuat saya mulai menaruh harapan lagi pada industri horror Indonesia.

Segmen Dara jelas merupakan bintang dari keseluruhan antologi ini, dan menjadi sebuah penutup yang sangat sangat sangat sempurna bagi TAKUT: Faces of Fear. Sebagai film yang hanya berdurasi sekitar 20 menitan, saya benar-benar terkesan dengan cara Mo Brothers menuturkan cerita, ditambah dengan penyutradaraannya yang nyaris tanpa cela. Tak heran kalau kemudian Dara mencuri perhatian para penonton lokal maupun pasar internasional. Ditambah lagi dengan kemampuan acting Shareefa Daanish yang luar biasa dalam memerankan Dara, menjadikan segmen ini benar-benar pantas untuk dibanjiri acungan jempol dan riuh tepuk tangan. Saya pikir bukan hanya saya saja yang mengapresiasi Dara dengan penuh antusias. Saya yakin Dara adalah film yang paling menarik perhatian dalam keseluruhan rangkaian iNAFFF 2008, sehingga satu tahun kemudian Mo Brothers merilis film full-length feature pertama mereka, berjudul Rumah Dara /  Macabre, yang mungkin adalah pengembangan dari film pendek Dara ini. Sebenarnya ada banyak hal yang kemudian ingin saya tulis soal Rumah Dara, tapi saya akan menyimpannya untuk lain kali.

Jika diurutkan, segmen terbaik dalam antologi TAKUT versi saya adalah: Dara, The List, Peeper, Titisan Naya, Show Unit, dan terakhir The Rescue. Menurut saya TAKUT adalah sebuah antologi penting dalam kancah perfilman horror Indonesia. Antologi ini bagaikan kesempatan yang tepat bagi para sineas pendatang baru yang beruntung terpilih terlibat di dalamnya untuk memperlihatkan potensi mereka pada dunia. Saya juga sangat salut pada beberapa sutradara yang berani keluar dari batas nyaman mereka, seperti Riri Riza dan Rako Prijanto, di mana lewat TAKUT mereka bisa bereksplorasi memasuki zona yang belum pernah mereka sentuh sebelumnya. Dan itu membuat saya semakin ingin mengapresiasi keberanian mereka, karena tidak semua orang berani keluar dari zona nyaman. Akhir kata, TAKUT adalah antologi horror modern Indonesia yang wajib ditonton, dan menonton TAKUT adalah pengalaman yang sangat menyenangkan.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: [email protected]