MOVIE REVIEW: OPERA / TERROR AT THE OPERA (1987)

OPERA / TERROR AT THE OPERA
Sutradara: Dario Argento

Italia (1987)

Review oleh Tremor

Opera adalah sebuah film giallo Italia karya sang master of horror, Dario Argento, yang kemudian dipasarkan secara internasional dengan judul “Terror At The Opera”. Film ini bisa dibilang merupakan homage Argento terhadap kisah klasik “The Phantom of the Opera “, dalam versi giallo. Ini bukan pertama kalinya Argento membuat film dengan latar opera. Sebelas tahun kemudian, ia membuat film adaptasi dari The Phantom of the Opera (1998) itu sendiri. Untuk kalian yang tidak familiar dengan genre giallo, kalian bisa membaca penjelasannya dalam beberapa review yang pernah saya tulis sebelumnya, salah satunya dalam review film Deep Red (1975), dan dengan penjelasan yang lebih detail dalam review Blood And Black Lace (1964) karya Mario Bava. Banyak penggemar horror yang berargumen bahwa Opera adalah karya hebat terakhir yang pernah disutradarai oleh Dario Argento. Sebagai penggemar Argento, saya cukup setuju dengan pendapat tersebut. Nyatanya memang tidak ada lagi karya Argento yang cukup signifikan dan ikonik setelah Opera. Mother of Tears (2007) mungkin cukup brutal, tapi brutal saja tidak cukup untuk menjadikannya mentereng di tengah trend film-film horror ekstrim di masa modern tahun 2000-an ke atas. Apalagi kita akan selalu memperbandingkannya dengan karya-karya masterpiece Dario Argento lainnya di masa lalu, dari mulai Deep Red (1975), Suspiria (1977), Tenebrae (1982), hingga Phenomena (1985). Jadi saya biasanya membagi karya-karya Argento ke dalam dua era: Dario Argento klasik (1970 – 1987) yang adalah masa keemasan Dario Argento, dan Argento modern (1987 sampai hari ini) dimana kualitas film-filmnya mulai mengalami kemunduran. Saya yakin para penggemar horror manapun akan sependapat dengan saya, bahwa karya-karya penting Argento ada dalam era Argento klasik.

Dario Argento, dan para pembuat film giallo Italia pada umumnya tidak begitu memfokuskan diri pada kesempurnaan plot, jalan cerita yang logis, ataupun pengembangan karakter. Mereka biasanya murni berfokus pada bagaimana membuat film sebagai karya sinetamik visual yang sadis dan shocking. Jadi, sebenarnya plot bukanlah hal penting dalam film semacam Opera. Namun saya tetap perlu memaparkannya sedikit. Opera dibuka dengan sebuah kelompok opera asal Italia yang dipimpin oleh Marco sedang mempersiapkan sebuah pertunjukan opera avant-garde mewah dari kisah ‘Macbeth’, opera tragedi karya Giuseppe Verdi yang diadaptasi dari naskah sandiwara buatan Shakespeare dengan judul yang sama. Dalam dunia pertunjukan, ada sebuah anggapan bahwa opera Macbeth adalah pembawa kutukan sial bagi mereka yang terlibat. Sejak film ini dimulai saja, visualnya sudah sangat memukau: seekor burung gagak dalam gedung Opera, dengan latar belakang orkestra dan kru panggung yang sedang melakukan gladiresik. Diva utama dari pertunjukan ini, the Great Mara Cecova, mengamuk karena ia tidak bisa berkonsentrasi dengan adanya banyak burung gagak berkicau di dalam gedung opera. Padahal burung-burung tersebut akan menjadi bagian dari pertunjukan. Ia pun pergi meninggalkan gedung. Tepat di luar gedung, Mara Cecova tertabrak mobil dan mengalami patah tulang. Itu terjadi beberapa jam menjelang pertunjukan dimulai. Sang produser sekaligus sutradara opera, Marco, tentu saja kebingungan. Ia harus segera mencari pengganti Mara Cecova sesegera mungkin. Beruntung ada Betty, penyanyi opera muda berbakat yang memang sangat menguasai materi Macbeth. Betty terkejut dan tidak merasa yakin kalau dirinya layak untuk tampil dalam acara semegah itu. Ia juga merasa terlalu muda untuk peran ini. Setelah diyakinkan oleh agennya (Mira), Marco, dan seluruh orang di belakang layar opera, Betty akhirnya memberanikan diri, walaupun ia adalah salah satu orang yang percaya kalau opera Macbeth selalu membawa sial.

Sayangnya, tanpa mereka semua ketahui, ada seorang psikopat bertopeng yang sepertinya terobsesi dengan Betty dan akan terus membuat hidup Betty seperti di neraka hingga film ini berakhir. Pertunjukan opera Macbeth pun dimulai dengan Betty sebagai penyanyi utamanya. Saat Betty sedang membawakan perannya di panggung, penonton dibawa ke dalam sudut pandang seseorang yang sedang memata-matai Betty menggunakan teropong dari atas balkon. Seorang pekerja gedung opera memergokinya dan kita segera melihat pembunuhan pertama dalam film Opera, yang cukup sadis menurut saya sebagai pembunuhan pembuka. Dalam pergumulan ini, sebuah lampu penerang dari balkon jatuh ke arah penonton yang berada di bawah. Kepanikan pun terjadi. Setelah semua penonton berhasil dibuat tenang, pertunjukan pun kembali berlanjut hingga selesai. Penampilan Betty berhasil memukau semua orang. Ia mendapat banyak sekali pujian, dari mulai para penonton di gedung opera, hingga para penonton di televisi nasional. Satu-satunya orang yang tidak suka dengan penampilan Betty hanyalah Mara Cecova, yang hanya bisa menonton dengan kaki berbalut gips lewat televisi di rumahnya. Setelah Betty selesai dengan pentas operanya, seorang inspektur polisi bernama Alan Santini mendatangi langsung ruang ganti Betty, memberinya bunga dan meminta tanda tangan darinya. Penggemar pertama Betty. Karena Inspektur Alan ikut berada di gedung opera saat pembunuhan terjadi, ia pun segera turun tangan untuk melakukan investigasi.

Sejak awal, Betty kelihatannya memiliki hubungan spesial dan rahasia dengan salah satu asisten Marco yang bernama Stefano. Suatu malam saat sedang (diam-diam) berkencan di rumah Stefano yang luar biasa megah, sang pembunuh bertopeng ikut hadir di balik kegelapan. Stefano sedang pergi ke dapur membuatkan teh untuk Betty saat sang pembunuh membungkam mulut Betty dan mengikatkannya pada sebuah pilar. Tentu para penonton berpikir nyawa Betty akan segera dihabisi. Tapi bukan itu yang si pembunuh mau. Selain mengikat tubuh Betty dan menyumpal mulut Betty dengan lakban, sang pembunuh juga menempelkan sederet jarum tepat di bawah mata Betty menggunakan plester. Jarum-jarum tersebut akan menusuk mata Betty kalau ia mencoba menutup kelopak matanya. Brilian. Sang pembunuh bertopeng ingin Betty menjadi penontonnya. Saat Stefano kembali dari dapur, sang pembunuh mulai beraksi. Dengan sadis ia menusukkan sebilah pisau pada rahang Stefano tepat di depan mata Betty. Aksi tersebut tidaklah cukup bagi seorang Dario Argento. Tangan dan tubuh Stefano ditikam berulang kali hingga ia meninggal. Betty tak bisa berkutik dan harus menyaksikan semua ini karena ia tidak bisa melihat ke arah lain. Setelah selesai dengan Stefano, sang pembunuh memotong tali yang mengikat tubuh Betty, dan pergi. Betty pun melarikan diri, menelpon polisi secara anonimus lewat telepon umum, dan tak sengaja bertemu dengan Marco di jalan yang kemudian mengantarkannya pulang. Tapi terror terhadap Betty baru saja dimulai. Sang pembunuh selalu mengintai dan membawa Betty ke dalam sebuah permainan sakit dimana Betty dipaksa untuk terlibat di dalamnya. Pembunuhan atas kekasihnya bukanlah pembunuhan pertama yang akan Betty terpaksa saksikan. Sang pembunuh akan terus membunuh orang-orang di sekitar Betty satu persatu. Apa hubungan antara Betty dengan sang pembunuh? Dan dapatkah inspektur polisi Alan Santini mengungkap kasus ini sebelum sang pembunuh menyerang lagi?

Seperti sudah saya utarakan sebelumnya, kekuatan Dario Argento tidak terletak pada cara ia membuat cerita, apalagi menerapkan logika dalam sebuah plot. Ia juga bukan seorang penulis yang peduli dengan pendalaman karakter dan kesempurnaan penulisan. Bukan hanya Dario Argento saja, tetapi hampir semua film giallo yang pernah saya tonton selalu dipenuhi dengan kejanggalan plot yang seringkali tidak logis. Tapi, sama seperti mentor sekaligus pendahulunya, Mario Bava, Dario Argento adalah seorang penata visual yang sangat baik, visioner dan luar biasa kreatif. Jadi walaupun Opera memiliki banyak sekali kekurangan dalam hal plot dan cerita, tapi film ini luar biasa dalam hal teknis dan visual. Film Opera dipenuhi dengan komposisi visual yang indah, set yang luar biasa menawan dan tidak main-main, serta banyak sekali darah. Bintang sesungguhnya dari Opera adalah adegan-adegan pembunuhan yang diatur dan disorot dengan sangat baik. Adegan pembunuhan Stefano saja sudah cukup menjadi alasan mengapa film Opera begitu ikonik bagi komunitas horror. Adegan tersebut adalah salah satu adegan penting dalam sejarah sinema horor. Tapi adegan kematian lain dalam film ini juga layaknya sebuah karya seni. Bukan itu saja yang membuat Opera begitu indah untuk ditonton. Argento juga banyak mengeksplorasi sudut-sudut yang tidak biasa. Ia menggunakan pergerakan kamera yang sangat kreatif dan menegangkan. Contohnya ada dalam salah satu bagian pengungkapan, saat kita dibawa terbang bersama ratusan burung-burung gagak sambil terus menerka-nerka identitas sang pembunuh. Cara pengambilan gambar dengan sudut pandang POV ala Argento memang sangat mengesankan. Kita bisa melihat semuanya dari sudut pandang yang berbeda-beda, dari mulai sang pembunuh, Betty, hingga burung gagak. Hal lain yang paling saya suka dari Opera (dan film-film Argento lainnya) adalah bagaimana ia seringkali meng-close up mata para aktornya untuk menangkap ekspresi penuh terror, horror dan ketakutan karakternya. Saya tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata tentang betapa indahnya adegan-adegan close up ini.

Selain Suspiria dan Deep Red, Opera jelas adalah bagian dari kecemerlangan sinematik Dario Argento. Apa yang kebanyakan orang awam ingat dari Dario Argento adalah penggunaan pencahayaan dengan warna-warna mencolok, seperti dalam Suspiria. Tapi itu bukanlah ciri khas utama dari Argento saja. Mungkin adalah Mario Bava yang pertama memperkenalkan penggunaan warna-warna indah dalam tradisi film giallo. Tapi film Opera tidak menggunakan terlalu banyak warna seperti itu, kecuali dalam beberapa adegan tertentu saja. Contohnya adalah adegan di dapur dan apartemen Betty di mana Argento mengisi layar dengan warna hijau, merah dan biru yang indah. Sisanya, sebagian besar film ini menggunakan tone warna yang biasa saja. Memang, ada beberapa hal yang cukup mengganjal bagi saya dari film ini. Pertama, ya tentu saja soal logika, khususnya reaksi Betty setelah ia melihat langsung kekasihnya dibunuh dengan brutal di depan matanya sendiri. Ia pergi begitu saja seakan tidak terjadi apa-apa bahkan hingga beberapa hari setelahnya. Kedua, ending film yang terasa agak anti-klimaks, yang saya rasa film ini bisa disudahi lebih awal. Tapi di luar dua hal tersebut, saya sangat sangat menikmati film ini sebagai sebuah pengalaman sinematik yang indah. Untuk ukuran film giallo Italia, Opera adalah film yang luar biasa.

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com