MOVIE REVIEW: MARSMALLOW (2025)

MARSHMALLOW
Sutradara: Daniel DelPurgatorio
USA (2025)

Review oleh Tremor

Pada tahun 2012, sebuah film body horror pendek berjudul Other (2012) karya sutradara muda bernama Daniel DelPurgatorio sempat menjadi bahan perbincangan para penonton di berbagai festival horor dari mulai ScreamFest hingga Fantastic Fest. Baru tiga belas tahun kemudian, Daniel akhirnya merilis debut film panjangnya. Marshmallow adalah sebuah film horror independen, debut penyutradaraan dari Daniel DelPurgatorio berdasarkan naskah yang ditulis oleh Andy Greskoviak. Film ini dibuka dengan kisah yang cukup familiar dalam genre horor, mengeksplorasi tema yang umumnya identik dengan film slasher. Namun, rupanya Marshmallow menyimpan kejutan tak terduga yang cukup orisinil di dalamnya. Apa yang dimulai sebagai film summer camp slasher ala Friday the 13th (1980), The Burning (1982), maupun Sleepaway Camp (1983) dengan cepat berkembang menjadi sesuatu yang tak terduga dan berbeda. Karena Marshmallow merupakan film yang wajib ditonton secara buta agar kejutannya bisa bekerja sepenuhnya, maka saya sangat menyarankan untuk menonton film ini tanpa mengetahui apapun sebelumnya.

Marshmallow berfokus pada seorang anak laki-laki pendiam bernama Morgan yang baru pindah bersama keluarganya ke lingkungan baru. Dalam kesehariannya, ia cukup sulit untuk bisa berteman. Ini diperburuk dengan pengucilan dan perundungan yang ia terima dari anak-anak sebayanya. Suatu hari, orang tua Morgan berencana untuk mengirimnya ke perkemahan musim panas tepi danau bernama Camp Almar, mungkin dengan harapan agar Morgan bisa bersenang-senang dan mendapat teman baru lewat berbagai aktivitas di sana. Morgan sebenarnya tidak terlalu suka dengan ide tersebut, tapi ia tidak punya pilihan lain. Sesampainya di sana, semuanya terasa canggung dan menakutkan seperti yang sebelumnya sudah Morgan bayangkan. Ia bahkan mendapat perundungan dari teman-teman sekamarnya. Yang paling buruk adalah ketika Morgan diejek oleh banyak anak setelah menolak ikut bermain air, karena ia memiliki trauma yang berkaitan dengan aktivitas berenang. Meskipun begitu, Morgan setidaknya tetap mendapat beberapa teman baru di sana, para anak korban bully lain yang dengan cepat menjadi akrab dengannya. Pada sebuah sesi api unggun di malam hari, salah satu konselor Camp Almar menceritakan kisah horor. Tentu ini adalah tradisi yang wajib ada dalam setiap sesi api unggun. Kisah ini bercerita tentang seorang dokter bedah gila yang pernah membangun laboratorium rahasia di bawah tanah yang kini telah menjadi Camp Almar, di mana ia permaj melakukan hal-hal mengerikan di dalamnya. Menurut rumor yang beredar, para peserta camp yang menolak tidur atau bahkan berada di luar kabin setelah semua lampu camp dimatikan, bisa saja bertemu dengan sosok sang Dokter yang kabarnya masih berkeliaran di dalam hutan untuk mencari korban baru. Tentu ini adalah cerita untuk menakut-nakuti agar para peserta camp yang bandel mau patuh pada ketentuan jam malam camp. Pada suatu malam, Morgan terbangun dari mimpi buruk seperti biasanya. Dari jendela kabinnya, ia melihat sesosok bayangan berkeliaran di tengah hutan. Dengan cepat semua menjadi jelas bahwa ada sesuatu yang benar-benar tidak beres di Camp Almar. Mungkinkah semuanya terhubung dengan cerita horor api unggun yang diceritakan oleh para konselor?

Lewat pemasarannya, Marshmallow bisa saja disalahpahami sebagai sebuah film slasher tradisional berlatar summer camp. Film ini memang mengambil waktu yang cukup untuk bermain-main dengan elemen-elemen klise ala summer camp horror sebelum beralih genre menjadi sesuatu yang sangat berbeda. Bagian pertama film ini mungkin adalah bentuk penghormatan pada film-film slasher 80-an, termasuk dalam hal stereotip para konselor perkemahannya, kelompok anak bully, hingga sosok bertopeng yang mengawasi dari balik gelapnya malam. Namun twist film ini benar-benar mengubah segalanya. Dalam bagian pertama film ini, para penonton bisa saja berpikir telah memahami arah kisahnya. Tapi siapapun yang mengklaim bisa menebak twist-nya sejak awal meskipun menonton film ini secara buta, bagi saya adalah seorang pembual. Sebenarnya twist dalam film ini bukanlah sesuatu yang spektakular ataupun mindblowing. Namun saya sangat suka dengan twistnya yang tidak biasa dan membuat semuanya menjadi cukup masuk akal. Marshmallow jelas merupakan contoh yang bagus tentang perpaduan genre yang sangat efektif dan kreatif. Film ini juga bisa menjadi contoh yang tepat tentang bagaimana cara memodernisasi genre summer camp horor tradisional yang sudah terlalu umum, dengan sentuhan perpaduan genre modern yang menyegarkan, tanpa terasa menyimpang terlalu jauh.

Di sisi lain, adanya plot twist yang cukup bagus dan tidak terduga secara tak terhindarkan tentu menimbulkan beberapa plot hole dalam film ini. Namun saya bisa mengacuhkannya karena secara keseluruhan premis film ini cukup solid dan orisinil. Apalagi di jaman sekarang sudah cukup sulit untuk mencari film horor dengan ide kreatif yang terasa menyegarkan seperti ini. Pujian terbesar untuk Marshmallow mungkin layak diberikan kepada penulis Andy Greskoviak karena telah memberi kita cerita yang tidak terduga dan benar-benar mengubah semua yang kita pikir kita pahami tentang plotnya sejak awal. Selain itu, aktingnya juga cukup bagus. Mengingat selalu akan ada resiko ketika mayoritas cast sebuah film horor diperankan oleh anak kecil, saya pikir semua pemeran cilik dalam Marshmallow melakukan pekerjaan mereka dengan cukup baik. Secara keseluruhan, menonton Marshmallow adalah pengalaman yang menyenangkan dan cukup menghibur. Sebagai sebuah debut independen, Marshmallow tentu tidak sempurna. Tapi premis film ini cukup cerdas dan menyegarkan. Tapi mungkin film ini bisa saja membuat mereka yang berharap akan adanya adegan-adegan berdarah kecewa, kalau mereka benar-benar berpikir bahwa Marshmallow merupakan film summer camp slasher tradisional.