MOVIE REVIEW: THE EVIL WITHIN (2017)

THE EVIL WITHIN
Sutradara: Andrew Getty
USA (2017)

Review oleh Tremor

The Evil Within adalah sebuah film horor psikologis independen yang sangat aneh, disutradarai sekaligus ditulis oleh Andrew Getty yang tidak memiliki latar belakang perfilman sama sekali. Andrew Getty sendiri merupakan cucu dari seorang konglomerat minyak bernama J. Paul Getty, pemilik Getty Oil Company. Sebagai seorang pewaris perusahaan minyak dengan harta berlimpah, Andrew yang sejak lama memang ingin menjadi seorang pembuat film memiliki sumber daya yang cukup untuk membiayai impiannya tersebut. Produksi The Evil Within sendiri sebenarnya sudah dimulai sejak 2002, dengan judul “The Storyteller”. Namun ada banyak masalah di tengah perjalanannya, dari mulai pendanaan yang tersendat-sendat, hingga konflik dengan para pemeran serta asisten studio. Dengan banyaknya rintangan tersebut, seluruh pengambilan gambar The Evil Within akhirnya baru bisa selesai pada tahun 2008. Getty yang sangat terobsesi dengan kesempurnaan visinya kemudian menghabiskan bertahun-tahun berikutnya untuk menyunting The Evil Within. Sayang nasib berkata lain. Sebelum berhasil menyelesaikan film debutnya, Andrew Getty meninggal dunia pada tahun 2015 karena pendarahan tukak lambung akibat kecanduan yang cukup parah pada metamfetamin semasa hidupnya. Seorang produser film bernama Michael Luceri yang banyak membantu Andrew menyunting film ini, akhirnya menyelesaikan The Evil Within hingga baru bisa dirilis pada tahun 2017, 15 tahun sejak produksinya dimulai. Perlu dicatat bahwa film ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan survival horror video game dengan judul yang sama, yang tentu jauh lebih dikenal dibandingkan film ini.

Kisah yang aneh ini berfokus pada Dennis, seorang pria dewasa yang memiliki keterbatasan mental. Ia diasuh oleh kakaknya, John, yang merasa sangat bertanggung jawab atas Dennis. Sejak kecil, tidur Dennis sering dihantui mimpi buruk yang gelap dan mengerikan. Tak hanya mimpi buruk, Dennis juga sering dikunjungi oleh sesosok iblis berwujud manusia menyeramkan dengan kulit kelabu. Suatu hari, John membawa pulang sebuah cermin antik untuk Dennis, cermin yang pernah ia lihat dalam salah satu mimpi buruknya. Awalnya Dennis sangat membenci cermin tersebut. Namun secara perlahan bayangan Dennis di dalam cermin mulai berkomunikasi dan bersahabat dengan Dennis yang kesepian. Ikatan persahabatan ini semakin tidak sehat ketika bayangan Dennis mulai memanipulasinya untuk melakukan hal-hal keji, dengan iming-iming bisa terbebas dari keterbatasan mental dan menjalani kehidupan yang normal.

The Evil Within bisa saja ditafsirkan lewat beberapa kacamata sub-genre. Sebagai sebuah karya thriller psikologis, film ini bisa dianggap menggambarkan proses kejatuhan seseorang menuju kegilaan psikopatiknya. Namun, kalau kita menganggap iblis abu-abu yang meneror Dennis adalah entitas supranatural yang nyata, maka The Evil Within bisa menjadi film horor supranatural. Saya pribadi sangat suka dengan sequence mimpi buruk pada pembuka film ini yang terasa sangat sureal namun membawa ide dasar yang cukup menyeramkan, yang kemudian menjadi landasan utama dari keseluruhan film The Evil Within. Ini adalah mimpi yang pernah dialami Dennis saat ia masih kecil, di mana untuk pertama kalinya Dennis diteror oleh mimpi buruk. Dalam mimpi tersebut, Dennis kecil dan ibunya masuk ke dalam wahana rumah hantu yang menjanjikan jenis kengerian yang belum pernah ada sebelumnya. Namun ternyata isi wahana itu sama sekali kosong. Setelah keluar dari wahana tanpa mengalami apapun, Dennis kecil merasa sangat kecewa dan meyakinkan ibunya untuk meminta uang mereka kembali atas penipuan ini. Saat itulah sang ibu bertanya pada Dennis, “What makes you think the ride is over?”, tentu dengan wajah yang berubah menyeramkan. Opening yang kuat seperti ini cukup menjanjikan bagi saya, membuat saya sedikit berharap kalau mungkin saja film ini akan mengambil jalan kisah seperti Hellraiser dan semacamnya, dimana neraka atau mimpi buruk melanggar batasan-batasan realita. Rupanya, sebagian dari harapan saya cukup terpenuhi. Mimpi buruk rupanya benar-benar melanggar batas realita dalam dunia Dennis, di mana semakin jauh durasi film ini berjalan, plotnya semakin tidak logis dan aneh. Andrew Getty seakan membawa penonton “berpindah dunia” dengan cukup halus, terutama dalam babak ketiganya. Apa yang membuat The Evil Within menarik adalah karena penonton tidak bisa benar-benar memastikan apakah sebuah adegan itu adalah mimpi atau realita, kalau memang ada realita sejak film ini dimulai. Bukan hanya sequence mimpi buruk di pembuka film saja, pada akhirnya saya juga sangat suka dengan sequence terakhir film ini di mana suasananya benar-benar seperti sebuah mimpi buruk yang intens.

The Evil Within adalah film yang sangat aneh, yang saya pikir sangat masuk akal kalau dibuat oleh seseorang yang kreatif namun dalam keadaan mabuk narkoba. Bisa jadi kecanduan Andrew Getty pada meth sangat berpengaruh dalam penulisan dan pengarahan film ini, terutama dalam sequence terakhirnya. Namun, sebagian besar kisah The Evil Within rupanya terinspirasi dari mimpi-mimpi buruk yang pernah dialami oleh Andrew Getty sendiri saat ia masih kecil. Karena mimpi-mimpi buruk Getty kecil seringkali sangat gelap dan menyeramkan, akhirnya ia mendapat ide bahwa mungkin mimpi-mimpi yang ia alami dijalin oleh sesosok pencerita, entitas pencipta mimpi di luar dirinya sendiri. Itulah mengapa judul The Storyteller menjadi pilihan judul pertamanya. Selain terinspirasi dari mimpi-mimpi buruknya sendiri, kisah tentang Dennis juga terinspirasi oleh sosok pembunuh berantai Amerika bernama David Berkowitz / Son of Sam, yang mengaku menerima perintah untuk membunuh dari iblis yang datang ke dalam kehidupannya lewat wujud seekor anjing.

The Evil Within bukanlah film yang bagus, tetapi juga bukan film yang buruk. Beberapa kekurangan terbesar film ini diantaranya adalah plotnya yang agak bertele-tele, dengan terlalu banyak plot hole yang tidak bisa ditutupi oleh pembenaran “ini adalah bagian dari mimpi”. Belum lagi kebanyakan karakternya tidak memiliki kedalaman sama sekali. Kita bahkan tidak tahu apa pekerjaan John. Meskipun ia tidak memiliki uang untuk mengirim Dennis ke rumah sakit elit seperti yang ia inginkan, tapi ia memiliki mobil mewah, bisa sering makan malam mewah dengan pacarnya, dan sepertinya tidak pernah pergi bekerja. Tapi mungkin saja ia hanyalah karakter figuran dalam sebuah mimpi ganjil. Selain itu, para karakternya pun diperankan dengan buruk, atau mungkin juga penulisannya lah yang buruk. Lalu, saya pribadi juga kurang begitu suka pada ide seseorang dengan disabilitas digambarkan sebagai seorang monster seperti ini. Namun di luar semua kekurangannya, ada banyak hal yang bisa saya apresiasi dari The Evil Within, dan saya tidak merasa telah membuang-buang waktu saya dengan menontonnya. Karakter Dennis diperankan dengan cukup baik oleh aktor Frederick Koehler, dan mungkin satu-satunya karakter yang benar-benar digali dalam film ini hanyalah Dennis. Selain itu, ada satu adegan pembunuhan yang cukup memorable, yaitu adegan yang menggunakan bor. Saya bisa memaklumi semua kekurangan film ini karena bagaimanapun penulis sekaligus sutradara Andrew Getty adalah seorang amatiran yang memiliki nyali dan passion untuk menuliskan kisah yang penuh potensi ini. Menurut saya upaya pertama (dan terakhir)nya ini cukup menunjukkan bahwa Getty bukanlah sekedar milyarder yang bisa membiayai impiannya, tetapi ia memang memiliki kemampuan artistik yang alami. Lihat saja bagaimana ia memvisualisasikan mimpi buruk dengan atmosfer yang benar-benar terasa seperti sebuah mimpi yang mengganggu, lengkap dengan banyak visual menyeramkannya di sepanjang film. Seandainya saja Getty masih hidup, mungkin ia akan belajar lebih banyak lagi dari semua kelemahan The Evil Within, terutama dalam hal penulisan. Bagi saya, The Evil Within adalah salah satu film yang layak untuk dibuat remake-nya, dengan penulisan yang lebih baik, serta berfokus pada lebih banyak kejadian-kejadian ganjil bernuansa mimpi buruknya. Meskipun The Evil Within bukan film yang hebat, tetapi film ini tetap meninggalkan kesan kuat bagi saya.