MOVIE REVIEW: HAGAZUSSA: A HEATHEN’S CURSE (2017)

HAGAZUSSA: A HEATHEN’S CURSE
Sutradara: Lukas Feigelfeld

Jerman / Austria (2017)

Review oleh Tremor

Pernahkah kalian membayangkan diri kalian menjadi seorang mahasiswa perfilman, membuat film tugas akhir demi kelulusan, kemudian film tersebut menarik perhatian seluruh komunitas festival horror dan akhirnya didistribusikan secara internasional oleh Bloody Disgusting? Itulah Hagazussa: A Heathen’s Curse, sebuah film folk horror atmosferik yang sebenarnya adalah film tugas akhir seorang mahasiswa perfilman bernama Lukas Feigelfeld. Kampus tempat Feigefeld kuliah, Deutsche Film-und Fernsehakademie Berlin Film school, ikut membantu menjadi produser film ini, dan saya rasa pihak kampus boleh berbangga hati dengan hasil akhirnya. Pendanaan untuk produksi Hagazussa juga ia dapatkan lewat donasi-donasi crowdfunding. Seperti layaknya sebuah film independen, Hagazussa kemudian ditayangkan dalam festival-festival film internasional, hingga dianugerahi Best Picture dalam kategori “Next Wave” di Fantastic Fest 2017. Untuk ukuran “proyek sekolah” dan ukuran film independen, produksi film ini memang luar biasa bagus. Terlampau bagus malah. Saat pertama kali menontonnya, saya sama sekali tidak menyangka kalau film ini adalah tugas akhir kuliah. Tak heran kalau Bloody Disgusting (sebuah website Amerika khusus horror yang paling populer) bekerja sama dengan sebuah label art-house, Doppelgänger Releasing, langsung mendistribusikannya secara internasional.

Kata Hagazussa sendiri adalah kiasan Jerman kuno / gothic yang artinya adalah “penyihir.” Film ini dibagi ke dalam empat segmen yang memiliki mood berbeda-beda. Dalam segmen pertama yang diberi judul “Shadow”, kita diperkenalkan dengan seorang gadis cilik bernama Albrun yang hidup berdua saja dengan ibunya di pegunungan Alpen Austria pada abad ke-15. Dalam segmen ini kita mengetahui bahwa mereka hidup terasing dari kampung terdekat, dan penduduk setempat menuduh ibu Albrun sebagai penyihir. Albrun kecil yang malang harus merawat ibunya yang sakit dan semakin melemah setiap harinya hingga pada akhirnya meninggal dunia, meninggalkan Albrun seorang diri. Sepertinya penyakit ibunya berhubungan dengan wabah tertentu di eropa pada abad ke-15. Soal wabah adalah hal yang penting untuk dicatat, dan saya akan menjelaskannya nanti. Segmen ini adalah segmen yang tepat untuk memulai sebuah film horor atmosferik. Semuanya gelap, salju dimana-mana, dan sangat terasa suasana isolasi-nya.

Kemudian kita memasuki segmen kedua yang diberi judul “Horn”, yang merupakan segmen paling cerah yang bisa kita lihat di sepanjang film, tetapi berakhir dengan tragis bagi karakter utama film ini. Pegunungan Alpen sedang dalam musim panas. Tidak ada lagi salju terlihat melainkan warna hijau pepohonan dan langit yang biru. Kini Albrun sudah dewasa dan bekerja sebagai penggembala sekaligus pemerah susu kambing, 15 tahun setelah segmen pertama berakhir. Ia tidak hidup sebatang kara lagi karena kini Albrun sudah menjadi seorang ibu. Anak perempuannya masih bayi, dan tidak jelas siapa ayahnya. Kehidupannya yang sekarang tak begitu jauh berbeda dengan masa kecilnya. Ia masih hidup terasing, masih dijauhi oleh para tetangganya, dan sama seperti ibunya, ia juga dituduh sebagai penyihir. Saat sedang di-bully oleh anak-anak desa di tengah hutan, seorang perempuan setempat yang bernama Swinda mendekati Albrun, melindunginya, dan menawarkan pertemanan. Aktris yang memerankan Albrun bekerja dengan sangat baik. Kita bisa melihat bagaimana canggungnya ia saat seseorang menawarkan pertemanan, seakan-akan belum pernah ada yang melakukan hal tersebut seumur hidupnya. Sseiring berjalannya waktu, kita pun akan sama-sama berfirasat bahwa tawaran pertemanan ini pantas untuk dicurigai. Suatu hari, Swinda datang membawa pesan kepada Albrun. Pendeta setempat ingin berjumpa dengan Albrun, katanya. Setelah berceramah pada Albrun, sang pendeta memberinya tengkorak manusia yang tak lain adalah tengkorak ibu Albrun. Tak lama setelah itu, sebuah insiden yang tak mengenakkan menimpa Albrun, dengan Swinda sebagai dalangnya. Jelas sudah kalau Swinda adalah orang yang tak bisa dipercaya. Insiden ini membangkitkan amarah Albrun, memprovokasinya menjadi jahat seperti yang diyakini oleh para penduduk desa. Terbakar dendam, ia mulai meracuni sumber air desa dengan bangkai tikus dan kotoran. Ia juga mulai berkomat-kamit di depan tengkorak ibunya yang ia letakkan pada semacam altar di pojok rumahnya.

Akhirnya kita memasuki dua segmen terakhir yang kembali ke mood suram: “Blood” dan “Fire”. Pada segmen Blood, Albrun melihat semakin banyak warga desa meninggal terserang wabah mematikan. Ia tampak menikmatinya. Albrun berjalan ke dalam hutan dan menelan jamur psychedelic yang ia temui di sana. Setelah melihat kakinya dipenuhi belatung, ia berjalan memasuki sebuah rawa keruh, dan kita tahu bagaimana jamur ini bekerja. Tapi di titik ini kita menjadi tidak yakin lagi tentang mana yang benar terjadi dan mana yang merupakan delusi di sepanjang film, mungkin sejak awal. Dan bisa saja ini bukan pertama kalinya Albrun menyantap jamur-jamur liat itu. Lalu tibalah kita pada segmen “Fire” dimana kita bisa melihat akhir dari kisah Albrun.

Pada dasarnya, plot film film Hagazussa sangatlah sederhana. Bahkan bisa dibilang tidak ada plot sama sekali. Setelah membaca salah satu wawancara dengan sang sutradara, Lukas Feigelfeld, ia menjelaskan bahwa Hagazussa adalah sebuah film yang memang berfokus pada pembedahan kejiwaan karakter Albrun sebagai tipikal perempuan yang termarjinalkan di abad ke-15, dimana karakter Albrun kemudian jatuh dalam keputusasaan dan kegilaan. Dan memang benar, Albrun sudah mengalami pelecehan, pengucilan serta permusuhan sejak kecil. Ia memiliki banyak trauma, menjadikannya sebagai “orang aneh” yang akan dengan mudah dicap sebagai penyihir oleh masyarakat yang judgemental. Kita tidak pernah diperlihatkan secara gamblang kalau Albrun adalah benar-benar seorang penyihir, dan bisa jadi itu hanya ada dalam persepsi kita dan penduduk desa saja. Disinilah pentingnya konteks jaman yang perlu dipahami oleh penonton, karena Lukas Feigelfeld melakukan risetnya dengan sangat serius dan sangat baik dalam hal ini. Eropa pada era ini adalah era dimana penduduknya masih sangat percaya takhyul dan cerita rakyat. Di era ini pula doktrin agama Kristen mulai menyebarkan ke seluruh pelosok eropa, termasuk ke desa-desa terbelakang. Seperti umumnya sebuah agama baru yang kemudian menjadi kepercayaan mayoritas, hal ini menimbulkan stigma buruk bagi mereka yang menolak memeluk ajaran mayoritas, yang dalam film ini disebut sebagai “heathen”, atau dalam bahasa yang mudah kita pahami artinya adalah kafir. Heaten adalah mereka yang dianggap “tersesat” dalam jalan gelap, tidak menerima agama baru (dalam konteks ini: kristen), dan pilihan hidupnya tersebut dipercaya bisa membawa kesengsaraan bagi seluruh desa. Dosa satu orang ditanggung bersama. Rumor penduduk desa bahwa Albrun adalah keturunan penyihir adalah takhyul umum pada masa itu, ditambah lagi dengan fakta bahwa Albrun memiliki anak bayi tanpa adanya sosok ayah yang dianggap sebagai sebuah dosa besar dalam kepercayaan kristen, menempatkan Albrun pada posisi yang tak menguntungkan. Seseorang tidak perlu benar-benar mempraktekan ilmu hitam untuk dituduh sebagai penyihir. Kebetulan sekali saya memiliki sebuah buku yang memaparkan sejarah mengenai histeria massa di jaman itu (dan jaman film The Witch), dimana terjadi sebuah trend perburuan besar-besaran atas mereka yang dituduh sebagai penyihir di eropa, dan semua image buruk tentang penyihir adalah hasil dari paranioa massal, ketakutan atas sesuatu yang tidak disetujui secara kolektif. Para peramu jamu, obat-obatan herbal, atau bahkan nenek-nenek penyendiri yang tidak disukai masyarakat, bisa menjadi korban perburuan ini. Umumnya, korban dari “witch hunt” adalah para perempuan penyendiri, yang tidak memiliki derajat dan posisi yang baik dalam masyarakat, seperti Albrun. Menuduh seseorang sebagai penyihir hal yang lumrah dan mudah dilakukan bagi masyarakat eropa pada jaman itu, dan biasanya itu adalah tuduhan palsu, sama seperti saat masyarakat kita menuduh seseorang yang mencurigakan sebagai dukun santet. Fakta lainnya adalah, tepat di era yang sama, Eropa sedang dihantui oleh wabah penyakit-penyakit baru. Paranoia ini sudah dimulai sejak terjadinya Black Death di abad 13-an, dan terus bergulir selama masyarakat lebih percaya pada tahayul daripada ilmu pengetahuan.

Mengetahui fakta-fakta sejarah ini menjadikan film Hagazussa semakin menarik. Fakta bahwa “penyihir” adalah tuduhan umum yang disematkan pada orang yang tidak disukai masyarakat yang sedang “gila agama”, ditambah dengan jaman dimana wabah penyakit menghantui masyarakat eropa, membuat saya sadar ke mana arah film ini sebenarnya. Albrun boleh saja menaruh bangkai tikus di sumber mata air penduduk desa, dan ia bisa saja komat-kamit di depan tengkorak ibunya, tetapi itu tidak lantas menjadikannya sebagai seorang penyihir. Albrun melakukan semua itu atas dasar amarah dan keputusasaan, dan ingat bahwa Albrun tidak pernah mempelajari ilmu hitam. Para penduduk desa yang kemudian meninggal satu persatu jelas adalah korban wabah penyakit tertentu, dan besar kemungkinannya bahwa itu masih wabah yang sama dengan yang merenggut nyawa ibunya. Jadi, kita tidak pernah benar-benar tahu apakah Albrun memang seorang penyihir, atau kita lah yang ikut terperdaya oleh narasi film ini. Apa yang jelas kita saksikan dalam Hagazussa adalah kehidupan seorang perempuan korban dari paranoia masyarakat dan doktrin agama mayoritas, seseorang yang terkucilkan dan dikonstruksi oleh masyarakat sedemikian rupa hingga mentalnya rusak. Pada akhirnya, tidak ada hal supranatural sama sekali dalam kisah Albrun yang tragis ini.

Secara visual, film Hagazussa sangat luar biasa indah, terutama saat menggambarkan latar hutan dan pegunungan Alpen Austria yang sangat terasa keagungan, keterasingan dan kekuatannya. Pantas saja, karena sebelum Lukas Feigelfeld kuliah di jurusan film, rupanya ia adalah seorang fotografer. Keputusan-keputusan artistiknya ini adalah salah satu elemen yang sangat kuat menyumbangkan atmosfer dalam Hagazussa, ditambah lagi dengan desain sound dan soundtrack film ini yang dipenuhi dengan musik-musik ambient yang sangat gelap. Jadi, menonton Hagazussa adalah soal pengalaman dan perasaan. Mereka yang mengharapkan kengerian-kengerian terang-terangan, jump-scare, usus terburai atau image penyihir seram yang terbang dengan sapu sudah pasti akan kecewa kalau menonton Hagazussa. Apalagi kalau kalian bukan penyuka film slow-burn dan atmosferik, karena alur Hagazussa ini luar biasa lambatnya. Tapi justru kelambatan itulah (ditambah dengan visual dan desain sound) yang membuat film ini menjadi sangat suram yang menghipnotis.

Tidak diragukan lagi, dan tidak bisa dihindari, penonton akan memperbandingkan Hagazussa dengan film The Witch (2015) karya Robert Eggers, karena The Witch memiliki premis yang mirip, hanya saja setting-nya bertempat di koloni New England abad ke-17. Keduanya adalah film beralur lambat dan sama-sama memfokuskan diri pada atmosfer serta mood lewat visual dan sound, dan merupakan cerita rakyat yang difilmkan. Tagline film The Witch adalah “A New-England Folktale”, sementara Hagazussa adalah “A Gothic Folk Tale”. Saya pikir dengan tagline yang terang-terangan seperti ini, Hagazussa menjadi sebuah respon dari sang sutradara atas film The Witch. Kalau Robert Eggers memvisualkan cerita rakyat seputar penyihir yang beredar di daratan koloni New England, maka Lukas Heigelfeld memvisualkan cerita rakyat yang memang sudah sejak lama beredar di daratan Jerman/Austria, karena kedua tempat tersebut memang sama-sama memiliki cerita rakyatnya sendiri tentang sosok penyihir yang hidup menyendiri di dalam hutan. Saya jadi penasaran apakah suatu hari akan ada sutradara dari daratan lain yang juga tertantang untuk memvisualkan cerita rakyat versi negaranya sendiri? Jadi jangan salah, Hagazussa sama sekali bukan ripoff dari film The Witch, karena memang sama sekali berbeda kecuali dalam hal tema.

Lukas Heigelfeld menghabiskan banyak waktu dan effort untuk menyusun konsep film ini dengan sangat jenius, dengan produksi yang indah, diisi dengan art directing yang layak untuk mendapatkan Oscar, serta scoring ambient gelap yang mampu merayap ke dalam benak para penonton, merayap dengan sangat dalam. Ditambah lagi dengan sangat minimnya dialog dalam Hagazussa, mengharuskan penonton untuk berserah pada kekuatan persepsi-nya masing-masing dalam mengikuti dan memahami narasi kisah Albrun yang digambarkan hanya lewat visual dan suara.Sebelum menonton Hagazussa, saya sama sekali tidak mengetahui kalau film ini adalah karya tugas akhir seorang mahasiswa film. Saat sedang mengumpulkan data-data teknis Hagazussa untuk menulis review ini lah saya baru mengetahuinya, dan itu membuat saya semakin tercengang. Pantas saja film ini sangat artistik dan puitis, seakan pembuatnya tidak mempedulikan pendapat penontonnya karena yang sedang ia lakukan adalah menyalurkan idealismenya sambil mempraktekkan semua yang pernah ia pelajari dalam kuliahnya. Ia tidak perlu berkompromi dengan pasar, dan juga tidak dibebani oleh ekspektasi penonton selain para dosen pengujinya. Saya pribadi melihat adanya potensi luar biasa dari Lukas Heigelfeld. Kalau film tugas akhirnya saja bisa sebagus ini, maka bisa jadi film-film profesionalnya di masa mendatang akan menjadi masterpiece, dan saya menjadi semakin tidak sabar untuk melihat karya-karya Heigelfeld berikutnya.

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com