ALBUM REVIEW: DEVIN TOWNSEND – EMPATH

DEVIN TOWNSEND ‘EMPATH’
InsideOut Music. March 29th, 2019
Progressive metal/Avant-garde metal

Tidak terasa tahun di tahun 2019 ini, sang maestro Devin Townsend telah merilis album solo ke-18 nya, dengan tajuk “Empath”. Selama lebih dari 20 tahun berkarya dengan berbagai macam gimmick dan juga grup musik extreme metal elektik STRAPPING YOUNG LAD (SYL), Devin Townsend selalu menghadirkan karya-karya berkualitas yang tak pernah terkekang batas-batas genre tertentu, tengok saja diskografi-nya, memang mayoritas masih punya sangkut paut dengan musik heavy metal, tapi ia tak pernah segan untuk mencapuradukan berbagai macam elemen di luar musik cadas, entah itu new age, hard rock, ambient, pop, gospel, jazz, progressive rock dan lain sebagainya. Jadi sudah bukan petanyaan lagi setiap pengumuman album terbaru, pasti para penggilanya sudah pasang telinga, menunggu kejutan apa lagi yang bakal digelontorkan, apalagi album ini merupakan album pertama beliau setelah pembubaran DEVIN TOWNSEND PROJECT (DTP), yang semestinya hanya merupakan proyek empat album, namun, namun akhirnya molor dan merilis tiga album tambahan.
Sebagai album pertama menggunakan moniker solo tanpa musisi inti semenjak “Ziltoid the Omniscient” di tahun 2007 silam, “Empath” sendiri merupakan album yang banyak meminjam jasa Session musician, mengambil inspirasi dari STEELY DAN, Devin kali ini memberikan mandat kepada tiga orang penabuh drum sekaligus, ketiganya adalah Anup Sastry (INTERVALS, SKYHARBOR), Morgan Ågren, dan blastbeat connoisseur sekaligus youtuber 66Samus aka Samus Paulicelli (DERCEPIT BIRTH), yang mengisi part yang cocok dengan karakter permainan masing-masing drummer, selain itu turut
pula diundang beberapa musisi tamu, seperti kolaborator utama DTP, Anneke Van Giersrbergen, Mike Keneally (yang juga terlibat sebagai co-producer), Nathan Navarro, hingga Steve Vai, sebagai orang paling berjasa memperkenalkan brand Devin Townsend pada khalayak umum di album ‘Sex & Religion’, yang turut mengisi bagian babak terakhir ‘Singularity’. Secara musikal ‘Empath’ merupakan sebuah kumpulan momen paling brilian dari katalog ekspansif sang virtuoso, mulai dari instensitas dan kegilaan extreme metal dari materi SYL, sensibilitas pop rock dari ‘Accelerated Evoluton’, sampai nuansa ambient yang ada di ‘Ghost’ dan ‘The Hummer’, semuanya di racik dalam sebuah karya paling ambisius yang ia pernah kerjakan hingga saat ini. Album ini dibuka dengan intro cukup nyantai petikan gitar Hawaiian steel guitar yang kemudian disambut paduan suara syahdu dari The Elektra Women’s choir, track pertama ‘Genesis’ tak perlu basa-basi untuk mempertunjukan style khas dari merek dagang Devin Townsend, dengan struktur lagu non-konvensional yang lasak dan selalu berpindah genre entah itu progressive metal, contemporary worship music, black metal, disco dan symphonic rock. Lagu berikutnya ‘Spirits Will Collide’ merupakan sebuah power ballad motivasional dengan vibe kental ‘Epicloud’, selanjutnya ‘Evermore’ punya nuansa megah lanjutan dari ‘Transcendence’, dengan choir yang eargasmic.

Bukan Devin Townsend namanya kalau tak ada umpan berkelok, lagu centrepiece ‘Hear Me’ merupakan lagu paling heavy-nya semenjak bubarnya SYL di tahun 2006, penuh dengan gebukan barbar dari hyperblast enthusiast 66samus, dan saya curiga bagian vokal death metal di isi oleh Chad Kroeger (NICKELBACK) meningat namanya tercantum jadi pengisi vokal di trek ini, di lagu berikutnya lagi-lagi Mr. Devin membuat geleng-geleng kepala, setelah dibantai dengan parade blastbeat, “Why?” justru merupakan sebuah lagu opera yang tak akan canggung bila masuk dalam kompilasi lagu musikal Disney, “Borderland” yang berkumandang setelahnya dibuka dengan riff gitar reggae yang kemudian lagi-lagi menampilkan kelihaian dalam mengkombinasikan berbagai macam genre tanpa terdengar rancu, tetap memorable dan mampu mengalir dengan natural. tapi tentunya pencapaian paling paripurna album ini terletak dalam lagu epic 22-menit ‘Singularity’ yang terbagi dalam 6 episode, yang susah dijelaskan dalam kata-kata dan sebaiknya didengarkan secara langsung, dan eittsss materi-materi dalam bonus disc juga jangan dikesampingkan lagu seperti ‘Gulang’, ‘King’, ‘Total Collapse’,
walaupun tak sekelas materi utama dan kualitas produksinya juga masih kurang perfect, masih dapat diperhitungkan dan jauh lebih baik dibandingkan album-album progressive metal nge-Djent generik yang belakangan membanjiri pasaran, dan band yang mengaku progressive tetapi tiap albumnya hanya stagnan disitu-situ melulu.
Sebagai sebuah kulminasi dan selebrasi Devin Townsend dengan segala moniker dan gmmick-nya selama seperempat abad lebih, ‘Empath’ merupakan album yang luar biasa, konsep ambisus yang dicanangkan, dapat di eksekusi dengan brilian, kualitas produksi-nya pun sempurna, yang konon dalam penggarapan album, Devin Townsend berani berjudi dengan merogoh kocek pribadi senilai $170000/ 2.5 Milliar Rupiah. Namun saya rasa album ini bisa sedikit menjadi divisive bagi para penggemar brand Devin Townsend sendiri, mengingat struktur album dan lagu yang bisa dibilang lebih chaotic dari biasanya, dan dibandingkan album-album seperti ‘Ocean Machine’, ‘Addicted’ dan ‘Terria’, memang album ini agak sedikit berat untuk dikonsumsi, saya sendiri pun menghabiskan pemutaran perdana untuk mencerna struktur dan flow lagu dan album secara kesuluruhan, baru diputaran kedua dan ketiga baru saya bisa ngena dengan melodi dan detail tiap-tiap trek, dan bagi yang mau benar-benar meluangkan waktu untuk menikmati dengan seksama dan tentunya mau open-minded, ‘Empath’ dalam durasi satu jam lebih akan membawa anda dalam dimensi lain dan membuat kuping dan pikiran anda kelojotan dengan cakupan komposisi yang ditawarkan. (Peanhead)
10 out of 10