
SAVAGELAND
Sutradara: Phil Guidry, Simon Herbert & David Whelan
USA (2015)
Review oleh Tremor
Savageland adalah sebuah film mockumentary independen dengan pendekatan yang cukup menarik dan terbilang tidak konvensional untuk genrenya. Kalau biasanya film semacam ini menggunakan elemen rekaman video yang ditemukan (found-footage) serta rekaman audio untuk membangun narasinya, Savageland memilih untuk menggunakan media lain, yaitu foto jurnalistik. Bagi saya, konsep found photography ini terasa sangat menyegarkan. Savageland ditulis dan disutradarai oleh tiga orang sekaligus yaitu Phil Guidry, Simon Herbert serta David Whelan, dan merupakan debut penyutradaraan sekaligus satu-satunya karya mereka sejauh ini. Dari antara mereka bertiga, hanya Phil Guidry yang sebelumnya memiliki pengalaman di bidang penulisan naskah yang kebanyakan untuk serial televisi. Sementara untuk Simon dan David, ini adalah pertama kalinya mereka menulis film. Sebagai sebuah debut, Savageland bisa dibilang cukup memuaskan. Bukan hanya premisnya yang unik serta gaya horornya yang berbeda, Phil Guidry dkk juga mencoba menyisipkan komentar sosial yang cukup mendalam tanpa terasa dipaksakan, dengan tema seputar xenophobia dan rasisme di Amerika.

Dokumenter fiktif ini berfokus pada sebuah peristiwa mengerikan yang terjadi di permukiman Sangre De Cristo (SDC) di wilayah perbatasan Arizona dengan Meksiko. SDC sendiri merupakan sebuah permukiman yang cukup kecil dengan populasi hanya 57 jiwa saja. Pada tanggal 2 Juni 2011, terjadi sebuah pembantaian misterius yang sangat mengerikan. Hanya dalam satu malam, 56 penduduk SDC, dari mulai dewasa hingga anak kecil, tewas mengenaskan. Sebagian jasad tercerai berai ditemukan berceceran di jalanan, halaman rumah, hingga bangunan sekolah, sementara jasad lainnya tidak pernah ditemukan. Satu-satunya penduduk yang selamat ditemukan dalam keadaan linglung, dengan tubuh penuh darah yang bukan miliknya. Ia adalah Francisco Salazar, seorang imigran ilegal asal Meksiko yang telah lama menetap di SDC. Dalam kesehariannya, Salazar bertahan hidup dengan cara melakukan pekerjaan serabutan apapun yang ditawarkan oleh penduduk SDC. Karena itu, ia berteman baik dengan hampir seluruh penduduk SDC. Namun setelah peristiwa berdarah yang sulit dijelaskan terjadi di SDC, Salazar dengan cepat dituduh dan dinyatakan bersalah atas pembunuhan massal tersebut. Beberapa pihak meyakini bahwa mustahil Salazar bisa membunuh seluruh penduduk kota secara keji seorang diri dalam satu malam tanpa adanya perlawanan dari penduduk. Apalagi sebagian besar luka korban tampak seperti serangan hewan buas. Namun pihak berwenang tetap menyatakan Salazar sebagai tersangka utama pembunuhan massal dan menjatuhinya hukuman mati. Satu tahun kemudian, ditemukan sebuah roll film foto analog dari kamera milik Salazar. Kebetulan Salazar memang seorang fotografer amatir, dan rupanya roll film tersebut berisikan foto-foto hasil jepretan terakhirnya pada malam berdarah di SDC. Foto-foto yang memperlihatkan kronologi teror yang datang dari perbukitan di selatan SDC tersebut akhirnya bocor ke publik. Masalahnya, 36 foto yang terlihat kabur itu mengungkapkan sesuatu yang justru semakin sulit untuk dipercaya.

Phil Guidry, Simon Herbert dan David Whelan berhasil mengeksekusi konsep dokumenter fiktif ini dengan sangat baik. Struktur Savageland dari mulai berbagai wawancara, pemaparan data, rekaman berita, kronologi, sosok Salazar yang dituduh sebagai pelaku, hingga berbagai pertanyaan seputar kejadian misterius tersebut, semuanya disusun dengan rapi dan menjadikan Savageland benar-benar terasa seperti film dokumenter true crime sungguhan. Keberhasilan ini juga sangat didukung oleh peran para karakternya yang tampak begitu meyakinkan dan realistis. Mereka yang menjadi narasumber terasa seperti orang-orang sungguhan yang benar-benar ada dalam kehidupan nyata, dan bukan sekedar aktor yang sedang berakting. Namun kekuatan utama sekaligus sumber teror dari Savageland adalah foto-foto hasil jepretan Salazar. Ide menggunakan foto dan bukan rekaman yang ditemukan ini benar-benar menjadi daya tarik Savageland. Setidaknya, kita tidak perlu melihat hasil rekaman kamera genggam penuh guncangan yang sering kita jumpai dalam film-film berbasis found footage dalam Savageland. Foto-foto hitam-putih jepretan Salazar sendiri bukanlah jenis foto yang tampak jelas. Semakin malam ia menjepret kameranya, foto-fotonya pun semakin tidak jelas karena kurangnya pencahayaan. Namun justru ketidaksempurnaan fotonyalah yang menambah kengerian film ini. Sebanyak 36 foto menangkap semua kejadian mengerikan dari gelapnya permukiman Sangre De Cristo, di mana hampir setiap foto terlihat seperti jepretan dari mimpi buruk. Dengan konsep seperti ini, Savageland otomatis tidak mengandalkan jump scare maupun adegan kekerasan yang eksplisit layaknya konsep found footage pada umumnya. Sebaliknya, film ini membangun ketegangannya secara perlahan melalui wawancara dan rekaman arsip. Maka ketika satu persatu foto Salazar mulai diperlihatkan kepada penonton, semuanya terasa semakin mencekam karena suasana telah terbangun terlebih dahulu.
Bagi para peminat visual horor, setiap foto Salazar terasa layak untuk dicetak dan dibingkai. Favorit saya adalah foto pertama yang memperlihatkan siluet banyak manusia dari kejauhan yang berlarian dari atas sebuah bukit. Meskipun terlihat ambigu dan grainy, namun foto-foto ini dengan jelas memperlihatkan serangan makhluk yang menyerupai manusia. Karena Salazar memotret di tengah kepanikan tanpa menggunakan flash, maka setiap foto memiliki efek motion blur yang kuat, yang membuat makhluk-makhluk tersebut semakin terlihat seperti iblis dengan mata yang seolah bercahaya dalam gelap. Di sinilah saya merasa bahwa konsep found photography ini sangat menarik. Wujud mereka yang ambigu membuatnya terlihat lebih menakutkan dan sureal dibanding kalau seandainya kita diperlihatkan dengan jelas. Savageland sendiri tidak pernah memberi nama pada makhluk-makhluk dalam foto-foto Salazar, tapi saya yakin para penggemar horor sudah pasti mengidentifikasikannya sebagai zombie karena semua deskripsinya memang mengarah ke sana. Dari salah satu wawancara Salazar pun sudah cukup jelas kalau makhluk-makhluk tersebut adalah penduduk SDC yang ia kenal, tampak seperti sosok mereka semasa hidup, tetapi mereka jelas-jelas sudah mati. Film ini nyaris tidak memiliki adegan aksi zombie kecuali yang terlihat dalam foto (ditambah sedikit potongan rekaman video dalam ending-nya), tapi penonton bisa tetap merasakan dan membayangkan bagaimana kacaunya suasana serangan teror zombie di SDC malam itu di kepala masing-masing. Tentu ini merupakan metode horor yang klasik namun hampir selalu berhasil: membiarkan imajinasi kita sendiri yang bekerja.

Film ini berkembang bukan hanya sebagai investigasi misteri malam pembantaian brutal di SDC, tetapi juga seputar rasisme dan xenofobia sistematis sebagian komunitas kulit putih Amerika terhadap imigran dan kelompok kulit berwarna. Salah satu contoh yang paling kuat ada pada dijatuhkannya hukuman mati pada Salazar karena ia adalah seorang imigran gelap. Bahkan sherif setempat juga tak kalah rasisnya. Ketika foto-foto hasil jepretan Salazar mulai tersebar, pihak berwenang tetap bersikeras dengan tuntutannya terhadap Salazar dan menganggap foto-foto tersebut sebagai hasil rekayasa digital. Banyak narasumber penduduk kulit putih juga yakin bahwa peristiwa di SDC semakin memperkuat alasan mengapa mereka perlu memperketat penjagaan di perbatasan agar tidak ada lebih banyak orang meksiko sadis seperti Salazar yang masuk menerobos ke wilayah Amerika. Semua komentar sosial yang menyindir rasisme ini tidak terasa dipaksakan, tetapi benar-benar ikut terjalin secara alami melalui para narasumbernya. Namun, menjelang film berakhir, alur komentar sosial ini seakan menjadi sedikit ambigu, karena bagaimanapun gerombolan zombie tersebut digambarkan datang dari arah selatan, yang berarti dari Meksiko, yang artinya kini cukup masuk akal untuk memperketat pengamanan di wilayah perbatasan. Jadi apa pesan yang ingin disampaikan oleh Phil Guidry, Simon Herbert dan David Whelan?
Saya menonton film ini tanpa berekspektasi apa-apa dan saya mendapat kejutan yang menyenangkan. Sebagai sebuah film horor, Savageland mencoba bereksperimen dengan hal baru, dan berhasil. Savageland bisa menjadi contoh tentang bagaimana sebuah film horor dapat dibuat dengan anggaran rendah, tanpa perlu adegan berdarah atau special effect canggih, namun tetap menghasilkan karya yang original dan kreatif. Meski minim dengan adegan aksi, film ini tetap berhasil membuat saya tetap menonton tanpa putus hingga filmnya berakhir, karena gaya bercerita yang solid serta tempo yang terjaga berhasil membuat semuanya terasa menarik. Sayangnya film ini diakhiri dengan lemah. Setelah mereka membangun gaya bercerita yang tidak konvensional di sepanjang film, pada akhirnya Savageland tetap menghadirkan jump scare tidak diperlukan pada ending-nya lewat satu rekaman video singkat dari sebuah kamera yang rusak. Padahal sejauh ini Savageland sudah sangat berhasil menyajikan narasi menyeramkan yang kuat tanpa adanya jump scare. Tapi di luar kelemahannya, Savageland tetaplah sebuah film zombie sekaligus mockumentary yang kreatif dengan story-telling yang solid.

