MOVIE REVIEW: FRIDAY THE 13TH (1980)

FRIDAY THE 13TH
Sutradara: Sean S. Cunningham
USA (1980)

Review oleh Tremor

Baru-baru ini para penggemar horor dibuat cukup antusias setelah studio A24 memproduksi sebuah serial televisi berjudul Crystal Lake. Seri yang dirilis lewat jaringan streaming Peacock ini merupakan prekuel dari salah satu franchise slasher ikonik, Friday the 13th. Jadi, saya pikir sekarang adalah momen yang tepat untuk melihat kembali film slasher murahan karya sutradara Sean S. Cunningham yang tanpa diduga berkembang menjadi franchise raksasa tersebut. Awalnya, Friday the 13th yang ditulis oleh Victor Miller tidak pernah direncanakan untuk menjadi sebuah franchise, apalagi sampai memantik ledakan trend slasher di Amerika. Friday the 13th hanyalah sebuah film horror sederhana berbajet rendah yang mencoba mendulang kesuksesan film Halloween (1978). Namun siapa sangka kalau karya tersebut berhasil menjadi film horor dengan pendapatan tertinggi kedua pada tahun 1980, di mana posisi pertama ditempati oleh The Shining. Dengan bajet produksi yang sangat terbatas, Friday the 13th meraup pendapatan lebih dari sepuluh kali lipat dari anggaran produksinya hanya dalam jangka waktu satu pekan penayangannya. Kesuksesan inilah yang membantunya berkembang menjadi franchise yang kita kenal. Hingga hari ini, total sudah ada 10 film Friday the 13th, beserta karya pendukung lainnya dari mulai satu film crossover (Freddy vs. Jason, 2003), satu film reboot (2009), satu buku “The Complete History of Friday the 13th”, beberapa film dokumenter, buku-buku komik, novelisasi, video game, merchandise yang tak terhitung jumlahnya, dan tentu saja serial televisi Crystal Lake yang baru saja tayang pekan lalu.

Plot Friday the 13th sebenarnya sangat sederhana dan terdengar klise menurut standar hari ini, namun tidak untuk para penonton tahun 1980. Sekelompok anak muda bekerja sebagai pembimbing camp musim panas di tepi danau yang akan dibuka kembali setelah terbengkalai selama lebih dari dua puluh tahun. Tempat yang bernama Camp Crystal Lake itu dibiarkan rusak tak terurus setelah beberapa pembimbing camp tewas ditikam oleh psikopat misterius pada tahun 1958. Penduduk setempat yang sangat percaya takhayul yakin bahwa Camp Crystal Lake merupakan tempat terkutuk, dan menjulukinya dengan nama “Camp Blood”. Meskipun begitu, pengelola baru Camp Crystal Lake tetap berniat untuk segera membukanya kembali. Proses renovasi ini berjalan lancar hingga tiba-tiba satu persatu dari mereka mulai diburu dan dibantai secara brutal oleh seseorang yang tidak suka dengan pembukaan kembali Camp Crystal Lake.  

Dalam salah satu seri dokumenter Netflix berjudul “The Movies That Made Us”, Victor Miller penulis naskah Friday the 13th mengungkapkan secara terang-terangan bahwa tujuan awal pembuatan film ini memang untuk meniru Halloween (1978) atas permintaan dari produser sekaligus sutradara Sean S. Cunningham. Maka tak heran kalau Halloween menjadi acuan utamanya. Friday the 13th menggunakan beberapa elemen dari Halloween seperti adegan pembuka yang segera memperlihatkan pembunuhan; karakter remaja-remaja bandel yang dibantai satu persatu; hingga adanya karakter survivor perempuan yang pada akhirnya berkonfrontasi dengan sang pembunuh atau yang di kemudian hari disebut sebagai the final girl. Dalam perkembangannya, elemen-elemen tersebut akan menjadi begitu melekat dengan genre slasher. Tapi rasanya kurang adil kalau Friday the 13th disebut sebagai salinan sepenuhnya dari Halloween, karena film ini tetap memiliki karakteristiknya sendiri. Bukan hanya elemen dari film Halloween, Friday the 13th juga mengadopsi salah satu elemen penting dari film giallo Italia, yaitu elemen misteri di mana adegan penguntitan dan pembunuhan ditampilkan dari sudut pandang sang pembunuh. Kalau Halloween sudah memperlihatkan wujud pembunuhnya kepada penonton sejak awal, Friday the 13th lebih memilih untuk mengikuti tradisi giallo: menyembunyikan identitas pembunuhnya hingga momen pengungkapannya di babak ketiga. Elemen misteri inilah yang menjadi salah satu pembeda antara Friday the 13th dengan Halloween.

Meskipun bukan pelopor, tapi tak bisa dipungkiri bahwa Friday the 13th memberi dampak cukup besar bagi genre horor hingga kemudian memicu ledakan trend slasher di Amerika era-80an yang mencoba mengikuti tradisi Friday the 13th. Halloween boleh menjadi cetak birunya, tetapi Friday the 13th lah yang menjadi sumber referensi untuk semua “aturan main” klise dalam banyak sekali film slasher Amerika yang bermunculan setelahnya. Salah satu tradisi slasher lain yang dimulai oleh Friday the 13th mungkin adalah jumlah korban yang tewas (body count) yang cukup tinggi pada masanya. Selain itu, ada tradisi slasher lain yang dicetuskan Friday the 13th dan menjadi pembeda kuat dengan Halloween, yaitu visualisasi adegan pembunuhan yang cenderung lebih sadis dan kreatif dibanding Halloween. Faktor penentu terbesar dari keberhasilan visual kekerasan ini adalah dilibatkannya seniman special effect / makeup legendaris Tom Savini, yang pada masa itu memang sudah mulai dikenal berkat karya gore kreatifnya dalam Dawn of the Dead (1978). Saya sangat bisa memahami mengapa film ini dianggap menakutkan dan mengerikan ketika pertama kali dirilis, karena pekerjaan Tom Savini memang cukup fantastis pada masanya, masa di mana para penontonnya belum familiar dengan pembunuh-pembunuh slasher brutal seperti Jason Voorhees, Freddy Krueger hingga Art the Clown dengan berbagai special effect fantastisnya. Sejauh ini cukup bisa dipahami mengapa pada akhirnya Friday the 13th lebih dari sekedar produk salinan Halloween, karena meskipun film ini tidak terlalu berhasil menciptakan atmosfer semencekam Halloween, tetapi ia berhasil mengeksekusi adegan-adegan pembunuhan sadis yang inovatif dengan sangat baik. 

Hari ini, kita semua tahu bahwa franchise Friday the 13th melahirkan salah satu ikon villain horor terbesar dalam sejarah perfilman, sang pembantai bertubuh besar, bersenjata parang dan bertopeng hokey bernama Jason Voorhees. Tapi kenyataannya, Jason hanya muncul beberapa detik saja dalam film ini, itupun hanya dalam sequence mimpi. Yang terpenting adalah, Jason bukanlah sosok pembunuh dalam film pertama Friday the 13th. Aksi Jason yang brutal baru dimulai dalam sekuel Friday the 13th Part 2 (1981), sementara topeng hokey ikoniknya baru mulai ia kenakan dalam film ketiganya, Friday the 13th Part III (1982). Menariknya, Jason memang tidak pernah direncanakan sebagai fokus dari Friday the 13th. Ia bahkan diceritakan telah mati tenggelam puluhan tahun sebelumnya. Walaupun Jason bukanlah sosok pembunuh dalam film ini, tetapi ia menjadi alasan terbesar mengapa pembunuhan-pembunuhan sadis terjadi di Camp Crystal Lake sejak 1958. Sang pembantai dalam film pertama ini adalah Pamela Voorhees, ibu dari Jason yang malang. Pamela melakukan aksinya dengan motif balas dendam setelah anaknya yang terlahir dengan kondisi fisik cacat tewas tenggelam di Crystal Lake karena luput dari perhatian para pembimbing camp beberapa puluh tahun sebelumnya. Tidak adanya Jason dalam film pertama ini juga cukup menarik bagi mereka yang lebih dulu mengenal Jason sebelum franchisenya, karena kalau kita melihat mundur, film Friday the 13th jadi terasa seperti sebuah film spin-off yang bisa berdiri sendiri sekaligus menjadi prekuel untuk sedikit menjelaskan backstory Jason Voorhees, meskipun agak kontradiktif dengan eksistensi Jason di kemudian hari. 

Satu faktor lain yang sangat kuat dari Friday the 13th juga ada pada scoring-nya yang begitu ikonik. Komposer Harry Manfredini menciptakan elemen vokal berbunyi “ki ki ki ma ma ma” yang terdengar mencekam, dan kemudian menjadi ciri khas legendaris dari franchise ini. Fungsi suara tersebut adalah untuk menjadi musik latar yang mampu mewakili kehadiran sosok sang pembunuh yang wujudnya disembunyikan dari penonton. Menurut saya ini adalah penggunaan suara yang brilian dan kreatif, karena selain menjadi suara latar, suara yang berbunyi “kill, ma” ini juga menjadi penggambaran bisikan lirih Jason Voorhees yang mungkin hanya ada di kepala ibunya, seakan Jason memintanya untuk membantai siapapun yang berada di Camp Crystal Lake. Musik latar lain yang Manfredini ciptakan juga tak kalah memorable. Meskipun ia pada dasarnya mencuri ide dan komposisi musik gubahan Bernard Herrmann untuk film Psycho (1960), tetapi Manfredini berhasil membuatnya terdengar unik dengan karakternya sendiri. 

Namun, sebagai film sederhana berbajet rendah tanpa rencana jangka panjang, film ini secara tidak terhindarkan juga memiliki banyak kekurangan, dari mulai kemampuan akting para pemerannya yang cukup buruk (kecuali Betsy Palmer yang memerankan Pamela Voorhees), tidak dikembangkannya karakter Pamela, hingga plot yang terasa agak bertele-tele. Mungkin Friday the 13th bukanlah film yang sempurna. Bahkan kalau dipikir-pikir, kualitas film ini sangat buruk kalau dibanding dua franchise slasher legendaris lainnya seperti Halloween dan A Nightmare on Elm Street. Tapi tak bisa dipungkiri, Friday the 13th adalah tonggak sejarah yang krusial dalam mendorong lahirnya genre campy slasher, lengkap dengan semua elemen, “peraturan” dan rumusan klisenya.