KHEMMIS ‘Khemmis’ ALBUM REVIEW
Nuclear Blast Records. June 12th, 2026
Heavy/Doom metal

Sudah cukup lama rasanya sejak KHEMMIS terakhir kali melepas album penuh, Terakhir kali mereka menggelontorkan rilisan non-single hadir dalam wujud ‘Deceiver’ (2021), sebuah album yang bagi gua menandai titik tertinggi dalam perjalanan karier mereka. Album tersebut bukan cuma berhasil membilas rasa pahit di lidah yang ditinggalkan ‘Desolation’ (2018), tetapi juga melampaui high bar yang sebelumnya dipatok LP sophomore mereka, ‘Hunted’, yang melesatkan nama KHEMMIS dan masih dianggap sebagai karya terbaik band asal Denver, Colorado tersebut. Ketika KHEMMIS akhirnya mengumumkan full-length kelima, jujur gua sedikit waswas, gara-gara setelah membaca rilis pers dari Nuclear Blast Records, yang pemilihan katanya terkesan ragu untuk terlalu menonjolkan label doom metal dan justru memberikan penekanan jauh lebih besar pada frasa heavy metal.

Hal tersebut langsung membawa ingatan gua kilas balik dengan ‘Desolation’, yang memang jauh dari kata ampas, tetapi pendekatan lesser doom-nya yang gak pernah benar-benar cocok di kuping gua pribadi, meskipun masih ada dua-tiga lagu yang masih sering masuk playlist personal. Pengumuman akan kedatangan album self-titled tersebut turut dibarengi music video untuk “Invocation of the Dreamer”, yang digadang-gadang jadi single perdana album. Namun, demi menjaga ekspektasi agar gak kelewat batas atau kecewa duluan di depan, gua memilih untuk tak mendengarkan lagunya untuk sementara waktu, dan memutuskan untuk sabar menunggu album penuhnya dirilis, supaya bisa menikmati keseluruhan materi sebagai satu kesatuan utuh.
Keputusan untuk menjaga telinga tetap steril dari seluruh single yang digelontorkan dari album self-titled KHEMMIS ini ternyata pilihan tepat karena album ini jelas punya kekuatan efek kejut lebih maksimal ketika dikonsumsi secara menyeluruh dalam kondisi benar-benar buta belum terpapar, Nomor pembuka “Invocation of the Dreamer” memang jelas kenapa dipilih menjadi sayatan perdana dari album, karena mampu mengenkapsulasi konsep ‘Doomed Heavy Metal’ yang diusung oleh Phil Pendergast, Ben Hutcherson, David Small, dan Zach Coleman secara konkrit. LP ke-5 ini sepertinya jadi seperti bentuk eskapisme musikal grup ini, yang lahir dari kerinduan terhadap masa ketika heavy metal bukan sekadar musik, melainkan pelarian sekaligus sumber kekuatan hidup, dan menjadi ajang persembahan KHEMMIS kepada para Metal Gods yang menjadi kiblat mereka. Jadi jangan berharap ada lagu-lagu semuram materi dari ‘Hunted’ atau ‘Deceiver’ (walau secara tematis masih berkutat dengan hal-hal cukup kelam dan gelap), karena “Corpsebloom Garden”, “Grief’s Reverie”, “Beneath the Scythe”, hingga “Gilded Chambers”, seolah dirancang layaknya wadah katarsis bagi para pendengarnya, tempat segala beban bisa dilampiaskan lewat riff yang menghentak, solo gitar bikin pengen maen air-guitar, hingga refrain catchy yang mengundang untuk pendengar/penonton untuk bernyanyi bersama.
Di luar single “Beneath the Scythe” dan “Invocation of the Dreamer”, pilihan nomor-nomor terfavorit gua justru terkonsentrasi pada tiga sajian akhir dari album ini: “Tomb of Roses”, “Carrion King”, dan “Benediction Tones”. Karena secara komposisi dan tone ketiganya paling mendekati corak album sebelumnya, dengan muatan lirik seputaran pergulatan batin, rasa bersalah, hingga pencarian pembebasan eksistensial, yang lebih lebih relatable secara personal. Terlepas dari segala skeptisisme pribadi menjelang perilisannya, yang dipicu oleh materi pemasaran pihak label hingga unggahan media sosial band ini sendiri, pada akhirnya gua cukup dibawa larut oleh album ini secara menyeluruh, dan tentunya mengacungkan dua jempol terhadap racikan terbaru KHEMMIS atas formula doomed heavy metal yang selama ini jadi identitas mereka. Album self-titled ini mungkin masih belum mampu menyentuh level yang dicapai predecessor-nya. Namun, rilisan ini tetaplah sebuah album heavy/doom metal yang beracun, dengan komposisi luar biasa dan rasanya bakal diapresiasi oleh jamaah logam berat dari berbagai penjuru dunia.(Peanhead)
8.7 out of 10