
SACCHARINE
Sutradara: Natalie Erika James
Australia (2026)
Review oleh Tremor
Saccharine adalah sebuah film horor supranatural karya penulis/sutradara independen asal Australia, Natalie Erika James. Sebelumnya, nama James memang sudah cukup dikenal sejak ia merilis debutnya yang memukau berjudul Relic (2020). Kesuksesan Relic kemudian disusul dengan film prekuel Rosemary’s Baby berjudul Apartment 7A (2024) yang semakin mengukuhkan nama Erika James sebagai pembuat film horor yang menjanjikan. Dalam film ketiganya ini, Natalie Erika James mencoba mengeksplorasi keresahannya seputar kesadaran akan tubuh lewat kacamata horor satir dengan sedikit dark comedy. Kisah yang ia tulis ini menyelami beberapa tema yang lebih mendalam seperti budaya diet, citra tubuh, obsesi terhadap berat badan, hingga tekanan dan ekspektasi terhadap standar kecantikan yang diciptakan oleh masyarakat. Tema keresahan semacam ini tentu bukanlah hal yang baru dalam industri film horor, terutama setelah kesuksesan luar biasa dari The Substance (2024) karya Coralie Fargeat. Beberapa judul lain seperti The Ugly Stepsister (2025) hingga serial TV The Beauty juga mengolah tema serupa, dan menurut saya ini adalah trend yang bagus.

Film ini berfokus pada Hana, seorang mahasiswa kedokteran yang pemalu dan tertutup. Diam-diam Hana cukup tertekan oleh standar sosial yang secara tidak langsung dibebankan pada perempuan muda seperti dirinya. Hal tersebut bisa dilihat dari konten-konten di media sosial tentang bagaimana perempuan muda seakan baru bisa dianggap menarik kalau bertubuh ramping dan atletis. Hana merasa tidak percaya diri karena kelebihan berat badannya dan ia berjuang sangat keras menahan dorongan untuk makan berlebihan. Masalahnya, makan merupakan coping mechanism Hana dalam menghadapi stress. Semakin ia gelisah dengan tubuhnya, semakin ia terdorong untuk makan. Bukan hanya melalui citra tubuh yang ia lihat di media sosial, tekanan psikologis juga berakar dari keluarganya sendiri di mana ibunya yang bertubuh ramping harus merawat suaminya yang obesitas. Hidupnya mulai berubah ketika ia bertemu dengan seorang teman lamanya yang dulu bertubuh gemuk namun kini terlihat sangat ramping. Temannya memperkenalkan produk suplemen penurun berat badan yang ia konsumsi dan diklaim mampu menurunkan berat badan dalam waktu singkat tanpa harus mengurangi porsi makan. Namun karena harga kapsul suplemen tersebut terlalu mahal, Hana menggunakan pengetahuan ilmiahnya untuk menganalisa komposisi kimia kandungan kapsul tersebut di laboraturium kampusnya. Dari analisanya, Hana menyimpulkan bahwa bahan utama dari suplemen tersebut cukup mengejutkan, yaitu abu jenazah manusia. Namun obsesi telah mengalahkan akal sehatnya. Diam-diam Hana mulai mencuri beberapa bagian tubuh dari jenazah cadaver di kelas anatominya, tepatnya dari jenazah seorang perempuan yang diberi nama Bertha oleh teman-teman Hana. Bermodalkan tungku kremasi di kampusnya, Hana mulai memproduksi suplemen versinya sendiri. Sesuai dengan harapan, berat badan Hana pun mulai turun secara drastis sejak ia mengkonsumsi suplemennya. Namun suplemen racikan sendiri ini menimbulkan beberapa efek samping yang tak terduga, di antaranya adalah kunjungan mengerikan dari arwah Bertha yang kelaparan dan penuh amarah.

Tema utama komentar sosial dalam Saccharine berfokus pada pengalaman perempuan di tengah budaya yang secara tidak sehat terobsesi pada standar kecantikan tertentu. Tanpa disadari, tekanan sosial ini mendorong perempuan seperti Hana berupaya sangat keras untuk mencapai citra tubuh yang dianggap “sempurna” oleh masyarakat. Pada sisi horornya, Saccharine mengaitkan gangguan makan dan rasa jijik terhadap tubuh lewat konsep budaya asia, yaitu sosok hantu lapar yang berakar dari tradisi Buddha dan Taoisme. Ini cukup menarik karena meskipun Saccharine adalah film Australia, tapi karakter Hana adalah seorang keturunan Jepang di mana ia dan ibunya masih mempraktikkan ritual taoisme. Sebagian besar momen horor supranatural dalam Saccharine tidak mengandalkan jump scare, tetapi dibangun melalui suasana yang merayap hingga Hana mengalami paranoia di kamarnya sendiri. Yang lebih menarik bagi saya adalah bagaimana Hana merespon kejadian-kejadian ganjil yang ia alami dengan cara yang tidak umum sekaligus menyegarkan. Karena Hana adalah seorang mahasiswa kedokteran yang terbiasa dengan cara berpikir ilmiah, alih-alih merasa ketakutan, Hana justru meresponnya dengan cara mencatat setiap pengamatannya terhadap kejadian-kejadian supranatural, mengukurnya secara kuantitatif, sambil berupaya mencari pola di balik peristiwa-peristiwa tersebut layaknya seorang ilmuwan yang sedang melakukan penelitian. Saya suka dengan pendekatan ini karena karakter Hana digambarkan bukan sekedar korban yang pasrah dan ketakutan seperti dalam kebanyakan film horor supranatural pada umumnya.
Elemen horor dalam Saccharine tidak hanya terbatas pada hal-hal supranaturalnya saja, tetapi juga dari elemen body horror, meskipun bukan jenis body horror ala The Thing (1982), The Fly (1986), Society (1989) atau The Substance (2024). Elemen body horror dalam film ini lebih banyak berfokus pada wujud dari Bertha dalam versi mayat maupun hantunya. Apalagi tubuh hantu Bertha digambarkan semakin membesar seiring berjalannya waktu, dan bobot tubuhnya menjadi elemen kunci yang menambah kesan menjijikkan sekaligus mengerikan. Selain itu, para penonton juga akan disuguhi dengan proses otopsi mayat busuk yang bisa saja membuat mual mereka yang tidak terbiasa. Untuk menggambarkan semua itu, Saccharine menggunakan perpaduan yang cerdas antara special effect prostetik tradisional, makeup, hingga kostum, sambil dipoles digital visual effect saat dibutuhkan. Tapi, apa yang digambarkan dengan cara yang menjijikkan bukanlah penampakan hantu Bertha dan mayat dengan perut terbuka saja, melainkan beberapa adegan makan yang disorot dari jarak cukup dekat. Ada banyak adegan yang memperlihatkan bagaimana makanan disantap dengan berantakan, kasar, belepotan, dan saya pikir Natalie Erika James cukup brilian dalam hal ini.

Salah satu kekurangan dari Saccharine mungkin ada pada narasi yang terasa membingungkan serta logika cerita yang agak berantakan. Saya pikir kendala dalam penulisannya ini berpotensi membuat penonton kesulitan untuk menghubungkan apa kaitan antara mayat, perubahan berat badan dan teror supranatural. Ini sangat disayangkan, karena ambiguitas logika cerita Saccharine justru bisa menjadi distraksi yang mengaburkan makna dan satir sosial yang ingin disampaikan oleh Natalie Erika James. Kelemahan lain dari Saccharine juga ada pada bagaimana kita harus melihat perjuangan Hana yang agak terasa repetitif dan berlarut-larut, membuat durasi film ini menjadi terlalu panjang dari seharusnya. Saccharine memang dimulai dengan sangat baik, tetapi seiring berjalannya waktu perkembangannya terasa stagnan hingga disudahi dengan ending yang juga tak jelas arahnya. Tapi Saccharine bukanlah film yang buruk. Meskipun Saccharine tidak sempurna dalam segi penulisan, tapi dalam segi teknis penyutradaraan Natalie Erika James semakin memperlihatkan keterampilannya dalam membuat sebuah film, dari mulai visual yang sangat bagus, pencahayaan yang tepat, atmosfer yang menghantui, hingga musik yang mendukung. Saya pribadi berharap trend tema semacam ini akan terus hidup, di mana para pembuat film perempuan bisa menggunakan medianya sendiri untuk menyampaikan kritiknya terhadap masyarakat yang selama ini terlalu banyak mendikte tubuh perempuan.

