ALBUM REVIEW: FLESHWATER – 2000: IN SEARCH OF THE ENDLESS SKY

FLESHWATER ‘C’ ALBUM REVIEW

Closed Casket Activities. September 5, 2025

Alternative metal/Post-hardcore

Album penuh perdana FLESHWATER, ‘We’re Not Here to Be Loved’, yang dilepaskan ke khalayak umum 4 November 2022 lalu, berhasil menjadi salah satu sleeper hit terfavorit gua di tahun itu. Perkenalan gua dengan FLESHWATER sendiri tentunya bermula karena gua udah lebih dulu familiar dengan VEIN.FM, band utama 3/4 personilnya waktu itu, yaitu Anthony DiDio, Jeremy Martin, dan Matt Wood. Meskipun album debut mereka hanya berdurasi dibawah tiga puluh menit, ‘We’re Not Here To Be Loved’ sangatlah padat karya tanpa menyisakan ruang untuk bagian penambal runtime belaka, alhasil kesembilan nomor yang mereka persembahkan kala itu, sampai sekarang pun masih rajin ogut dengerin secara intens.

Sempat gua kira FLESHWATER bakalan menjadi sampingan doang di saat VEIN.FM lagi senggang, mengingat gitaris Jon Lhaubouet udah bergabung juga secara full-time, Namun kenyataannya VEIN.FM malah hiatus tak lama usai cabut nya Matt Wood karena cidera, yang akhirnya membuat FLESHWATER langsung sat-set memanfaatkan momentum, diawali dengan ngikut tur besar bareng DEFTONES dan THE MARS VOLTA, hingga akhirnya mengumumkan kedatangan album kedua mereka ‘2000: In Search Of The Endless Sky’, yang dibarengi dengan agenda headlining tour mereka sendiri.

Sesuai judul album-nya yang secara terang-terangan menaruh angka ‘2000’, Album kedua FLESHWATER ini memang terdengar seperti kilas balik ke formula alternative metal + post-hardcore era turn-of-the-millennium, dan secara keseluruhan, materinya jauh terdengar tergarap lebih matang dan terarah kalau dibandingkan side-by-side album pertama. Konsekuensinya, pendekatan yang lebih fokus ini memang sedikit mengorbankan sensasi genre-bending liar dari ‘We’re Not Here to Be Loved’, yang dulu terasa lebih ekspansif, karena turut menyeret pengaruh grunge, emo, shoegaze, power pop, hingga nuansa hardcore yang lebih gahar. Elemen-elemen tersebut sebenarnya masih nongol dalam ‘2000: In Search of the Endless Sky’, hanya saja kali ini semuanya terasa lebih terukur, dan ditempatkan sesuai kebutuhan lagu, sehingga tidak lagi mencuat semencolok album debutnya.

 Kembali direkam dan ditata oleh audio engineer bertangan dingin Kurt Ballou, lalu di-mastering oleh Nick Townsend, ‘2000: In Search of the Endless Sky’ masih mempertahankan kualitas produksi solid yang dulu bikin ‘We’re Not Here to Be Loved’ begitu nampol. Album kedua FLESHWATER ini mungkin memang belum mampu melampaui debut mereka dari segi impact, apalagi album pertama tersebut juga punya peran lumayan penting dalam mempopulerkan grungegaze ke audiens yang lebih luas. Meski begitu, ‘2000: In Search of the Endless Sky’ tetap merupakan album yang mantab from top to bottom. Memang, album ini tak punya lagu pembuka yang benar-benar nendang, dan “Be Your Best” jelas menjadi titik terendah LP ini, karena sedikit menghambat pacing. Tapi di luar noda kecil (tapi sangat noticeable) tersebut FLESHWATER tetap berhasil menjaga momentum sepanjang durasi yang hampir menyentuh 38 menit. Dan yang lebih penting lagi, mereka sukses menghindari kutukan sophomore slump dan berhasil melahirkan album yang bukan cuma memenuhi ekspektasi gua, tetapi juga sedikit melampauinya.(Peanhead)

8.9 out of 10