ALBUM REVIEW: LOVE SEX MACHINE – TRVE

LOVE SEX MACHINE ‘Trve’ ALBUM REVIEW

Pelagic Records. April 12th, 2024

Sludge metal/Post-metal

Nama memang bisa menipu. Jujur saja, pertama kali liat nama LOVE SEX MACHINE, yang kebayang di kepala bukanlah metal bengis, tapi gua kirain semacam band indie rock, shoegaze, atau paling minimal post-hardcore/blackgaze nyeleneh. Tetapi, kenyataannya jauh dari itu, lewat album ketiga mereka, ‘Trve’, kuartet asal Lille, Prancis ini dengan akurat, berhasil meninju pelipis lewat 36 menit sludge metal yang beracun, dingin, dan lumayan brutal. Dirilis berjarak delapan tahun dari LP kedua ‘Asexual Anger’, LOVE SEX MACHINE kini bernaung di Pelagic Records, yang menjadi rumah bagi nama-nama post-rock/metal cukup mentereng saat ini macam SOM, EF, THE OCEAN, WANG WEN, hingga PSYCHONAUT, KLONE dan YEAR OF NO LIGHT. Jadi, tak seperti dua album sebelumnya, ‘Trve’ dirilis dengan atensi media yang lebih luas.

“Fucking Snakes” langsung membuka ‘Trve’ dengan raungan gitar kotor dan tebal, dengan tabuhan drum yang menghantam tanpa kompromi. Geraman vokalis sekaligus gitaris Yves, punya cita rasa blackened yang cukup angker, kayak teriakan setan gentayangan di tengah lebatnya perkebunan tebu, namun masih sangat menyatu (walaupun ditaruh agak belakang dalam hasil mixing) dengan racikan sludge metal gahar yang merayap secara metodikal. LOVE SEX MACHINE menolak jadi band sludge generik modal menjiplak band-band 90’an doang, “Test26” misalnya punya ketukan menyimpang yang menjurus ke ISIS hingga kompatriot mereka GOJIRA, sedangkan “Trapped For Life” punya pembawaan yang semakin bertendesi ke ranah post-metal. “Body Probe” juga sangat impresif, karena terdengar seperti persilangan antara MESHUGGAH dan EYEHATEGOD. Dengan durasi hanya setengah jam lebih lima menit, ‘Trve’ jelas merupakan sebuah full-length yang cukup padat, dan hanya sedikit miss di pertengahan runtime, khususnya saat masuk trek kelima “Canopy”.

Meskipun begitu, gua masih tertelan dalam pusaran “Broken Code” dan “Carbonic Beast”, yang punya groove dan riff yang mampu membuat leher ngangguk-ngangguk secara tak sadar. Tiga lagu penghujung dari album ini pun sangatlah pantas dijadikan highlight, diawali dengan nomor paling gelap dan hitam dalam ‘Trve”,  “Autism Factor”, yang kemudian langsung disamber dengan “Hollywood Story”, nomor berintensitas tinggi yang mampu membuat segala unek-unek dalam jiwa tumpah begitu saja berkat komposisinya, sampai akhirnya ditutup dengan “Mask”, yang alih-alih memberikan resolusi, malah justru menggantung pendengar ketika tensi masih berada di atas dengan racikan sistematis bertekstur abrasif. Pada akhirnya, ‘Trve’ menjadi comeback setelah 8 tahun yang memuaskan dari LOVE SEX MACHINE. Semoga saja, dengan momentum yang sekarang sudah berada ditangan, kwartet suicidal nihilistic sludge gak begitu saja jadi anak ilang lagi.(Peanhead) 

8.7 out of 10