
GOOD BOY
Sutradara: Ben Leonberg
USA (2025)
Review oleh Tremor
Selama beberapa tahun terakhir, kita bisa menyaksikan kebangkitan film-film horor yang mencoba bereksperimen dengan konsep unik dan tidak konvensional, dari mulai Skinamarink (2022), Mad God (2022), MadS (2024), In a Violent Nature (2024), Presence (2024), hingga Good Boy. Sejak beberapa bulan sebelum resmi ditayangkan, Good Boy sudah lebih dulu menjadi bahan perbincangan publik secara luas berkat pemasarannya yang berhasil membuat banyak orang penasaran karena film horor supranatural ini menggunakan POV seekor anjing. Perlu dicatat bahwa pada tahun 2022, ada sebuah film horor lain asal Norwegia yang juga berjudul Good Boy. Tapi review yang saya tulis kali ini adalah Good Boy asal Amerika, debut dari sutradara Ben Leonberg berdasarkan naskah yang ia tulis bersama Alex Cannon. Karakter utama dalam Good Boy diperankan oleh seekor anjing ras Nova Scotia Duck Tolling Retriever bernama Indy, yang dalam kehidupan nyata adalah anjing peliharaaan dari sang sutradara Ben Leonberg serta istri sekaligus produser film ini, Kari Fischer. Tanpa diduga, Indy kemudian menjadi anjing pertama yang berhasil mendapat penghargaan Best Horror Movie Performance dalam ajang Astra Film Awards ke-9 di Los Angeles, mengalahkan Ethan Hawke (Black Phone 2), Alison Brie (Together), Sophie Thatcher (Companion), Sally Hawkins (Bring Her Back) dan Alfie Williams (28 Years Later).

Karya berdurasi 72 menit ini memiliki premis yang sangat sederhana. Seperti sudah saya tulis sebelumnya, kisah supranatural ini mengambil sudut pandang dari seekor anjing bernama Indy. Tuannya, Todd, sedang menderita penyakit paru-paru kronis, dan Indy selalu setia berada di sisi Todd untuk melindungi dan menghiburnya saat kesehatannya memburuk. Setelah Todd keluar dari rumah sakit dan berobat jalan, ia memutuskan untuk pindah menyendiri ke sebuah rumah tua milik mendiang kakeknya yang berlokasi sangat terpencil, tentu bersama sahabat anjingnya yang setia, Indy. Penyakit yang diderita Todd sepertinya lumayan serius hingga cukup untuk membuat kakaknya, Vera, merasa sangat khawatir ketika mengetahui adiknya pergi menyendiri dan jauh dari fasilitas kesehatan. Sejak ikut pindah ke rumah tua tersebut, Indy langsung merasakan kehadiran yang aneh dan mulai terganggu dengan sudut-sudut gelap di setiap ruangan. Sesosok bayangan mengerikan yang tidak ia pahami pun mulai menghantuinya. Meskipun Todd tidak merasakan kehadiran entitas supranatural ini, namun Indy tahu bahwa sesuatu yang jahat berniat menyeret Todd ke alam baka, dan Indy harus melakukan segala upaya yang ia mampu untuk melindungi sahabat manusianya.

Saya pribadi selalu merasa kagum setiap kali sebuah film menampilkan aktor hewan yang melakukan pekerjaannya dengan sangat baik, seakan-akan mengerti kalau mereka sedang berperan di depan kamera, dan Indy memperlihatkan salah satu penampilan hewan terbaik yang pernah saya lihat di dalam film. Setiap ekspresi dan gesturnya terlihat begitu meyakinkan, dan reaksi-reaksinya terasa sangat otentik. Saya pribadi memelihara dua ekor anjing, jadi saya pikir saya cukup mengenali beberapa gestur alami mereka di berbagai situasi. Melihat Indy dalam Good Boy membuat saya tidak merasa heran kalau ia berhasil mendapat penghargaan Best Horror Movie Performance di ajang Astra Film Awards, karena penampilannya memang sangat mengesankan. Namun apa yang membuat saya lebih tercengang lagi adalah ketika saya membaca fakta bahwa ternyata Indy bukanlah anjing profesional yang pernah mendapat pelatihan khusus untuk menjadi aktor. Dalam salah satu wawancaranya, pemilik Indy sekaligus sutradara film ini, Ben Leonberg, menyatakan bahwa Indy hanya memahami beberapa perintah dasar saja. Selama proses pembuatan Good Boy, Leonberg dan istrinya Kari Fischer menetap di sebuah rumah yang mereka sewa untuk dijadikan set film ini. Selama tiga tahun penuh, mereka bekerja mengikuti Indy, menjaga fokusnya, memancing “penampilannya” di depan kamera dengan berbagai cara dari mulai membuat suara-suara konyol hingga membujuk Indy untuk berkeliling di dalam rumah dengan makanan. Mereka terus menunggu Indy melakukan langkah yang tepat, dan Indy sendiri tidak menyadari kalau setiap gerak geriknya direkam. Ini menyebabkan satu pengambilan gambar bisa membutuhkan waktu hingga berjam-jam. Selebihnya ada pada kehandalan editing yang semakin membuat penampilan Indy di dalam film tampak begitu meyakinkan, tanpa sedikitpun bantuan CGI. Semua yang Indy lakukan dalam film ini adalah murni perilaku dan ekspresinya sendiri. Bisa dibayangkan kalau proses pembuatan Good Boy sangatlah menantang dan melelahkan karena semua aturan pembuatan film tradisional tidak berlaku lagi di sini. Tantangan lain yang kemudian muncul dalam proses pembuatan Good Boy adalah, Indy hanya mau menurut pada Leonberg dan istrinya saja. Akhirnya, Leonberg terpaksa turun tangan sebagai pemeran pengganti karakter Todd dalam beberapa adegan yang harus memperlihatkan interaksi antara Indy dan tuannya. Mengetahui hal tersebut, saya mulai mengerti mengapa chemistry antara Indy dan Todd di dalam film ini terlihat sangat natural dan kuat. Relasi mereka terasa sangat otentik hingga penonton bisa merasakan sorot mata penuh perhatian, cinta, kesetiaan, emosi, serta naluri Indy pada Todd dalam setiap adegan dan tindakannya.

Dog person ataupun bukan, sebagian orang mungkin akan merasa cemas ketika ada seekor anjing yang ditempatkan di tengah sebuah film horor, dan ingin memastikan kalau karakter anjing tersebut akan baik-baik saja hingga film berakhir. Maka wajar setelah trailer pertama Good Boy dirilis, pencarian online untuk pertanyaan “apakah anjing dalam Good Boy (2025) mati?” melonjak tinggi. Jadi kalau pembaca tulisan ini juga ikut bertanya-tanya, saya akan membeberkan spoiler-nya: jangan khawatir, karakter Indy tidak mati dalam film ini.
Karena Good Boy menggunakan POV Indy, sutradara Leonberg menyembunyikan sebagian besar wajah para karakter manusianya lewat berbagai cara, dari mulai wajah yang dikaburkan, hingga ditempatkan di luar frame seperti apa yang dilakukan oleh film kartun Tom and Jerry di era keemasannya. Menurut saya ini adalah keputusan yang sangat tepat karena berhasil mengalihkan fokus emosi film ini sepenuhnya pada Indy, serta memperkuat perasaan bahwa cerita dalam Good Boy bukanlah tentang para karakter manusianya, dan juga bukan tentang sosok supranaturalnya. Good Boy adalah tentang bagaimana dunia dilihat dan dirasakan dari seekor anabul yang sangat mencintai sahabat manusia-nya, tanpa benar-benar memahami bahwa kematian sedang mengintai. Poin plus lain dari digunakannya POV anjing dalam film horor ini adalah bertambahnya elemen ketegangan yang bersumber dari keterbatasan fisik seekor anjing. Contoh paling mencolok adalah ketika kekuatan supranatural membanting pintu yang memisahkan Indy dari Todd di ruangan berbeda, dan Indy segera merasakan panik luar biasa karena ia tidak memiliki tangan untuk membuka pintu. Contoh menegangkan lain juga muncul ketika Indy memandangi sudut-sudut ruangan yang gelap. Sesekali Indy juga menggonggongi sesuatu yang Todd tidak bisa lihat dan rasakan. Todd yang sedang frustrasi berjuang dengan penyakitnya tidak memahami gonggongan tersebut sebagai sebuah peringatan. Akibatnya, Todd cenderung mengabaikannya, bahkan hingga menganggap Indy sedang bereaksi berlebihan dan terkadang memarahinya.

Secara keseluruhan, Good Boy berjalan sedikit lambat, namun memiliki pace dan durasi yang tepat, dan cukup efektif dalam membangun ketegangan melalui karakter Indy serta permainan cahaya dan bayangan yang sangat mendukung. Belum lagi penggunaan sound-nya yang brilian. Semua itu membawa penonton seakan ikut mengalami apa yang dialami Indy, termasuk pengalaman sensorik dari seekor anjing. Kita tentu sering mendengar keyakinan bahwa hewan dapat melihat atau mendengar hal-hal yang tidak bisa dilihat atau didengar oleh manusia, dan gagasan tersebut benar-benar dieksplorasi dengan sangat baik dalam Good Boy. Penggunaan POV anjing dalam Good Boy benar-benar terasa lebih dari sekedar gimmick belaka, tetapi merupakan bentuk narasi menyegarkan dan unik dalam sebuah kisah rumah berhantu. Namun, apakah Good Boy merupakan film horor yang sangat mengerikan dan bisa meninggalkan mimpi buruk pada para penontonnya? Jawabannya adalah tidak. Good Boy bukanlah film horor supranatural tradisional. Jadi, mereka yang berharap sebuah horor supranatural haruslah seperti film The Conjuring dan semacamnya, mungkin akan merasa kecewa. Mereka yang berharap adanya penjelasan dan asal-usul gangguan-gangguan supranatural di rumah kakek Todd juga tidak akan mendapatkannya di sini, karena mungkin bukan itu poinnya. Good Boy lebih banyak berfokus pada suasana serta pengalaman menonton yang berbeda dari biasanya. Mungkin juga gangguan supranatural dalam film ini adalah analogi tentang penyakit mematikan yang tidak bisa disembuhkan lagi, dan itu adalah sesuatu yang tidak dapat dipahami oleh Indy. Ia hanya tahu bahwa ajal sedang mengancam Todd dan ia akan tetap berada di samping Todd. Pada akhirnya, film ini mungkin bukanlah tentang hantu atau kutukan, tetapi tentang kesetiaan penuh cinta tanpa syarat dari sahabat manusia yang tetap bertahan dan protektif hingga titik akhir. Sebagai film horor, Good Boy memang jauh dari sempurna. Tapi sebagai proyek eksperimental independen yang dikerjakan dengan penuh passion dan chemistry, film ini sangat berhasil. Mungkin proyek ini adalah bentuk penghormatan Ben Leonberg dan Kari Fischer pada relasi mereka dengan Indy, dan semua jerih payah mereka jelas sangat terbayar. Satu hal yang pasti, Indy adalah seekor anjing yang sangat fotogenik, ekspresif, menggemaskan, dan benar-benar pantas untuk dipanggil “Good Boy”. Semoga kita akan melihat karya-karya baru dari Ben Leonberg dan Indy lagi ke depannya, selama itu bukan berbentuk Good Boy 2, karena rasanya sekuel sama sekali tidak diperlukan untuk kisah ini.

