fbpx

MOVIE REVIEW: THE SACRAMENT (2013)

THE SACRAMENT
Sutradara:
Ti West
USA (2013)

Review oleh Tremor

Setelah terlibat dalam proyek antologi found-footage V/H/S (2012) lewat segmen “Second Honeymoon”, mungkin sutradara Ti West belum merasa puas bereksplorasi dengan teknik found-footage, dan lewat The Sacrament inilah ia berkesempatan untuk mencoba teknik ini lagi. Namun bukan itu kekuatan utama The Sacrament. Meskipun film ini tidak pernah dipasarkan sebagai film yang terinspirasi dari peristiwa nyata, tapi dalam sebuah wawancaranya Ti West mengakui kalau The Sacrament merupakan upaya untuk menceritakan kembali tragedi mengerikan Jonestown massacre yang pernah benar-benar terjadi di tahun 1978, yang akan saya bahas belakangan. Saran saya, kalau kalian belum pernah menonton The Sacrament, berniat menontonnya dan tidak ingin terpapar spoiler, sebaiknya jangan membaca tentang kisah nyata tragedi Jonestown terlebih dahulu, karena pada dasarnya kisah nyata itu akan menjadi sebuah spoiler tersendiri. The Sacrament menambah daftar portfolio Ti West yang sebelumnya memang sudah cukup solid, dimulai dari debut indie-horror-nya yang berjudul The Roost (2005). Namun adalah film retro The House of the Devil (2009) yang membuat namanya mulai dikenal di ranah industri horror. Pada tahun yang sama, West juga membuat film horror supranatural berjudul The Innkeepers (2009). Film terbarunya yang berjudul X (2022) semakin membuktikan bahwa West adalah sutradara horror yang cukup menjanjikan. The Sacrament sendiri diproduksi oleh Eli Roth, seorang sutradara yang memulai karirnya lewat film Cabin Fever (2002) yang terbilang sukses, disambung dengan dua film Hostel (2005-2007) hingga film kanibal Green Inferno (2013). Meskipun nama Eli Roth kadang sudah terlanjur identik dengan subgenre torture-porn dan gore, tetapi The Sacrament yang ia produseri sama sekali berbeda dengan film-film buatan Roth biasanya.

Patrick adalah seorang fotografer yang bekerja untuk perusahaan media Vice. Suatu hari ia mendapat surat misterius dari adik perempuannya, seorang mantan pencandu narkoba bernama Caroline yang telah lama menghilang. Isi suratnya menceritakan tentang kehidupan baru Caroline dalam sebuah komune relijius di mana ia merasa sangat bahagia dan ia mengundang Patrick untuk mengunjunginya. Namun lokasi komune ini sangat dirahasiakan. Patrick hanya diberi petunjuk ke negara mana ia harus pergi, dan sesampainya di sana sebuah helikopter akan menjemputnya. Bersama dua rekan kerjanya, Sam dan Jake, mereka memutuskan untuk membuat film dokumenter tentang komunitas misterius ini, seperti yang umumnya Vice lakukan. Komune relijius yang bernama Eden Parish ini berlokasi di tengah hutan. Saat mereka tiba, ketiganya menemukan kalau komune ini memang tampak seperti komunitas utopian sejahtera yang mengisolasi diri dari dunia luar dan dijaga ketat oleh para anggotanya yang bersenjata. Mereka bertiga hanya punya waktu satu hari saja di sana, jadi kesempatan ini tidak disia-siakan. Sam dan Jake segera mewawancarai beberapa anggota komune, sementara Patrick berkumpul kembali dengan adiknya. Dokumenter mereka tentu tidak akan lengkap tanpa wawancara dengan sang pendiri sekaligus pemimpin komune relijius Eden Parish, seseorang yang dipanggil dengan sebutan Father. Setelah menyampaikan keinginan untuk mewawancarai Father, Caroline yang sepertinya memiliki posisi penting di dalam komunitas akhirnya menyampaikan kabar baik bahwa Father bersedia diwawancarai. Suasana film mulai berubah ketika Patrick dan kawan-kawan akhirnya berjumpa dengan sosok Father yang karismatik. Pengalaman mewawancarai Father yang dilakukan di depan seluruh anggota komune mulai memunculkan perasaan tidak nyaman. Kini mereka bertiga berfirasat bahwa ada yang salah dengan komunitas ini, dan tentu saja firasat mereka benar.

Kebanyakan film horror menggambarkan kelompok sekte sebagai sekumpulan penyembah iblis ataupun dewa-dewa kepercayaan purba dengan berbagai ritual penyembahan yang mengerikan. Namun Ti West mengambil kisah tentang sekte keagamaan yang pernah benar-benar ada kehidupan nyata, dan sekte di dunia nyata biasanya jauh dari simbol-simbol satanisme. Di dunia nyata, bermacam sekte keagamaan yang bervariasi pada umumnya tetap bermodalkan nilai-nilai agama mayoritas setempat agar mudah mendapat pengikut. Sekte Eden Parish yang digambarkan dalam The Sacrament sendiri adalah sebuah sekte keagamaan yang di awal film tampak tidak berdosa, tidak terlalu “aneh”, dan memiliki gagasan positif seperti anti-rasisme, anti-kekerasan, hingga keberatan dengan segala bentuk ketidakadilan di dunia. Kepercayaan sekte Eden Parish juga memiliki landasan yang sama dengan agama mayoritas di Amerika, yaitu agama Kristen. Mereka yang bergabung dengan Eden Parish umumnya adalah orang-orang putus asa, yang akan dengan mudah terperangkap di bawah manipulasi Father sang pendiri yang menawarkan kebebasan finansial, dan menjanjikan surga di bumi. Mereka menganggap diri sebagai satu keluarga besar yang akan terus bersama-sama hingga di alam baka nanti. Sutradara Ti West melakukan pekerjaan yang sangat baik untuk membuat penonton berpikir bahwa mungkin Eden Parish bukanlah komune yang buruk-buruk amat di awal film. Namun begitu sosok Father muncul, secara perlahan Ti West mulai mengupas satu persatu sisi lain dari sekte ini, sambil membangun ketegangan semakin meningkat hingga film ini diakhiri dengan sangat tragis. Lewat dua film sebelumnya (The House of the Devil dan The Innkeepers), West memang memperlihatkan kemampuannya dalam membangun build-up dengan sangat baik. Dan kemampuan tersebut kembali terlihat jelas dalam The Sacrament.

Secara umum kelompok-kelompok agama seperti ini biasanya tidak disebut sebagai “sekte”, melainkan “gerakan agama baru”. Saya pribadi sepakat dengan istilah tersebut, karena pada dasarnya sekte apapun tetaplah merupakan kelompok agama dengan nilai dan keyakinan spiritualnya sendiri. Yang membedakannya dengan kelompok agama populer hanyalah, kelompok-kelompok minoritas ini tidak berhasil menjadi mayoritas. Beberapa contoh gerakan agama baru di dunia nyata, misalnya Komunitas Eden / agama Salamullah yang dipimpin oleh Lia Eden, Manson Family dan Children of God di Amerika, hingga agama-agama UFO seperti Scientology di Amerika dan Raelians di Perancis. Salah satu sekte agama UFO malah sangat ekstrim, yaitu sekte Heaven’s Gate di Amerika di mana 39 anggotanya melakukan bunuh diri massal pada tahun 1997 dengan bermodalkan keyakinan bahwa jiwa mereka akan dipindahkan ke pesawat luar angkasa milik tuhan mereka: alien. Orang boleh saja mencemooh kepercayaan-kepercayaan alternatif seperti ini. Namun fakta tetaplah fakta, bahwa keberadaan sekte-sekte seperti ini membuktikan kalau ada banyak orang di dunia ini yang bisa mengambil keputusan ekstrim dalam hidup mereka, meninggalkan kehidupan lama dan keluarga mereka untuk bergabung dengan kelompok serta gagasan asing yang didesain oleh para pemimpin karismatik atau bahkan manipulatif, terkadang dengan output yang ekstrim seperti dalam kasus Manson Family ataupun Heaven’s Gate. Dan fakta tersebut adalah hal yang mengerikan. Namun tragedi bunuh diri massal Heaven’s Gate belum ada apa-apanya kalau kita bandingkan dengan tragedi lain yang menjadi dasar utama film The Sacrament, yaitu tragedi Jonestown Massacre pada tahun 1978.

Seperti sudah saya tulis sebelumnya, The Sacrament adalah upaya Ti West untuk menceritakan ulang sebuah tragedi mengerikan Jonestown Massacre yang benar-benar pernah terjadi di dunia nyata, dan inilah kisah horror sebenarnya. Kalau kalian tidak ingin terpapar spoiler untuk film The Sacrament, sebaiknya berhenti membaca tulisan ini sampai di sini. Jonestown adalah nama komune yang dibangun oleh sebuah sekte bernama Peoples Temple asal Amerika, yang didirikan dan dipimpin oleh seorang pendeta bernama Jim Jones. Keberadaan sekte kecil yang tidak signifikan ini tiba-tiba menjadi berita besar berskala internasional ketika lebih dari 900 anggota Peoples Temple melakukan bunuh diri massal di lokasi komune Jonestown yang tersembunyi di Guyana, Amerika Selatan, pada 18 November 1978. Bunuh diri massal ini dilakukan dengan cara menenggak minuman penyegar yang sudah dicampurkan dengan sianida. Dalam rekaman audio yang ditemukan di lokasi kejadian, Jim Jones dan beberapa anggotanya menggambarkan bahwa ritual terakhir mereka merupakan “bunuh diri revolusioner”. Namun, banyak bukti serta kesaksian beberapa penyintas tragedi Jonestown yang menunjukkan kalau aksi ini lebih merupakan pembunuhan massal daripada bunuh diri massal, karena seperti dalam The Sacrament, sebagian korban menenggak minuman beracun di bawah paksaan, dengan lebih dari sepertiga korbannya adalah anak di bawah umur. Jadi, meskipun The Sacrament adalah cerita fiktif, tetapi film ini menggambarkan hari terakhir komune Jonestown dengan sangat akurat. Menyadari bahwa kejadian ini benar-benar pernah terjadi di dunia nyata adalah poin horror terkuat dari film The Sacrament. Momen-momen terakhir dalam film ini bisa jadi cukup sulit untuk ditonton bagi sebagian orang, dan Ti West tidak malu-malu memperlihatkan kejahatan manusiawi sekte ini ketika para anak-anak kecil ikut dipaksa untuk meminum racun. Kalau kalian tertarik ingin melihat dokumenter asli tentang Jonestown Massacre, ada beberapa dokumenter yang bisa kalian tonton di youtube, salah satunya adalah Jonestown: The Life & Death of Peoples Temple ataupun kumpulan footage asli dari komune Jonestown yang mungkin saja menjadi referensi visual terbesar Ti West saat membuat The Sacrament.

Sekarang, mari kita bahas sedikit filmnya. The Sacrament jelas bukanlah film yang sempurna. Apa yang menyelamatkan film ini selain kengerian seputar kisah nyatanya, adalah kemampuan akting dari Gene Jones, aktor yang memerankan sosok Father. Dalam film ini, ia benar-benar berhasil berperan dengan sangat meyakinkan sebagai sosok “ayah” yang memiliki aura pemimpin, pengayom, berwibawa sekaligus alpha yang sangat karismatik. Dari pembawaannya sampai caranya berbicara, cukup beralasan mengapa Father mendapat rasa hormat dan kagum dari para pengikut Eden Parish. Karisma bukanlah hal yang bisa dibuat-buat, tetapi Gene Jones berhasil memancarkan hal tersebut dengan sangat natural. Dinamika dari para pengikut Eden Parish dengan Father juga digambarkan dengan sangat baik, sekaligus menggambarkan bentuk loyalitas fanatisme yang meresahkan. Salah satu adegan paling menonjol dari film ini adalah saat Father diwawancarai, dilengkapi dengan beberapa monolog yang membuat siapapun berpikir dua kali kalau ingin memotong pembicaraan. Luar biasanya, aktor Gene Jones melakukan adegan wawancara berdurasi 17 menit ini dalam satu kali percobaan take saja. Sangat impresif.

Pada dasarnya saya bukanlah penggemar film-film yang menggunakan teknik found-footage dalam durasi panjang. Beruntung bagi saya, teknik found-footage tidak digunakan 100% dalam The Sacrament, karena Ti West terkadang menggabungkan teknik perekaman normal juga, terutama dalam adegan klimaksnya di mana tiba-tiba formatnya berubah menjadi benar-benar seperti film dokumenter yang menggunakan banyak kamera. Di titik itu, saya bahkan lupa kalau film ini adalah film found footage. Mereka yang menginginkan bentuk film found-footage murni mungkin akan menyebut adegan seperti itu sebagai error besar, tetapi justru error inilah yang membuat The Sacrament menjadi bisa lebih dinikmati setidaknya bagi saya pribadi, dibandingkan kalau Ti West terlalu saklek dengan “peraturan” found-footage murni di sepanjang durasinya. Saya juga tidak memungkiri kalau penggunaan teknik found-footage menambah unsur realisme dari film ini, dimana penonton seakan dipaksa menjadi saksi mata langsung dari sebuah tragedi. The Sacrament bukanlah film Ti West favorit saya, dan bicara soal teknik found-footage dengan tema sekte, saya pikir segmen “Safe Haven” buatan Timo Tjahjanto dan Gareth Evans dalam antologi V/H/S/2 (2013) masih menjadi pemenangnya. Tetapi The Sacrament jelas sangat efektif dalam menggambarkan tentang betapa berbahayanya fanatisme berlebihan yang menguasai mereka yang putus asa dengan hidup. Ditambah lagi dengan pengetahuan bahwa peristiwa tragis dalam The Sacrament pernah terjadi dalam kehidupan nyata, membuat film ini meninggalkan lebih banyak kesan dibandingkan kebanyakan film horor found-footage sejenis.