MOVIE REVIEW: THE HOUSE THAT JACK BUILT (2018)

THE HOUSE THAT JACK BUILT
Sutradara:
Lars von Trier
Denmark (2018)

Review oleh Tremor

Siapapun yang pernah menonton film-film buatan sutradara Denmark, Lars Von Trier, pasti sudah tidak asing lagi dengan pendekatannya dalam membuat film. Von Trier bukanlah sutradara pendatang baru. Sejak 1984 ia sudah membuat banyak sekali film, film pendek, hingga video klip. Salah satu karya yang membuatnya cukup dikenal dunia adalah film Dancer in the Dark (2000) yang menampilkan penyanyi Bjork sebagai tokoh utamanya. Von Trier juga semakin menarik perhatian saat ia membuat Dogville (2003). Dunia mulai memahami bahwa Von Trier adalah sutradara nyentrik. Tapi itu belum seberapa. Beberapa tahun kemudian kita dikejutkan dengan film lainnya, yaitu Antichrist (2009), yang merupakan salah satu film yang cukup kontroversial dan provokatif saat pertama kali dirilis dengan graphic kekerasan dan seksual yang sangat vulgar. Tidak sampai disitu, ia lalu melanjutkannya dengan Melancholia (2011), sebuah drama apokaliptik yang sangat gelap dan depresif. Dalam film terakhirnya, Nymphomaniac (2013), ia menggabungkan unsur-unsur pahit dari dua film sebelumnya: kekerasan dan seks, dengan depresi dan kisah gelap. Ketiga film itu kemudian disebut sebagai “Depression Trilogy”, dimana ketiganya bersentral pada karakter-karakter yang menderita depresi dan kesedihan dengan cara yang berbeda-beda, dan semua kepedihannya sangat terasa bagi para penonton. Sampai di sini kita sudah cukup memahami bahwa Lars Von Trier bukanlah sutradara biasa. Ia tidak hanya nyentrik, tetapi juga ambisius. Semakin ke sini film-film buatannya memang semakin berat dan suram. Pada tahun 2018, dirilis lah film terbarunya, The House That Jack Built, yang diputar perdana dalam festival film Cannes. Dari yang sempat saya baca, dilaporkan banyak penonton meninggalkan tempat duduknya saat film ini sedang diputar dalam festival tersebut. Entah karena merasa bosan, tersinggung, atau tidak lagi menganggap karya Lars Von Trier sebagai hiburan, tapi saya punya firasat kalau mereka pergi karena merasa tidak nyaman dengan karya terakhir Von Trier ini.

The House That Jack Built bercerita mengenai kehidupan seorang psikopat sejati bernama Jack. Dalam kesehariannya, Jack adalah seorang arsitek. Tapi ia memiliki kehidupan ganda sebagai pembunuh berantai yang telah menewaskan sebanyak 60 korban. Seperti film-film Von Trier sebelumnya, The House That Jack Built dibagi dalam beberapa babak. Bagian pertama adalah prolog, dimana kita diperkenalkan dengan karakter Jack sebagai narator utama. Lewat narasinya, Jack bercerita mengenai kisah hidupnya pada seorang lawan bicara bernama Verge, yang sosoknya tidak akan kita lihat hingga di babak terakhir. Jack dan Verge layaknya dua orang yang sedang mengobrol dan berdiskusi tentang banyak hal, dan kita hanya bisa mendengar semua itu dalam bentuk suara saja. Sambil Jack dan Verge mengobrol, layar dipenuhi dengan imaji-imaji yang menggambarkan hal-hal yang sedang mereka diskusikan. Topik utama obrolan mereka adalah soal pembunuhan-pembunuhan yang pernah dilakukan oleh Jack, dan alasan mengapa Jack melakukan semua perbuatan keji tersebut. Dialog mereka kemudian menjadi semacam pengakuan sesumbar dari seorang psikopat yang tidak memiliki rasa empati dan selalu merasa benar dalam setiap tindakannya. Sebenarnya Verge tidak terlalu ingin mendengar kisah ini, karena ia yakin tidak ada yang belum ia ketahui dari kisah Jack. Tapi sebagai seorang narsis sejati, Jack memaksa bahwa ia harus bercerita. Maka dimulailah film The House That Jack Built.

Dari semua pembunuhan yang pernah Jack lakukan, kita hanya akan melihat lima insiden penting yang ia pilih untuk dituturkan. Kelima insiden itu dibagi dalam lima babak: lima pembunuhan. Lewat ke-lima babak ini lah, kita akan memahami alur kehidupan Jack sekaligus mengikuti perubahan-perubahan kondisi mentalnya. Kita seakan diajak memasuki logika seorang psikopat, menyelami ketidakwarasannya, sambil ikut merasakan degradasi mentalnya dari waktu ke waktu. Saya pikir urutan babak yang Jack tuturkan sangat tepat dalam film ini. Babak pertama membuat kita sedikit bersimpati dengan Jack karena orang yang dia bunuh itu memang agak menyebalkan. Bagi kalian yang rindu melihat penampilan aktris Uma Thurman, di sini kalian bisa melihatnya sebagai pemeran pembantu. Segmen kedua mulai berangsur gelap, tetapi digambarkan dengan sedikit unsur komedi. Walaupun agak tidak pantas, tapi mungkin babak kedua adalah bagian paling lucu dari film ini karena Jack tampak lebih gugup. Ia juga mengidap gangguan obsesif kompulsif yang cukup akut, menimbulkan kerepotan tersendiri saat ia harus membersihkan TKP pembunuhan dari bercak darah. Kedua segmen pertama ini memungkinkan penonton untuk setidaknya sedikit menyukai karakter Jack. Tapi dari mulai segmen ketiga, tanpa banyak basa basi kita diperlihatkan tentang betapa jahatnya Jack. Semakin sering ia membunuh, gangguan obsesif kompulsifnya juga semakin hilang. Kemudian kita memasuki segmen ke empat, bagian paling keji dan dingin dari Jack. Kalau saja film ini dimulai di babak empat, perasaan penonton terhadap Jack tentu akan jelas: kita akan merasa jijik dan sangat membenci Jack. Tapi karena pembagian babak yang tepat, perasaan kita seakan dipermainkan. Ini adalah struktur yang hebat untuk menceritakan sebuah kisah, dimana mood dan perasaan penonton terhadap Jack terus berubah hingga pada akhirnya kita bisa menerima bahwa ia adalah seorang sakit jiwa yang kompleks dan sadis.

Di sepanjang film dan dalam setiap jeda antar babak, Jack dan Verge akan terus berdiskusi dan mengobrol. Sambil tetap berfokus pada kisah pembunuhan yang Jack tuturkan, mereka kemudian membahas banyak sekali topik, dari mulai musik klasik, sastra, arsitektur, engineering, manusia, jiwa, agama, perburuan, politik, kematian, kewarasan dan kegilaan, baik dan buruk, hingga desain pesawat terbang dan proses pembuatan wine. Dialog Jack dan Verge juga juga ditaburi dengan banyak unsur filsafat, kutipan-kutipan intelek dan puitis, sambil diiringi dengan alunan musik yang menenangkan. Seakan-akan mereka sedang berdiskusi tentang karya seni dalam sebuah galeri berkelas. Lewat berbagai topik inilah, kita akan semakin mengenal logika Jack yang sebenarnya. Apa yang justru membuat saya tidak nyaman dengan Jack bukanlah pembunuhan yang ia lakukan, tetapi logika yang ada di belakangnya. Walaupun Jack adalah psikopat, tapi sebenarnya ia adalah seseorang yang berintelegensia tinggi. Dalam beberapa kesempatan, Verge juga sering kali melontarkan ketidaksetujuan dan berbagai sindirian pada Jack, seakan ia berusaha mencari kewarasan yang tersisa dalam diri Jack. Tapi kita tahu bahwa tidak ada lagi kewarasan di sana. Jack seringkali membela diri bahwa apa yang ia lakukan (membunuh seseorang secara acak dan menyimpan mayatnya) adalah sebuah ekspresi artistik. Jadi, pada dasarnya Jack dan Verge memang sedang membicarakan “karya seni”. Dan kalau dipikir-pikir lagi, suara Verge seperti menyuarakan apa yang sebagian besar penonton akan pikirkan soal Jack. Dan itu adalah salah satu hal cerdas dari film ini, membuat seakan-akan kitalah yang sedang berdiskusi dengan Jack.

Walaupun film ini tidak sedepresif Depression Trilogy, tapi The House That Jack Built yang (ironisnya) diiringi dengan alunan musik penuh keceriaan ini, pada dasarnya tetap saja adalah film yang sangat sangat sangat gelap. Salah satu lagu David Bowie yang berjudul “Fame” terus menerus berkumandang di banyak bagian film, terutama saat Jack melakukan pembunuhan. Dan dalam setiap jeda antar babak, kita akan disuguhi alunan musik piano klasik yang ceria, tepat setelah kita menyaksikan betapa sadisnya Jack. Mungkin kontradiksi-kontradiksi dan naik-turun mood seperti itu lah yang bisa membuat penonton merasa tidak nyaman dengan film ini.

Seperti banyak film buatan Von Trier lainnya, ia sangat senang bermain-main dengan analogi, simbol-simbol dan metafora. Sejauh ini, The House That Jack Built memang mengandung tiga hal itu lebih banyak dari film-film Von Trier sebelumnya, yang mungkin akan membuat sebagian penonton sedikit mengerutkan dahi dalam beberapa bagian film. Tapi metafora dan analogi tersebut justru menjadi cukup menarik saat kita memahaminya. Film ini kemudian ditutup dengan epilog yang sangat jauh berbeda dengan apa yang kita lihat di sepanjang film, namun memiliki metafora yang sangat kuat dan paling mencolok, mengambil referensi langsung dari puisi Inferno, bagian pertama puisi epik The Divine Comedy buatan Dante Alighieri pada tahun 1320 soal perjalanan ke neraka serta tingkatan-tingkatan neraka. Saya tidak tahu apakah ini adalah bentuk spoiler atau bukan, tapi bahkan karakter Verge itu sendiri adalah metafora. Spoiler atau bukan, sejak awal kita semestinya sudah tahu bahwa “Verge” tidaklah umum sebagai sebuah nama. Dalam bahasa inggris, verge artinya “ambang”, dan itu adalah salah satu hal yang perlu kalian ingat. Tapi saat saya menyadari dengan hadirnya referensi kuat dari Inferno, Verge bisa jadi juga adalah kependekan dari nama Virgil. Dalam Inferno, Virgil adalah karakter yang berperan sebagai penunjuk jalan untuk Dante melewati neraka dan purgatori (dalam babak keduanya). Jadi mungkin semakin penonton mengetahui berbagai referensi yang digunakan sebagai metafora dan simbol (yang bertebaran) di sepanjang film ini, akan semakin menarik pula The House That Jack Built untuk ditonton.

Film terakhir Lars Von Trier sebelum ini adalah Nymphomaniac , tahun 2013. Artinya, mungkin Lars Von Trier menghabiskan satu dekade terakhir untuk merenungkan karakter Jack. Selama menonton The House That Jack Built saya bahkan sedikit curiga, jangan-jangan Lars Von Trier sendiri adalah seorang pembunuh berantai asli di kehidupan nyatanya. Itu dikarenakan cara penuturan cerita yang luar biasa dalam film ini, seakan-akan kita memang mendengar langsung dari mulut seorang pembunuh sebenarnya. Tentu saja kemampuan aktor yang memerankan Jack juga memegang andil besar. Ia adalah Matt Dillon, dan ia berperan sangat brilian sebagai seorang psikopat dalam film ini. Dillon mampu membuat karakter Jack tampak menawan di satu titik, kemudian menjadi karakter yang sangat menakutkan satu detik kemudian. Matt Dillon pantas mendapatkan Oscar!

Bagi kalian yang senang dengan film seperti American Psycho (2000) namun dalam versi yang lebih gelap dan lebih berat, mungkin kalian akan menikmati The House That Jack Built. Tapi satu hal yang pasti, sama seperti film-film Von Trier lainnya, film ini bukan untuk semua orang. Saya yakin akan ada banyak orang yang tidak terlalu bersemangat menyelesaikan film ini hingga tamat. Mungkin karena alurnya yang lambat, terlalu banyak dialog antara Jack dan Verge, atau durasinya yang sangat panjang, yaitu dua setengah jam. Bagi mereka yang lebih menyukai film-film sadis penuh aksi, mungkin tidak akan menikmati The House That Jack Built. Film ini juga tidak saya rekomendasikan bagi mereka yang sensitif. Maksud saya, film ini bukan film gore atau slasher yang dipenuhi dengan darah dan isi perut. Tapi ada beberapa hal yang mungkin bisa menjadi trigger untuk membuat penonton merasa tidak nyaman dengan film ini, dari mulai kekerasan fisik, pelecehan seksual, kekerasan terhadap hewan dan anak kecil, hingga saat Jack membicarakan soal genosida. Bahkan ada beberapa footage asli dari holocaust nazi jerman yang ditampilkan dalam film ini saat Jack dan Verge beradu argumen soal hal tersebut. Saya tidak bisa bayangkan bagaimana rasanya kalau ada anak cucu penyintas holocaust menonton film ini. Tapi mungkin Lars Von Tiers memang senang dengan kontroversi.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: [email protected]