fbpx

MOVIE REVIEW: RUN (2020)

RUN
Sutradara: Aneesh Chaganty

USA / Kanada (2020)

Review oleh Tremor

Run adalah sebuah film thriller gelap yang disutradarai oleh pendatang baru Aneesh Chaganty. Film ini ditulis oleh Chaganty sendiri dan dibantu oleh seorang produser film bernama Sev Ohanian. Run adalah film kedua Chaganty, di mana dua tahun sebelumnya ia pernah membuat debut filmnya yang mendapat cukup banyak pujian berjudul Searching (2018). Rencananya, film Run dirilis menjelang perayaan Hari Ibu di Amerika, yaitu pada bulan Mei 2020. Pemilihan tanggal rilis tersebut sangatlah cocok karena film ini memang bertemakan cinta seorang ibu. Namun rencana sempurna itu terpaksa ditunda karena mewabahnya virus covid-19 ke seluruh dunia yang mengakibatkan semua bioskop harus ditutup untuk sementara waktu. Setelah mengalami penundaan cukup lama tanpa ada kejelasan kapan jejaring bioskop bisa buka kembali dengan normal, akhirnya Hulu membeli hak distribusi film Run dan merilisnya pada November 2020 secara streaming lewat channel mereka.

Film Run berkisah tentang seorang ibu bernama Diane, dan anak gadisnya yang berumur 17 tahun bernama Chloe. Selama 17 tahun itulah, Diane merawat Chloe seorang diri sejak Chloe dilahirkan secara prematur. Chloe adalah seorang anak yang membutuhkan perhatian lebih dari ibunya karena ia menderita banyak sekali masalah medis sejak bayi, dari mulai aritmia (gangguan pada detak jantung), hemochromatosis (terlalu banyak zat besi pada darah mengakibatkan sering mual/muntah dan muncul ruam pada kulit), asma, hingga diabetes. Setiap hari ia harus meminum banyak sekali obat-obatan yang mungkin akan ia konsumsi seumur hidupnya. Tidak hanya itu, Chloe juga lumpuh pada tubuh bagian bawahnya, sehingga ia terikat pada kursi roda untuk beraktivitas. Namun di luar semua kekurangan fisiknya, Chloe sebenarnya adalah seorang anak yang tabah, kuat, penuh dengan semangat hidup, dan sangat cerdas. Ia cukup cekatan dalam bidang elektronik, dan memiliki minat tinggi pada fisika serta astronomi. Kondisi fisik Chloe membuatnya mau tidak mau hanya bisa belajar lewat metode home-schooling, dan Diane terus membimbing sambil merawat Chloe tanpa kehabisan kesabaran.

Chloe yang mulai beranjak dewasa memiliki mimpi untuk bisa mandiri. Ia berangan-angan untuk berhenti menjadi beban bagi ibunya dan segera memulai hidupnya sendiri, meninggalkan rumahnya sambil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Universitas Washington. Walaupun Diane tidak pernah menganggap Chloe sebagai beban, tapi sebagai ibu ia berusaha untuk mendukung keinginan anaknya. Sudah beberapa kali Chloe mendaftarkan dirinya ke universitas Washington secara online, dan setiap hari ia menunggu datangnya surat penerimaan dari Universitas impiannya tersebut. Kehidupan Diane dan Chloe yang penuh tantangan dan rutinitas ini terus berjalan seperti biasanya, hingga suatu hari Chloe secara tidak sengaja menemukan botol obat-obatan yang biasa ia konsumsi namun dengan nama ibunya pada labelnya, bukan nama Chloe seperti seharusnya. Saat itu Chloe mulai merasa adanya keganjilan dan diam-diam mencoba untuk mencari tahu obat apakah sebenarnya yang ada dalam botol tersebut. Namun semakin jauh Chloe berusaha untuk mencari tahu, Chloe semakin mencurigai ibunya hingga akhirnya terbongkarlah motif jahat serta rahasia gelap di masa lalu, yang membuatnya mau tidak mau harus mencoba melarikan diri dari Diane. Dari sinilah judul film “Run” mulai menjadi masuk akal, dan ketegangan demi ketegangan dalam film thriller ini pun semakin memuncak.

Hal pertama yang sangat membekas dan ingin saya puji dari film ini adalah kemampuan acting dan chemistry dari pemeran duo Diane dan Chloe yang luar biasa. Sang ibu diperankan oleh Sarah Paulson yang tentu sangat dikenal oleh para penonton serial American Horror Story. Saya pribadi terlalu terbiasa melihat Sarah Paulson berperan sebagai korban dengan karakteristik sendu dalam beberapa season American Horror Story yang saya tonton (saya hanya menonton 4 season pertama saja), tapi film Run membuktikan kalau ia rupanya sangat sanggup mengambil peran antagonis sekaligus psikopat. Dengan sempurna Paulson mampu memperlihatkan betapa tipisnya batas antara seorang ibu yang overprotective dan penuh cinta kasih, dengan sosok ibu yang abusif dan sangat mengancam. Sementara itu Chloe diperankan oleh Kiera Allen, seorang aktris muda pendatang baru yang luar biasa. Dalam kehidupan nyatanya, Allen memang benar-benar lumpuh dan harus menggunakan kursi roda ke manapun ia pergi. Jadi setiap kali karakter Chloe dalam film Run harus berjuang mati-matian bergerak tanpa kursi rodanya, Allen benar-benar harus melakukannya, menyeret-nyeret kedua kaki lumpuhnya dengan kekuatan tangan, dengan ekspresi-ekspresi kebingungan dan ketakutan yang cukup otentik. Sebagai sebuah debut layar lebar, kemampuan peran Kiera Allen benar-benar mengesankan dan sangat berani.

Run bukanlah jenis film yang membuat penonton kehilangan minat saat rahasia gelapnya mulai terungkap, karena film ini penuh dengan ketegangan dan bisa membuat penonton menanti-nanti apa yang akan terjadi berikutnya hingga film berakhir. Sutradara Aneesh Chaganty tahu betul bagaimana cara membangun lapisan-lapisan ketegangan dan membungkusnya dengan sangat efisien. Walaupun kita bisa menebak ke arah mana film Run akan berakhir dengan mudah, tetapi itu tidak mengurangi sensasi film ini. Di sisi lain, film dengan plot yang sederhana ini juga cukup fun dan ringan. Kalau dipikir-pikir, cerita dalam Run memang sama sekali tidak realistis dan memiliki beberapa lubang plot, tetapi film ini tetap cukup menghibur untuk ditonton minimal satu kali, karena pada dasarnya Run adalah film thriller bagus yang ringan, sederhana, menegangkan, dan yang terpenting, menghibur.

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com