MOVIE REVIEW: LUZ (2018)

LUZ
Sutradara: Tilman Singer

Jerman (2018)

Review oleh Tremor

Luz adalah sebuah film horor eksperimental dengan tema kerasukan, garapan sutradara muda yang ambisius bernama Tilman Singer. Awalnya, film Luz ia buat sebagai proyek tesis pascasarjana. Setelah itu Luz mulai berkeliling dunia dari satu festival film ke festival film lainnya dan mendapat respon yang bervariatif. Tidak seperti film bertema kerasukan pada umumnya, Luz memiliki pendekatan yang cukup unik dan lain dari umumnya subgenre tersebut.

Walaupun ceritanya sederhana, tetap saja agak sulit bagi saya untuk menjelaskan sinopsis film Luz dengan ringkas, karena alurnya yang tidak terlalu berstruktur. Lagipula plot film ini sepertinya tidak terlalu penting. Tapi saya tetap harus menuliskannya. Film ini dibuka dengan seorang sopir taksi perempuan yang bernama Luz, berjalan memasuki kantor polisi dengan perlahan dan tampak kebingungan. Setelah membeli minuman dari vending machine, Luz mulai meracau kepada petugas di balik meja resepsionis. Adegan tersebut diambil dengan teknik long shot dan berdurasi kurang lebih selama tiga menit. “Apakah ini yang anda inginkan dalam hidup anda? Apakah ini yang benar-benar anda inginkan?” Kira-kira seperti itulah teriakan Luz dalam pembuka film. Luz datang dengan kondisi linglung dan ada sedikit luka di wajahnya. Tapi polisi kebingungan dan ingin mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi pada Luz.

Pada saat yang sama, seorang psikiater / psikoterapis kepolisian yang bernama Dr. Rossini sedang duduk sendirian dalam sebuah bar. Kemudian seorang perempuan bernama Nora mendekati dan mengajaknya berbincang. Akhirnya merekapun duduk satu meja. Sambil menenggak minuman beralkohol yang dicampur dengan narkoba, Nora mulai bercerita tentang salah satu teman semasa sekolahnya yang ia sebut memiliki “bakat” unik. Perempuan yang ia ceritakan ini adalah Luz. Nora kemudian mengajak Dr. Rossini ke kamar mandi. Seakan ingin menciumnya, Nora memegang wajah sang dokter. Tetapi Nora bukan hendak bercinta. Saat itulah sesuatu berpindah dari dalam diri Nora ke Dr. Rossini. Sejak itu, sesuatu yang jahat merasuki Dr. Rossini dan Nora jatuh pingsan.

Dalam keadaan mabuk dan kerasukan, Dr. Rossini kemudian pergi ke kantor polisi. Sejak awal ia duduk di bar, kantor polisi memang sudah memanggilnya lewat pesan di pager, karena ada tugas untuk Dr. Rossini. Di kantor polisi, Dr. Rossini diminta untuk menginterogasi Luz yang linglung lewat cara hipnotis. Hipnotis Dr. Rossini dilakukan dalam sebuah ruang rapat besar yang penuh dengan kursi. Komisaris polisi Bertillon dan seorang petugas lain bernama Olarte yang tugasnya adalah merekam audio sesi hipnotis ini turut hadir dalam ruangan tersebut. Di bawah hipnotis, Luz mulai melakukan reka ulang atas apa yang baru ia alami. Lima buah kursi diatur seperti urutan tempat duduk di dalam taksi, dengan Luz yang terhipnotis berperan sebagai sopir taksi, dan Dr. Rossini berperan sebagai penumpang Luz, yang ternyata adalah Nora. Jadi, saya asumsikan kejadian kecelakaan ini terjadi sebelum Nora bertemu dengan Dr. Rossini di bar. Setelah kecelakaan, Luz pergi ke kantor polisi, dan Nora pergi ke bar. Sebagian besar waktu dalam film ini kemudian dihabiskan untuk penggambaran reka ulang kejadian kecelakaan lalu lintas yang Luz alami, setelah Luz dan Nora kembali bertemu untuk pertama kalinya sejak pertemuan terakhir mereka di masa sekolah dulu. Pertemuan Luz dan Nora inilah yang kemudian membuka luka dan cerita lama seputar sebuah peristiwa yang cukup gelap di masa silam.

LUZ adalah film yang aneh dengan banyak kejanggalan dan inkonsistensi dalam plotnya. Butuh waktu untuk terbiasa dengan ritme film ini hanya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kisah dalam film Luz sendiri tidak dipaparkan secara linier. Struktur film ini lebih mirip dengan struktur dalam mimpi, yang artinya tidak ada struktur yang jelas. Kalau mau dipersingkat, cerita dasarnya cukup sederhana. Luz dikejar oleh iblis yang pernah ia “undang” secara tidak sengaja di masa sekolah dulu. Sesederhana itu. Tapi seperti sudah saya sebut sebelumnya, plot film ini menjadi tidak terlalu penting. Pada dasarnya, Luz adalah produk cinema arthouse, yang biasanya memang lebih berfokus pada eksplorasi rasa, estetika, atmosfer, dan pengalaman bagi penonton, dibandingkan eksplorasi cerita. Selain itu, sejak awal film Luz juga lebih terasa seperti drama teater panggung dengan satu set, daripada sebuah film. Dan sama seperti menonton pertunjukan teater, siapa yang peduli dengan jalan ceritanya? Jadi jelas, tujuan film ini adalah soal pengalaman menonton. Ini adalah film yang mengedepankan style daripada isi cerita. Jadi kalau kalian mengharapkan film dengan jalan cerita yang jelas atau permasalahan drama yang kompleks, twist dan lain-lain, mungkin film ini tidak terlalu tepat untuk kalian.

Apa yang membuat film ini cukup berhasil menurut saya ada pada atmosfernya yang cukup mencekam dan janggal. Saya bukan praktisi di bidang film. Jadi, sebagai orang awam saya membayangkan betapa sulitnya menerjemahkan atmosfer dan rasa hanya lewat gambar gerak dan suara. Film Luz sanggup membawakan suasana yang membuat penonton merasa tidak nyaman hanya lewat atmosfernya saja, terutama dalam sepanjang adegan hipnotis Dr. Rossini. Ditambah lagi dengan ruangan dan kantor polisi yang tampak sangat kosong, dan kadang dipenuhi dengan kabut, membuatnya seperti adegan dalam mimpi buruk. Atmosfer yang sangat kuat dalam film Luz didukung sepenuhnya dengan sound design yang brilian serta sinematografinya yang sedap dipandang. Dengan sound dan sinematografi seperti ini, rasanya Luz akan sangat cocok kalau ditonton pada layar lebar dan sound system yang mumpuni, ruang teater bioskop misalnya.

Pendekatan avant-garde dalam film Luz mungkin tidak akan terasa aneh bagi para penikmat seni semacam ini. Tapi layaknya karya seni lainnya, penonton akan meresponnya dengan rasa yang berbeda-beda pula. Pada kenyataannya, tidak semua penonton siap untuk mencerna film-film art-house eksperimental seperti Luz, termasuk saya. Maka tidak heran kalau film ini mendapat respon yang beragam, sama seperti masyarakat luas merespon sebuah lukisan abstrak tertentu, atau musik noise dan ambient. Sebagai sebuah karya seni sinema, saya bisa membayangkan kalau usaha sutradara Tilman Singer cukup berhasil lewat Luz. Film ini ikut meninggalkan kesan dan rasa tertentu bagi saya. Untung saja Luz hanya berdurasi sekitar 70 menit, yang menurut saya cukup efisien untuk film semacam ini. Pada akhirnya, saya tidak terlalu peduli lagi dengan mengapa iblis mengejar-ngejar Luz dan mengapa ia merepotkan diri dengan cara berpindah-pindah tubuh sejak dulu, hanya untuk mendapatkan Luz. Semua itu menjadi tidak penting. Drama kerasukan yang minimalis ini mungkin bisa menjadi pilihan untuk kalian yang mencari sesuatu yang tidak biasa, atau ingin merasakan pengalaman menonton yang berbeda, dengan syarat: tidak mudah mengantuk karena ritme lambat dan segala kemonotonannya.

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com