MOVIE REVIEW: EXCISION (2012)

EXCISION
Sutradara:
Richard Bates Jr.
USA (2012)

Review oleh Tremor

Pauline adalah seorang gadis remaja canggung dengan gangguan mental yang diperparah oleh kekacauan hormonal. Ia adalah seorang pemarah, delusional dan memiliki kecenderungan psikopat. Karena dianggap aneh oleh lingkungannya, Pauline tidak memiliki satu pun teman di sekolah. Perundungan dan penghinaan sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Pauline. Tapi Pauline tidak peduli. Bukan hanya terasing di sekolah, ia juga merasa terasing dan sulit dipahami oleh keluarganya sendiri. Perilakunya yang ganjil menempatkannya sebagai seseorang yang terpinggirkan dimanapun ia berada. Tapi ia memang lebih senang menyendiri. Setiap hari, Pauline selalu  berselisih dengan ibunya yang gila kontrol. Ibu Pauline yang bernama Phyllis sebenarnya berusaha untuk bisa mencintai Pauline, tetapi Phyllis memiliki idealisme dan harapannya sendiri yang ia ingin tanamkan pada anaknya tersebut. Bukannya berusaha memahami kebutuhan mental Pauline, Phyllis malah memaksanya untuk menjadi seorang anak yang normal.

Kalau Phyllis (dan kita sebagai penonton) bisa sedikit saja lebih peka, sebenarnya Pauline meminta pertolongan di sepanjang film. Tetapi tidak ada seorangpun yang menolongnya. Pauline sama sekali tidak dipahami oleh ibunya yang konservatif. Beberapa kali ia memohon untuk dibawa ke psikiater profesional, tetapi permintaan tersebut selalu ditolak oleh ibunya yang relijius. Phyllis lebih memilih untuk membawa Pauline berkonsultasi dengan seorang pemuka agama, seorang pendeta. Jika ada pesan moral dalam cerita ini, maka pesannya adalah: bawa anak remaja kalian ke psikiater profesional saat mereka memintanya. Di atas semua ketidakwarasan Pauline, penonton akan merasa iba padanya di beberapa bagian film. Pauline hanya mencoba untuk mendapatkan kasih sayang dan pengakuan dari ibunya tidak pernah berusaha untuk memahami kebutuhan anaknya.

Satu-satunya pelipur lara bagi Pauline adalah impiannya untuk menjadi seorang dokter bedah, serta kedekatannya dengan Grace, adik perempuannya. Walaupun kedua adik-kakak tersebut sangat berbeda, Grace adalah satu-satunya orang yang secara tulus Pauline cintai dalam hidupnya. Grace pun sebaliknya juga mencintai Pauline tanpa peduli dengan perilaku aneh kakaknya tersebut. Mereka berdua selalu bisa merasa nyaman saat sedang bersama. Hanya saat bersama Grace lah Pauline bisa tersenyum dan bahkan tertawa. Meskipun Grace adalah anak emas ibunya dimana dengannya Pauline selalu diperbandingkan, tapi tak satu kalipun Pauline merasa cemburu atau menyalahkan adiknya karena menjadi anak favorit. Masalahnya, Grace sedang sekarat secara perlahan karena memiliki penyakit paru-paru mematikan yang bernama cystic fibrosis, dan ia membutuhkan transplantasi paru-paru secepatnya. Minat dan impian Pauline untuk menjadi seorang ahli bedah tidak diragukan lagi datang dari keinginannya untuk menyelamatkan Grace.

Tapi Pauline jelas bukan remaja biasa dengan impian biasa. Ia memiliki obsesi besar yang tidak sehat terhadap kematian, tubuh manusia, seks, darah, hingga tindakan pembedahan. Penonton pun akan diperlihatkan secara langsung bagaimana tidak wajarnya fantasi Pauline lewat serangkaian gambaran mimpi-mimpi dalam tidurnya yang melibatkan adegan-adegan mutilasi, mayat, aborsi, nekrofilia, pengangkatan organ, dan banyak sekali darah. Mimpi-mimpi tersebut memberi Pauline sebuah rasa kepuasan seksual tersendiri. Bisa jadi mimpi-mimpi Pauline digambarkan sebagai potongan-potongan kecil dari rasa ingin tahu Pauline terhadap seks dan kekerasan. Meskipun agak ganjil, mimpi-mimpi tersebut tampak terlalu indah sebagai mimpi, memiliki banyak warna cerah (dan merah darah) yang memikat dengan special effect yang tampak real. Berbeda dengan kehidupan nyata-nya, Pauline juga tampak lebih cantik dan menonjol di dalam mimpi dengan make-up dan pakaian yang glamour. Dalam mimpi, ia adalah seseorang yang memegang kendali.

Tidak mendapatkan bantuan mental yang tepat membuat Pauline menjadi semakin jauh tersesat dalam impian, obsesi dan fantasi delusifnya. Walaupun mungkin kedatangan ending film ini sudah bisa diprediksi kalau kita cukup memperhatikan detail di sepanjang film ini dengan seksama dan benar-benar mengenal karakter Pauline, tapi tetap saja kita akan merasa terkejut –dan sedih— saat ending itu benar-benar datang.

Excision adalah film debut yang impresif dari sutradara pendatang baru, Richard Bates Jr. Film ini diadaptasi dari film pendek yang sama-sama buatan Bates, dengan judul yang sama pada tahun 2008. Menonton Excision meninggalkan perasan yang bercampur aduk bagi saya pribadi. Di satu sisi, film ini memang memiliki ide dasar yang agak sakit jiwa. Tetapi beberapa bagian film ini, terutama endingnya, juga meninggalkan perasaan sedih bercampur iba. Excision memiliki mood dan suasana yang sekilas terasa seperti film Juno, dengan catatan kalau Juno adalah seorang sociopath. Film ini juga memiliki banyak unsur dark comedy yang bisa membuat kita tersenyum (atau bahkan tertawa) sekaligus merasa bersalah atas senyum (dan tawa) kita, serta unsur satir sosial. Salah satu satir sosialnya mungkin adalah betapa kita semua begitu mudah menyepelekan masalah kesehatan mental, dan bagaimana masyarakat memperlakukan mereka yang memiliki masalah mental. Tanpa disadari, mereka yang memiliki masalah mental adalah produk dari masyarakat itu sendiri.

Satu hal yang menarik untuk dicatat, Excision dipenuhi dengan beberapa pemeran cameo. Salah satunya adalah John Waters. Ia adalah seorang sutradara kontroversial yang pernah membuat film cult berjudul Pink Flamingos (1972) dan Multiple Maniacs (1970). Dalam Excision, John Waters berperan sebagai seorang pendeta yang dipercaya oleh ibu Pauline untuk “membantu” masalah kejiwaan Pauline. Lalu ada Malcolm McDowell yang berperan sebagai guru yang selalu mendiskriminasi Pauline. Kalau ada yang tidak mengenal namanya, setidaknya mungkin mengenal salah satu karakter yang pernah ia perankan di masa mudanya: Alex DeLarge dalam A Clockwork Orange (1971) buatan Stanley Kubrick. Cameo lainnya adalah Ray Wise, yang pernah berperan dalam berbagai film cult mulai dari Swamp Thing (versi Wes Craven, 1982), Robocop (1987), hingga Twin Peaks: Fire Walk With Me (1992). Dalam Excision, Ray Wise berperan sebagai seorang kepala sekolah.

Selain cameo, pemeran karakter utama dalam Excision juga memiliki beberapa nama yang tak kalah menariknya. Salah satunya adalah Traci Lords, seorang mantan pemain film porno yang kemudian belajar seni peran dengan sangat serius. Traci Lords juga bisa bernyanyi, dan suaranya bisa kamu dengar dalam salah satu lagu dari Manic Street Preachers yang berjudul “Little Baby Nothing” (1992) dimana Lord ikut bernyanyi dalam lagu tersebut. Dalam Excision, Traci berperan sebagai Phyllis, ibu yang mendedikasikan hidupnya untuk berjuang demi anak-anaknya, hingga akhirnya ia harus mengakui ketidaksanggupannya dan merasa gagal sebagai seorang ibu. Traci sangat berhasil memainkan perannya ini dengan sangat baik. Tapi di atas semua itu, saya sendiri sangat terkesan dengan AnnaLynne McCord yang memerankan karakter Pauline. Ia layak mendapatkan penghargaan Oscar! Tidak banyak yang bisa saya tulis soal film ini, karena pengalaman menonton Excorsion bukanlah sesuatu yang bisa dengan mudah dideskripsikan lewat kata-kata. Kalau kalian tertarik untuk menonton film horror yang berbeda, dengan alur yang agak lambat, serta memiliki lebih banyak porsi pada pengembangan karakter dan dialog daripada visual, tentu kalian akan sangat menikmati film ini.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: [email protected]