MOVIE REVIEW: COLD FISH (2010)

COLD FISH
Sutradara: Sion Sono
Jepang (2010)

Review oleh Tremor

Jepang adalah salah satu negara tempat dimana film-film yang aneh dan twisted diproduksi, dan Cold Fish adalah salah satunya. Disutradarai oleh seorang pembuat film kontroversial bernama Sion Sono, Cold Fish terinspirasi dari kisah nyata kasus serial killer yang pernah terjadi di Jepang pada tahun 90-an, sebuah kasus yang dikenal dengan nama The Saitama Dog-Lover Murders. Kasus-kasus pembunuhan tersebut melibatkan sepasang suami istri peternak anjing bernama Gen Sekine dan Hiroko Kazama yang membunuh serta memutilasi empat orang klien mereka. Sebelumnya, Sion Sono mulai dikenal di dunia internasional lewat karyanya yang berjudul Suicide Club (2001) dan Strange Circus (2005). Dan seperti kebanyakan film karya Sion Sono lainnya, Cold Fish memadukan horor gore, satir, thriller, tabu dan komedi gelap.

Nobuyuki Shamoto, seorang pemilik toko ikan hias di Tokyo, adalah seorang pria baik-baik yang rendah hati, pemalu, serta tipe kepala keluarga sederhana yang berusaha melakukan apapun yang terbaik untuk keluarganya. Ia hidup dengan istri keduanya yang bernama Taeko, dan anak perempuannya yang bernama Mitsuko. Sejak film ini dimulai, Taeko kelihatan murung dan tidak bahagia. Sementara Mitsuko adalah tipe remaja pemberontak yang tidak menghormati ayahnya serta membenci ibu tirinya. Suatu malam, Shamoto mendapat panggilan telepon dari manajer sebuah supermarket. Rupanya putrinya telah tertangkap basah sedang mengutil disana. Sebagai orang tuanya, Shamoto diminta untuk datang guna mempertanggung jawabkan perbuatan anaknya. Setibanya di sana, Shamoto memohon kepada manajer toko agar tidak melibatkan polisi. Untunglah datang Yukio Murata, seorang pengusaha kaya yang cukup dihormati oleh manager toko. Murata digambarkan sebagai seorang pria tua periang dan menyenangkan. Ia adalah orang yang pertama kali memergoki Mitsuko mengutil. Lewat sebuah obrolan ringan dan menyenangkan tentang jenis ikan hias tertentu, Murata yang periang berhasil mencairkan suasana, membuat hati manager toko melunak hingga rela memaafkan dan melepaskan Mitsuko.

Rupanya Murata adalah seorang pengusaha ikan hias juga. Karena kesamaan profesi inilah Murata ingin berteman dengan Shamoto. Setelah keluar dari supermarket tempat Mitsuko tertangkap mengutil, Murata langsung mengajak Shamoto sekeluarga untuk mengunjungi toko hiasnya, yang bernama Amazon Gold Tropical Fish Center. Merasa sudah berhutang budi dan ingin menghargai kebaikan Murata, Shamoto pun setuju. Sesampainya disana, Murata memperkenalkan istrinya yang bernama Aiko pada Shamoto sekeluarga. Dibandingkan toko kecil Shamoto, toko ikan hias milik Murata jauh lebih besar dan megah. Koleksi ikan hias disana sangat banyak dan bervariasi, membuat Shamato begitu terpana. Tapi Murata mengajak mereka mengunjungi tokonya bukan untuk menyombongkan diri. Sikap Murata yang sangat ramah, selalu tersenyum, penuh canda, dan sangat bersahabat ini dengan cepat membuat Shamoto sekeluarga merasa nyaman. Mereka tidak menganggap Murata sebagai sosok pesaing, tetapi lebih pada sosok pengayom. Perkenalan mereka sangat singkat, namun Murata seakan sudah menganggap Shamato dan keluarganya sebagai saudara dekatnya sendiri. Murata juga mengajak Mitsuko untuk bekerja di toko ikan hiasnya, dan berjanji akan memberikan pengetahuan dan keterampilan yang mungkin akan ia butuhkan di masa depan. Kebaikan hati Murata tak sampai disitu saja. Pengusaha itu juga mengajak Shamoto untuk terlibat dalam kerjasama bisnis ikan tropis yang sangat menjanjikan dan menghasilkan banyak untung. Segalanya tampak terlalu indah untuk menjadi kenyataan.

Tapi ada satu hal yang Shamato tidak ketahui saat itu. Di balik sikap bersahabat, senyum lebar dan sikap riang-nya, tersembunyi sebuah rahasia yang sangat gelap. Yukio Murata adalah seorang psikopat manipulatif yang sangat sadis, sekaligus juga lihai. Kondisi yang awalnya tampak menjanjikan bagi Shamato, berubah menjadi horor saat ia mulai terlibat lebih jauh dalam dunia Murata. Tanpa disadari, Shamato pun mulai terjerat dalam jaring kebohongan dan penuh manipulasi. Shamato terlanjur masuk ke dalam perangkap Murata, diperdaya hingga tidak memiliki pilihan lain selain menjadi kaki tangan pengusaha gila tersebut. Kejiwaan Murata pun sangat tidak stabil dan tidak dapat diprediksi. Kita tidak pernah tahu apa yang akan ia lakukan, atau siapa yang akan ia bunuh selanjutnya. Menyadari keselamatan istri dan anak perempuannya ikut terancam, Shamoto mulai terseret semakin jauh ke dalam kekacauan. Selanjutnya, ada lebih banyak hal lagi yang terjadi dalam film ini, tetapi saya akan menahan diri agar tidak membeberkan semuanya disini.

Cold Fish adalah sebuah kisah penuh kekerasan tentang ketidakwarasan, relasi kuasa, seks, darah, dan banyak sekali daging, dengan sedikit humor gelap. Sepertinya tidak semua orang akan bisa menikmati film drama gore Jepang semacam ini. Film ini juga diisi dengan beberapa karakter berdarah dingin yang akan membuat kalian merasa tidak nyaman. Rasanya tidak mungkin akan ada orang yang bisa bersimpati pada mereka. Walaupun dipenuhi dengan tawa riang, lelucon dan keceriaan karakter Yukio Murata, hal itu tidak membuat apa yang ia lakukan di dalam film ini menjadi sesuatu yang nyaman untuk kita tonton. Apalagi ketika kita melihat salah satu karakter perempuan yang tertawa histeris dengan tubuh berlumuran darah, yang bukan darahnya sendiri. Cold Fish dimulai dengan agak lambat, karena memang dibutuhkan waktu untuk mendekatkan setiap karakter kepada penonton. Hingga di satu titik, film ini dengan cepat berubah menjadi film yang twisted, tak bermoral dan kejam. Tentu saja ada banyak adegan sadis dalam Cold Fish. Saya tidak akan merahasiakan hal tersebut. Salah satunya yang paling menonjol adalah scene yang dipenuhi dengan potongan-potongan tubuh manusia, yang nyaris menjadi seperti sebuah tutorial bagaimana cara memotong-motong tubuh manusia dan cara memusnahkannya, dipandu oleh seorang tua periang yang humoris dan ceria. Film ini memang bukan untuk semua orang. Tetapi jika kalian menyukai film Jepang twisted yang penuh kekerasan dan darah, mungkin kalian akan menyukai film ini.

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: [email protected]