
CHIME
Sutradara: Kiyoshi Kurosawa
Jepang (2024)
Review oleh Tremor
Kiyoshi Kurosawa adalah seorang pembuat film asal Jepang dengan karya-karya yang cukup beragam, dari mulai drama psikologis, dark comedy, thriller, hingga crime fiction. Namun apa yang membuat namanya cukup dikenal, setidaknya bagi saya, adalah genre horor. Film-film horor buatan Kurosawa seperti Cure (1997), Karisuma (1999), Seance / Kôrei (2000), Pulse / Kairo (2001), Retribution / Sakebi (2006), hingga Creepy (2016) sepertinya cukup untuk menobatkan Kurosawa sebagai salah satu raja horor modern Jepang. Melihat karya-karyanya, Kurosawa seharusnya sudah tidak perlu lagi membuktikan kemampuannya sebagai pembuat film kepada dunia. Kini ia tentu layak untuk menikmati masa tuanya dengan santai. Namun Kurosawa adalah pembuat film penuh passion yang menolak beristirahat. Pada tahun 2024, Kurosawa membuat kejutan besar dengan cara merilis satu film pendek dan dua film panjang secara berturut-turut dalam kurun satu tahun. Film pertama yang ia rilis adalah Chime, sebuah film pendek horor psikologis berdurasi 45 menit yang disambut dengan hangat oleh para penggemar horor di beberapa festival film. Dua bulan kemudian, Kurosawa merilis sebuah film balas dendam berjudul Serpent’s Path, yang merupakan remake dari film karyanya sendiri di tahun 1988. Tiga bulan setelah itu, Kurosawa merilis sebuah film psychological thriller berjudul Cloud. Chime menandakan kembalinya Kurosawa pada genre horor dengan perenungan tentang sisi gelap manusia yang dibungkus secara abstrak, sepintas mirip dengan apa yang pernah ia lakukan sebelumnya lewat Cure (1997) namun dengan banyak pembaruan. Kurosawa juga tak lupa menggunakan analogi mengerikan seputar dampak alienasi dalam masyarakat modern terhadap kehidupan sosial, mirip dengan yang pernah ia eksplorasi lewat Pulse (2001).

Karena Chime berdurasi cukup singkat dengan alur yang sedikit lambat, maka masuk akal kalau plot film ini tidak terlalu kompleks. Film ini berfokus pada seorang juru masak bernama Matsuoka yang membuka kursus masak sambil menunggu panggilan kerja di sebuah restoran. Kelas memasaknya sedikit terganggu dengan hadirnya seorang murid berperilaku aneh bernama Tashiro yang selalu terlihat tidak fokus. Kepada Matsuoka, Tashiro mengklaim bahwa ia mendengar suara-suara seperti lonceng (chime) yang menyerupai teriakan, namun bukan teriakan manusia. Ia percaya bahwa seseorang, atau sesuatu, mengirimkan pesan kepadanya melalui suara-suara tersebut. Di lain hari, perilaku aneh Tashiro semakin meningkat setelah ia menyampaikan bahwa separuh otaknya telah diganti dengan mesin, dan ia mencoba untuk membuktikannya dengan cara yang mengejutkan Matsuoka dan juga penonton. Ini baru permulaan, karena sejak kejadian tersebut Matsuako juga mulai mendapati dirinya dikuasai oleh kengerian aneh yang perlahan merayap dalam hidupnya. Suara-suara lonceng yang mengganggu Tashiro kini mulai menguasai Matsuoka hingga ikut memicu perilaku penuh kekerasan acak pada siapapun yang mendengarnya, layaknya wabah menular.

Lalu apa sebenarnya bunyi lonceng yang memantik orang untuk melakukan tindakan kekerasan itu? Dari mana asalnya? Dan bagaimana bisa ia seakan menular? Kurosawa sepertinya tidak berniat untuk menjawab berbagai pertanyaan semacam itu yang bisa saja timbul di kepala penontonnya setelah film ini selesai. Rasanya penonton bahkan tidak pernah benar-benar mendengar suara yang merasuki Tashiro dan Matsuoka tersebut. Namun justru itulah yang semakin memberi petunjuk bahwa kisah ini adalah soal merosotnya kewarasan para karakter dalam film ini. Siapapun yang pernah menonton Cure, tentu akan bisa merasakan sedikit tema yang mirip dalam Chime. Tapi sepertinya Chime bukan hanya mengeksplorasi tentang kesendirian dan depresi seperti yang Kurosawa lakukan dalam Cure saja, tetapi lebih dari itu: tentang virus kekerasan yang menginfeksi mereka yang bermasalah dalam kehidupan. Dengan cukup jelas, Chime menggambarkan depresi, penderitaan batin, serta keterasingan dalam peradaban masyarakat modern layaknya suatu wabah yang menyebar. Apa yang mengerikan dari film ini adalah menyadari bahwa dorongan-dorongan kekerasan seperti yang dialami oleh Matsuoka dan Tashiro adalah hal yang bisa saja terjadi pada siapapun dalam kehidupan nyata, minimal berbentuk sebersit ide di kepala untuk menyakiti orang lain.

Bagi saya, Chime adalah karya pembuktian bahwa Kurosawa tetaplah seorang pembuat film yang konsisten dengan ciri khas sinematiknya serta kemampuan luar biasa dalam membangun perasaan tidak nyaman, meskipun dengan plot sederhana serta proses pengambilan gambar yang rangkum hanya dalam lima hari saja. Sama seperti yang pernah ia lakukan lewat Cure dan Pulse, Kurosawa tetap berhasil menciptakan atmosfer tidak nyaman lewat hal-hal sehari-hari yang tampak biasa saja. Tidak perlu makhluk fantastis mengerikan atau adegan jump scare murahan untuk membuat film ini menyeramkan, karena sisi gelap manusia sudah cukup menakutkan. Pendekatan film Chime boleh minimalis, namun Kurosawa tetap berhasil membuat penonton gelisah dengan atmosfer yang ia ciptakan. Hanya lewat audio dan visualnya saja, penonton sudah bisa merasakan adanya ancaman tak terlihat yang terus mengintai dalam film ini. Chime juga semakin menegaskan bahwa Kurosawa adalah sutradara yang sangat senang menggambarkan alienasi serta keruntuhan kualitas hidup modern lewat visual sederhana namun memukau. Film ini tentu saja bukan karya terbaik Kurosawa, tetapi Chime tetaplah sebuah film pendek yang menarik dan cukup penting, yang sekali lagi membuktikan bahwa Kiyoshi Kurosawa masihlah seorang master of slow terror.

