MOVIE REVIEW: ANTIVIRAL (2012)

ANTIVIRAL
Sutradara: Brandon Cronenberg

Kanada (2012)

Review oleh Tremor

Antiviral adalah sebuah film debut dari penulis/sutradara muda Brandon Cronenberg. Ia merupakan putra dari salah satu raja horror yang cukup ikonik: David Cronenberg (The Brood 1979, Videodrome 1983, The Fly 1986, dll). Memiliki nama belakang Cronenberg bisa menjadi beban bagi Brandon muda dalam industri film. Banyak orang akan melekatkan bayang-bayang nama ayahnya pada Brandon, dan mereka tentu berekspektasi cukup tinggi. Mereka yang sinis bisa saja berpendapat kalau Brandon hanya menjual nama ayahnya. Tapi Brandon berhasil menjawab tantangan tersebut lewat film debutnya ini. Mengikuti jejak ayahnya, Brandon memilih subgenre body-horror untuk film pertamanya, di mana ancaman tidak datang dari luar protagonisnya tetapi datang dari sesuatu yang tumbuh dalam dirinya. Film Antiviral ini sendiri dikembangkan dari film pendek yang pernah Brandon buat sebelumnya, berjudul Broken Tulips (2008). Di luar dugaan banyak orang, film buatan Brandon justru tampil berbeda dengan karya-karya ayahnya yang juga adalah seorang spesialis genre body-horror. Ia berhasil menonjolkan body-horror dengan versi dan visinya sendiri, dan menyajikan sebuah film yang secara visual cukup memukau.

Film Antiviral bercerita tentang bagaimana obsesi masyarakat terhadap para selebritis telah berkembang ke tingkat yang sangat tidak sehat dan ekstrim, namun dianggap sebagai kewajaran yang mendunia. Dalam masyarakat distopian ini, sebuah klinik yang bernama Lucas Clinic memasarkan produk yang banyak diminati orang: virus dengan lisensi. Apa yang mereka tawarkan adalah menginfeksi para penggemar selebritis tertentu dengan virus-virus yang sama dengan yang menjangkit para idola mereka. Virus-virus tersebut diambil dari tubuh sang selebritis itu sendiri dalam bentuk kerjasama bisnis dan hak paten, lalu direplika dan digandakan secara identik. Jadi para penggemar selebritis bisa menderita flu yang sama, bahkan herpes yang sama dengan para idola mereka. Tak cukup sampai di situ, herpes tersebut juga bisa ditularkan pada bagian tubuh yang sama dengan sang selebritis yang terjangkit. Klinik Lucas bukan satu-satunya bisnis yang menjual “bagian” dari selebritis kepada publik. Ada juga tempat-tempat di mana masyarakat bisa membeli daging steak hasil “budidaya” sel otot para selebritis. Namanya adalah cell steak, yang proses pembuatannya mirip dengan proses kloning. Jadi pada dasarnya mereka bisa menyantap steak yang terbuat dari jaringan otot yang sama dengan otot selebritis idola. Semua ini tampak sebagai bisnis yang aneh dan mengerikan di mata kita. Namun tidak dalam realita film Antiviral. Dalam masyarakat ini, Lucas clinic serta bisnis cell steak adalah bisnis legal dan cukup digemari. Segala cara dilakukan oleh para penggemar yang terobsesi agar dapat merasa lebih dekat dan menyatu dengan idola mereka. Semua ini sudah dianggap sebagai hal normal dan bagian dari gaya hidup dalam realita Antiviral, sama seperti seseorang yang ingin memiliki potongan rambut yang sama, atau tato yang sama dengan idolanya dalam realita kita.

Film ini dibuka dengan diperkenalkannya karakter Syd March, seorang pemuda yang bekerja sebagai sales di Lucas Clinic. Tugasnya adalah menjual virus-virus ekslusif dari beberapa selebritis kepada para peminat yang datang ke klinik. Suasana dalam klinik ini tampak sangat steril dan semuanya serba berwarna putih. Syd adalah seorang sales yang bisa meyakinkan para calon pembelinya kalau virus-virus inilah yang mereka butuhkan agar hidup mereka lebih bermakna. Namun sebenarnya ia adalah seorang pendiam yang selalu tampak canggung, dan tidak terlalu bersahabat dengan teman-teman kerjanya.

Di luar bisnis legal seperti Lucas Clinic, tentu saja ada jalur yang ilegal juga: pasar gelap. Semua virus yang berada di Lucas clinic selalu didata dan tidak boleh dibawa pulang oleh para pekerjanya. Maka Syd diam-diam sering menyuntikkan virus terbaru yang secara ekslusif hanya dipasarkan oleh Lucas Clinic ke dalam tubuhnya sendiri. Saat pulang ke rumah, ia mengambil sampel darahnya sendiri dan membuat ulang virus tersebut menggunakan sebuah mesin paten yang ia curi dari tempat kerjanya. Barulah saat virus-virus tersebut siap diedarkan, Syd menjualnya pada salah satu kontak pasar gelapnya, dan bisnis kecilnya ini tentu saja sangat menguntungkan. Itulah mengapa Syd selalu tampak sakit sejak film ini dimulai, karena ia menjadikan tubuhnya sendiri sebagai sarana penyelundupan berbagai macam virus.

Salah satu selebritis yang paling terkenal dan dicari oleh banyak orang saat itu bernama Hannah Geist, dan apapun yang berhubungan dengannya sudah pasti memberi keuntungan besar bagi setiap perusahaan semacam Lucas Clinic maupun pedagang cell steak. Suatu hari Hanna Geist terjangkit oleh virus misterius. Kebetulan Lucas Clinic sudah membuat kontrak eksklusif dengannya. Artinya, virus yang menginfeksi Hannah Geist hanya bisa didapat dari Lucas Clinic saja dan bukan klinik yang lain. Boss dari Lucas clinic mengirim Syd untuk pergi mengambil darah Hanna Geist yang terbaring di sebuah kamar hotel. Sebelum kembali ke kantornya untuk menyetorkan darah Hanna Geist, Syd bergegas masuk ke kamar mandi dan menyuntikkan sebagian darah Geist pada dirinya sendiri agar ia bisa menggandakan dan memasarkan virus ini dalam jaringan pasar gelap kemudian. Keesokan harinya Syd terpukul dengan sebuah berita yang menghebohkan semua orang: Hannah Geist meninggal dunia karena terinfeksi virus misterius. Virus yang sama yang ia infeksikan pada dirinya sendiri itu memang belum diuji secara klinis, dan ternyata virus tersebut mematikan. Kini penyakit misterius yang membunuh Hanna Geist menggerogoti tubuh Syd secara perlahan, dan ia harus segera menemukan cara untuk menyelamatkan dirinya.

Terlepas dari hubungan darah sutradara Brandon dengan ayahnya yang terkenal, Antiviral merupakan debut film yang mengesankan. Film ini membuktikan bahwa Brandon Cronenberg adalah seorang sutradara yang berbakat dan memiliki gaya serta pendekatan yang berbeda dari ayahnya. Meskipun Antiviral bukanlah film yang bisa dibilang mengerikan secara visual, tapi ia memiliki ide yang sangat gelap. Banyak hal dalam Antiviral yang mengingatkan saya pada serial Black Mirror. Dan sama seperti ide dasar setiap episode Black Mirror, premis dalam Antiviral jelas merupakan komentar sosial yang cukup sinis terhadap perilaku manusia hari ini. Brandon mengangkat tema tentang obsesi tidak sehat masyarakat terhadap selebritis. Dalam dunia nyata, kekaguman terhadap selebritis telah berubah menjadi pengkultusan yang tidak sehat. Apapun yang berhubungan dengan selebritis (termasuk hal-hal yang bersifat privat) akhirnya menjadi konsumsi publik. Para selebritis tidak lagi dianggap sebagai manusia, tetapi sebuah produk yang bisa dilahap oleh siapa saja, sejauh teknologinya memungkinkan. Dalam Antiviral, Cronenberg muda membungkus obsesi ini ke tingkatan yang ekstrim dan sama sekali baru. Hasilnya, tentu saja cukup mengganggu.

Saya pribadi cukup penasaran dengan karya-karya Brandon berikutnya. Kebetulan, ia baru saja merilis film keduanya yang berjudul Possession, delapan tahun sejak Antiviral. Antiviral mungkin bukanlah film yang sempurna, tetapi selain memiliki premis yang menarik, ia juga dibungkus dengan eksekusi yang baik, dengan komposisi visual yang mencengangkan. Antiviral menunjukkan potensi yang luar biasa dari seorang Brandon Cronenberg dan film ini layak untuk ditonton bagi para penggemar body-horror bertema distopian.

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com